LOGIN“Roll your fingers into your cunt, fuck your pussy fast, and spill every inch of your juice on my face, cause I want to taste you. Right here and now!” * My best friend’s dad and I hate each other. Or so we thought. It used to be a tug of war for us. He thinks I am a lousy girl who has nothing to worry about, and I think he is a cold man who hides pain and mischief behind that hard-angled face of his. But all of that changed when I bumped into him stroking his cock and moaning my name to the picture I posted on IG to spike my still very obsessed ex. I had many plans for the years, but none included fucking my best friend’s dad during the Christmas celebration she had informed me of. But I did, and every day after that became dangerous, pulling us deeper and deeper into places only cock and cunt could reach. I am just a broken girl. One who saw herself as someone unworthy of love, until I found it in the wrongest of places. I shouldn’t want it. I shouldn’t desire him, but it started as lust and whirled into something dangerous. Now he makes me cum every night and makes me laugh every day, but at what expense do I have to keep us? I have a dream, and it's about two people who shouldn't want each other. 80 forbidden percent and….20 percent Damnation. Hello!!!! And… welcome to Ruins!
View MoreTerdengar suara motor berhenti di halaman rumah. Aku tahu betul itu suara motor milik suamiku, Mas Wahyu. Segera aku hentikan kegiatan jahit menjahitku.
Tak ada kata salam setiap kali lelaki yang menikahiku tujuh tahun yang lalu itu masuk ke dalam rumah. Dia pikir rumah ini lapangan bola hingga kata salam tak perlu diucapkan. "Waalaikumsalam...," ucapku menyindir Mas Wahyu. "Apa sih kamu Lan, suami pulang bukannya disambut justru di ceramahin. Aku ini capek kerja. Jangan lagi kau pancing amarahku!" sungutnya. Selalu saja berkata seperti itu tiap kali kusindir tak mengucapkan salam atau hal yang lain. Kalau sudah begini lebih baik diam, dari pada semakin membuat rumah ini terasa panas. Ya Allah, kapan suamiku bisa berubah?Menjadi suami yang mengajak dalam kebaikan bukan sebaliknya. "Kamu mau diam seperti patung di situ?" ketusnya. AstagfirullahAku sampai lupa mencium tangan Mas Wahyu.Bahkan untuk menyiapkan minum hanya karena masalah salam. Sebenarnya ini bukan masalah sepele, sebagai seorang suami harusnya Mas Wahyu dapat memberikan contoh yang baik untukku dan juga Diana. Salah satunya mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumah. Bukan main nyelonong masuk rumah begitu saja. Dan ini terjadi setiap hari. "Wulan!" teriaknya saat diri ini tak kunjung melangkahkan kaki menuju dapur. "Iya, iya Mas..." Aku berjalan cepat menuju dapur. Segera memasukkan kopi dan gula ke dalam cangkir lalu menyeduhnya menggunakan air panas. Aku meletakkan secangkir kopi dan pisang goreng di atas meja. Dengan cepat Mas Wahyu menyeruput kopi yang masih panas. Dalam hitungan detik kopi itu kembali di semburkan Mas Wahyu. Sudah persis dukun dalam film saja. Hahaha ... aku tertawa dalam hati. "Kamu itu gimana sih Lan,buat kopi saja tidak becus!" teriak Mas Wahyu. Untung saja aku sudah kebal, kalau tidak mungkin langsung mati karena jantungan. Karena hampir setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu menyakitkan. Dan suamiku akan berlaku baik jika ada maunya. Aku sampai bingung, kenapa dulu aku bisa menikah dengan lelaki macam begini? Manis diawal pahit ujungnya. "Lha sudah tahu kopinya panas, main minum aja. Ya kepanasan,Mas!" jawabku tak mau kalah. "Susah ngomong sama kamu, ngelawan terus." Mas Wahyu berjalan menuju kamar. Meninggalkan secangkir kopi begitu saja. Sabar-sabar Wulan, ini ujian dalam pernikahan kamu. Kusemangati diriku sendiri. Ya Allah beri ekstra kesabaran menghadapi lelaki seperti Mas Wahyu. Andai bercerai tak dibenci Allah, mungkin sudah kulakukan dari dulu. Karena menunggu dia berubah seperti mimpi yang tak mungkin menjadi kenyataan.Bahasa kerennya halu alias halusinasi. Berjalan ke mesin jahit,melanjutkan aktivitasku yang sempat tertunda. Karena baju seragam ini harus jadi besok. Aku tak mau mengecewakan pelanggan,takut mereka lari ke tempat jahitan lain. Karena hasil menjahit sangat menunjang kehidupan keluarga kami. Ada yang pernah bertanya apakah gaji suamiku tak cukup menghidupi kami hingga aku harus menjahit seperti ini. Kalau saja gaji suamiku di berikan seluruhnya padaku mungkin akan cukup bila aku yang mengelolanya.Hampir lima juta gaji suamiku perbulannya.Namun