LOGINBella dan Hector adalah 2 orang yang sama-sama di remehkan dalam kehidupan nyata. Bella di khianati kekasih, dan Hector di kucilkan karena skandal dan dianggap belum mampu membangun bisnis sendiri. Keduanya di pertemukan pada pesta topeng kalangan elit, dan melakukan one night stand saat sama-sama dalam keadaan mabuk. Demi tidak tersebar luasnya skandal baru, akhirnya mereka berdua di paksa menikah tanpa di dahului perasaan cinta. Akankah pernikahan kontrak ini berlanjut? Atau justru berakhir, setelah menyadari jurang perbedaan mereka sangatlah jauh? Dan bagaimana jadinya bila ternyata di masa lalu keluarga mereka saling berkaitan, sehingga menguak tabir-tabir kisah lainnya?
View More"No way, why would you f**k my friend on the night of the best surgeon day” I screamed after seeing Andrew and Aliana in the storage room.
“No way you would probably get chosen” Andrew said rushing out of the storage room
I closed my eyes and opened it again so I could get what exactly is going on right now
Is this a dream, obviously not this is real
“Aliana" I screamed
She rushed out of the storage room immediately
I couldn’t bear the thought of Aliana seen with my boyfriend so I ran outside
“Jeez, that damn ugly thing" I said as I threw a punch at the car window “oh my Goodness” I dropped my bags and closed my mouth “damn I thought it was my car"
The owner of the car opened the car door and held my hands
“What have you done to my car glasses” he said looking so paranoid
I shivered in fear “oh no I am sorry, I am so sorry, I thought it was my car” I said begging for forgiveness
“Oh my goodness, you are hurt” I touched his face which the glasses left a scratch on “its bleeding" I said
He held my hands tight and away from his face
“I am a doctor, I am going to treat this" I said shivering and sweating
He held my hands tight and kissed them “These hands seemed very warm to be a surgeon”
“just like my cheating boyfriend said to me, damn him" I said fuming in anger
He laughed “I am serious, your hand are soft and warm”
I stared at his face for a while, we made eye contact leading to something else.
I kissed him and he held me tight giving me a deep kiss in return for some minutes
“Should we do this?” he asked me silently
“Yes" I murmured unbuttoning his cloths.
He stopped and looked me in the eye “Now you can either go home with me or think about your idiot ex, the choice is yours” he asked me
I didn’t give him an answer but I gave him something more than an answer, I rushed straight into his car giving him a signal to hurry and drive, I touched his d**k till we arrive at his house. He carried me and pushed me little to the wall, he carried me up and kissed me, I moaned he dropped me and I keep moaning while loosing his belt.
He grabbed my face “Tell me what you want" he asked me silently , his voice made me wet immediately
“I want you to bang me hard, I mean harder” I replied breathing heavily
He loosed his shirt “ Now let me show you what it is like to be a real man" he said as he pushed me to the bed “I will make you forget your little boyfriend ever existed" he added as he kissed me deep again
He carried me again to chair and removed my panties, he zipped his off and dipped his d**k into my wet p**y.
I moaned aloud
“Now you feel so good" he whispered to my ears as keeps hitting the spot real hard “you are wrapped around me baby, I love that" he added
I moaned again “uhh, fuck, oh shit, hmm.. hmm” I moaned
“That’s it baby, let me hit hard now baby, its coming” he said slowly breathing heavily
I couldn’t moan properly, my voice trembled
“That’s it baby, good girl" he stopped and kissed my neck.
The next morning I woke up next to him, I felt shy and couldn’t face him “oh my God he looks hot” I murmured
He walked towards me and told me to come downstairs for breakfast, I stood up from the bed and saw my panties on the floor, I flashed back to what happened and how it happened again “urrggghh oh my goodness" I said silently
He grabbed my hands while I was about to take the panties “ come wash up first"
I rushed into the bathroom and took a quick bath, he knocked and handed me my panties.
After bathing, I rushed downstairs to see what he had prepared “ he seems like a sweet man, he is also rich" I said to myself
“I live here alone with my son, so feel free with me" he said
I smiled and rushed the food so I could leave immediately
“Let me have your contact and your cashapp" he said
I dropped the tea cup and looked up at him while he stands “cashapp? Why ?” I asked
“Or you want cash?” he asked as he dropped a lot of money in front of me
I smirked “look here, I am not a slut, It just happened to be like that so please forget about it, let’s just act like it never happened okay”
I dropped the tea cup and grabbed my bags
He ran in front of me trying to stop me to calm down
“Listen, I don’t even know you" I said
“I also don’t know you too, but we don’t have to act like we don’t know eachother" he said “ what is your name ?” he asked
I stared at him for a while
“Come on" he said
“My name is Mirabel” I replied with a smile on my face
“okay cool, nice name can I drop you off?” he offered me a ride but I couldn’t accept it
“No I am fine thanks” I walked out immediately
I walked down the road and stopped a cab, the though of how my life turned out only in a day scared me “urggghhh, snap out of it Mirabel. We are adults, such things happen” I murmured to myself
I am back home again, where I would be alone and lonely, I dropped my bag and had a nice shower.
I cooked a nice meal so I could eat and forget my worries, my phone ringed and my boss name flashed on it, I hesitated a little while before I could pick it, but who knows it might be important.
“Come to the hospital now" he raised his voice and hanged up without waiting for a reply, I looked at my phone in surprise
“What could this be?” I asked myself and walked to my room to pack my stuffs ready for work.
"Ada undangan penting dari media." "Benarkah? Secepat itu?" Sandra utarakan perasaan senang lewat ujung telpon. "Media apa? TV kah? Kalau misalkan dekat-dekat sama atasan kita, berarti Media TV. Benarkah?" Sandra tak sabar ingin jadi yang pertama tahu dari Bella. "Aku sendiri belum tahu banyak, jadi sepertinya kita sama-sama harus menunggu hingga besok." Bella memilih jalur aman. Kenyataannya dia memang tidak di beri informasi detilnya acara konferensi pers esok hari. "Aku sama-sama tak sabarnya denganmu, jadi ayo kita segera tidur dan berangkat pagi untuk segera tahu. Ngomong-ngomong, apa Pak Victor sudah tahu kegiatan barumu ini?" Sandra jadi teringat atasan mereka. Meskipun semua masih samar, tapi Sandra perlu melibatkan Victor pada pembicaraan soal pekerjaan mereka berdua. "Iya, Pak Victor sudah tahu." Bella melirik Hector yang masih menatap dengan wajah dinginnya. Terkatup bibirnya mencegah banyak kalimat keluar. Bella tidak berani banyak berbicara seperti biasanya, di karena
Sedangkan Bella berjalan mondar-mandir di kamar dengan perasaan tak tenang. Di balik pintu kamar itu memang ada beberapa pria yang di tugaskan untuk menjaganya, tapi pikirannya masih menyangkut pada peristiwa di ruang tamu tadi. "Dimana Hector? Apa dia pergi?" Kedua tangan Bella bersatu membentuk harapan dan doa. "Apa dia selalu alami hal seperti ini?" Tanda tanya pengusik pikirannya kini. Jantung Bella seperti mau copot ketika ketukan di pintu itu bersambut suara panggilan dari Hector. "Bella. Kamu belum tidur, kan?" Bella berjalan cepat menyambut Hector. "Tidur? Kamu kira aku bakal bisa tidur setelah kejadian tadi?!" Protes Bella bernada kesal, terlebih niatnya ingin melihat keadaan Hector dengan memeriksa bagian tangan bila terjadi luka akhirnya terhalang oleh baki yang di bawa Hector. "Apa ini?" tanyanya setengah bingung. "Makanan. Memang kamu kira ini bom?" Hector menjawab dengan senyuman tipis. Memaklumi keadaan Bella yang masih gemetaran ketakutan. Dengan polosnya Bella m
"Kalau begitu kita akhiri saja sampai di sini. Pertemuan ini tidak ada gunanya!" Hector masih memendam amarah. Pikirnya, akan sangat percuma bila pembicaraan yang tak akan membuahkan kesepakatan baik itu tetap di lanjutkan. Dirinya dan Bella jadi pihak yang pada akhirnya terus di rugikan. "Ayo Bella, kita pergi dari ruangan ini!" "Kau tidak bisa seperti itu, Hector. Ada ibuku di sini. Hormati dia!" Victoria mencegah dengan suara keras. Uluran tangan Hector tidak di respon Bella begitu saja. Bella berdiri, tapi kemudian memberi hormat kerajaan pada Camilla, Victor, dan Victoria secara bergantian, baru kemudian mengikuti langkah Hector untuk keluar dari ruangan. Untuk pertama kalinya Bella merasakan menjadi pemberontak seperti halnya sebutan itu tersemat pada Hector. Kehidupan sebagai bangsawan sungguh di luar dugaannya. "Sekarang aku mulai bisa merasakan berada di posisimu," ucapan pertama Bella setelah mereka sampai di kediaman pribadi Hector. "Kota Milan bukan hanya menyajikan h
"Menurutmu dia sudah pantas untuk kamu tunjukkan pada dunia?" Camilla jadi penanya selanjutnya. Wanita setengah baya dengan gaya aristrokat itu menunjukkan ekspresi tidak jauh berbeda dengan putrinya, Victoria. "Aku konsisten dengan ucapanku." Jawaban tenang Hector ini semakin membuat Victoria meradang. "Oh aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Hector!" ucapnya geram. Kedua tangannya terkepal seperti geregetan. "Dari cara dia belajar sebagai bangsawan dalam satu hari ini saja susah buatku muak. Gadis desa memalukan ini sungguh jauh dari harapan!" lanjutnya merendahkan Bella. Bella hanya bisa tertunduk lesu. Setiap kali mendapatkan kekuatan untuk terus melangkah maju, tapi selalu saja seperti ada yang akan siap menjegal, sehingga rasa percaya dirinya kembali runtuh. "Dia bisa melakukannya. Hanya butuh waktu saja untuk membuktikan." Hector memberikan pembelaan. Setiap hinaan untuk Bella adalah ruang, semakin di jatuhkan maka Hector akan menjadikannya pancingan untuk b
'Aku akan mengirim seseorang untuk melindungimu. Kamu ... ' Itulah bunyi salah satu pesan terakhir dari Hector yang sempat di bacanya. Walaupun Bella hanya melihat dari notifikasinya saja, belum membaca keseluruhan. "Siapa kau?!" Pertanyaan bernada tegas dari salah satu trainer Bella yang ada di
Perasaan belum adanya cinta, tak membuat Bella berpaling pada pendiriannya. Yang dia tahu sekarang adalah dia mempercayai Hector. Saat ini, kepercayaan itu sudahlah cukup buatnya melangkah lebih jauh. Bella menatap ponsel, pada nama Hector yang tertera di layar di ganti sebagai pemegang kontak VIP
Bella beringsut masuk ke dalam pelukan Hector. Bukan gairah dengan daya tarik rangsangan dari ketampanan Hector yang membuat Bella melakukannya, tapi karena ucapan Hector. Pria itu benar. Bella bisa merasakan perasaan tulus dari ungkapan hati melalui bibir dan tindakan. Detik demi detik sampai men
Hector mengambil selimut yang di pegang Bella, lalu memposisikan diri di atas kasur sorong bagian bawah. "Ayo tidur. Aku sudah mengantuk." Bella termenung. Masih tak percaya, salah satu anggota kerajaan dari negara yang selalu dia kagumi sedari kecil itu akan tidur di kasur bersama dirinya. "Sa
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore