MasukKieran Brielle Henderson couldn't accept the fact that she was being cheated on by her boyfriend. Her long time boyfriend whom she thought will forever be with her. She was deeply hurt after seeing him having sex with another woman. Feeling unwanted, unloved, betrayed, broken, and hurt, she found another way to heal her broken heart, to be able to move on, and have her little revenge. And that is by marrying the ruthless billionaire, Logan Achilles Sullivan who was arranged by her father to her to save their company. *** "I'll let you divorce me after one year, but that's after you carry my child, my heir." I frowned at him. "I'm too young for that! I still have dreams! I don't want to have a child yet!" Who does he think he is?! Does he really think that having a child is easy?! He let out a cruel smirk as darkness clouded his electric blue eyes. "Then, don't divorce me."
Lihat lebih banyakRong Tian melangkah mundur ke bagian terdalam kamarnya dengan napas tersengal-sengal. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Suara kaki empat sosok tinggi besar mengenakan topeng terasa mengancam.
Dia tahu, ini mungkin akan menjadi malam terakhirnya...
>>>
Kota Biramaki perlahan tenggelam dalam keheningan malam. Jalanan yang ramai tadi siang kini sepi, hanya diterangi oleh lentera-lentera temaram yang bergoyang ditiup angin.
Suara langkah petugas penjaga malam berderap di kejauhan, mengumumkan bahwa waktu kentongan pertama telah tiba.
Teng – teng – teng. Suara kentongan bergema, menandakan awal malam yang panjang.
Namun, di sebuah kamar sempit dan sederhana di belakang rumah megah Wakil Menteri Adat dan Budaya Kekaisaran Bai Feng, Rong Tian masih terjaga. Kamar itu, meskipun kecil, menjadi saksi bisu kegelisahan yang menggerogoti hatinya.
Hari ini, pengumuman ujian negara telah diumumkan, dan Rong Tian dinyatakan gagal.
Sebagai anak kusir kereta wakil menteri, kehidupan Rong Tian sebenarnya terbilang cukup terpelajar.
Sejak usia delapan tahun, dia sering mengikuti pelajaran sastra dan musik yang diajarkan oleh guru khusus Nona Zhao Hua, putri Wakil Menteri Zhao Ming. Hubungan mereka awalnya hanya sekadar pertemanan, namun seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.
Rong Tian pernah berjanji pada Zhao Hua bahwa dia akan lulus ujian negara dan menjadi pejabat kekaisaran, agar layak melamarnya.
Namun, nasib berkata lain. Meskipun Guru Hui Yan, pengajar sastra dan seninya, yakin bahwa kemampuan Rong Tian lebih dari cukup untuk lulus, kenyataan pahit harus diterimanya.
Di kejauhan, suara penjaga malam terdengar keras, memecah kesunyian malam.
“Kuncilah pintu rapat-rapat! Jangan beri peluang pada pencuri! Periksa lagi api di dapur, ini musim panas. Jangan biarkan api membakar rumah kalian!”
Tiba-tiba, suara ketukan pintu memecah keheningan.
Tok – tok – tok.
Jantung Rong Tian berdegup kencang. Adrenalinya langsung memuncak. “Zhao Hua?” pikirnya, harap-harap cemas.
Seharian setelah pengumuman kegagalannya, Rong Tian berusaha menahan diri untuk tidak menjumpai kekasihnya. Dia tak ingin Zhao Hua melihatnya dalam keadaan lemah dan penuh kekecewaan.
Dan, malam ini, seperti biasa, mereka seharusnya bertemu di taman belakang, diam-diam, untuk berbagi cerita.
NGIIK! Suara pintu berderit ketika dibuka.
Namun, kata-kata Rong Tian terhenti di ujung lidah. Bukan Zhao Hua yang berdiri di depan pintu.
Empat sosok pria bertubuh tinggi besar menghalangi pandangannya. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, wajahnya tertutup rapat, hanya menyisakan mata yang memancarkan aura dingin dan mengancam.
“Si–siapa kalian?” Rong Tian bertanya, suaranya gemetar, meskipun dia berusaha keras untuk tetap tenang. Ia berjalan mundur di kamarnya yang kecil. Namun tak ada ruang lagi untuk melarikan diri.
“Siapa kami?” suara serak salah satu pria bertopeng menjawab, dingin dan tanpa emosi. “Kamu akan tahu setelah dibawa pergi dari kediaman wakil menteri!”
Kalimat itu menjadi hal terakhir yang didengar Rong Tian sebelum segalanya berubah gelap. Sebuah pukulan keras mendarat di batang lehernya, menghilangkan kesadarannya seketika.
Keempat pria bertopeng itu bergerak cepat dan terlatih.
Mereka menyeret tubuh Rong Tian dengan hati-hati, seolah menghindari meninggalkan jejak yang tidak perlu.
Yang mengejutkan, mereka tampak sangat akrab dengan tata letak kediaman wakil menteri. Mereka melewati lorong-lorong sempit, bahkan area yang jarang dilewati oleh penjaga sekalipun, seolah sudah menghafal setiap sudutnya.
Tak lama, mereka tiba di bagian belakang kediaman. Di sana, sebuah kereta kuda sudah menunggu, ditarik oleh dua ekor kuda yang tampak kuat dan terlatih.
Keempat pria itu melemparkan tubuh Rong Tian ke dalam kereta dengan gerakan cepat namun terukur.
Tanpa membuang waktu, kereta itu segera bergerak, melesat ke arah barat, meninggalkan kediaman wakil menteri tanpa jejak.
Malam yang sepi pecah oleh derap kaki kuda yang berirama, membawa sosok Rong Tian menjauh dari segala yang dia kenal. Tak ada yang melihat, tak ada yang mendengar, dan tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Keesokan harinya, kediaman wakil menteri gempar. Rong Tian dinyatakan hilang.
Banyak yang berspekulasi bahwa dia, putus asa karena kegagalannya dalam ujian negara, memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Lautan Donghai, lautan luas di sisi utara Kota Biramaki.
Namun, tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi pada pemuda itu.
>>>>
Rong Tian terbangun, sinar matahari menyilaukan matanya.
“Kepalaku sakit. Apa yang terjadi?” bisiknya pelan, mencoba meluruskan tubuhnya yang pegal.
Namun, seketika dia terkejut. Tangan dan kakinya terikat erat dengan tali tambang yang kasar.
Lebih mengejutkan lagi, dia menyadari bahwa dirinya sedang berada di dalam kereta kuda yang berguncang, melaju ke suatu tempat yang tidak dia ketahui.
“Bagus! Kamu sudah bangun,” suara serak yang familiar terdengar dari sudut kereta.
Rong Tian menoleh ke arah suara itu dan melihat tiga sosok pria berpakaian serba hitam. Kali ini, mereka tidak lagi mengenakan topeng, memperlihatkan wajah-wajah yang keras dan tak bersahabat.
“Aku ditawan. Entah oleh siapa? Dan aku tak tahu apa kesalahanku...” gumamnya pelan, mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.
Sebagai seorang terpelajar, Rong Tian tahu dirinya dalam bahaya. Namun, dia berusaha tetap tenang, mencari celah untuk berpikir jernih.
“Tuan, apa salahku? Mengapa aku ditawan? Aku bukan orang penting. Tolong lepaskan aku...” katanya, mencoba membujuk dengan nada merendah.
Namun, bukannya belas kasihan yang dia dapat. Sebaliknya, salah satu pria dengan bekas luka di wajahnya menghampiri dan menamparnya keras.
PLAK!
“Bocah tak tahu diri! Sudah syukur kami tidak diperintah membunuhmu. Masih saja bertanya-tanya, apa kesalahanmu!” pria itu meludah ke wajah Rong Tian setelah melepas tamparannya.
Rong Tian terdiam, menahan rasa sakit yang menyebar di pipinya. Tamparan itu begitu keras, hingga sebagian giginya terasa goyah. Dia bahkan bisa merasakan aroma amis di mulutnya, pertanda bahwa darah mulai mengalir.
Meskipun begitu, dalam keheningan, tatapan mata Rong Tian melotot tajam ke arah pria yang menamparnya. Tidak ada ketakutan di matanya, hanya keinginan untuk tahu, untuk memahami mengapa ini terjadi padanya.
Pria itu tampak semakin marah. “Kamu menantangku, bocah?” suaranya menggeram, tangannya sudah mencabut belati dari pinggangnya, siap menggorok leher Rong Tian.
Namun, pria bersuara serak yang tampaknya adalah pemimpin kelompok itu segera menahan tangan pria berbekas luka.
“Hentikan! Kita diminta hanya membuangnya di Gurun Hadarac! Tidak untuk menghabisi dia di sini! Biarkan dia disantap serigala lapar atau hewan buas lainnya di padang gurun! Dia tetap akan mati!”
Mendengar kata-kata itu, bulu kuduk Rong Tian berdiri.
“Gurun Hadarac? Tempat terkutuk itu?” pikirnya, jantungnya berdegup kencang.
Pemimpin kelompok itu mendengus dingin. "Mengapa terkejut? Orang miskin sepertimu berani berhubungan dengan gadis bangsawan. Bukankah Gurun Hadarac tempat yang pantas untuk menghukum rakyat jelata sepertimu?"
>>>
Gurun Hadarac bukan sekadar padang pasir gersang. Konon, tempat itu dihuni oleh makhluk buas, binatang iblis, dan bahkan hantu-hantu gentayangan yang lapar.
Siapa yang tega memerintahkan pembunuh bayaran untuk membuang Rong Tian ke tempat seperti itu? Pertanyaan itu menggelayut di hatinya, membakar rasa penasaran dan ketidakrelaannya.
“Setidaknya beri tahu siapa yang memerintahkan ini, dan apa motifnya membuatku sengsara begini. Aku tak rela mati dalam keadaan penasaran!”
Bersambung
Chapter 75"Are you sure you're going to watch, Miss?" My heart pounded for no reason as I stared at the file that Matias found about Anita. I only nodded shortly, even though my heart was pounding so hard for some reason. I feel nervous. Matias let our a deep sigh before clicking it. The video played and all that I did was to freeze on my seat as I continue to watch the scene in front of me. It was a scandal of Anita with a man. It was familiar. He was familiar to me. I know that physiques! I know it and I know that I'm not wrong!I bit my lower lip and signalled Matias to stop the video. He did, and I immediately looked away."I've seen enough today, Matias." I said, touching my forehead and slightly massaging it. "I... want to go home."That's what I did. Matias quietly sent me home with the bodyguards that Logan hired for me. "Are you okay, babe?" Logan immediately asked me as soon as he arrived in the penthouse. Kierro is inside his room with Mateo, probably playing in there.
Chapter 74So, how could he explain those hickeys I saw on his neck? The red lipstick that saw on the collar of his shirt? How about the times were him and Anita going together was broadcasted to the world? How about those times, huh? The time he spent more on Anita. What was that all? That was all nothing then? "I know you're still doubting me, babe, but allow me to explain everything to you once these are all over, hmm?" My eyebrows furrowed in confusion when I heard him. "Let me handle everything, baby. Please. I just want you and our son to be safe and sound."I am indeed confused with him. I tried to ask him further more, but he refused to answer me. He said that the right time where he'll explain everything to me is already approaching, and all that I have to do is to wait for that moment.Days passed and Logan still didn't allow me to only have five bodyguards everytime I go out for work. Even Kierro, our son, has his own bodyguards which really quite amazes me. Looks like Log
Chapter 73I woke feeling so exhausted that I felt like my body ran a whole marathon in my dreams. The first that I saw as I opened my eyes was the white ceiling that I have to think again if I'm awake or I'm just really in heaven. I could hair faint voices beside me as I tried to keep my eyes open while observing the surroundings that I am currently in. I still fell sleepy despite of the fact that I just woke up. So I asked myself what really happened?And it hit me. I was ambushed and I was alone with Mateo in the car. I thought it was my end when those people started cornering us while pointing their guns at us, but no. Fortunately, Logan was exactly on time, arriving judt to save me. To save the person that loathes him. I really did got shot on my left leg. It wasn't too fatal, but it was enough for me to be brought in the operating room. Hence, the reason for my weak body now. It must've because of the wound and the medicine that they injected on me. "Momma! You're awake! Momm
Chapter 72"This is fucking ambush, Miss!" Mateo shouted as I heard the screeching of cars from behind us. Mateo just kept on driving even with gunshots following us behind. I was crying, still as I curled myself on the backseat. I covered my ears when the bullets started penetrating the window. Mateo's cuss kept getting louder and louder. Two black cars were following us while they were firing their guns at us too. I didn't know for how long did I endured the noise of the firing guns, but the next thing that I knew was that our car stopped. A loud screech illuminated as I heard Mateo's defeated sigh. I cried more, knowing that there's a big chance that I won't be alive tonight anymore. It scares me. So fucking much. The death, but this is truly inescapable anymore. I wouldn't be seeing my son anymore. Will he be safe with Logan? Will my baby cry once he found out that his mother died in an ambush? He will. Oh God, Kierro will be sad and frustrated. He will probably blame himself
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasanLebih banyak