LOGINAku dibayar untuk menanam benih di rahim Bosku, agar dia memiliki keturunan demi mendapatkan hak waris. Ini tidak masuk akal, tapi nyatanya Bosku justru tergila gila padaku. Apalagi setelah dia tau jika diriku ternyata seorang....
View More"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!"
Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar. Sementara Maudy, sang CEO yang merupakan bos di tempat Bayu bekerja, hanya bisa diam tertunduk melihat perilaku suaminya. “Ini… apa… maksudnya Pak Rio?” tanya Bayu ingin memperjelas maksud dari suami bosnya tersebut. “Kurang jelas? Uang dalam cek ini akan menjadi milikmu, jika kamu bisa menghamili istriku! Kamu punya tubuh yang bugar dan atletis, aku yakin benihmu juga bagus. Tapi, jangan sekali kali kamu berani buka mulut soal ini!” tegas Rio. Beberapa hari lalu, di sebuah rumah sakit, Rio dan Maudy terpaksa harus melakukan test kesuburan organ reproduksi mereka. Bukan tanpa sebab semua itu dilakukan, karena sudah hampir tiga tahun mereka menikah, tetapi belum juga memiliki keturunan. Awalnya Rio menolak hal tersebut, karena sebagai pria harga dirinya akan runtuh jika diketahui mandul. Apalagi, selama ini Rio juga punya masalah dengan organ reproduksinya yang tidak bisa tahan lama, sehingga Maudy sempat mengira bahwa suaminya yang bermasalah. Pada akhirnya Rio menyetujui pemeriksaan itu, tetapi dia memilih untuk berangkat sendiri tanpa Maudy. Karena Rio hanya ingin mendengar hasil pemeriksaan seorang diri. "Saya sudah meninjau hasilnya berulang kali, Pak Rio, dan hasilnya sama. Kondisi ini... bersifat permanen. Secara medis, Anda tidak akan bisa memiliki keturunan," terang Sang Dokter tanpa ada keraguan akan hasil tersebut. Dunia di sekitar Rio seolah berhenti berputar. Kalimat itu menghantam dadanya, menyisakan sesak yang luar biasa. Namun, di balik rasa syok yang melumpuhkan, ada ketakutan lain yang jauh lebih dingin merayap di benaknya. "Permanen? Maksud Dokter, benar-benar tidak ada peluang untuk sembuh? Dengan cara Operasi misalnya? Atau terapi hormon?" tanya Rio untuk meyakinkan dirinya sendiri. Dokter Gunawan menggeleng perlahan. "Maafkan saya. Kerusakannya sudah terlalu sistemik," jelas Sang Dokter. Rio menyandarkan punggungnya, menatap kosong ke langit-langit ruangan. “Mampus aku!” batinnya berteriak. Bayangan wajah Ayahnya yang kaku dan penuh tuntutan langsung melintas. Ayahnya menuntut keturunan sebagai penerus bisnisnya. Rio meratap. Tanpa seorang anak, dia tidak mendapat hak apapun atas semua perushaan dan rumah mewah itu. Semua fasilitas mewah, mobil sport, dan posisi owner yang hampir digenggamnya kini terasa menguap begitu saja. Rio tidak bisa tinggal diam, dia harus mencari cara agar dia dan Maudy punya anak. Apapun caranya, Maudy harus hamil. Sehingga muncul rencana jahat di otaknya dengan menyewa laki laki untuk menghamili istrinya, yang nantinya akan dia akui sebagai anak kandungnya. Dan Bayu, adalah laki laki sial yang menerima tawaran itu. Bayu pun terdiam usai mendengar perintah konyol itu. Itu bukanlah perintah yang mudah diterima begitu saja. Tapi saat mendengar nominal uang lima ratus juta, mendadak dia teringat pada Ibunya. “Ibu butuh uang ini, tapi…. Tugas ini terlalu konyol!” gumam Bayu di dalam hati. Satu minggu yang lalu Ibunya Bayu terbaring di rumah sakit dengan diagnosa gagal ginjal. Untuk kesembuhannya, perlu dilakukan transplantasi ginjal yang tentunya membutuhkan biaya yang besar. Bayu hampir frustasi mencari biaya operasi senilai 125 juta, bahkan sudah menyerah dan mempersiapkan diri jika harus kehilangan Ibunya. Akan tetapi, mendadak ada yang menawarkan dirinya tugas dengan upah yang besar. Bahkan tugasnya bisa dibilang sebuah kenikmatan dunia. “Menghamili Bu Maudy? Bahkan dalam mimpi pun aku tidak berani membayangkan lekuk tubuhnya, dan sekarang aku malah nyata nyata dibayar untuk menghamilinya? Apa aku sedang beemimpi?” gumam Bayu di dalam hati sambil menepuk pelan pipinya untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Sementara itu, Rio bukan tipe orang yang mau menunggu. Dia juga bukan sedang memberikan Bayu tawaran, melainkan sebuah perintah mutlak yang tidak bisa ditolak. “Terima atau angkat kaki dari perusahaan ini. Dan nama kamu telah diblacklist dimana pun. Tidak ada instansi yang bersedia menerima kamu!” gertak Rio, dan seketika membuat Bayu terpaksa menyetujuinya. Selain karena digertak, dia juga memang butuh uang itu. “Ba..baik Pak Rio. Sayaaaa… saya akan menerima tugas ini,” jawab Bayu dengan terbata bata. Setelah memberikan jawaban pada Rio, otak Bayu berkelana. "Main sama Bu Maudy? Kira kira seperti apa ya rasanya? Dari luar aja tubuhnya kelihatan putih dan mulus, gimana kalau dilihat dari dalam? Apalagi bayangin kalau dia sedang bergoyang diatas ku? Huuuuh, pasti seruuuu!" celetuk Bayu di dalam hati. Otak mesumnya sudah membayangkan seperti apa aksi Maudy di ranjang. Rio tersenyum lega mendengar jawaban Bayu. Sungguh berbeda dengan raut wajah Maudy tertunduk lesu. Masih belum bisa dia terima keputusan suaminya yang nekat menyewa laki laki untuk menghamilinya. Apalagi laki laki yang dia pilih adalah seorang OB. Sejenak Maudy mengangkat pandangannya, lalu sekilas memperhatikan penampilan Bayu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dan sialnya, saat pandangan Maudy tepat di wajah Bayu, pandangan keduanya tepat bertemu. Maudy segera membuang pandangan, sementara Bayu kembali menundukkan kepala. Tetapi, OB beruntung itu masih menyimpan sejuta pertanyaan di otaknya. “Kenapa pandangan Bu Maudy padaku berbeda dari sebelumnya? Apa, jangan jangan dia sudah mulai tergoda denganku? Karena kan sebenarnya aku ini lebih ganteng dari pada suaminya, badanku juga lebih berotot dari pada Pak Rio yang kerempeng. Bisa jadi itunya juga kecil…” Bayu terkekeh membayangkan isi otaknya yang liar. Bahkan dia masih melanjutkan pikiran konyolnya itu “Setelah melihat fisik ku, pasti Bu Maudy sudah membayangkan aksi hebatku di ranjang. Sayangnya aja nasibku buruk harus pakai seragam OB ini. Coba kalau aku pakai jas dan sepatu kayak Pak Rio, pasti semua wanita tergila gila padaku.. Hahahahhahahah!” Bayu makin berbangga diri dengan fisiknya. Akan tetapi dengan cepat dia membuyarkan lamunannya itu agar tidak menimbulkan masalah dengan bosnya. Meski dia tergoda dengan tubuh Maudy, tetapi dia tetap harus sadar diri dan menghormati bosnya tersebut. Dan sebelum dia meninggalkan ruangan, Bayu menanyakan sesuatu kepada bosnya. “Maaf Pak Rio, apa saya boleh menanyakan sesuatu? “Katakan,” “Di dalam tugas ini, apa ada aturan tertentu yang boleh dikerjakan dan yang tidak boleh dilanggar?” “Maksud kamu?” Rio balik bertanya dengan kening mengerut. “Emm, maksud saya. Apakah dalam melaksanakan tugas nanti, saya boleh memakai banyak gaya dengan durasi yang lama?” tanya Bayu dengan pelan dan sedikit ragu. Dan hal itu seketika membuat Rio dan Maudy membulatkan kedua bola mata mereka ke arah Bayu. Di satu sisi Maudy terkejut dengan kata kata Bayu. “Banyak gaya dan durasi lama”. Karena selama ini Maudy belum pernah merasakannya bersama dengan Rio. Sementara Rio sendiri, dia merasa tersindir dengan pertanyaan itu karena belum sampai mencoba banyak gaya, dia sudah tumpah duluan. “Jangan macam macam! Tugasmu hanya membuat istri saya hamil, jangan pikirkan hal lain!” bentak Rio sembari menggebrak meja di depannya hingga membuat Bayu gemetar. Tetapi dengan polosnya dia masih lanjut bertanya. “Maaf Pak Rio jika pertanyaan saya tadi lancang. Tapi jujur, saya tadi serius bertanya. Dalam melaksanakan tugas saya nanti, saya boleh pakai gaya apa saja? Takutnya, saya lancang dan tidak sopan.” Rio menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Sebisa mungkin dia menahan diri. Dia tidak tau apakah Bayu benar benar bertanya atau sedang menyindirnya. “Kurang ajaarr! Anak ini kayaknya sengaja nyindir aku. Tapi nggak mungkin. Mungkin dia memang benar benar bertanya. Lagian soal ini kan hanya aku dan Maudy yang tahu. OB ini nggak mungkin tau kalau aku gak tahan lama dan gak bisa banyak gaya!”Malam kian merambat sunyi, menyisakan keheningan yang begitu pekat di dalam kediaman megah Bayu dan Maudy. Di lantai atas, Maudy sudah tertidur lelap setelah meminum obatnya, napasnya teratur di bawah kehangatan selimut tebal. Namun, di lantai bawah, Bayu masih enggan memejamkan mata.Pria itu duduk termenung di sofa ruang tamu yang temaram, hanya diterangi oleh lampu sudut berwarna kuning hangat. Tatapannya lurus menatap cangkir teh kamomil yang sudah mendingin di atas meja kaca. Di bawah keheningan malam, otak jenius Bayu bekerja dengan sangat keras. Ia memikirkan setiap jengkal kejadian di aula kantor tadi siang.Bayu sama sekali tidak menyesali keputusannya untuk memprioritaskan Maudy dan calon buah hati mereka. Baginya, itu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar oleh apa pun, termasuk oleh grafik keuntungan perusahaan. Yang kini berkecamuk di dalam kepalanya adalah bagaimana cara mengamankan posisi Cindy.Bayu tahu betul bahwa penunjukan Cindy sebagai Komisaris harian semen
Heru menyesap kopi hitamnya perlahan, membiarkan keheningan sesaat menggantung di ruang keluarga mereka. Tatapan matanya yang tadi tampak tenang kini berubah, memancarkan binar kelicikan seorang pria paruh baya yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan."Kalau memang targetmu setinggi itu, Tasya... Papa punya satu saran," ujar Heru, memajukan tubuhnya dan meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas meja dengan ketukan pelan yang berwibawa.“Apa itu Pa?” tanya Tasya dengan penuh semangat. "Besok, atau lusa, Papa akan mengajak kamu dan Mamamu untuk bertamu. Kita akan mendatangi rumah Tantemu, ibunya Maudy."Mendengar usulan sang papa, dahi Tasya seketika berkerut dalam. Alisnya bertaut, memancarkan rasa heran sekaligus ketidaksetujuan yang amat kentara."Bertamu? Untuk apa kita ke rumah ibunya Maudy, Pa? Memangnya tujuan Papa apa melakukan itu?" tanya Tasya, nada suaranya meninggi, sarat akan penolakan."Ya untuk sekedar berkunjung, menjalin hubungan baik, dan menyambung silatur
Malam itu, kediaman keluarga Tasya tampak tenang dari luar, namun di dalamnya, sebuah ambisi besar sedang dirayakan. Tasya melangkah masuk melalui pintu depan dengan senyuman yang merekah lebar. Wajahnya yang sejak sore di kantor dipenuhi binar kepuasan kini tampak begitu ceria, sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya sering mengeluh dan berwajah masam setiap kali pulang bekerja. Tasya melempar tas branded-nya ke atas sofa ruang tamu dengan asal, lalu mengempaskan tubuhnya di sana sembari menyandarkan kepala, masih dengan senyuman miring yang tidak lepas dari bibirnya. Langkah kaki yang teratur terdengar mendekat. Mamanya, yang kebetulan baru saja keluar dari arah dapur bersama papanya, langsung menghentikan langkah. Pasangan suami istri itu saling berpandangan sejenak, merasa heran sekaligus tertarik melihat perubahan drastis pada raut wajah putri tunggal mereka. "Wah, ada apa ini? Tumben sekali pulang kantor wajahmu secerah ini, Tasya? Biasanya kamu selalu m
Bayu baru saja menarik napas dalam-dalam, bersiap mengalirkan kalimat tegas yang akan membungkam seluruh riuh desakan di dalam ruang pertemuan. Tatapan matanya yang tajam sudah mengunci sosok Tasya dan beberapa perwakilan staf yang baru saja melayangkan protes. Tasya pun mulai menyadari jika tatapan tajam mata Bayu mengartikan bahwa dia tidak setuju dengan permintaannya. Apalagi jelas Maudy menolaknya. Tentu saja Bayu pasti akan berpihak pada Maudy. Suasana di dalam ruangan begitu tegang, menanti ketukan palu keputusan dari sang pemilik takhta tertinggi.Namun, belum sempat sepatah kata pun keluar dari bibir Bayu, ia merasakan cengkeraman tangan Maudy di lengan kemejanya mendadak mengerat dengan sangat kuat. Kain kemejanya sampai berkerut hebat.Bayu menoleh cepat. Detik itu juga, seluruh fokusnya terhadap isi aula runtuh tanpa sisa.Wajah Maudy yang beberapa menit lalu sudah mulai merona kini kembali kehilangan seluruh warnanya, berubah menjadi pucat pasi seperti kertas. Kedua m
"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.
Pada saat yang bersamaan, Sedan hitam milik Bayu melaju dengan kecepatan sedang, membelah aspal jalanan ibu kota yang mulai merayap padat menjelang siang. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, suasana mencekam yang tadinya menyelimuti perjalanan menuju rumah sakit kini telah sepenuhnya mencair. Ha
Malam kian larut, meninggalkan keheningan di rumah milik Maudy. Di dalam keheningan itu, ketegangan yang sempat memuncak perlahan-lahan mencair. Di bawah sentuhan dan dekapan hangat pria yang telah menjadi pelindungnya, seluruh benteng pertahanan Maudy runtuh tak bersisa. Di tangan sang pawang hati
Bagi Bayu, tawaran miliaran rupiah atau nama besar Pradipta Group sama sekali tidak memiliki bobot jika harus ditimbang dengan ketenangan hidup Maudy. Ia telah menyaksikan bagaimana Maudy hancur di tangan Rio, dan ia telah berjanji di dalam hatinya untuk menjadi pelindung, bukan sumber luka baru. J






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore