로그인Bella dan Hector adalah 2 orang yang sama-sama di remehkan dalam kehidupan nyata. Bella di khianati kekasih, dan Hector di kucilkan karena skandal dan dianggap belum mampu membangun bisnis sendiri. Keduanya di pertemukan pada pesta topeng kalangan elit, dan melakukan one night stand saat sama-sama dalam keadaan mabuk. Demi tidak tersebar luasnya skandal baru, akhirnya mereka berdua di paksa menikah tanpa di dahului perasaan cinta. Akankah pernikahan kontrak ini berlanjut? Atau justru berakhir, setelah menyadari jurang perbedaan mereka sangatlah jauh? Dan bagaimana jadinya bila ternyata di masa lalu keluarga mereka saling berkaitan, sehingga menguak tabir-tabir kisah lainnya?
더 보기Marianna
My phone is dead.
Dead like "I dropped it in a puddle the size of Lake Michigan while sprinting through the airport like someone fleeing a crime scene" dead. The screen is black. Completely, utterly, fuck-my-life black.
I stare at it for another thirty seconds, like maybe if I concentrate hard enough, sheer force of will might resurrect it.
Spoiler: It doesn't.
I'm standing in baggage claim at what has to be the most depressing airport terminal in America—all fluorescent lights and that specific smell of recycled air and broken dreams—watching the carousel spin. Around and around and around. My suitcase is not on it. Has not been on it for the past twenty minutes. Will probably never be on it.
Twenty-four hours ago, I walked into the apartment I shared with Josh—five whole months together, a personal record—and found him fucking Melissa from accounting. On our couch. The one I picked out.
"You're a wooden board, Mari," he'd said afterward, pulling on his pants like we were having a completely normal conversation and not standing in the ruins of our relationship. "A freak. You won't even let me kiss you properly. What kind of girl doesn't like sex?"
Stop.
The sky outside the terminal windows is doing that thing where it goes from grey to black in about thirty seconds, like someone's pulling a curtain over the world. Rain hammers against the glass in sheets. Thunder rolls. Very atmospheric. Very "pathetic fallacy." If my life were a movie, this would be the part where the protagonist realizes she's made a terrible mistake.
Except I already know I've made a terrible mistake. Multiple terrible mistakes. A veritable greatest hits compilation of terrible mistakes, and I'm only twenty-three.
I should've told my brother I was coming today. Should've given him my flight number and arrival time instead of that vague "I'm thinking of visiting soon" call yesterday where I tried to sound casual and not like my entire life was imploding in real-time. Should've charged my fucking phone before leaving.
Should've, should've, should've.
Instead, I'm standing here with no luggage, no working phone, soaking wet from my sprint through the parking lot (because of course I parked in the cheapest lot, which is basically in a different zip code), and—here's the kicker—no idea where my brother's apartment actually is.
I know it's in the city. I know it's somewhere in the downtown area. I know absolutely nothing useful beyond that because I figured I'd just... GPS it? Like a normal person in the twenty-first century with a functioning phone?
My white sundress is plastered to my body, and I'm wearing a black bra under a white dress. The lacy edge is completely visible. I look like a lingerie ad gone wrong. Or right, depending on your perspective and your thoughts on public decency.
A family walks past. The dad does a double-take. His wife smacks his arm.
Great. Wonderful. Perfect.
I could call my brother from the courtesy phone. Hope he actually answers an unknown number, which—knowing him—he won't, because who does that anymore? I could take a cab downtown and just... wander around until something looks familiar. Sleep in the airport like Tom Hanks in that movie, except less charming and more "girl who clearly made some life choices."
Or I could call my parents.
Which would mean explaining why I'm here. Why I left the gallery internship—the one they pulled strings to get me, the one with three months still on the contract. Why I'm single again. Why I can't just be normal, can't just stay in one place with one job and one boyfriend like everyone else manages to do without their entire life catching fire every six months.
So. Not that.
I'm standing there, mentally rehearsing what I'd even say to the courtesy phone operator—Hi, I need to reach my brother, I'm his sister, the one who shows up unannounced during personal emergencies—when headlights cut through the rain outside.
I squint through the glass. Someone's double-parked at the curb, hazards on, clearly not giving a fuck about the airport police who live to give tickets. The car is... Jesus Christ. Is that a Bugatti?
Who drives a Bugatti to the airport?
The window rolls down. I can't see the driver's face through the rain and my own reflection in the glass, but I can see enough.
Dark hair. Sharp jaw. The kind of profile that should be illegal.
No.
No.
Not him. Anyone but him.
I have three rules. Three very simple rules that have kept me alive—emotionally speaking—for exactly nine years.
Rule number one: Don't fall for your brother's best friend.
Rule number two: Don't fall for your brother's best friend, especially when he's the most desired man in the world, when he could have anyone, when he wouldn't look twice at you even if you were the last woman on Earth.
Rule number three: When you've already broken rules one and two at age fourteen in the most humiliating way possible, don't let it happen again.
The driver's door opens.
"Ada undangan penting dari media." "Benarkah? Secepat itu?" Sandra utarakan perasaan senang lewat ujung telpon. "Media apa? TV kah? Kalau misalkan dekat-dekat sama atasan kita, berarti Media TV. Benarkah?" Sandra tak sabar ingin jadi yang pertama tahu dari Bella. "Aku sendiri belum tahu banyak, jadi sepertinya kita sama-sama harus menunggu hingga besok." Bella memilih jalur aman. Kenyataannya dia memang tidak di beri informasi detilnya acara konferensi pers esok hari. "Aku sama-sama tak sabarnya denganmu, jadi ayo kita segera tidur dan berangkat pagi untuk segera tahu. Ngomong-ngomong, apa Pak Victor sudah tahu kegiatan barumu ini?" Sandra jadi teringat atasan mereka. Meskipun semua masih samar, tapi Sandra perlu melibatkan Victor pada pembicaraan soal pekerjaan mereka berdua. "Iya, Pak Victor sudah tahu." Bella melirik Hector yang masih menatap dengan wajah dinginnya. Terkatup bibirnya mencegah banyak kalimat keluar. Bella tidak berani banyak berbicara seperti biasanya, di karena
Sedangkan Bella berjalan mondar-mandir di kamar dengan perasaan tak tenang. Di balik pintu kamar itu memang ada beberapa pria yang di tugaskan untuk menjaganya, tapi pikirannya masih menyangkut pada peristiwa di ruang tamu tadi. "Dimana Hector? Apa dia pergi?" Kedua tangan Bella bersatu membentuk harapan dan doa. "Apa dia selalu alami hal seperti ini?" Tanda tanya pengusik pikirannya kini. Jantung Bella seperti mau copot ketika ketukan di pintu itu bersambut suara panggilan dari Hector. "Bella. Kamu belum tidur, kan?" Bella berjalan cepat menyambut Hector. "Tidur? Kamu kira aku bakal bisa tidur setelah kejadian tadi?!" Protes Bella bernada kesal, terlebih niatnya ingin melihat keadaan Hector dengan memeriksa bagian tangan bila terjadi luka akhirnya terhalang oleh baki yang di bawa Hector. "Apa ini?" tanyanya setengah bingung. "Makanan. Memang kamu kira ini bom?" Hector menjawab dengan senyuman tipis. Memaklumi keadaan Bella yang masih gemetaran ketakutan. Dengan polosnya Bella m
"Kalau begitu kita akhiri saja sampai di sini. Pertemuan ini tidak ada gunanya!" Hector masih memendam amarah. Pikirnya, akan sangat percuma bila pembicaraan yang tak akan membuahkan kesepakatan baik itu tetap di lanjutkan. Dirinya dan Bella jadi pihak yang pada akhirnya terus di rugikan. "Ayo Bella, kita pergi dari ruangan ini!" "Kau tidak bisa seperti itu, Hector. Ada ibuku di sini. Hormati dia!" Victoria mencegah dengan suara keras. Uluran tangan Hector tidak di respon Bella begitu saja. Bella berdiri, tapi kemudian memberi hormat kerajaan pada Camilla, Victor, dan Victoria secara bergantian, baru kemudian mengikuti langkah Hector untuk keluar dari ruangan. Untuk pertama kalinya Bella merasakan menjadi pemberontak seperti halnya sebutan itu tersemat pada Hector. Kehidupan sebagai bangsawan sungguh di luar dugaannya. "Sekarang aku mulai bisa merasakan berada di posisimu," ucapan pertama Bella setelah mereka sampai di kediaman pribadi Hector. "Kota Milan bukan hanya menyajikan h
"Menurutmu dia sudah pantas untuk kamu tunjukkan pada dunia?" Camilla jadi penanya selanjutnya. Wanita setengah baya dengan gaya aristrokat itu menunjukkan ekspresi tidak jauh berbeda dengan putrinya, Victoria. "Aku konsisten dengan ucapanku." Jawaban tenang Hector ini semakin membuat Victoria meradang. "Oh aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Hector!" ucapnya geram. Kedua tangannya terkepal seperti geregetan. "Dari cara dia belajar sebagai bangsawan dalam satu hari ini saja susah buatku muak. Gadis desa memalukan ini sungguh jauh dari harapan!" lanjutnya merendahkan Bella. Bella hanya bisa tertunduk lesu. Setiap kali mendapatkan kekuatan untuk terus melangkah maju, tapi selalu saja seperti ada yang akan siap menjegal, sehingga rasa percaya dirinya kembali runtuh. "Dia bisa melakukannya. Hanya butuh waktu saja untuk membuktikan." Hector memberikan pembelaan. Setiap hinaan untuk Bella adalah ruang, semakin di jatuhkan maka Hector akan menjadikannya pancingan untuk b
'Aku akan mengirim seseorang untuk melindungimu. Kamu ... ' Itulah bunyi salah satu pesan terakhir dari Hector yang sempat di bacanya. Walaupun Bella hanya melihat dari notifikasinya saja, belum membaca keseluruhan. "Siapa kau?!" Pertanyaan bernada tegas dari salah satu trainer Bella yang ada di
Perasaan belum adanya cinta, tak membuat Bella berpaling pada pendiriannya. Yang dia tahu sekarang adalah dia mempercayai Hector. Saat ini, kepercayaan itu sudahlah cukup buatnya melangkah lebih jauh. Bella menatap ponsel, pada nama Hector yang tertera di layar di ganti sebagai pemegang kontak VIP
Bella beringsut masuk ke dalam pelukan Hector. Bukan gairah dengan daya tarik rangsangan dari ketampanan Hector yang membuat Bella melakukannya, tapi karena ucapan Hector. Pria itu benar. Bella bisa merasakan perasaan tulus dari ungkapan hati melalui bibir dan tindakan. Detik demi detik sampai men
Hector mengambil selimut yang di pegang Bella, lalu memposisikan diri di atas kasur sorong bagian bawah. "Ayo tidur. Aku sudah mengantuk." Bella termenung. Masih tak percaya, salah satu anggota kerajaan dari negara yang selalu dia kagumi sedari kecil itu akan tidur di kasur bersama dirinya. "Sa
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
평점
리뷰더 보기