LOGINAfter my engagement to Simon Page, he secretly planned a trip abroad with Yara Watson, the woman he had loved for years. The day before their departure, he was chatting with his friends and Yara in the lounge of a golf club. "Simon, you just got engaged, and you're already taking Yara on a trip. Aren't you afraid Rosalyn will find out?" Simon scoffed. "I hired a guy to pose as her suitor. He’ll keep her so occupied that she won’t have time to bother me. "If something really happens between them, even better. I can use it as an excuse to officially end the engagement and be with Yara openly." Standing outside the door, I trembled as his words sank in. Tears streamed down my face as I looked at the handsome man behind me, his expression filled with guilt. "Then let’s grant him his wish and get married." But just as I was preparing for the wedding, Simon suddenly knelt before me in agony. "Rosalyn, I was wrong. Please, don’t marry him!"
View More“Shanna! Semangat, ya!”
Suara teriakan Viona terdengar keras meski Shanna sudah berlari cukup jauh dari sahabat-sahabatnya. Dia melambaikan tangan tanpa berhenti ataupun sekadar menoleh. Langkahnya semakin cepat menuju gerbang kampus, di mana Damar sudah menunggunya di dalam mobil.
“Maaf lama, Ba,” ucap Shanna ketika berada di dalam mobil. “Baba sudah dari tadi?”
“Tidak apa-apa. Baba juga baru saja sampai, kok.”
Damar mengemudikan mobil meninggalkan area kampus. Ia mengendarai mobil menuju sebuah restoran bintang lima. Pagi tadi, dirinya sudah berjanji akan mengajak Shanna makan siang bersama.
“Kenapa harus pesan private room sih, Ba? Bukannya di luar sama aja?” protes Shanna setelah pelayan pergi meninggalkan mereka.
Bukannya Shanna tidak suka, dia hanya merasa ayahnya itu berlebihan dengan memesan private room untuk sekadar makan siang.
Damar tersenyum kecil.
“Ya beda dong, Sayang. Kalau di luar ramai dengan pengunjung yang lain. Tapi kalau di sini kan tenang dan tidak ada yang mengganggu. Apalagi hari ini kan hari ulang tahunmu, baba khusus memesannya tadi pagi hanya untukmu. Lagi pula sudah lama kita tidak makan berdua di restoran bintang lima seperti ini. Kalau baba tidak salah ingat, itu sekitar enam bulan yang lalu.”
Shanna memutar mata malas, menganggap ucapan Damar berlebihan. Namun, apa yang dikatakan Damar memang benar. Mereka jarang sekali makan di restoran bintang lima. Bukan karena mereka tidak punya uang, tetapi karena memang Shanna yang tidak terlalu suka makan di restoran mewah. Baginya, makan di restoran mana pun sama saja.
Shanna menatap lekat-lekat wajah Damar. Kedua tangannya yang berada di atas meja saling bertaut. Keringat perlahan membasahi telapak tangannya. Jantungnya pun mulai berdetak lebih cepat.
"Baba, ada yang ingin kukatakan sama baba."
Damar menatap Shanna yang menatapnya serius. Raut penasaran tergambar jelas pada sorot mata pria itu. "Mau mengatakan apa?"
Shanna mengambil napas, menenangkan debaran jantungnya yang semakin menggila. Kakinya sedikit bergetar. "Baba, aku mencintaimu," ucapnya cepat dan tegas.
Damar tersenyum lebar. "Baba tahu. Baba juga sangat mencintai dan menyayangimu."
Shanna menggeleng pelan. "Aku serius, Baba. Aku mencintaimu seperti wanita mencintai laki-laki, bukan sebagai ayah dan anak."
Mata Damar melebar. Ekspresi terkejut tergambar jelas di wajahnya yang terdapat luka bakar. Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Damar segera mengubah ekspresinya kembali seperti semula. Dia membuka mulut untuk memberikan jawaban, tetapi tiga orang pelayan masuk membawa pesanan mereka, membuat pria itu kembali mengatupkan mulutnya.
"Lebih baik kita makan dulu," ajak Damar mengubah topik pembicaraan.
Shanna kecewa karena tidak bisa mendengarkan jawaban Damar. Namun, dia juga lega, sebab dia sendiri sebenarnya belum siap mendengar jawaban pria itu. Meski dia sudah menguatkan mentalnya, tetapi sedikit banyaknya Shanna takut akan penolakan Damar.
Shanna menatap hidangan yang tersaji begitu banyak di hadapannya. “Perasaan tadi kita nggak pesan sebanyak ini deh, Ba,” ucapnya setelah pelayan meningalkan mereka.
“Memang. Sebenarnya ... baba sudah melakukan pemesanan tadi pagi. Baba sengaja tidak memberitahumu karena baba tahu kamu pasti akan menolaknya kalau baba memberitahumu.” Damar menjawab tanpa menatap Shanna. “Lebih baik sekarang kita makan saja. Baba sudah sangat lapar sekali.”
Mereka pun menyantap hidangan dengan ditemani sepi. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tidak ada yang ingin membuka suara.
"Ulang tahunmu kali ini, kamu ingin mengajak teman-temanmu ke mana?" tanya Damar di sela-sela makannya, memecah keheningan yang terjadi.
Shanna tersentak, ditatapnya pria di hadapannya. “Aku belum memikirkannya, Ba. Mungkin aku akan mengajak mereka makan, nonton, dan belanja aja.”
Shanna tidak memiliki rencana untuk membawa sahabat-sahabatnya bepergian. Lagi pula sahabat-sahabatnya sendiri pun tidak ada yang membahas hal itu. Sehingga Shanna sendiri tidak tahu harus mengajak mereka pergi ke mana.
“Tahun kemarin kamu juga mengajak mereka makan, nonton dan belanja, ‘kan? Memangnya kamu tidak mau mengajak mereka jalan-jalan? Misal liburan atau ke mana gitu?”
“Aku nggak tahu mau mengajak mereka ke mana, Ba. Nggak ada rekomendasi. Lagian mereka juga nggak akan protes meski kuajak jalan-jalan ke mall buat belanja. Asal ditraktir, mereka senang-senang aja.”
Shanna tipe wanita yang tidak terlalu suka berbelanja atau jalan-jalan untuk bersenang-senang, kecuali kalau diajak secara paksa oleh sahabat dan ayahnya.
Damar menggeleng pelan. “Cobalah sesekali kamu pergi rekreasi bersama teman-temanmu. Ke puncak atau ke mana gitu. Masa setiap ulang tahun selalu mengajak mereka makan, nonton dan belanja saja.”
Damar menatap Shanna. “Baba tidak memaksamu mengajak mereka jalan atau berbelanja, tetapi cobalah untuk menyenangkan dirimu sendiri. Asal kamu tahu, baba bekerja mencari uang itu untuk kamu. Kamu tidak perlu takut baba kehabisan uang. Baba justru senang kalau kamu bisa menyenangkan dirimu dengan pergi berlibur atau berbelanja bersama teman-temanmu.”
Shanna menghela napas pelan. “Hm, nanti aku cari rekomendasi dulu di internet.”
“Bagaimana kalau kita pergi berkemah saja di puncak akhir pekan besok?” usul Damar yang tahu kalau Shanna pasti tidak akan melakukannya.
“Ya. Besok aku akan memberi tahu mereka.”
Selama makan siang, mereka terus mengobrol. Namun, tidak ada sedikit pun tanda-tanda Damar akan membahas atau menjawab penyataan cinta Shanna. Bahkan sampai mereka keluar dari restoran, mengantar Shanna pulang sebelum pria itu kembali ke perusahaan, Damar masih tetap tidak memberikan jawaban apa pun.
“Baba, apa yang aku katakan pada baba di restoran tadi siang itu, aku benar-benar serius, Ba. Aku benar-benar mencintai baba dan ingin menikah dengan baba,” ucap Shanna, nadanya serius.
Saat ini mereka sedang bersantai di ruang tengah setelah makan malam.
Shanna tidak bisa bersabar lebih lama lagi. Sudah enam tahun dirinya memendam rasa kepada ayahnya. Shanna pun sudah memikirkan dengan matang konsekuensi dari apa yang dia lakukan. Apa pun keputusan ayahnya, Shanna sudah siap menerima. Bahkan kalau Damar akan membencinya serta menganggapnya tidak tahu diri dan terima kasih kepada pria itu.
“Dengar, Shanna.” Damar berkata dengan nada tegas dan serius. Nada yang tidak pernah dia gunakan ketika berbicara kepada Shanna selama ini. Ditatapnya lekat-lekat mata Shanna. “Baba memang sangat menyayangi dan mencintaimu melebihi apa pun di dunia ini. Tetapi bukan berarti baba mau menikah denganmu.”
Rasa sakit seketika menjalari hati Shanna. Dirinya telah ditolak oleh ayahnya.
“Kasih sayang yang baba berikan padamu itu adalah kasih sayang murni antara ayah dan anak,” Damar terus berkata tegas. “Jadi baba harap kamu berhenti dan buang jauh-jauh pemikiran untuk menikah dengan baba. Sampai kapanpun baba tidak akan mungkin bisa menikahimu. Karena bagi baba, sampai kapanpun kamu adalah putri baba. Anak kesayangan baba satu-satunya.”
Mata Shanna berkaca-kaca. “Tapi, Ba, bukankah kita tidak memiliki hubungan darah?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar, mencoba mencari secercah harapan.
“Baba tahu kita tidak memiliki hubungan darah. Walaupun begitu, bagi baba, kamu tetap anak baba, putri baba satu-satunya. Dan tidak pantas bagi kita untuk memiliki hubungan seperti itu.”
“Tapi, Ba, aku—"
“Cukup, Shanna!” Damar menghentikan ucapan Shanna. “Lebih baik sekarang kamu istirahat. Tenangkan dirimu. Baba juga akan beristirahat, besok ada banyak pekerjaan yang harus baba kerjakan.”
