Share

Bab 132

Penulis: Kak Han
last update Tanggal publikasi: 2026-04-10 16:46:32

Kabar tentang pengalihan aset perusahaan rupanya hanyalah hidangan pembuka dari pesta rakus yang sedang dirayakan oleh Rio. Sore itu, saat matahari mulai tergelincir di balik cakrawala dan menyisakan semburat jingga yang muram di jendela rumah sakit, Maudy menerima sebuah panggilan telepon dari security yang berjaga di lingkungan rumahnya.

​Suara pria di seberang sana terdengar ragu tapi terdengar genting. Beliau mengabarkan bahwa ada beberapa truk pengangkut barang dan beberapa orang asing yan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Putri Sutriyani
biarkan biarkan semakin kamu membiarkan semakin cepat Rio mengambil semuanyaaa gerak cepat dong bayuuuuu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 140

    Setelah Cindy keluar, Maudy segera melangkah menjauh, menciptakan jarak yang cukup lebar di antara dirinya dengan Bayu. Maudy berdiri di dekat jendela besar, membelakangi Bayu, seolah berharap udara sejuk di luar jendela itu bisa membantunya mendinginkan kepala yang terasa panas. DIa cukup mengenali Bayu. Pria itu selalu menggunakan pesonanya untuk membungkam logika Maudy. Dan kali ini, Maudy tidak ingin luluh begitu saja sebelum mendapatkan kepastian.​"Sepertinya memang ini yang kamu inginkan, kan? Memasang penjaga gerbang yang cantik, muda, dan begitu dedikatif sampai-sampai tidak membiarkan siapa pun mendekatimu. Kalian pasti akan sangat sering berduaan di ruangan ini, membahas berkas sampai larut malam!” seru Maudy tanpa menoleh. Suaranya terdengar datar, tapi sangat tajam.​Bayu menghela napas panjang, dja melangkah pelan mendekati Maudy. Namun berhenti sekitar satu meter di belakangnya untuk menghormati jarak yang dibuat wanita itu. "Sayang, tolonglah... jangan bahas Cindy la

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 139

    Tautan bibir yang penuh gejolak itu seolah menghentikan waktu, membuat riuh rendah dunia di luar ruangan sana terasa sangat jauh. Napas mereka memburu, saling bersahutan di tengah keheningan ruang kerja yang luas. Bayu masih enggan melepaskan dekapannya, seolah ingin memastikan bahwa Maudy benar-benar berada dalam jangkauan perlindungannya. Namun, momen privasi yang intim itu mendadak pecah oleh suara ketukan pintu yang tajam dan beruntun.​Tok! Tok! Tok!​Maudy tersentak. Kesadarannya kembali seketika. Dengan napas yang masih tersengal, dia segera mendorong bahu Bayu, menciptakan jarak di antara mereka. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena amarah, melainkan karena rasa terkejut yang bercampur dengan kecemasan akan harga dirinya jika ada yang melihat mereka dalam keadaan seperti ini.​"Maudy, tunggu..." bisik Bayu, suaranya terdengar serak dan berat.​Maudy tidak menggubris. Dengan gerakan cepat dan sedikit panik, dia segera menghampiri cermin besar yang tergantung di dindin

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 138

    ​Maudy mengepalkan tangannya di samping tubuh. Rasanya sungguh ironis. Di gedung di mana dia dulu memutuskan kebijakan-kebijakan besar, di mana dia dulu dihormati sebagai puncak pimpinan. Tapi kini dia harus berhadapan dengan seorang sekretaris yang baru seumur jagung tapi memiliki keangkuhan setinggi langit. Maudy ingin sekali membalas, ingin sekali menyebutkan bahwa ia tahu setiap sudut rahasia perusahaan ini, bahkan kode akses lift pribadi Bayu yang ada di balik punggung Cindy.​Namun, Maudy teringat posisinya. Ia adalah istri sah Rio yang masih resmi di mata hukum. Jika dia membuat keributan di sini, atau jika dia terang-terangan menunjukkan kedekatannya dengan Bayu, maka Cindy yang jelas-jelas terlihat licik ini, pasti akan menggunakan informasi itu untuk bergosip. Dan gosip di kantor sebesar ini bisa sampai ke telinga Rio dalam hitungan jam.​"Kamu sekretaris baru, kan? Namamu Cindy. Saya sarankan, sebagai orang baru, belajarlah untuk tidak menilai buku dari sampulnya. Dan bela

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 137

    Matahari pagi menyinari lobi gedung perusahaan milik Bayu, memantulkan cahaya pada lantai marmer yang dulu sangat sering dipijak oleh Maudy. Melangkah masuk ke gedung ini bagi Maudy adalah perjalanan menyusuri lorong waktu. Meskipun papan nama perusahaan kini telah berganti kembali ke identitas aslinya di bawah kepemilikan Bayu, setiap sudut ruangan ini masih menyimpan memori tentang bagaimana Maudy dulu menjabat sebagai CEO, mengelola setiap inci bisnis ini saat masih berada di bawah kekuasaan Ayah mertuanya, Haris. ​Beberapa karyawan lama yang sedang berada di lobi tampak menghentikan aktivitas mereka. Bisik-bisik kagum terdengar di telinga Maudy. "Itu Bu Maudy, kan?" ucap salah satu staf senior yang kemudian memberanikan diri mendekat dan memberikan sapaan hormat. “Bu Maudy, selamat datang kembali. Sudah lama sekali Bu Maudy meninggalkan perusahaan ini,” “Iya. Memang sejak saya hamil waktu itu, saya berhenti bekerja. Ditambah lagi ayah saya meninggal, daaan…. Saya juga mengalam

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 136

    Rio menarik napas panjang, mencoba membusungkan dadanya kembali di hadapan para tetangga yang terus berbisik-bisik sinis. Urat di lehernya menegang, tanda bahwa ego pria itu sedang terluka hebat. Bukan Rio namanya jika ia membiarkan dirinya terpojok begitu saja. Dengan licik, dia mengalihkan tatapan tajamnya dari Maudy menuju sang ibu mertua yang masih berdiri bersandar pada lengan putrinya. ​"Ibu, jangan diam saja. Jelaskan pada mereka, jelaskan pada putri kesayanganmu ini... kenapa Ibu menyerahkan semua aset itu padaku? Bukankah Ibu sendiri yang sangat antusias saat menandatanganinya? Bukankah Ibu yang memohon padaku untuk menyelamatkan masa depan keluarga ini?" panggil Rio dengan nada yang sengaja dibuat lebih lembut namun sarat akan ancaman terselubung. ​Rio melangkah mendekat, mencoba menembus pertahanan Maudy. Sementara Maudy, dengan sigap dia menahan langkah Rio agar tidak mendekati Ibunya. “Jangan mendekat!” bentak Maudy. Rio tidak menggubris. Dia terus mendekat ke arah I

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 135

    Maudy menarik napas dalam, mengabaikan eksistensi Rio yang terus mengoceh di belakangnya seperti bayangan yang tak diinginkan. Dia lekas keluar dari ruangan itu, lalu segera memandu ibunya masuk ke dalam taksi yang telah dipesan Bayu sebelumnya. “Maudy, apa kamu tidak dengar! Aku masih belum selesai bicara!” geram Rio, karena Maudy dan Ibunya mengabaikan omongannya. Tapi, Maudy sama sekali tidak gentar. Apalagi saat itu suasana Rumah Sakit sedang ramai. Maudy berpikir, jika Rio sampai bertindak nekat, dia akan berteriak meminta tolong. “Ayo Bu kita masuk. Jangan dengarkan Rio!” bisik Maudy pada Ibunya. Melihat Maudy masuk taksi dan segera berlalu, Rio berencana untuk membuntuti. Rio penasaran kemana Maudy akan pergi. Sepanjang perjalanan, pandangan mata Rio tidak sedikit pun lepas dari keberadaan taksi yang dinaiki Maudy. ​Saat taksi berhenti di depan sebuah rumah minimalis modern yang asri di kawasan perumahan yang tenang, Maudy turun dan membantu ibunya. Rio pun mengerem

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 119

    Satu jam berlalu seperti kedipan mata di dalam kamar yang kedap suara itu. Waktu yang singkat tapi terasa begitu padat karena Maudy menumpahkan seluruh beban yang menyesakkan dadanya. Bayu, dengan kesabaran seorang pria yang telah lama menanti, menjadi pendengar yang tak bernapas, membiarkan setiap

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 118

    Napas Bayu memburu di ceruk leher Maudy, panas dan berat. Aroma tubuh Maudy yang bercampur dengan sisa air mata dan parfum lembutnya nyaris membuat Bayu kehilangan kendali sepenuhnya. Namun, saat ia merasakan tubuh Maudy sedikit gemetar dalam dekapannya yang bukan disebabkan oleh gairah, melainkan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 117

    Pintu kamar yang tertutup rapat di belakang Lyra seolah menjadi sekat yang memisahkan mereka dari dunia luar yang penuh kemunafikan. Di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya redup dari balik gorden yang tersingkap sedikit, keheningan itu mendadak terasa begitu berat dan menyesakkan.​Maudy masi

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 116

    Mobil sedan yang dikemudikan Lyra membelah jalanan kota dengan kecepatan yang stabil. Namun bagi Maudy, setiap putaran roda terasa seperti detak jantungnya yang kian memburu. Ia menatap ke luar jendela, mengenali gedung-gedung yang mulai akrab di matanya. Benar, itu adalah jalur menuju hotel. Tempa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status