ANMELDENJade perlahan meletakkan garpunya.
Tatapan pria itu bertemu dengan mata Daisy yang penuh penasaran. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis."Di pesta pertunangan saya, kau mungkin tidak melihat mereka karena mereka memang tidak hadir, tapi saya punya tiga adik perempuan," jawab Jade tenang. "Terkadang mereka datang tiba-tiba mengunjungi saya dan membutuhkan kamar. Itu kamar untuk berjaga-jaga jika mereka datang."Daisy mengangguk-angguk mengerti. Rasa lega menyusup ke dadanya, mengusir kekhawatiran yang sempat mengganggu.Jade melanjutkan sambil meraih gelas air di hadapannya. "Salah satunya adalah kembaran saya, Jane. Yang waktu itu menelepon saya waktu kita bertemu Bianca di bandara."Daisy mengingat kembali saat itu, nama seorang wanita di layar ponsel Jade yang menyala."Jane mendadak datang karena ada hal yang harus dibicarakan terkait perusahaan," sambung Jade lagi. "Jane baru saja ditunjuk menjadi CEO Poseidon Exports pusat di Highvale."D"Maksudnya ya bekerja, Kak. Aku menawarkan pekerjaan pada Daisy." Zaleia menatap Bianca dengan tatapan datar. “Penampilan Daisy sangat cantik dan tidak bosan dipandang mata, dia bisa jadi artis sukses besar di sini.” “Di Highvale?” tanya Jade memastikan, tampak tidak rela. "Tapi dia sudah bekerja dengan Jade, Zaleia!" protes Bianca cepat. “Lagipula banyak yang lebih cantik dari Daisy. Apa kau tidak melihat wanita yang berada di sini juga tidak kalah cantik?” Bianca menunjuk dirinya sendiri. Daisy melirik kakak angkatnya. Melihat raut wajah wanita itu saja, Daisy bisa tahu jika Bianca tidak senang dengan tawaran Zaleia untuknya. Zaleia terkekeh geli. Beberapa menit lalu, Bianca menghinanya karena menolak tawaran kerja sama. Dia mendadak baik kala Zaleia mengatakan akan memberikan tas mewah. Tas itu bahkan belum sampai ke tangan Bianca, tetapi dia sudah berani meminta hal lain pada Zaleia. Adik Jade itu menggeleng pelan.
Zaleia mengangguk pelan sambil menyesap tehnya, membiarkan keheningan menggantung sejenak di udara. Uap tipis dari cangkir porselen itu naik perlahan. “Daisy, yang merupakan adik angkat Kak Bianca saja harus melalui proses wawancara beberapa kali seperti calon karyawan pada umumnya sebelum bekerja dengan tunangan Kak Bianca.” Zaleia meletakkan cangkirnya perlahan dengan tenang. “Bahkan, aku dengar Kak Jade sama sekali tidak tahu Daisy adalah adik Kak Bianca sampai dia bekerja lebih dari satu minggu.” Kalimat yang Zaleia lontarkan itu sangat rapi, tanpa ada nada menyerang. Namun justru di situlah kekuatannya. “Di keluarga kami, tidak ada istilah atas nama keluarga, Kak. Semua dipilih berdasarkan kualitas dan mengikuti sistem pemilihan yang adil.” Zaleia melanjutkan dengan tegas. Wajah Bianca memerah. Wanita itu mengepalkan tangan di atas paha hingga kukunya menekan kulit seakan mencari penyaluran bagi amarah yang menggelegak. Napas Bi
Saat Daisy dan Sereia sudah berjalan menjauh, Jade berbalik menghadap Bianca.Wanita itu masih terpaku di tempat, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Wajahnya memerah."Kau seharusnya lebih mendengarkan aku, Sayang!" desis Bianca penuh penekanan.Jade menatap Bianca dengan tatapan datar. "Memangnya siapa dirimu hingga saya harus lebih mendengarkanmu?"Bianca membeku.Kata-kata itu menghantam seperti tamparan keras. Mulutnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar."Tunggulah di mobil jika kau tidak ingin ikut. Saya belum tentu bertemu dengan Sereia setahun sekali. Ini kesempatan bagus." Jade melanjutkan dengan nada yang sama datarnya.Selain menjadi dokter hewan di kliniknya, Sereia memang aktif menjadi dokter di Perhimpunan Satwa Dunia dan sering pergi ke berbagai negara untuk menyelamatkan satwa liar maupun jinak, dari yang berukuran kecil hingga besar.Kepulangan Sereia ke Mansion Ravenfe
Beberapa jam sebelumnya.Daisy masih berada di kamar Jade, berbaring di ranjang king size dengan selimut tebal menutupi tubuh polos mereka berdua.Keringat masih membasahi kulit. Napas masih belum sepenuhnya teratur.Daisy menyandarkan kepala di dada Jade yang naik turun perlahan sambil mendengarkan detak jantung pria itu yang mulai melambat.Jade mengusap rambut Daisy dengan lembut, jemarinya menyusuri helai demi helai. Sesekali menghirup aromanya.Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka. Sampai dua ponsel berdering hampir bersamaan.Daisy tersentak. Sementara Jade mengernyitkan dahi.Gadis itu meraih ponselnya dari nakas. Layarnya menyala, panggilan dari sekretaris Marco.Jade juga mengambil ponselnya dan melihat nama Marco di layar ponselnya."Tuan Marco?" Daisy menebak sambil melirik Jade.Jade mengangguk sambil menatap layar ponselnya."Saya ditelepon oleh sekretaris Tuan Marco. Pasti mereka hendak menyampaikan hal yang sama," ucap
Jade menatap Bianca lama. Lalu dia menghela napas panjang. "Terserah," ucap Jade dingin. "Tapi jangan mengganggu kami." Jade masuk ke kamar dan menutup pintu. Bianca berdiri di koridor bersama Daisy. Keheningan mencekam menyelimuti mereka berdua. Daisy menatap Bianca dengan raut wajah datar, tidak ada rasa takut di matanya. Bianca menatap balik dengan amarah yang masih membara. "Kau pikir aku bodoh, Daisy?" bisik Bianca tajam. "Aku tahu kau berbohong." Daisy tidak menjawab. Gadis itu hanya tersenyum tipis, lalu berbalik berjalan menuju ruang kerja Sydney. Bianca mengepalkan tangannya lebih kuat. Beberapa menit kemudian. Suara pintu ruang kerja terbuka pelan, tetapi cukup untuk membuat Daisy yang sudah berada di sana lebih dulu menoleh. Gadis itu sedang berdiri di depan meja besar, menata laptop, tablet, dan be
“Tidak!” bentak Jade sambil menatap tajam Bianca. Bianca yang sudah menerjang ke depan terpaksa berhenti ketika kedua bahunya digenggam kuat. Jade mendorongnya menjauh dari ambang pintu, cukup keras untuk membuat tubuh Bianca terhuyung satu langkah ke belakang. Koridor yang luas itu mendadak terasa pengap oleh ketegangan yang menumpuk. Bianca terdiam. Deru napas wanita itu memberat dan dadanya naik turun cepat, seperti bara yang baru saja disiram bensin. “Kau …” Bianca terkekeh sumbang. “Kenapa? Kau takut ketahuan kalau tidur bersama Daisy?!” Tatapan Bianca turun perlahan. Dari rahang Jade yang mengeras, ke lehernya yang terekspos, lalu ke dada pria itu di balik piyama yang tidak rapi. Mata cokelatnya menyipit saat menemukan noda merah samar lain di kulit Jade. Bianca mengangkat tangannya. Namun sebelum ujung jari Bianca sempat menyentuh noda itu, Jade menghempaskannya. “Jangan sentuh saya,” tukas Jade rendah dan tajam. “Kau mau mengelak seperti apa lagi, Jade?” Suara Bianca