Damar bangkit dari duduknya. Tidak lupa dia mencium kening Shanna dan mengucapkan selamat malam seperti biasanya sebelum meninggalkan ruang tengah.
Shanna menatap kepergian Damar dengan mata berkaca-kaca. Sekuat tenaga dia menahan air mata agar tidak jatuh membasahi wajahnya. Dia tidak menyangka hatinya akan sesakit ini mendapatkan penolakan langsung dari orang yang dicintainya.
Apakah dia salah dan berdosa karena telah mencintai ayah angkatnya sendiri?
On the day of the wedding, after my parents learned everything Simon had done to me, they used their long-standing business influence to invite some of the most powerful figures in politics and commerce. The ceremony turned out to be far grander than I originally planned. It was their way of standing up for me. Just as we were about to exchange rings, Simon suddenly barged in out of nowhere. He had clearly taken the time to groom himself, dressed in a perfectly tailored suit, looking nothing like the disheveled man I saw before. His eyes were filled with emotion as he pleaded, "Rosalyn, he’s just a replacement I hired! Don’t let him fool you. He doesn’t love you. If you marry him, you’ll never be happy!"Please, give me one more chance! I’ll prove my love to you!" I remained stone-faced, about to signal security to throw him out, when suddenly, a ragged-looking woman rushed in. Grabbing Simon by the collar, she cried, "Simon! You told me I was the love of your life! Let’s
Ever since I moved back into the apartment I had bought after graduating, Simon had been relentlessly calling and texting me. Whenever his constant messages got on my nerves, I would glance at them now and then. The messages were nothing more than him asking where I lived or insisting that we needed to talk. Lately, I had been overwhelmed with explaining my sudden engagement to Hector to my parents and handling wedding preparations. Frustrated and exhausted, I finally blocked his number. While selecting wedding invitations at a planning studio, an unfamiliar number suddenly popped up on my phone. I answered, but the other end remained silent for a long time. Just as I was about to hang up, a deep voice came through. "Rosalyn, we need to talk. I'm outside the studio." I stepped toward the second-floor window and looked down. Sure enough, Simon stood outside. Leaning against his car, his usually neat hair was a mess. As if sensing my gaze, his eyes immediately found mi
Simon pushed himself off the couch and strode toward me. “Are you really that attached to him?“Rosalyn, do you think bringing another man here and putting on a show to make me jealous is fun?” He closed the distance between us with deliberate steps. Even with my back pressed against the wall, leaving me no escape, the oppressive weight of his presence didn’t ease. Placing both hands on either side of me, he caged me in the narrow space between him and the wall. His gaze darkened as he leaned in. “I’m giving you one last chance. If you apologize now, you can still be my fiancée.” I met his eyes, my stare icy. “Simon, did I not make myself clear enough? We’re over. And I don’t ever want to see you again.“This is the last time I’ll step foot in this house. I only came to pick up the things I already packed. My fiancé is waiting for me outside. Don’t waste my time.” His lips curled into a smirk. “You really think I’m going to fall for that? You’re just playing hard to get.“R
Simon’s eyes burned with rage as he seized my arm, his voice sharp with accusation. "Rosalyn, you have the audacity to cheat on me right in front of my eyes?"I met his glare head-on, refusing to back down. "Simon, we’ve already broken up. Who I take wedding photos with has nothing to do with you."And if we’re talking about cheating, let’s not forget who really crossed that line." My gaze flickered toward Yara. Simon scoffed. "Men at my level are expected to have women around them. It’s completely normal. And Yara is gentle and considerate. So, marrying her would only be natural." I let out a sharp laugh. "Great. Then our breakup is perfect timing. Now you can be with her openly." Yanking my arm free from his grip, I turned to the sales associate. "Bring me your latest wedding dress collection. I’m busy, and I don’t have time to waste here." Just as I took Hector’s hand and started toward the second floor, Simon suddenly stepped in front of me, blocking my path with a long st
The other person remained silent for a long time, saying nothing.Just when I thought he was about to reject me, he suddenly spoke. "Alright, let’s get married."The voice belonged to none other than Hector—the man Simon hired to pretend to pursue me.His tone was gentle as he said, "I’ll pick you u
On the day of Simon’s grandmother’s birthday banquet, the family estate was packed with guests. As Simon and his father’s influence in the business world grew, nearly everyone eager to forge a connection with them showed up. Dressed in an elegant white dress, Yara looked young and radiant, her s
Simon hadn’t come home all night. At dawn, the buzzing of my phone jolted me awake. The moment I answered, his commanding voice came through the line. "Make a few of your best dishes and deliver them to the address I just sent before noon." "Uh—" Before I could say a word, he hung up. I gl
Simon, the boy who grew up next door, had been by my side since childhood. He was handsome, intelligent, and always ranked at the top of our class. As the less gifted one, I looked up to him, striving to keep up. During our final year of high school, I studied tirelessly to get into the same uni
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews