Share

36. Sudah Menjadi Milikmu

Author: prasidafai
last update Last Updated: 2025-12-11 21:02:50

"Kita teman, kan? Kau bilang begitu di depan Tuan Jade." Gea yang menjawab sambil tersenyum sumringah, matanya berbinar.

Daisy mendesah panjang.

Tanpa menyelesaikan makanannya yang masih setengah penuh, Daisy berdiri dari kursinya. Gadis itu hendak meninggalkan July dan Gea tanpa membawa hadiah yang mereka sodorkan.

"Minta maaf padanya!" July segera berteriak panik sambil menoleh pada Gea. "Kau belum minta maaf!"

Gea yang menyadari kesalahannya, langsung berdiri dengan terburu-buru. Kursinya bergeser ke belakang dengan bunyi keras yang membuat beberapa kepala menoleh.

"M-maaf, Daisy," ucap Gea terbata-bata. "Aku termakan rumor itu dan tanpa tahu malu, ikut andil dalam menyebarkannya. Kami menyesal."

Dengan begini saja, beberapa pasang mata di kantin sudah sangat penasaran. Mereka berhenti makan, mengobrol, dan hanya fokus menatap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   99. Lebah yang Salah

    Jade balas menatap Morgan dengan berani. Bukan dengan kebencian, melainkan keteguhan.“Daisy bukan masalahku. Dia … wanita yang ingin aku lindungi, Pi,” sergah Jade tanpa ragu.Tangan Morgan mengepal di sisi tubuhnya.“Yang kau rasakan padanya hanya nafsu, Jade. Dia gadis pertamamu, bukan?” Morgan mengangkat salah satu alisnya. “Pada dasarnya, di atas hasrat yang terus kau lampiaskan hingga kau merasa candu padanya, ada perasaan cinta yang jauh lebih mulia. Dan Papi tidak melihat itu pada dirimu atau pun Daisy.”Tanpa menunggu respons Jade, Morgan melangkah pergi.Sementara Jade terpaku di tempatnya begitu mendengar petuah Morgan.Jade sudah berusia 35 tahun, tetapi dia memang masih asing dengan perasaan cinta. Pria itu terlalu lama mendedikasikan dirinya pada pendidikan dan perusahaan keluarga.Karena beban sebagai pewaris utama, ternyata sama besarnya dengan hak istimewa yang Jade dapatkan. Namun siapa sangka, karena hal itu, Jade menjadi bodoh dalam sa

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   98. Apa Pun Taruhannya

    “Bukan aku yang ingin bertunangan dengan Bianca, Pi.” Jade memulai penjelasannya sambil menjaga nada suaranya tetap sopan. “Hubungan pertunangan ini tidak terjadi atas nama cinta. Semua karena kebutuhan bisnis, jadi di mana letak aku dan Daisy berbuat sesuatu yang kotor?” Rahang Morgan mengeras. “Ini sebabnya aku bilang kalau aku dan Bianca tidak cocok. Bianca juga punya kehidupan lain yang tidak Mami dan Papi ketahui. Wajah aslinya,” sambung Jade terus menatap lurus Morgan. “Yang tidak akan sanggup Keluarga Draxus tanggung jika Bianca resmi menjadi menantu keluarga ini.” “Wajah asli Bianca?” Morgan menyipitkan mata. Jade langsung mengangguk. “Apa Papi percaya kalau aku bilang, Bianca memukuli–” “Daisy?” potong Morgan menebak. “Ya,” jawab Jade tanpa ragu. “Aku melihat bekas memar hampir di seluruh tubuh Daisy. Sekarang sudah lebih baik karena aku memaksanya berobat. Kehidupannya sebagai anak angkat Keluarga Lulla tidak seba

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   97. Pintu Rahasia

    Sore harinya di Mansion Ravenfell. Jade menghampiri Morgan yang sedang menikmati teh hangat di teras belakang. Mata pria paruh baya itu memandang Sydney yang sedang mengurus kebun bersama Bianca. Walaupun sebenarnya Bianca terlihat lebih seperti menonton Sydney, daripada membantunya. “Mami masih mengurus kebun sendiri?” tanya Jade sambil bergabung duduk di sebelah Morgan. Morgan menoleh sekilas, sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada Sydney. “Hanya sesekali saja,” jawab Morgan datar. “Saat ada hari-hari spesial, saat calon menantu pertama kami di sini.” Jade mendengkus pelan saat Morgan menyebut Bianca sebagai calon menantu. Pria itu terus memikirkan kata-kata Jane dan Zaleia yang meminta Jade membicarakan perihal Bianca pada orang tua mereka. “Ada yang ingin aku bicarakan, Pi,” ucap Jade dengan serius. Morgan perlahan menoleh dan menatap lekat mata putra sulungnya. “Ada apa?” M

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   96. Sungguh Luar Biasa

    "Maksudnya ya bekerja, Kak. Aku menawarkan pekerjaan pada Daisy." Zaleia menatap Bianca dengan tatapan datar. “Penampilan Daisy sangat cantik dan tidak bosan dipandang mata, dia bisa jadi artis sukses besar di sini.” “Di Highvale?” tanya Jade memastikan, tampak tidak rela. "Tapi dia sudah bekerja dengan Jade, Zaleia!" protes Bianca cepat. “Lagipula banyak yang lebih cantik dari Daisy. Apa kau tidak melihat wanita yang berada di sini juga tidak kalah cantik?” Bianca menunjuk dirinya sendiri. Daisy melirik kakak angkatnya. Melihat raut wajah wanita itu saja, Daisy bisa tahu jika Bianca tidak senang dengan tawaran Zaleia untuknya. Zaleia terkekeh geli. Beberapa menit lalu, Bianca menghinanya karena menolak tawaran kerja sama. Dia mendadak baik kala Zaleia mengatakan akan memberikan tas mewah. Tas itu bahkan belum sampai ke tangan Bianca, tetapi dia sudah berani meminta hal lain pada Zaleia. Adik Jade itu menggeleng pelan.

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   95. Berikan Padaku

    Zaleia mengangguk pelan sambil menyesap tehnya, membiarkan keheningan menggantung sejenak di udara. Uap tipis dari cangkir porselen itu naik perlahan. “Daisy, yang merupakan adik angkat Kak Bianca saja harus melalui proses wawancara beberapa kali seperti calon karyawan pada umumnya sebelum bekerja dengan tunangan Kak Bianca.” Zaleia meletakkan cangkirnya perlahan dengan tenang. “Bahkan, aku dengar Kak Jade sama sekali tidak tahu Daisy adalah adik Kak Bianca sampai dia bekerja lebih dari satu minggu.” Kalimat yang Zaleia lontarkan itu sangat rapi, tanpa ada nada menyerang. Namun justru di situlah kekuatannya. “Di keluarga kami, tidak ada istilah atas nama keluarga, Kak. Semua dipilih berdasarkan kualitas dan mengikuti sistem pemilihan yang adil.” Zaleia melanjutkan dengan tegas. Wajah Bianca memerah. Wanita itu mengepalkan tangan di atas paha hingga kukunya menekan kulit seakan mencari penyaluran bagi amarah yang menggelegak. Napas Bi

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   94. Nyaman Berada di Dekatmu

    Saat Daisy dan Sereia sudah berjalan menjauh, Jade berbalik menghadap Bianca.Wanita itu masih terpaku di tempat, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Wajahnya memerah."Kau seharusnya lebih mendengarkan aku, Sayang!" desis Bianca penuh penekanan.Jade menatap Bianca dengan tatapan datar. "Memangnya siapa dirimu hingga saya harus lebih mendengarkanmu?"Bianca membeku.Kata-kata itu menghantam seperti tamparan keras. Mulutnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar."Tunggulah di mobil jika kau tidak ingin ikut. Saya belum tentu bertemu dengan Sereia setahun sekali. Ini kesempatan bagus." Jade melanjutkan dengan nada yang sama datarnya.Selain menjadi dokter hewan di kliniknya, Sereia memang aktif menjadi dokter di Perhimpunan Satwa Dunia dan sering pergi ke berbagai negara untuk menyelamatkan satwa liar maupun jinak, dari yang berukuran kecil hingga besar.Kepulangan Sereia ke Mansion Ravenfe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status