sayang, aku hanya diberi dua ratus ribu untuk satu minggu dan itu sudah termasuk pajak listrik dan jajan Diana, putriku yang berumur lima tahun. Jadi mau tak mau aku harus bekerja untuk menutupi kebutuhan yang lain. Di tambah jika ada kebutuhan tak terduga. Mas Wahyu mana mau tahu. Yang dia mau tahu uang dua ratus ribu harus cukup untuk satu minggu. Jarum jam sudah menunjukkan angka lima. Segera kubereskan alat tempurku.Aku tak mau mendapat komplain dari Mas Wahyu karena rumah kami masih berantakan. Mengambil sapu, kubersihkan setiap sudut rumah yang berdebu. Tak lupa menyapu sisa-sisa kain yang berserakan di lantai. "Bu..." Diana berjalan ke arahku sesekali mengucek mata yang masih lengket. "Putri ibu sudah bangun,ya?" Aku jongkok agar menyamakan tunggi putriku. Diana, mengangguk, memeluk tubuhku dengan erat. Seperti itulah kebiasaan putri kecilku selalu memeluk tubuhku setelah membuka mata. "Mandi yuk dek." Kugenggam tangannya lalu berjalan menuju kamar mandi. *****Kusiapkan makan malam di atas meja. Oseng buncis dan tempe goreng menu makanan malam ini. Bagiku itu lebih dari cukup, Diana sendiri sangat suka tempe goreng, anakku memang selalu makan apa yang tersaji di meja makan asalkan itu tidak pedas. "Makan dulu Mas!" kupanggil Mas Wahyu yang asyik menonton pertandingan bola di salah satu stasiun televisi. Tak ada jawaban, hanya suara teriakan layaknya komentator pertandingan bola. "Adek makan dulu ya, ibu mau panggil ayah dulu." ku letakkan piring plastik di atas meja dengan lauk tempe goreng. Kami memang sudah terbiasa makan di meja makan. Untuk Diana kursi model anak-anak dengan kaki kursi yang lebih panjang dibanding punya orang dewasa. "Mas, makan dulu yuk! Sudah ditunggu Diana di meja makan." ku sentuh pundaknya perlahan tapi segera ditepis Mas Wahyu. Ya Allah segitunya memperlakukan aku Mas. Aku ini istri kamu, bukan lalat yang kamu tepis saat mengenai kulit kamu! "Kalian makan sendiri saja, aku belum lapar."ucapnya tanpa menoleh ke arahku. Putar badan, segera kembali ke meja makan. Kasihan Diana makan sendirian. Bodo amat dengan Mas Wahyu. Biar saja dia kelaparan!Jarum jam sudah menunjukkan angka delapan segera ku ajak Diana masuk ke dalam kamar. Membacakan dongeng putri salju kesukaannya. Tak lama putri kecilku sudah terlelap dalam mimpi indah. "Wulan!" teriakkan Mas Wahyu mengganggu diriku yang baru terlelap. Apa sih maunya suamiku itu! Tidak lihat aku capek, ingin segera istirahat susahnya minta ampun. Segera beranjak dari kasur, karena aku tak ingin teriakan Mas Wahyu kembali terdengar. Kasihan Diana jika tidurnya terganggu. "Apa sih Mas?" ucapku sambil berjalan menuju dapur, dimana teriakan Mas Wahyu berasal. "Kamu menyuruh aku makan, makanan ayam seperti ini!" ucapnya sambil menunjuk oseng buncis di atas meja. "Ya Allah Mas, jangan pernah menghina makanan. Harusnya kamu bersyukur masih bisa makan. Di tempat lain masih banyak orang kelaparan karena tak bisa makan."ucapku di dalam hati. "Kenapa diam saja kamu!"teriaknya lagi. "Makan yang ada saja Mas. Uangnya tidak cukup untuk membeli ayam.""Ya pakai uang kamulah, masak harus aku jelaskan!""Jahitan baru sepi Mas, maklum PPKM. Udah makan ini dulu Mas." ucapku pelan. Bukan aku tak ingin melawan hanya tak ingin menimbulkan pertengkaran. Kasihan Diana jika terus mendengar kedua orang tuanya bertengkar. BRAAKSuara meja beradu dengan tangan. Mas Wahyu pergi begitu saja. Meninggalkan rumah sambil membanting pintu depan. Tak berapa lama suara motor menjauh dari halaman rumahku. Aku duduk terpaku di ruang makan. Bulir bening mengalir tanpa bisa kubendung. Rasa sesak terasa di dada setiap kali mengingat perlakuan Mas Wahyu terhadapku. Jangan lupa subscribe, like dan komen 💕Chapter 19.Noria Carter.“So that’s the kind of guy you go after?” Lucan asked, finally breaking the long-overdue silence.I was in his car now, and I could swear that for over 30 minutes now, we had not said anything to each other.Lucan had stood up for me. He had spoken against Nathan and scared him off, but the only thing he had not done was speak up for me at the restaurant. And I expected it. I expected him to speak up for me. With all his power, with all his affluence, he could have easily asked the manager to let me stay, but he had not, and right now, I do not want to feel entitled, but a weird part of me would have appreciated it if he had helped. I sucked in some breath now, finally raising my gaze to meet his. Just because he had helped me out doesn’t mean he got to be present in my life.“That’s none of your business,” I shot back now, looking away from him.From the corner of my eyes, I watched his jaw twitch. “It’s none of my business, yet you had stayed caught up in t
