FAZER LOGINJake had a glitchy fight with Jessica on his way back home from work. It didn’t go well with either of them. unfortunately, he meets her again at the club stripping and he hated her the more for living a reckless life. However, he ran into her on a lonely path with some thugs trying to steal from her. He saved her and took her to his house to rest for a while. She got herself after some time, thanked him, and left without his notice but stole his lonely heart along. Not when they thought their relationship would bond them together, he had an accident and lost his memories forgetting everything he loved behind, and began a new life with his former girlfriend who later duped him and ran away forgetting Jessica became pregnant for him, the very day they had a one-night stand. Jessica bore the pains of total rejection and agony. She disappeared into an unknown city and became the most fearful and Wicked lady in society... Fifteen years later, Jake became poor and accepted an offer to become Jessica’s driver unknown to him. How will they find out about each other true identities and that of their pasts?
Ver maisAku berlari di tengah keramaian orang-orang yang sedang berjalan. Pagi-pagi begini orang-orang sudah sibuk untuk memulai hari mereka dengan harapan di hati mereka hari ini lebih baik daripada hari kemarin.
Aku melihat jam di ponselku sambil terus berlari dan melihat bus yang pintunya sudah mulai menutup dan akan pergi. Aku harus menaiki bus itu sekarang jika tidak ingin terlambat. Jadi, aku menambah kecepatan berlariku.
“Pak tunggu Pak!” Aku berteriak mencoba menghentikan bus itu.
Aku berlari dengan kecepatan penuh mengejar bus yang seperkian detik yang lalu sudah meninggalkanku yang belum naik. Padahal, hari ini adalah hari penting bisa-bisanya semalam aku begadang dan makan mie instan dengan temanku hingga telat begini.
Brug
Bodoh, sudah telat begini aku menabrak seseorang. Aku terkejut melihat kardus-kardus yang berserakan dan segera mengambilnya.
“Maaf Pak maaf.”
Aku berjongkok mengambil kardus itu. Namun, mataku masih melihat gelisah ke arah bus yang sedang menungguku masuk.
“Gapapa neng, pergi aja! ini Bapak aja yang beresin.” Bapak itu sepertinya menyadari aku sudah terlambat. Aku tersenyum lega dan berulang kali mengucapkan terima kasih dan maaf pada Bapak itu lalu segera mengambil ponselku yang terjatuh dan berlari menuju bus.
Hari ini aku bertemu orang baik yang tidak terduga. Aku sempat menoleh pada Bapak itu dan memastikan dia sudah mengambil semua kardusnya, Bapak itu masih memunguti kardusnya. aku yang melihatnya merasa bersalah.
...
Suasana sekitar terlihat seperti sebuah cafe dengan interior modern. Seorang pria paruh baya menghampiri seorang pria yang tengah sibuk membuat kopi, pria paruh baya itu memberikan sebuah ponsel padanya.
“Makasih mas hapenya, saya jadi ga tersesat ke pabriknya. Teknologi jaman sekarang emang mantap pisan.”
Pria itu menoleh, hanya tersenyum tipis dan mengambil ponselnya.
Pria itu hendak melanjutkan kembali kegiatan membuat kopi tapi Bapak itu masih belum beranjak pergi seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Kenapa Pak?”
“Anu... itu... tadi ada yang nelpon dari kantor Polisi,“ ujar bapak itu ragu-ragu. Pria itu hanya menatap bapak itu dengan ekspresi datar dan dengan santainya menjawab,
“Apa dia menelepon sambil berteriak 'heh pembunuh brengsek?' "
Bapak itu tertegun, terkejut karena bagaimana pria ini bisa tahu persis apa yang dikatakan Pak Polisi. Selanjutnya pria itu hanya tersenyum “Gapapa pak, itu sahabat saya kita lagi maen polisi polisian.”
Bapak itu tidak mengatakan apapun dan menatap aneh pada pria di depannya ini, dia segera pergi meninggalkan cafe. Sedangkan pria itu ekspresinya berubah menjadi datar. Dia melihat ponselnya dan melihat layar kunci dengan gambar rumah pohon, pria itu menghela napas.
“Ini bukan ponselku.”
...
Aku terkejut melihat siapa pria yang tengah berdiri di depanku, dia hanya menatapku dengan tatapan yang sulit dimengerti.
“Tidak akan memperkenalkan diri?” Ujar pria itu.
Aku masih terdiam menatapnya hingga seperkian detik.
“Atau tidak perlu karena kita sudah saling kenal?” Dia sedikit memiringkan kepalanya.
Aku tersadar dari lamunanku dan segera mengulurkan tangan memberi salam.
“Selamat siang Pak, saya Kirei Olivia. Mulai hari ini saya menjadi penerjemah di perusahaan ini,” salamku dengan tersenyum canggung.
Dia mengulurkan tangannya dan membalas jabatan tanganku lalu berkata “Baiklah, kedepannya mohon bantuannya."
Aku mengangguk masih dengan senyuman canggung, dia tidak melepaskan tanganku dan menatapku. Aku berdehem pelan dia akhirnya melepaskan tanganku. Dia berjalan dan duduk di meja kerjanya.
Aku tersenyum getir ternyata aku satu ruangan dengan pria ini. Iya pria ini, pria yang sudah membuat hidupku berantakan, pria yang bahkan tidak aku rindukan, pria yang bahkan aku berjanji pada diriku sendiri jika aku bertemu dengannya sekali lagi aku akan membunuhnya.
Sepertinya memang benar karma itu nyata. Aku selalu mengutuknya dalam hatiku. Sekarang dirinya, pria itu menjadi atasanku di perusahaan baruku.
Perusahaan yang selalu aku impikan untuk bisa bekerja disini. Aku sudah tiga kali gagal masuk perusahaan ini hingga akhirnya aku di terima di percobaan keempat, siapa yang mengira ternyata atasanku adalah si brengsek ini.
...
Kirei gadis berambut hitam pekat sebahu, dengan kulit putih pucat itu menenggelamkan wajahnya di meja. Dia terdengar menghela napas dan sesekali menggelengkan kepala. Dia tiba-tiba menegakan badannya dan berseru.
“Apa aku keluar saja? Benar aku keluar saja besok, aku akan memberikan surat pengunduran diri.”
Seorang gadis yang tengah memakan ayam goreng di depannya itu menatap Kirei datar.
“Bagaimana dengan hutangmu? Tunggakan kost kita? Uang untuk kakakmu?” Ujarnya membuat Kirei lagi-lagi menghela napas dan menenggelamkan kepalanya lagi di atas meja.
Rasanya dia ingin menenggelamkan diri di laut sekarang. Dengan semua beban hidup yang harus dia tanggung, bekerja dengan orang yang dia benci dan dia kutuk setiap hari apalagi bekerja di ruangan yang sama hanya berdua.
Dia melupakan 3 hari yang lalu dimana dia sangat bahagia dapat diterima di perusahaan impiannya menjadi penerjemah perusahaan barang import Indonesia-Korea. Kirei yang terkenal pelit dan hemat dengan uang bahkan mentraktir teman-temannya.
“Tapi bukankah itu takdir? Kalian sudah berapa tahun tidak bertemu? 7 tahun?”
Kirei duduk tegak, dia terdiam sebelum akhirnya menjawab dengan getir “7 tahun 8 bulan 17 hari.”
Temannya yang sedari tadi sibuk memakan ayam goreng itu juga ikut terdiam dia merasa bersalah dengan menyinggung soal hari itu, hari dimana kehidupan teman di depannya itu berubah total.
Flashback
“Aku tidak mau berteman denganmu lagi. Aku menganggapmu sebagai pria, aku menyukaimu. Maukah kamu jadi pacarku?”
Seorang gadis dengan rambut pendek sebahu tengah menundukan kepalanya dan mengulurkan sebuah cokelat. Ia memberikan cokelat itu kepada seorang lelaki di depannya. Mereka terlihat memakai baju seragam sekolah yang sama. Mendengar pengakuan gadis di depannya, lelaki itu terkejut dia akan membuka mulutnya.
"Kalau kamu tidak mau jadi pacarku, kita tidak bisa berteman lagi," sela gadis itu sebelum lelaki itu menjawab pengakuannya.
Hening beberapa saat, gadis yang tengah menundukan kepala itu memberanikan diri untuk menatap lelaki di depannya dia terpesona melihat pemandangan di depannya. tapi, melihat ekspresi si lelaki gadis itu tidak bisa mengerti.
Nyalinya mendadak menciut takut dirinya ditolak oleh lelaki yang sangat dia sukai sekaligus adalah teman berharganya ini. Mereka sudah berteman hampir 2 tahun, ternyata si gadis memendam perasaan suka pada si lelaki.
“Baiklah. Ayo pacaran Kirei," ujar si lelaki kemudian. Gadis yang ternyata adalah Kirei itu menganga tidak percaya dengan apa yang dia dengar lalu seperkian detik kemudian Kirei memeluk lelaki di depannya.
“Terima kasih Faisal, aku pikir kamu akan menolakku. Terima kasih.”
Setelah hari pengakuan itu Kirei dan Faisal menjadi sepasang kekasih bukan sepasang teman lagi, mereka menjalani hari dengan bahagia setidaknya itulah yang dipikirkan Kirei hingga saat hubungan mereka terjalin hingga 8 bulan. Kirei merasa Faisal sedikit berubah, dia jarang sekali membalas pesan Kirei, mereka juga sudah jarang sekali berkencan.
Mereka berdua sudah kelas 3 tingkat akhir sekarang, Kirei masih memaklumi dengan sikap cuek Faisal mungkin karena dirinya ingin fokus untuk belajar agar diterima di universitas terbaik. Sebenarnya Kirei adalah salah satu siswa terbaik di sekolah jadi dia tidak terlalu memperdulikan tentang belajar karena belajar sangat mudah menurut Kirei, tetapi berbeda dengan Faisal yang setiap hari dituntut oleh orang tuanya untuk bisa masuk universitas bergengsi.
Hari itu Kirei meminta bertemu Faisal karena sudah hampir 2 minggu Faisal menghindarinya, mengabaikan semua pesan dan telepon Kirei.
Di sinilah mereka berdua, di taman sekolah tempat Kirei mengungkapkan perasaannya 8 bulan yang lalu.
"Apa yang terjadi? Mengapa menghindariku?" tanya Kirei.
Faisal menghela napasnya "Aku sibuk belajar," jawabnya pelan. Terlihat jelas wajah tidak nyaman Faisal. "Aku bisa membantumu belajar. Ayo kita belajar bersama dan masuk universitas yang sama." Kirei mendekatkan diri tapi Faisal berjalan mundur.
"Kita putus saja, kita berteman seperti dulu." Faisal berhenti mundur dan menatap Kirei.
Kirei terkejut mendengarnya, dia terdiam sebelum akhirnya menjawab “Aku tidak bisa berteman denganmu, aku mencintaimu. kalau kamu ingin putus kita tidak bisa berteman lagi,” ujar Kirei balik menatap Faisal. Faisal hanya menghela napas.
“Walaupun begitu aku tetap ingin putus.” Mendengar itu Kirei hanya bisa terdiam, tenggorokannya tercekat.
“Walaupun kita tidak bisa bertemu lagi?” tanya Kirei memastikan, Faisal mengangguk perlahan.
“Apa kau menyukaiku? Apa kau pernah menyukaiku?” tanya Kirei lagi, Ia mengigit bibir sendiri menahan tangis.
Faisal terdiam menatap Kirei sebelum akhirnya menjawab “Aku tidak pernah tidak menyukaimu. Aku menyukaimu sebagai teman.” Kirei tidak bisa menahan tangisnya, dia membalikan badan dan berlari menjauhi Faisal.
Flashback end
“Eh, tapi bagaimana reaksi dia saat tahu kalian bertemu lagi?” tanya Jessica penasaran.
Kirei menatap sahabatnya itu dan mengangkat bahunya pelan “Dia biasa saja, tidak mengatakan apapun seperti tidak mengenal. Kita saling tidak membahas masa lalu hanya membahas pekerjaan.”
“Benar kau harus keluar dari perusahaan itu, kau tidak boleh berhubungan dengan brengsek seperti dia. Bagaimana bisa dia hampir 8 tahun tidak mengunjungimu sama sekali? Mustahil dia tidak tahu dengan apa yang telah terjadi hari itu setelah dia mencampakanmu.” sekarang giliran sahabatnya itu yang marah dia mengangkat-angkat ayam gorengnya emosi.
Kirei menghela napas “Tapi Jess, Setelah dipikir-pikir itu bukan sepenuhnya salahnya itu adalah salahku.“
Kirei dan sahabatnya bernama Jessica itu sama-sama terdiam. Kirei mengeluarkan ponselnya ingin melihat pukul berapa sekarang dia terkejut melihat ponsel dengan layar kuncinya bergambar rumah pohon, miliknya bergambar rumah pohon juga tapi gambarnya berbeda dengan miliknya. Dia mencoba memasukan kode layar kunci dan benar saja tidak terbuka.
Karena itu bukan ponselnya.
“Apa yang terjadi? Ini bukan ponselku."
...
“Sudah enam kali.“
“Apa?”
“Sudah enam kali di tahun ini Pak Polisi yang terhormat bertanya pertanyaan itu pada saya.“
Di ruangan yang tidak terlalu luas dan minim cahaya, dengan sebuah meja di tengah dan dua kursi yang saling berhadapan. Sebuah kaca besar yang hanya bisa dilihat dari luar adalah beberapa polisi yang tengah mengamati percakapan dua orang pria di ruangan sebelah yang sepertinya salah satunya adalah Polisi dan di depannya seorang pria memakai kaos berwarna abu-abu dan celana jeans tengah menatap santai pada Polisi di depannya yang menatapnya serius.
Polisi menghela napas panjang, dia memberikan sebuah foto mayat yang mengerikan dan meletakannya di meja. Pria itu menatap foto itu.
“Maria Inayah, setelah bekerja paruh waktu di super market dia pulang ke rumah dan mendapati rumahnya sudah terbuka... ia lapor Polisi tapi terlambat seseorang membunuhnya dengan mencekik lehernya menggunakan tali pancing hingga kehabisan napas lalu menggundulinya. Haru seseorang itu adalah kamu kan?”
Pria yang bernama Haru itu tertawa “Apakah Pak Polisi membuat novel?”
Polisi di depannya itu menahan emosi dengan mengepalkan tangannya. Tiba-tiba seseorang yang terlihat seperti Polisi lainnya memasuki ruangan dan memberikan sebuah laptop berisi rekaman cctv. Polisi yang tadi menginterogasi itu terkejut dia menatap Haru.
Sedangkan Haru hanya membalas tatapan itu dengan tatapan meremehkan.
“Saya sudah boleh pergi kan? Saya banyak pekerjaan dan tidak boleh pergi terlalu lama.”
Ternyata laptop itu berisi rekaman cctv Haru tengah berada di cafe sedang bekerja saat waktu kematian Maria. Pak Polisi itu menatap lagi laptopnya dan menyadari jika Haru menyeringai ke arah kamera.
...
Polisi itu menatap lagi layar laptop yang tengah menayangkan cctv Haru tengah bekerja di cafe sampai subuh dan tidak pergi kemanapun.
Ia memijat keningnya yang terasa pening, seorang Polisi yang lain masuk dan duduk di sebelah Polisi itu.
“Sudah 6 orang gadis yang meninggal dan semuanya memiliki kesamaan yaitu mereka adalah pacar bocah itu dan korbannya sama-sama di gunduli setelah di bunuh. Tapi bocah itu selalu memiliki alibi saat kejadian berlangsung. Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Iya Pak semua orang juga yakin jika bocah itu pelakunya tapi kita tidak ada bukti untuk menangkapnya. Jika begitu apa menurut Bapak dia punya saudara kembar?” jawab Polisi di sampingnya itu
Polisi itu terdiam mendengar ucapan rekan kerjanya. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan ada sebuah pesan dari
Putriku: ‘Ayahku tercinta, Kirei mau kesana ponselnya hilang tolong dibantu ya pak polisi galak’
...
Kirei tengah berjalan terburu-buru dia mengumpati diri sendiri karena ceroboh. Bisa-bisanya ponselnya tertukar dia baru menyadari jika ponselnya tertukar dengan Bapak yang tadi pagi dia tabrak.
Dia sekarang tengah menuju kantor Polisi untuk menemukan kembali ponselnya karena sejak tadi dia menelepon ponselnya tidak ada yang mengangkat.
Kirei sudah tiba di depan pintu kantor Polisi dia segera memasuki kantor Polisi dengan tergesa-gesa.
Kirei menghentikan langkahnya tiba-tiba karena seseorang mendadak muncul di depannya. Kirei menahan napasnya karena di depannya sekarang adalah dada bidang seseorang. Dia terkejut dan mendongak menatap siapa pemilik dada bidang yang hampir dia tabrak ini.
Seorang pria berambut hitam dengan sedikit warna cokelat yang sudah memudar, matanya tajam dan dingin. Kirei tertegun melihat pemandangan di depannya.
They stood naked gazing at each other. Jake apologized for not setting the water heater properly. "I forgot I had a visitor who never wanted to visit if not because of her daughter," Jake smirked and went in to reset the heater. His 7ft Inches cock kept dazzling to Jessica's amazement, her eyes haven't been off staring at the young man's big cock.She felt embarrassed and horny as every part of her body wants to get hold of Jake. Still thinking when she felt a soft hand across her shoulder.It was jake, she could feel his thick balls tweezing on her thighs, he place a kiss on her neck and fondle her hair romantically as they reached for each other lips...Girl, your pu**y is sopping wet," Jake said, his fingertips gently stroking her through her thongs. She felt his touch on her core and her toes. He found her clit, hard and sensitive, and rubbed it. "Wow, your nub is rock hard." Jessica locked her knees straight, off his lap, as Jake held her in place with one hand on the small of
"That's not how to look at Daddy!!!", Isabel yelled once Jessica glared at Jake and her glare immediately disappeared. "But I didn't do anything wrong sweetheart," Jessica countered. "You need to look at Daddy with love, Mommy, not like you want to beat him, look at him the way you look at me," Isabel commanded. "And smile too", she added and Jake couldn't help but burst into laughter. "You think this is funny huh?" Jessica asked and he immediately sucked in his laughter. "You're disobeying your daughter by talking to me that way", Jake joked and Jessica glared at him unable to stop it this time. "Shut up", she grunted. "Mommy!", Isabel yelled now about to cry again. "Let's just go okay? Let's go have fun Honey", Jessica responded and started dragging Isabel out. "Won't you help Daddy with the bags?" "It's fine, sweetheart", Jake waived and they began heading out. Soon, they arrived at the beach where Jake had already ordered a party arena to be set for them and Isabel scre
“You should be grateful someone like me is even interested enough to check up on you and come here just to see you, something your girl's father wouldn’t do for you. Get lost Mrs. Jessica because that’s all; I just care," he growled once he grabbed her arms and stormed away leaving her standing at the door. She is in shock at what she had just heard as she watched him start his car engine and zoom off in anger. She immediately slammed her hand against her forehead in disappointment once he drove away just recovering herself and she sighed. “I shouldn’t have said those things to him, he’s a nice guy after all... But why the heck was he following me around?" she mumbled and went back inside. Meanwhile, Jake was driving off at a high-velocity speed and kept hitting hard on his steering wheel at intervals while lamenting. “You don’t even have the slightest idea how much I’ve loved you since you left my house, Jessica. Arghh! Your cold response always throws me off balance", he com
“Oh no, what!!!," he shouted immediately he got to the sitting room, staring at the seat Jessica was seated. She had left already, even without saying goodbye. Well at least, he was lucky he didn't barge in on her with his naked body. "Even though, that’s still bad of her," Jake mumbled and returned back to the bathroom with his towel. Jessica sat inside a public bus heading home while remembering the face of Jake. 'Jessica stop already, remember what that jerk did to you when he got you pregnant. Men are a total scum...', she told herself. 'But he’s such a nice man and caring... Most of all, he's a good cook,' another part of her mind argued. 'I wonder why his girlfriend would leave him to be single again when he's so nice. Maybe he’s a player also, just like any of them out there,' she soliloquize and leaned on the window of the bus watching the cars moving on the opposite side of the road. Jake sighed worriedly as the club's last music ended and strippers returned back to t
Jake closed from work and decided to take a walk to ease his mind. It had been months since that day at the club and he had never seen that lady. 'Until now, his mind points out and he realized he was staring at her at the moment. She was walking along the lonely path with him and he noticed two
Jake Smith made his way towards the bus stop with an easily detectable fire of anger in his eyes which could burn down an entire city. He had visited his girlfriend, Annie Walter only to catch her shamelessly kissing another man much to his amazement. Jake was an average working-class young man a


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.