로그인“Apa yang kau pikirkan?”Daniel rupanya menangkap perubahan kecil di wajahnya.“Kau tidak perlu memikirkan apa pun malam ini,” katanya lebih pelan. “Istirahat saja.”Celina tertawa kecil. “Sulit tidak memikirkannya saat semua orang di rumah ini terus membahas kehamilanku.”Daniel bersandar sedikit di kursinya, sorot matanya tak pernah lepas dari Celina. “Aku tidak peduli soal pewaris.”“Kau minta aku percaya tentang itu? Kau peduli ini anakmu atau bukan.”“Aku peduli padamu.” jawaban cepat Daniel selalu membuat Celina terhenyak.Daniel melanjutkan lagi, “Kalau itu betul anakku tentu aku menginginkannya.”Tatapannya turun sesaat ke perut Celina. Nafas Celina sedikit tertahan.“Tapi bahkan tanpa itu,” lanjut Daniel lirih, “aku tetap akan membawamu pergi dari David.”Celina menggigit bibir bawahnya pelan. “Aku masih istrinya.”“Aku tahu.”“Kau tetap melakukannya?”“Tentu, kenapa tidak?” Tanya balik Daniel.Celina berdecak pelan. “Kau bahkan tidak terdengar menyesal.”“Karena aku memang t
Cahaya hangat dari chandelier besar memantul lembut di lantai marmer. Aroma kayu cedar dan lavender samar memenuhi udara, menenangkan kepala Celina yang sejak tadi terasa berat.Rumah itu cukup besar tapi terlalu besar untuk hanya disebut tempat persembunyian.Langit-langit tinggi dengan balok kayu gelap membentang di atas ruang utama, sementara perapian modern di sudut ruangan menyala tenang, mengusir dingin malam yang mulai menusuk kulit.Dari balik dinding kaca tinggi di sisi ruangan, hanya terlihat bayangan samar pepohonan dan kabut tipis di luar sana.Celina masih asik memperhatikan sekitar ketika Daniel mendekat dari belakangnya.“Aku tahu kau tidak suka tempat yang terasa seperti bunker atau penjara,” katanya pelan sambil melepaskan sarung tangan hitamnya. “Jadi aku memilih yang sedikit lebih layak ditinggali.”“Sedikit? Ini terlalu … mewah untuk tempat bersembunyi.” Celina hampir mendengus.Daniel terkekeh, ia sedikit menunduk hingga hidungnya nyaris menyentuh telinga Celina.
Mobil hitam itu melaju membelah jalan malam tanpa suara berarti selain dengung mesin dan hujan tipis yang sesekali menyapu kaca.Celina duduk diam di kursi belakang.Tangannya perlahan menyentuh perutnya sendiri. Pikirannya terlalu riuh dengan hal mengejutkan pagi ini.Kehamilan itu sangat tidak diharapkan Celina di tengah kekacauan hidupnya. Hasil tes itu masih terasa tidak nyata.Celina menarik nafas dalam-dalam, kata hamil membuatnya shock seketika. Apalagi memikirkan siapa ayah anak dalam kandungannya.“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Daniel seraya meraih tangan dan menciumnya lembut.“Entahlah, aku bingung.” Jawab datar Celina.Tatapannya menembus jendela gelap. Lampu kota memantul samar di matanya yang lelah. Sejak keluar dari rumah tua itu. Daniel hampir tidak memberinya kesempatan bicara. Daniel langsung menyusun rencana. Menyuruh Gavin mencari jalur aman dari pemeriksaan dan bahkan mengganti kendaraan mereka dua kali.Tindakan berlebihan yang justru membuat Celina semakin geli
“Aku tidak apa-apa …” Celina berkata sambil memejamkan mata dan memegang perutnya. “Kau muntah karena bau kopi.” “Aku cuma— ngh…” Kalimatnya terputus saat rasa mual kembali datang. Daniel langsung menopang tubuhnya lebih dekat, satu tangannya mengusap pelan punggung Celina. Di luar, Gavin dan Cornell saling pandang. “Apa dia sakit?” gumam Gavin pelan. Cornell tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju ke arah kamar mandi dengan ekspresi yang perlahan berubah serius. “Entahlah, mungkin terlalu stres.” Beberapa menit kemudian, Daniel akhirnya keluar bersama Celina. Satu tangan Daniel masih melingkari pinggang wanita itu seolah takut Celina akan jatuh kalau ia melepasnya sedikit saja. Wajah Celina pucat dan lelah. “Duduklah,” ucap Daniel cepat sambil menarik kursi. Celina menurut tanpa membantah. Cornell mendekat dan kembali memeriksa. “Mualnya baru hari ini?” Celina menggeleng pelan. “Sejak dua hari lalu.” “Pusing?” “Ya, sedikit.” “Nafsu makan ber
Pagi datang perlahan bersama kabut tipis yang menyelimuti sekitar rumah tua itu. Udara dingin merembes masuk lewat celah-celah kayu lapuk. Daniel terbangun lebih dulu. Matanya langsung bergerak ke samping. Celina masih tertidur dengan nafas teratur. Tangannya terangkat, merapikan helai rambut yang menutupi wajah cantiknya.Ia menatap takjub pada Celina. Semalam keduanya melewatkan malam panjang penuh peluh yang berkesan untuk Daniel. Celina menyerahkan dirinya tanpa paksaan seperti yang terjadi sebelumnya.Ia mengecup kening Celina lembut. Membenamkan wajahnya di ceruk leher jenjang Celina. Menikmati aroma khas tubuh Celina yang menenangkan.Celina menggeliat ringan, matanya masih tertutup seolah tak ingin tidurnya terganggu. Daniel tersenyum, mencium pipinya sekali lagi sebelum matanya terhenti pada memar lebar yang mulai memudar di bahunya. Ia mengusapnya pelan, hatinya sakit melihat wanita yang dicintainya terluka.Daniel terdiam beberapa saat menatapnya. Ia mengusap wajah kasar l
Menjelang malam, rumah tua terasa terlalu sunyi. Debur ombak terdengar samar dari kejauhan. Kabut tipis mulai muncul memenuhi sekitar rumah, menciptakan suasana dramatis yang mencekam.Meski begitu, suasana di dalam rumah terasa tenang dan nyaman. Beberapa hari berlalu, luka-luka Daniel dan Celina mulai membaik. Cornell selalu datang untuk merawat di pagi dan sore hari.Sementara Gavin berjaga di lantai satu sambil memantau situasi di luar sana. Perkembangan Heatrix dan Knight Corp selalu dilaporkan Gavin berkala begitu juga dengan posisi Irene yang masih belum lelah mencari Daniel.Celina sedang duduk di sofa sambil memilah obat-obatan ketika Daniel keluar dari kamar mandi dengan kaos hitam tipis dan rambut masih basah. Tatapannya langsung jatuh pada Celina.“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanyanya masih menatap.“ehm, memisahkan obat yang harus kau minum setelah makan malam.” Celina mengangkat wajah dan membalas tatapan Daniel yang rasanya sudah terlalu lama.Daniel terdiam, memperha
Langit London terlihat kelabu. Kabut tipis menggantung rendah di atas kompleks pemakaman keluarga Valemont. Nisan marmer putih dengan lambang keluarga terukir rapi—patung singa berdiri dengan mahkota kecil di atasnya.Celina berdiri tegak di depan tiga makam. Matanya sayu menatap tulisan. Kedua ora
David dan Celina menghabiskan malam panjang dalam situasi canggung. Gengsi Celina masih terlalu tinggi untuk mengakui perasaannya pada David. Selain itu, Celina juga takut jika David akan melakukan hal yang sama seperti halnya Jason. “Apa yang kau pikirkan?” Tanya David lembut setelah meletakkan m
Udara sore di manor milik Andreas terasa tenang seolah mendukung pertemuan penting yang sedang berlangsung. Langit di luar jendela kaca tinggi berwarna kelabu pucat, cahaya redupnya jatuh ke ruang duduk utama yang didominasi sofa kulit gelap dan meja marmer panjang. Sebastian Whitmore duduk tega
“Kau memilih mengorbankan putrimu?” David bertanya setelah Victor menyatakan keberatannya melakukan permintaan David.Kening Victor bertaut, jarinya saling meremas gundah. “Bukan begitu, maksudku … kau tidak akan mengerti.”“Kalau begitu, buat aku mengerti.”David tersenyum tipis, umpannya berhasil