Chapter 17.Noria’s Pov.A sting bloomed hot in my chest, and I rolled my tongue within my mouth before turning around to leave.Over the past years, when Nathan was done abusing me, he would often buy me gifts to please my heart and body. But I was done taking that treatment. I was done being treated like an object. Done being maltreated and pleased with material stuff.All these years, I endured everything because I felt that was all love was about. I endured it because even the love from my mother was abusive, but now I am learning to walk away.Nathan’s hand shot forward, and he instantly grabbed my arm, preventing me from taking another step. “Let go of me!” I cursed, but his grip on my arm tightened, and he pulled me closer to himself.“What are you doing walking away from me, Noria? Did you not hear that I got you a gift?”“I do not want your gift,” I groaned angrily, pushing him hard by the chest just so he could get off me.Nathan staggered backward, but he soon found his sta
Chapter 17.Noria’s Pov.It’s been one week since I left my best friend’s house, and in that one week, it’s been five days since my internship letter got denied.The denial had crushed my heart, shattered me into pieces, and turned me into a version of myself that I couldn’t comprehend. All these years, I have dreamt of living away from my mother. Not because I do not love her, but because this was my own little way of setting boundaries… boundaries that I feel could help her yearn for me and maybe learn to love me through distance, but once again, that desire has been taken away from me, and I have no option but to sit, accept it, and act like my life didn’t end.Ivy had offered to help, she had drafted an internship letter tailored to her father’s company, one of the biggest literature companies here, but I had rejected the offer, not because I didn’t need it, but because I couldn’t bear to betray my best friend like I have already done.Every night, I wake up to the sight of my soa
Chapter 16.Lucan’s Pov.The moment that the soft and succulent sight of Noria’s ass came into view, my cock twitched and every nerve in my body suddenly wrote me a petition to spread her ass cheeks gently, position my cock against the entrance of her pussy and fuck her so hard till she is crying and trembling so hard beneath me.I had no real reason for punishing her. But I didn’t want her to go. I didn’t want her out of my sight and for some reason that felt weird.“What are you doing?” Noria groaned fiestily, wiggling her body while trying to pull away from my grip.I grabbed both her hands to the back and pinned her wrists gently to her ass.“You are crazy!” she groaned angrily and the sound of that turned me on so fucking much that my cock twitched.“That made me hard.” I said softly, trailing gentle circles around her ass cheeks while actively wondering about how we had gotten here.For the longest, I could only remember hating this girl. But right now, from the very day I bumpe
Chapter 5.Noria’s POV.I stood before the vanity mirror in Ivy’s room, staring at the reflection of myself that the mirror gave back.Clad in a black short dress that stopped right below my ass, I looked like the most beautiful thing Nathan would see today. I was going to see Nathan because he ha
Chapter 4.Lucan Cyrus POV.It’s been three days. Three fucking days since I stumbled on this picture on IG, and I haven’t been able to get over the beauty of it.I was strolling past the streets of Instagram with the only intention to check on the progress of our media page. This wasn't something
Chapter 3.Noria’s POV.I still didn’t understand how my feelings for Lucan twisted from disgust to something I could no longer control.My pussy dripped onto my thighs as our eyes met, but I hurriedly looked away, still holding my head high with sophistication.“Good morning,” Ivy said to her dad,
Chapter 2.Noria Carter’s POV.“Noria!” The voice came in loudly, only that it wasn’t a voice, it was the terrible sound of my ringtone, buzzing and pulling me away from something I didn’t want to believe.I yanked out of bed immediately, grabbing the phone from the bedside table while actually try












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews