LOGINDaisy Morwyn, 22 tahun, hidup dalam penganiayaan keluarga angkatnya. Ingin bebas, gadis itu segera mencari pekerjaan setelah lulus. Namun Daisy justru diterima sebagai asisten pribadi tunangan kakak angkatnya, Jade Draxus. Sejak melihat memar di tubuh Daisy, perhatian Jade mulai tertuju padanya. Kedekatan mereka berkembang cepat, hingga satu malam panas menjebak mereka dalam hubungan terlarang yang seharusnya tidak pernah ada. “Saya bebas melakukan apa pun padamu, Daisy. Kau cukup menikmatinya saja,” ujar Jade sambil melepas kancing kemeja Daisy.
View More"Aku bahkan bisa membuatmu mendapatkan apa yang akan kamu tuntut darinya." Jade menarik Daisy ke dalam pelukannya pelan. Pria itu meletakkan salah satu tangannya di punggung Daisy, satu lagi di kepala gadis itu, mendekatkan istrinya ke dadanya sampai Daisy bisa merasakan detak jantung yang teratur di balik kemeja Jade. "Serahkan padaku, Sayang,” lanjut Jade. Daisy menutup matanya. Dia memeluk Jade erat. Jade menepati janjinya. Tidak ada yang benar-benar tahu persis bagaimana caranya. Beberapa orang yang mencoba memahami proses itu dari luar hanya bisa menyimpulkan bahwa kekuasaan Keluarga Draxus memang bukan sesuatu yang bisa dicapai oleh semua orang, dan bahwa ada hal-hal yang bergerak lebih cepat ketika nama yang tepat disebut di ruangan yang tepat. Satu kali sidang. Hakim membacakan putusannya. Leo dihukum 25 tahun penjara dan denda ganti rugi 25 miliar rupiah. Daisy menangis lega saat mendengar itu. Bukan karena mendengar berapa lama Leo dipenjara dan berapa
Ada dua kursi di sudut belakang anjungan. Daisy dan Peter mengobrol di sana. Jaraknya beberapa meter dari posisi Jade, tetapi pria itu tidak akan mendengar dengan jelas dari sini. Beberapa detik berlalu tanpa kata-kata. Angin masuk dari celah jendela yang tidak tertutup rapat, membawa aroma laut yang asin dan sedikit basah. "Apa yang ingin kau bicarakan?" Daisy yang membuka suara duluan. Daisy menoleh ke Peter. "Atau sekarang … aku harus mulai memanggilmu Kak Peter?" Peter menoleh ke arahnya. Mata pria itu membulat. "Kau tidak merasa canggung padaku?" tanya Peter. Daisy menggeleng. "Sejak awal mengenalmu, kamu memang seperti sosok kakak untukku." Daisy berhenti sebentar, menggigit bibir, memilih kata berikutnya dengan hati-hati. "Maka dari itu …." "Kau tidak bisa menganggapku lebih dari itu." Peter yang menyelesaikan kalimat Daisy. "Ya." Daisy mengangguk. Peter menghela napas panjang. Dia menumpu tangannya di lutut, sementara matanya menatap lantai anjungan bebe
Peter mengencangkan tali yang mengikat tubuh Leo dengan kursi. Pria itu tidak berkata apa-apa, meski tangannya tidak berhenti gemetar. Begitu Peter selesai dan berdiri tegak, tatapan ayah dan anak itu bertemu. "Ayah harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan Ayah," ucap Peter tegas. Kekecewaan yang begitu besar, membuat Peter tidak bisa merasakan apa-apa lagi saat melihat wajah ayahnya. Leo yang sudah terluka di rahang dan sudut bibir karena dipukul Peter, tidak melawan. Dia membiarkan putranya mengikat dirinya di kursi. Jika harus adu fisik, Leo sadar dia akan kalah. Namun Leo masih bisa mengucapkan sesuatu untuk memengaruhi Peter. Leo menatap putranya beberapa detik. "Perbuatan Ayah yang mana?" tanya Leo sambil mengangkat kedu alis. Peter terdiam. "Yang barusan terjadi di toilet?" Leo melanjutkan. "Dia berhasil pergi sebelum Ayah sempat melakukan sesuatu. Dan di kapal in
"Siapa yang berhasil meniduri Lara, akan mendapatkan sejumlah uang." Leo mengucapkannya seperti sedang menceritakan pertandingan kartu biasa. "Dan saya menang." Leo menyandarkan punggungnya lebih jauh ke kursi. "Saya berhasil. Uang itu kemudian saya gunakan untuk membeli tanah kosong di Arvera, yang kini sudah menjadi kebun jeruk." Brak! Peter berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser mundur. "Brengsek!" maki Peter. Peter melangkah menjauh, membelakangi Leo dengan napas memberat. Pria itu tidak sanggup menerima kenyataan bahwa Leo adalah seorang brengsek, tetapi juga tidak bisa berhenti mendengarkan. Martha menatap punggung sepupunya itu sebentar sebelum mengalihkan pandangan kembali ke Leo dengan tajam. Daisy menggigit bibir, perasaannya mendadak menjadi tidak enak. Gadis itu menelan ludah dengan susah payah.
"Aaarrghh!" Daisy kembali mengerang kesakitan.Tubuh gadis itu bergetar hebat, keringat membasahi seluruh wajah dan lehernya."Apa?" tanya Daisy pelan dengan napas tersengal.Daisy tidak dapat mencerna ucapan Vincent dengan baik. Otaknya bekerja lambat karena seluruh tu
Pertanyaan Vincent membuat Andien menatap punggung pria itu dengan tatapan tidak percaya.Bagaimana bisa Vincent mempertanyakan hal sensitif sefrontal itu?Perawat melirik canggung ke arah Andien, sebelum kembali menatap Vincent dan menjawab dengan hati-hati, "Keadaan Nona Daisy
"Ya benar, Nona," jawab Primus sambil mengangguk sopan pada Jane.Jade menatap Primus dengan saksama, menantikan jawaban pria berusia sekitar 50-an itu yang juga menatapnya lurus tanpa ragu.Saat Jade masih kecil, Primus dipercayakan oleh Morgan untuk menjaga ibu dan adik-adikny
Di rumah sakit, Jade dengan wajah serius sibuk menandatangani dokumen persetujuan operasi untuk Elias.Tangan Jade bergerak cepat di atas kertas, tanda tangan yang biasanya rapi kini terlihat sedikit kacau karena terburu-buru. Mata Jade juga merah, rahangnya tegang, dan napasnya tampak b
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore