تسجيل الدخولBella dan Hector adalah 2 orang yang sama-sama di remehkan dalam kehidupan nyata. Bella di khianati kekasih, dan Hector di kucilkan karena skandal dan dianggap belum mampu membangun bisnis sendiri. Keduanya di pertemukan pada pesta topeng kalangan elit, dan melakukan one night stand saat sama-sama dalam keadaan mabuk. Demi tidak tersebar luasnya skandal baru, akhirnya mereka berdua di paksa menikah tanpa di dahului perasaan cinta. Akankah pernikahan kontrak ini berlanjut? Atau justru berakhir, setelah menyadari jurang perbedaan mereka sangatlah jauh? Dan bagaimana jadinya bila ternyata di masa lalu keluarga mereka saling berkaitan, sehingga menguak tabir-tabir kisah lainnya?
عرض المزيدIsabella's eyes were wide with shock as she gazed at her reflection in the mirror. This was the biggest mistake of her life. She felt like her world was crumbling around her. She took a deep breath, trying to calm her racing heart, and stepped out of the bathroom.
Just then, Luca Ferraro, a 50-year-old man with a kind face, walked into the room carrying a tray with some medicines. "Isabella, I brought you some medication to help with your... condition," he said gently.
But Isabella wasn't listening. She was too busy trying to process the news she had just received. She felt like she was in a daze, like she was living in a nightmare.
Luca, her father's former personal guard, stood by the window, watching her with a concerned expression. He had been like a father to her since her mother's passing when she was just seven years old. Her father, a wealthy businessman, had remarried soon after, but Isabella's stepmother had never taken a liking to her. Despite this, Isabella had grown into a strong and independent woman.
But now, at the age of 25, she found herself in a precarious situation. She was the CEO of her father's company, but after coming back from Vincent Moreno, she had been feeling unwell for weeks and had locked herself away in her house. Her assistant had been taking care of her work in her absence.
Luca's voice brought her back to reality. "How are you feeling now, Isabella? I brought you some medicine to help with your symptoms."
Isabella shook her head, trying to clear the fog. "It's not needed, Luca. I know what's happening to me."
Luca's expression turned serious. "What's going on, Isabella? You can tell me anything."
Isabella took a deep breath before blurting out the truth. "I'm pregnant, Uncle."
The room fell silent. Luca's eyes widened in shock.
Isabella continued, her voice shaking. "And the father... is Vincent Moreno."
Luca's face turned grim. "Vincent Moreno"
Isabella nodded, feeling a wave of fear wash over her. She knew what this meant. She knew that she couldn't keep her pregnancy a secret from Vincent. He would stop at nothing to claim his child.
Luca's voice brought her back to reality. "You know what this means, don't you? You can't keep this a secret from him. He'll find out, and when he does... "
Isabella's eyes flashed with determination. "I'll do whatever it takes to protect my child, Luca. I'll go to the ends of the earth to keep them safe from him."
Luca's expression turned somber. "How long can you keep running, Bella? You can't hide forever."
Isabella's jaw set in determination. "As long as I'm alive, Luca. I'll never let him near my child."
****
After 7 years
Isabella's eyes snapped open, her heart racing as she gasped for air. It was just a dream, she told herself, trying to calm down. But the nightmares had followed her for many years, haunting her like a ghost.
She looked at the clock on her nightstand and saw that it was 7:00 AM. She threw off the covers and got out of bed, padding barefoot to the garden of her house. The dewy green grass felt cool beneath her feet, and the morning breeze carried the sweet scent of blooming flowers. This was her favorite time of day, when the world felt peaceful and calm.
As she walked through the garden, Luca appeared at her side. "Your assistant called; you have some important meetings today," he said, his voice low and gravelly.
Isabella nodded, taking a deep breath of the morning air. "Okay, I'll get ready soon."
Luca fell into step beside her. "Has Zyne woken up, uncle?" Isabella asked, referring to her seven-year-old son.
Luca smiled. "The little master is up before you, as usual. He's gone for a walk with his dog."
Isabella's eyes narrowed. "Is he alone?"
Luca reassured her. "Not at all. I sent two guards after him, without his knowledge, of course."
Isabella nodded, feeling a sense of relief. She knew that Luca would always look out for her and Zyne.
Luca's expression turned serious. "You still have dreams of him, don't you? Why don't you forget him, Isabella?"
Isabella's eyes flashed with emotion. "How can I forget that man when his Xerox copy is always with me as a seven-year-old kid?"
Luca's face softened. "I know, Isabella. I know."
Isabella smiled, feeling a sense of gratitude towards Luca. "You were my most favorite, well, I remembered. You gave me thirty years of your life. Now you should retire; it's time for you to take a rest."
Luca chuckled. "You are my only family, Isabella. And how can I leave you? Taking care of you is my only goal. I promised Alice."
Isabella's eyes misted as she thought of her mother. She smiled, feeling a sense of love and gratitude towards Luca.Just then, Lisa, the head maid, appeared with a tray of coffee. "Good morning, Isabella. I brought you some coffee."
Isabella took a sip, feeling the warmth spread through her body. Just as she was starting to relax, the doorbell rang, followed by the sound of loud voices.
Isabella's heart skipped a beat as she turned towards the noise. A group of men had entered the house, their faces twisted with anger and determination.
And then, she saw him. The man who had haunted her dreams for so long. The man who had fathered her child.
"WHERE IS MY CHILD, ISABELLA?" He thundered, his eyes blazing with fury.
Isabella's cup fell from her hands, shattering on the floor. She felt like she was frozen in time, unable to move or speak.
The man took a step closer, his eyes fixed on hers. "You've been hiding my child from me for seven years. It's time I took what's mine."
"Ada undangan penting dari media." "Benarkah? Secepat itu?" Sandra utarakan perasaan senang lewat ujung telpon. "Media apa? TV kah? Kalau misalkan dekat-dekat sama atasan kita, berarti Media TV. Benarkah?" Sandra tak sabar ingin jadi yang pertama tahu dari Bella. "Aku sendiri belum tahu banyak, jadi sepertinya kita sama-sama harus menunggu hingga besok." Bella memilih jalur aman. Kenyataannya dia memang tidak di beri informasi detilnya acara konferensi pers esok hari. "Aku sama-sama tak sabarnya denganmu, jadi ayo kita segera tidur dan berangkat pagi untuk segera tahu. Ngomong-ngomong, apa Pak Victor sudah tahu kegiatan barumu ini?" Sandra jadi teringat atasan mereka. Meskipun semua masih samar, tapi Sandra perlu melibatkan Victor pada pembicaraan soal pekerjaan mereka berdua. "Iya, Pak Victor sudah tahu." Bella melirik Hector yang masih menatap dengan wajah dinginnya. Terkatup bibirnya mencegah banyak kalimat keluar. Bella tidak berani banyak berbicara seperti biasanya, di karena
Sedangkan Bella berjalan mondar-mandir di kamar dengan perasaan tak tenang. Di balik pintu kamar itu memang ada beberapa pria yang di tugaskan untuk menjaganya, tapi pikirannya masih menyangkut pada peristiwa di ruang tamu tadi. "Dimana Hector? Apa dia pergi?" Kedua tangan Bella bersatu membentuk harapan dan doa. "Apa dia selalu alami hal seperti ini?" Tanda tanya pengusik pikirannya kini. Jantung Bella seperti mau copot ketika ketukan di pintu itu bersambut suara panggilan dari Hector. "Bella. Kamu belum tidur, kan?" Bella berjalan cepat menyambut Hector. "Tidur? Kamu kira aku bakal bisa tidur setelah kejadian tadi?!" Protes Bella bernada kesal, terlebih niatnya ingin melihat keadaan Hector dengan memeriksa bagian tangan bila terjadi luka akhirnya terhalang oleh baki yang di bawa Hector. "Apa ini?" tanyanya setengah bingung. "Makanan. Memang kamu kira ini bom?" Hector menjawab dengan senyuman tipis. Memaklumi keadaan Bella yang masih gemetaran ketakutan. Dengan polosnya Bella m
"Kalau begitu kita akhiri saja sampai di sini. Pertemuan ini tidak ada gunanya!" Hector masih memendam amarah. Pikirnya, akan sangat percuma bila pembicaraan yang tak akan membuahkan kesepakatan baik itu tetap di lanjutkan. Dirinya dan Bella jadi pihak yang pada akhirnya terus di rugikan. "Ayo Bella, kita pergi dari ruangan ini!" "Kau tidak bisa seperti itu, Hector. Ada ibuku di sini. Hormati dia!" Victoria mencegah dengan suara keras. Uluran tangan Hector tidak di respon Bella begitu saja. Bella berdiri, tapi kemudian memberi hormat kerajaan pada Camilla, Victor, dan Victoria secara bergantian, baru kemudian mengikuti langkah Hector untuk keluar dari ruangan. Untuk pertama kalinya Bella merasakan menjadi pemberontak seperti halnya sebutan itu tersemat pada Hector. Kehidupan sebagai bangsawan sungguh di luar dugaannya. "Sekarang aku mulai bisa merasakan berada di posisimu," ucapan pertama Bella setelah mereka sampai di kediaman pribadi Hector. "Kota Milan bukan hanya menyajikan h
"Menurutmu dia sudah pantas untuk kamu tunjukkan pada dunia?" Camilla jadi penanya selanjutnya. Wanita setengah baya dengan gaya aristrokat itu menunjukkan ekspresi tidak jauh berbeda dengan putrinya, Victoria. "Aku konsisten dengan ucapanku." Jawaban tenang Hector ini semakin membuat Victoria meradang. "Oh aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Hector!" ucapnya geram. Kedua tangannya terkepal seperti geregetan. "Dari cara dia belajar sebagai bangsawan dalam satu hari ini saja susah buatku muak. Gadis desa memalukan ini sungguh jauh dari harapan!" lanjutnya merendahkan Bella. Bella hanya bisa tertunduk lesu. Setiap kali mendapatkan kekuatan untuk terus melangkah maju, tapi selalu saja seperti ada yang akan siap menjegal, sehingga rasa percaya dirinya kembali runtuh. "Dia bisa melakukannya. Hanya butuh waktu saja untuk membuktikan." Hector memberikan pembelaan. Setiap hinaan untuk Bella adalah ruang, semakin di jatuhkan maka Hector akan menjadikannya pancingan untuk b
'Aku akan mengirim seseorang untuk melindungimu. Kamu ... ' Itulah bunyi salah satu pesan terakhir dari Hector yang sempat di bacanya. Walaupun Bella hanya melihat dari notifikasinya saja, belum membaca keseluruhan. "Siapa kau?!" Pertanyaan bernada tegas dari salah satu trainer Bella yang ada di
Perasaan belum adanya cinta, tak membuat Bella berpaling pada pendiriannya. Yang dia tahu sekarang adalah dia mempercayai Hector. Saat ini, kepercayaan itu sudahlah cukup buatnya melangkah lebih jauh. Bella menatap ponsel, pada nama Hector yang tertera di layar di ganti sebagai pemegang kontak VIP
Bella beringsut masuk ke dalam pelukan Hector. Bukan gairah dengan daya tarik rangsangan dari ketampanan Hector yang membuat Bella melakukannya, tapi karena ucapan Hector. Pria itu benar. Bella bisa merasakan perasaan tulus dari ungkapan hati melalui bibir dan tindakan. Detik demi detik sampai men
Hector mengambil selimut yang di pegang Bella, lalu memposisikan diri di atas kasur sorong bagian bawah. "Ayo tidur. Aku sudah mengantuk." Bella termenung. Masih tak percaya, salah satu anggota kerajaan dari negara yang selalu dia kagumi sedari kecil itu akan tidur di kasur bersama dirinya. "Sa


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
التقييمات
المراجعاتأكثر