LOGINGumuho ang mundo ni Scott Dela Vega ng malaman nyang hindi sya ang totoong anak ng kanyang kinalakihang Pamilya. Paano na ang kanyang mala buhay Prinsipe?! Paano na ang mga mamahalin nyang kotse?! Paano na ang dapat nyang mamanahin na kompanya at ilang billion na pera?! Paano kung malaman ng mga humahanga sakanya na hindi sya ang totoong Dela Vega?! Paano na sya bibili ng mga gusto nya kung mawawalan sya ng pera?! Ayaw nyang mabuhay na pulubi at mag hirap. Kaya nakaisip si Scott ng isang plano... Paano kung pakasalan nya ang totoong anak ng mga Dela Vega? Eh di hindi sya mawawalan ng kayamanan. Wala nang pakealam si Scott kung ano pa ang kasarian nito basta ay magawa nya ang kanyang minimithing plano. What a Perfect idea! Perfect na sana kaso... Hindi kadaling makuha ang isang Skyler Perez na mas straight pa ata sa ruler.
View MorePLAK!
Tamparan itu datang begitu keras hingga Peter Davis merasa dunia berputar.
Suara nyaring memenuhi ruangan karaoke yang remang-remang, diikuti dengan sensasi terbakar di pipi kirinya. Kesadarannya yang tadinya kabur mendadak menjadi tajam seperti pisau bedah.
"Dasar bajingan mesum! Berani-beraninya kau meraba-raba dadaku seperti itu!" teriak wanita di hadapannya dengan suara melengking yang menusuk telinga.
Peter mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha memfokuskan pandangan.
Perlahan, sosok di hadapannya menjadi jelas.
Dia seorang wanita dengan rambut pirang mencolok yang terlihat kering dan rusak.
Wajahnya tersembunyi di balik lapisan kosmetik tebal yang gagal menutupi ketidaksempurnaannya. Lipstik merah menyala yang sedikit meleber di sudut bibirnya memberikan kesan murahan, sementara matanya menyala-nyala penuh amarah dan kepalsuan.
"Apa yang..." Peter tergagap, mencoba mengumpulkan kesadarannya.
Namun kata-katanya terputus saat realitas menghantamnya lebih keras dari tamparan tadi.
Tangannya. Di dada wanita itu. Karaoke. Musik berdentum. Bau alkohol dan parfum murah. Botol-botol bir kosong di meja.
“Sial. Aku telah kembali.”
Lima tahun di Benua Zicari, dimensi di mana ia dihormati sebagai tabib berbakat dengan kemampuan penyembuhan ajaib. Lima tahun menjadi sosok yang disegani, dipuja, bahkan ditakuti. Dan kini? Ia terbangun dalam situasi paling memalukan yang bisa dibayangkan.
"Aku tidak bermaksud..." Peter mencoba menjelaskan, tapi otaknya masih berusaha menyesuaikan diri dengan realitas yang telah ia tinggalkan.
Gadis pemandu karaoke itu mendengus sinis.
Matanya menyipit penuh kebencian, bibirnya melengkung dalam senyum mengejek yang tidak menyembunyikan kepuasan melihat Peter terpojok.
"Oh, jadi tanganmu tidak sengaja mendarat di dadaku? Kau pikir aku bodoh? Dasar pria menjijikkan!" Suaranya sengaja dikeraskan, jelas bertujuan menarik perhatian orang-orang di sekitar.
Peter menatapnya dengan campuran kebingungan dan jijik. Ia mencoba berdiri dari sofa, namun kepalanya berdenyut-denyut, mungkin efek alkohol yang jelas telah dikonsumsi tubuhnya dalam jumlah banyak.
"Dari tabib agung yang mampu menyembuhkan raja-raja dan bangsawan, kini jatuh menjadi pelaku pelecehan terhadap gadis karaoke berwajah pas-pasan dengan dandanan menor," gumam Peter pelan, menatap tangannya dengan jijik.
Dia menatap gadis itu dengan ekspresi mual...
"Bahkan di Zicari, pelayan terendah pun memiliki standar lebih tinggi dari ini."
"Apa katamu?" Gadis itu semakin murka, matanya melotot tidak percaya. Wajahnya berubah merah padam, tidak hanya karena marah tetapi juga karena tersinggung.
"Kau bilang aku pas-pasan? Setelah melecehkanku, kau masih berani menghina penampilanku?"
“Sial, aku mengatakannya keras-keras.”
Peter mengumpat dalam hati.
Siapa pun yang mendiami tubuhnya selama lima tahun ini jelas telah menghancurkan reputasinya. Seorang pecundang pemabuk yang menghabiskan waktu meraba-raba gadis karaoke murahan. Betapa jauhnya jatuh martabatnya.
"Lihat semua! Lihat pria brengsek ini!" teriak gadis itu, sengaja menarik perhatian seluruh ruangan. Matanya berkilat penuh kemenangan saat melihat reaksi orang-orang di sekitarnya.
"Dia melecehkanku dan sekarang menghina wajahku! Katanya aku pas-pasan!"
Dalam sekejap, Peter menjadi tontonan.
Pintu ruang karaoke privat terbuka lebar, dan pengunjung lain mulai berkerumun.
Beberapa menatap Peter dengan tatapan menghakimi, sementara yang lain mengambil ponsel mereka, siap mengabadikan momen memalukan ini.
Atmosfer ruangan berubah menjadi arena pertunjukan dengan Peter sebagai bintang utama yang dipermalukan.
"Dasar mesum!" seru seorang pria bertubuh kekar dari kerumunan. Wajahnya memerah karena alkohol dan amarah yang dibuat-buat.
"Hajar saja dia!" tambah yang lain, terlihat bersemangat menyaksikan drama yang terjadi di hadapannya.
"Usir dari sini!" teriak pengunjung wanita dengan wajah penuh kemarahan yang tampak dibuat-buat, seolah ingin terlihat bermoral di depan teman-temannya.
Gadis pemandu karaoke itu bukannya meredakan situasi, malah semakin menjadi-jadi.
Air mata buaya mulai mengalir, merusak riasan tebalnya. Ia terisak dengan cara yang terlalu dramatis untuk menjadi tulus.
"Dia mencoba memaksaku melakukan hal-hal tidak senonoh! Padahal aku sudah menolak!" isaknya, semakin memprovokasi kerumunan. Tangannya gemetar saat menutupi wajahnya, namun matanya mengintip di sela-sela jari, mengawasi reaksi orang-orang dengan puas.
"Wah, wah, wah... Akhirnya tertangkap basah juga kau, Peter sayang."
Suara itu. Suara yang familiar namun menusuk seperti jarum beracun. Peter menoleh dan melihat sosok wanita berdiri di pinggir kerumunan, dengan senyum kemenangan yang tidak disembunyikan.
Amanda Bernadus. Tunangannya.
Rambut cokelat bergelombang sempurna, gaun merah ketat yang memamerkan lekuk tubuh, dan makeup berlebihan. Matanya yang dingin menatap Peter dengan campuran jijik dan kemenangan.
"Selalu tahu kau sampah, tapi tidak menyangka kau serendah ini," ujar Amanda dengan nada manis beracun sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, jelas-jelas merekam seluruh kejadian.
"Akhirnya aku punya bukti nyata untuk menunjukkan pada keluargaku betapa menyedihkannya pria yang mereka pilihkan untukku."
Amanda melangkah maju dengan anggun yang dibuat-buat, setiap langkahnya penuh dengan kesombongan dan rasa superioritas.
"Bertahun-tahun aku mencoba meyakinkan keluargaku bahwa kau tidak pantas untukku," lanjut Amanda, suaranya cukup keras agar semua orang bisa mendengar. Nyata benar bahwa dia sangat menikmati momen penghinaan yang dialami Peter.
"Tapi mereka selalu bilang kau punya 'potensi', bahwa kau 'pemuda baik-baik'. Lihat dirimu sekarang. Mabuk-mabukan di karaoke murahan, melecehkan gadis-gadis tidak berpendidikan."
Di samping Amanda berdiri seorang pria muda dengan penampilan yang terlalu sempurna untuk menjadi alami.
Setiap detail penampilannya berteriak kekayaan dan status, dari rambut yang tertata rapi hingga sepatu mengkilap yang jelas-jelas terlalu mahal untuk tempat seperti ini.
Senyumnya mengandung kesombongan sekaligus ejekan, ekspresi yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang tidak pernah mengalami kesulitan dalam hidup.
"Jadi ini mantan tunanganmu, sayang?" tanya pria itu dengan suara yang sengaja dikeraskan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya diucapkan dengan aksen yang jelas dibuat-buat.
"Ya, Richard, inilah pria yang hampir menjadi suamiku jika aku tidak cukup berani menentang keluargaku," jawab Amanda, sengaja mengeraskan suaranya.
Tangan amanda bergelayut manja di lengan Richard.
"Bayangkan jika aku menikah dengannya? Aku mungkin akan menjadi istri seorang pemabuk dan pelaku pelecehan. Untung aku bertemu denganmu."
Richard melangkah dengan percaya diri tinggi, menatap Peter penuh penghinaan.
"Lihat dirimu, kemeja kusut, bau alkohol, mata merah, tertangkap melecehkan wanita. Kau tak pantas sentuh sepatu Amanda," ejeknya.
Peter menahan malu dan marah.
Lima tahun berjuang di dimensi lain, mempelajari penyembuhan kuno, bukan untuk perlakuan seperti ini.
Amanda tersenyum sinis, "Aku akan sebarkan video ini. Kota harus tahu siapa kau sebenarnya. Mungkin ini pelajaran untuk orang tuamu."
Kerumunan tertawa dan berbisik. Peter berdiri tegak, tatapannya berubah dingin, penuh kekuatan yang tak mereka kenal.
Mereka tak tahu apa yang terjadi padanya selama ini. Tak ada yang sadar kalai pria di depan mereka bukan Peter Davis yang dulu.
Disisi lain, Peter menatap kearah Amanda dan pacarnya berkata pelan, "Nikmati kemenangan kalian. Peter Davis yang kalian kenal sudah mati.
"Dan orang yang berdiri di hadapan kalian sekarang... adalah seseorang yang akan membuat kalian semua menyesal."
Bersambung
KINABUKASANMagaling na agad si Skyler. Sinunod lang ni Skyler lahat nung bilin sakanya ni Scott dahil nga ayon kay Scott ayun ang sinabi nung Private Doctor nito.Ngayon ay nakauwi na si Skyler sakanyang dorm. Buti nga at matinong kausap si Scott dahil hinatid lang sya nito sa dorm nya at umalis din agad eto. Lihim naman na pinasalamatan ni Skyler na hindi sya kinulit o pinagtripan pa ni Scott.Hula ni Skyler ay dahil iniisip ni Scott na may sakit pa sya kaya hindi sya nito kinulit pa.*Bzzt... Bzzt...*Nagulat si Skyler dahil sa malakas na pag vibrate nung cellphone sa bulsa ng kanyang suot na pants.Kinuha nya yung brand new cellphone na binigay sakanya ni Scott. Hanggang ngayon nga parang panaginip lang kay Skyler yung pag bigay sakanya ni Scott nung mamahaling cellphone.Hindi maimagine ni Skyler na dadating pala yung panahon na magkakaroon sya ng isang cellphone na akala nya hanggang pangarap nya na lang mahahawakan.Binuksan nya yung cellphone at may nag text sakanya.My Hubby:
Scott's Condo | 3:00 PMNatapos na kumain si Skyler at nakainom na rin sya ng gamot.Tinignan ni Skyler yung dextrose bag na nasa tabi nya. Malapit na rin etong maubos.Medyo okay-okay na rin ang pakeramdam nya. Lalo na nakakain na at nakabawi na sya ng tulog."Tinawagan ko na yung papalit sayo sa shift mo."- lumingon si Skyler sa kakapasok lang na Scott sa kwarto nito.Oo nga pala, Tama nga ang hula ni Skyler na bestfriend na naman ni Scott ang ipapalit sa shift nya. Sabi yun ni Scott sakanya bago eto lumabas sa kwarto nito kanina. Pipigilan sana nya si Scott pero nanghihina pa din si Skyler."Hindi mo na dapat ginawa yun. Pwede naman ako magpaalam na may sakit ako ngayon. Maiintindihan naman siguro yun ni Boss Kim."- saka sobrang nahihiya na rin si Skyler sa bestfriend nito ni Scott. Hindi pa nga nakikita at nakikilala ng personal ni Skyler ang bestfriend ni Scott pero ang dami na nitong naitulong sakanya."Hayaan mo yun. Para naman paminsan-minsan may magawang mabuti ang mokong na
"Cheers!"Masayang nakipag cheers si PJ sa mga kababaihan na nakilala nya sa T University.Kung ano man ang pinasasalamatan ni PJ sa pag enroll sakanya sa T University ng kanyang Bestfriend na si Scott ay iyon ay marami syang nakikilalang iba't-ibang klase ng mga babae sa University.Party sa umaga.Party sa gabi.Ganito lagi ang ganap ni PJ tuwing may klase sya sa Campus. Hindi naman na kailangan ni PJ magpanggap na masipag na estudyante. Ang dahilan lang naman kung bakit sya pumapasok ay dahil sa may sayad nyang bestfriend.Saka ayos na rin para kay PJ ang set up nya ngayon at least nalalayo sya sa pag aasikaso ng kanilang Company.Ayun nga lang wag syang magpapahuli sa Tatay nya na nagbubulakbol lang sya. Kundi baka pabalikin sya sa Company nila."Hi, PJ~"- tawag nung isang sexy na babaeng dumaan sa harapan nya. Malagkit na mga tingin ang pinupukol nito sakanya. Lumaki ang ngisi sa mga labi ni PJ.Iba talaga charisma nya sa mga babae.Parang mga magnet ito kung lumapit sakanya.Wel
"Kamusta na sya?"- tanong ni Scott sa private at family doctor ng mga Dela Vega. Nung nahimatay si Skyler ay nagmamadali nya agad etong binuhat at dinala sa condo nya.Hindi na naisip ni Scott na dalhin si Skyler sa hospital o clinic ng campus. Basta nag desisyon syang dalhin si Skyler sa condo nya.Pinapunta ni Scott ang private doctor na si Doctor Chad Rodriguez. Matagal na etong Family Doctor nila kaya naman si Doc.Chad ang naisip ni Scott na tawagan para tulungan si Skyler."Kailangan nya mag pahinga Mr. Dela Vega. Nakita ko rin na kulang sa tulog etong kaibigan mo at kulang din sa kain."- seryosong sagot ni Doc. Chad kay Scott. Napatingin naman si Scott sa mahimbing na natutulog na Skyler.Kaya pala ang gaan ni Skyler nung binuhat eto ni Scott yun pala ay kulang eto sa kain. Masyado atang busy si Skyler sa mga ginagawa nito kaya pati pagkain at pagtulog ay hindi na nito magawa."Sino ba etong kaibigan mo Mr.Dela Vega? At mukhang mahalaga etong binata na to saiyo? Ngayon ko lang k
Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviewsMore