Mag-log inSatu per satu dari beberapa orang itu menggeleng. Mereka tidak ada pemikiran yang luar biasa soal ini, mereka hanya merasa akan berubah drastis.Beberapa buah mobil itu melaju dengan cepat, tetapi juga tidak menarik perhatian.Orang-orang di jalanan berjalan dengan tergesa-gesa, memiliki tujuan sendiri.Seolah-olah hidup selalu sesederhana ini, tidak ada perubahan apa pun.Namun, diam-diam Provinsi Aste sudah mulai berubah.Alendo sudah sangat berpengalaman dalam berbisnis, terlibat dalam banyak industri.Awalnya dia memiliki identitas dan status yang terhormat, tentu saja ada banyak orang yang memanjakannya dan menyanjungnya.Namun, beberapa waktu ini kinerja Keluarga Siantar membuat banyak pebisnis ketakutan, ada beberapa mitra juga masih sedang mengamati situasi.Beberapa orang pebisnis yang belum sempat bertindak, untuk sesaat juga tidak panik lagi. Saat ini, orang-orang yang sebelumnya terus mengejar ingin meminta proyek, juga mulai beralasan, tidak bersedia untuk bekerja sama lag
Namun, setelah tadi dia memeriksa kondisi bosnya sejenak, sepertinya selain luka di kepala, tidak ada bagian lain dari tubuh bosnya yang terluka lagi.Sekarang bosnya itu dalam kondisi tidak sadarkan diri, mungkin sedikit lebih baik, karena dengan begini bosnya tidak akan merasa kesakitan lagi.Namun, mendengar suara obrolan di luar membuatnya kesal.Lucas berspekulasi bahwa identitas Ardika sangat terhormat, dan kali ini bosnya benar-benar sudah menyulut amarah Ardika.Juga tidak tahu pembalasan seperti apa yang akan dilancarkan oleh Ardika nantinya.Saat ini, Lucas mulai mengkhawatirkan urusan bisnis. Namun, melirik bosnya yang dalam kondisi tidak sadarkan diri itu, dia merasa seharusnya dia tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.Lucas menghubungi rumah sakit swasta. Tak lama kemudian, pihak rumah sakit sudah mengirim ambulans kemari.Dengan bantuan orang lain, Lucas mengangkat bosnya ke atas tandu. Kemudian, dia melirik petarung yang tidak sadarkan diri itu sejenak, menunjukkan ekspre
Lucas benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi. Untuk sesaat, dia hanya merasa sangat ketakutan, seakan-akan langit telah runtuh."Sebenarnya apa yang terjadi tadi? Bukankah Bos ada menyewa orang untuk melindunginya? Kenapa Bos masih bisa terluka begini?"Tadi Lucas hanya mendengar suara keributan dari ruangan sebelah, tetapi dia tidak menyangka ternyata yang terluka adalah bosnya.Terutama saat itu dia mendengar suara arogan bosnya, jadi dia mengira mereka lebih unggul.Jelas-jelas Ardika hanya seorang diri, bagaimana bisa begitu mengintimidasi?Hal ini membuatnya benar-benar tidak mengerti, juga makin penasaran, ingin tahu sebenarnya apa yang telah terjadi.Namun, sekarang bukan saatnya untuk mencari tahu soal itu. Dia harus segera membawa bosnya ke rumah sakit, luka dengan darah masih merembes itu benar-benar sangat mengerikan.Semua ini seratus delapan puluh derajat berbeda dengan apa yang telah direncanakan.Awalnya mereka berencana untuk menyuap Ardika, memikirkan cara agar
Ardika duduk di meja samping dengan santai, melempar orang yang telah dalam kondisi tak sadarkan diri itu ke lantai. Kemudian, dia mengambil sebotol anggur yang belum dibuka, lalu langsung mulai meneguknya."Pak Ardika, kami datang terlambat."Chalis bergegas datang, alhasil yang disaksikannya adalah situasi yang mengerikan ini.Hanya saja, dalam hatinya dia tetap merasa agak tidak enak hati. Mereka ini adalah anak buah yang bertugas untuk melindungi Ardika, bagaimana dia bisa membiarkan Ardika turun tangan sendiri menangani para bajingan itu?"Pak Ardika, kenapa kamu nggak menunggu kami? Tadi kamu sama sekali nggak perlu turun tangan sendiri."Saat mendengar keributan di sini, Chalis dan yang lainnya bergegas datang kemari. Namun, siapa sangka mereka sudah terlambat.Saat Ardika menyerang, dia sama sekali tidak bernegosiasi, ditambah lagi pergerakannya sangat cepat, mereka sama sekali tidak sempat untuk membantu.Justru karena itulah mereka merasa bersalah.Menyaksikan situasi mengena
"Apa latar belakang bocah ini? Sepertinya dia sudah pernah dilatih, kemampuannya benar-benar luar biasa.""Bukan hanya pernah dilatih, kemungkinan besar dia berasal dari sebuah organisasi khusus.""Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan? Apa kita masih harus lanjut?"Beberapa orang itu sudah mulai merasa takut."Jangan lupa konsekuensi menyinggung Keluarga Siantar. Kalian bisa menghindar, juga bisa memilih untuk nggak menyerang, tapi harus hadapi konsekuensinya sendiri."Pemimpin sekelompok orang itu tidak bisa menahan diri untuk mengingatkan.Saat mereka menerima tugas ini, mereka sudah tidak punya ruang untuk memilih. Sekarang bukanlah waktu untuk mundur."Sebenarnya ada apa ini? Aneh sekali.""Orang yang satu ini juga benar-benar kejam."Melihat luka-luka di tubuh mereka sendiri, beberapa petarung itu benar-benar sangat menyedihkan, tetapi mereka tidak bisa menyerah."Bagaimana ini? Apa kita masih harus lanjut?"Begitu seorang petarung merasa ketakutan, maka sudah kehilangan kepe
"Menurutku, kamu sedang cari mati."Alendo kira bisa menggunakan cara seperti ini untuk menakuti Ardika, membuatnya berinisiatif untuk mengatakan semuanya.Namun, siapa sangka lawan bicaranya itu masih bisa menahan tekanan, dan tetap saja setenang itu, seolah-olah apa pun yang dilakukannya tidak akan bisa mengubah apa pun. Dia benar-benar tidak bisa memperoleh informasi apa pun dari Ardika.Ini membuat Alendo merasa tidak masuk akal. Hal ini juga yang membuat pikirannya tiba-tiba tidak bisa berpikir dengan jernih. Dia tiba-tiba mengangkat botol anggur tersebut tinggi-tinggi, lalu menghantam dengan keras.Ardika bisa merasakan kekuatan kali ini berbeda. Begitu Alendo bergerak, dia langsung memiringkan kepalanya ke samping untuk menghindari serangan tersebut. Kemudian, dia langsung merampas botol anggur tersebut.Tentu saja Ardika tidak mengkhawatirkan apa pun. Dia langsung menghantamkannya ke kepala Alendo.Dalam sekejap, botol anggur tersebut langsung hancur berkeping-keping, aroma alk
Sambil meracik, Sari sengaja menyebutkan nama dan khasiat herba-herba ini.Jelas dia sedang sengaja memamerkan kemampuannya. Dia ingin meredam api arogan Ardika. Pada saat bersamaan, dia juga ingin membuat lawannya itu merasa tertekan.Namun, saat dia tiba-tiba menoleh, dia malah terkejut setengah m
Ardika menyesap tehnya dengan santai sebelum berkata dengan acuh tak acuh, "Bukan, aku nggak punya guru."Tentu saja dia tidak akan memberi tahu Wilgo keahliannya dalam membunuh orang ini, diperolehnya melalui pertarungan sengit melawan puluhan ribu prajurit."Nggak punya guru? Itu artinya kamu memp
Ardika tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya melirik Rosa sekilas.Rosa berkata dengan datar, "Terima kasih, Kak Staco, tapi aku nggak ingin makan besar. Kebetulan Ardika sudah membawa makanan kemari, aku makan sedikit saja sudah cukup."Raut wajah Staco langsung berubah menjadi muram. Dia memir
"Dengar-dengar, dia pernah terlibat dalam kasus pembantaian keluarga yang mengenaskan. Dalam satu malam, dia menghabisi musuhnya keluarga yang berjumlah 36 orang, lalu kabur ke luar negeri, bahkan masuk dalam daftar orang yang dicari pihak pemerintahan Negara Nusantara.""Siapa sangka ternyata dia b







