"Sudahlah, lupakan dulu masalahmu itu. Sekarang, kamu bersiap-siap.""Bersiap-siap untuk apa?" tanya Adeline."Kita akan pergi belanja.""Mama mau beli apa?!" tanya Adeline. "Kita akan beli semua keperluan mu. Banyak yang harus kita beli. Kamu butuh baju dan perhiasan.""Aku tidak perlu semua itu. Bajuku juga banyak dan masih layak dipakai," jelas Adeline. "Ikuti saja apa yang mama katakan." "Tapi ma ,,,,"Nyonya Adras bangun dari duduk. "Tidak ada tapi-tapian."Adeline menghela napas, melihat wajah mamanya. "Baiklah, ma."Tidak membutuhkan waktu lama bagi keduanya untuk bersiap dan dalam waktu yang singkat telah sampai di mall. "Pak sopir, ini uang untuk beli kopi. Tunggu di dimanapun yang kau mau, tapi jangan terlalu jauh. Aktifkan selalu ponselnya," ucap Nyonya Adras pada sopir pribadinya."Baik, nyonya.""Ayo, Adeline. Kita akan membeli semua keperluanmu."Nyonya Adras dan Adeline ke luar dari dalam mobil. Adeline hanya mengikuti apa yang dikatakan mamanya. Walau terasa mas
Semua orang langsung menoleh ke arah pintu. "Selamat pagi kak Ronald," sapa Pamela.Ronald duduk di kursi tempat biasa. "Pagi," jawabnya. "Siapa tadi yang tukang selingkuh?""Istrimu," jawab Melani.Tidak ada ekspresi dari Ronald, dengan santainya mengoles roti pakai mentega. "Bibi, minta kopi seperti biasa, jangan terlalu manis.""Iya, tuan.""Kakak kurang tidur ya?" tanya Pamela."Kenapa?""Mata kakak seperti panda, ada lingkaran hitamnya," jawab Pamela."Tapi tetap ganteng, kan?" "He-he-he. Iya tetap ganteng." Pamela terkekeh. "Kak ....""Kenapa?" "Uang jajanku belum ditransfer sudah telat tiga hari," jelas Pamela."O ya? Pasti kakak lupa," jawab Ronald mengambil ponsel yang ada di saku jasnya. "Ini kakak transfer."Tak lama terdengar bunyi notif pesan dari ponsel Pamela. "Terima kasih kak.""Belajar yang rajin. Kalau kamu juara kelas tahun ini, nanti kakak kasih hadiah."Mata Pamela berbinar. "Hadiah?""Iya, kamu boleh minta apapun" jawab Ronald sambil menguyah roti."Hadiahnya
Ronald merasakan seluruh aliran darahnya seakan membakar tubuh. Elusan demi elusan jari jemari Bianca di dada Ronald semakin memancing hasrat."Kenapa aku merasakan ada yang aneh?" bisik hati kecil Ronald di antara kesadarannya yang masih tersisa. Bianca tidak memberi kesempatan Ronald untuk menghindar. Tangannya terus saja bergerak menyusuri setiap lekuk tubuh Ronald."OMG, apa yang terjadi denganku?! Kenapa tubuhku panas?!" Ronald berusaha menghindari tangan Bianca yang terus menerus menggerayangi tubuhnya.Bianca tersenyum senang, obat yang telah dicampurkan dengan air minum perlahan mulai bereaksi, tapi ada sedikit rasa kesal karena Ronald berusaha untuk melawan reaksinya."Tidak, ini salah. Tidak ... Ini ada yang tidak beres di sini," hati kecil Ronald terus memberontak. Walau hati dan tubuhnya bertentangan, tapi Ronald masih berusaha untuk bisa menjaga kewarasannya hingga pada titik di mana Ronald mendorong tubuh Bianca, kemudian langsung pergi ke kamar mandi lalu mengunci pi
"Sedang apa kamu di sini?""Menyambut calon suamiku," jawab Bianca."Jangan mengkhayal Bianca. Aku tidak suka mendengarnya!" bantah Ronald ketus.Bianca bangun mendekati Ronald. "Aku tidak sedang mengkhayal. Mama kamu yang mohon padaku agar mau menjadi istrimu dan tentunya untuk mendapatkan keturunan."Ronald melengos mendengar apa yang dikatakan Bianca.'Memangnya kamu mau menghabiskan sisa hidupmu tanpa adanya keturunan?" ledek Bianca. "Hidup dalam kesepian."Ronald membuka sepatu satu per satu. "Aku lelah. Sebaiknya kau juga istirahat, ini sudah larut malam."Bianca bukannya pergi, malah duduk dengan manisnya. "Aku belum mengantuk."Ronald tidak menghiraukan Bianca, langsung masuk ke kamar mandi, tubuhnya terasa lengket. Bicara dengan Bianca hanya membuang waktu.Bianca tersenyum senang, tangannya sedang memegang botol kecil. "Bagaimana caranya agar Ronald bisa minum ini? Apa yang harus aku lakukan?"Bianca mendengar suara air dari dalam kamar mandi. "Mumpung Ronald lagi mandi, ini
Ronald menghirup uap kopi miliknya. Dirinya sudah malas untuk bicara dengan Rani."Apa kamu sudah punya anak?" tanya Rani basa basi untuk memancing Ronald bicara."Bukan urusanmu!" jawab Ronald ketus.Rani tersenyum kecut. "Sialan. Kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa. Pantang bagiku untuk kalah dari pria yang sok suci sepertimu!" bisik hati kecil Rani.Ronald mengedarkan pandangan ke sekeliling, meja dan bangku panjang yang tadi kosong sekarang sudah banyak orang. Kebanyakan dari mereka para pria yang sengaja datang untuk minum kopi sambil merokok dan mengobrol."Mau tambah kopinya?" tanya Rani ketika melihat cangkir kopi Ronald sudah mau habis."Tidak!""Sepertinya kau sedang ada masalah," tebak Rani."Jangan sok tau!" "Wajahmu yang mengatakannya," sambung Rani.Ronald mendengus kesal. "Boleh percaya atau tidak, aku bisa membaca orang lewat wajahnya," ujar Rani menatap lekat wajah Ronald. "Kau sedang dalam masalah besar.""Memangnya kau seorang cenayang?!" "Hi-hi-hi," Ran
Senyum kebahagiaan terpancar dari wajah semua orang yang berada di mansion Tuan Adras. Putri satu-satunya yang telah lama hilang bertahun-tahun sekarang telah kembali. "Mama sangat bahagia sekali, sekarang kamu telah berada ditengah-tengah kami. Sekarang keluarga kita lengkap lagi.""Iya, pencarian kita selama bertahun-tahun membuahkan hasil. Ini semua berkat Pak Axel. Dulu kami meminta bantuan orang lain untuk mencari putri kami, tapi tidak pernah ada hasilnya. Setelah Pak Axel yang menanganinya, ternyata sangat membuahkan hasil. Adeline Shabira Evander telah kembali," sambung Tuan Adras dengan wajah yang berseri melihat putrinya."Tuan terlalu berlebihan memuji, saya hanya meneruskan apa yang telah orang lain kerjakan," jawab Axel merendah."Aku sekarang punya kakak, ada tempat untuk cerita. Rasanya senang sekali." Adrian ikut bicara."Memangnya kamu tidak bisa cerita ke mama?""Bisa, tapi rasanya berbeda kalau cerita ke kakak sendiri. Kalau ke mama pasti ujungnya aku diomelin," ja