Masuk"Jika kau merasa dia lebih baik, mari kita buktikan Chelsea, siapa pria yang lebih pantas untukmu!" Nathan mendorong tubuh Chelsea hingga terhimpit ke tembok sebelum mencium leher wanita itu secara intens. Nathan yang sangat mencintai Chelsea tidak dapat menerima saat pertemuan kedua keluarga, Chelsea malah dijodohkan dengan adiknya. Bagaimanapun juga Nathan tidak akan pernah menerima hal ini, sehingga dia menyeret Chelsea kedalam insiden perselingkuhan
Lihat lebih banyakChelsea yang sedang kesal dengan kedua orang tuanya, berjalan pelan menyusuri jalanan kota. Dia belum bisa menerima keputusan mereka yang menjodohkan dirinya dengan anak sahabatnya.
Saat sedang berjalan, tiba-tiba muncul dua orang pria. Salah seorang dari mereka langsung menarik tas milik Chelsea. Dan satu orang lagi memegang pergelangan tangannya.
"Cantik. Sepertinya bisa buat temani kita tidur malam ini," ucap salah satu dari mereka.
Chelsea melangkah mundur mendengar ucapan pria itu. Dia tak mau dijadikan pemuas atau teman ranjang mereka.
Pria yang memegang tangan Chelsea tersebut tampak tersenyum sinis. Dia menatap gadis itu yang tampak ketakutan.
"Jangan takut. Kami hanya ingin bersenang-senang saja. Jika kau bisa memuaskan, akan kami beri bonus," ucap. seorang pria lainnya.
"Jangan mendekat ... atau aku akan berteriak!" seru Chelsea.
"Berteriaklah ...! Tak akan ada yang mendengarnya. Apa kau tak melihat, jalanan ini sangat sepi. Kau berteriak sekuat tenaga pun, tak akan ada yang mendengar," ucap salah seorang pria itu.
Chelsea memandangi kiri dan kanan jalan. Memang tampak sepi. Entah mengapa dia menuju arah jalan ini. Dia jadi merinding. Teringat penemuan mayat beberapa hari lalu di daerah sekitar ini. Dia tak mau mati. Dia harus bisa melarikan diri dari dua orang yang tak di kenal ini.
Chelsea kembali mundur. Dia mengambil ancang-ancang. Dalam hati menghitung. Satu ... dua ... tiga. Gadis itu berlari sekuat tenaga.
"Jangan lari ...," teriak salah satu dari pria itu. Keduanya lalu mengejar Chelsea. Jarak keduanya sudah semakin dekat.
Chelsea yang melihat ada pohon rindang, langsung bersembunyi. Napasnya tampak memburu. Dia tak menyangka keputusannya kabur dari rumah akan berakhir begini. Dia tadi naik taksi, dan tak ada tujuan, meminta supir taksi menurunkan di jalan. Tanpa berpikir jika jalanan itu sangat rawan kejahatan.
Tadi dia berdebat dengan papa dan ibu tirinya. Mereka bersikeras meminta gadis itu untuk menerima perjodohan yang telah mereka atur. Semua demi menyelamatkan perusahaan.
Chelsea mengatur pernapasan. Agar tak terdengar. Dia menutup mulutnya saat mendengar suara langkah kaki.
"Cantik ... Keluarlah! Kami akan memaafkan kamu. Jika kamu tetap dengan keputusan kamu untuk bersembunyi di balik pohon itu, jangan salahkan jika kami memaksamu keluar dengan kasar!" seru salah satu pria.
Chelsea jadi gemetaran. Dia tak tahu harus mengambil keputusan apa. Jelas-jelas mereka berdua tahu persembunyiannya. Namun, jika dia keluar, takut diapa-apain.
Tanpa dia sadar, salah seorang dari mereka telah mengendap mendekati. Pria itu lalu memeluknya.
"Tolong ... lepaskan ...," teriak Chelsea.
Salah seorang dari mereka lalu berusaha ingin menutup mulutnya. Chelsea yang tak mau terjadi sesuatu dengan dirinya, lalu menggigit tangan pria itu. Dan menginjak kaki pria yang satunya agar melepaskan pelukannya.
Setelah pelukan pria itu terlepas, Chelsea kembali berlari sekuat tenaga. Saat sampai di jalan raya, dia melihat ada mobil seseorang. Tanpa pikir panjang, dia masuk dan bersembunyi di bagian belakang.
Kedua orang itu kehilangan jejaknya. Mereka lalu memandangi mobil yang ada di jalan raya dan mendekati.
Saat keduanya ingin membuka pintunya, datang seseorang menarik kerah baju pria itu. Tanpa pikir panjang langsung melayangkan bogem mentah.
"Mau apa kalian di mobilku?" tanya pria itu. Pastinya dia pemiliknya. Ternyata dia kebelet pipis, sehingga membiarkan mobilnya di jalan tanpa mematikan mesin.
"Maaf, Pak. Kami sedang mencari seseorang. Siapa tau bersembunyi di dalam mobil Bapak," ucap salah satu dari mereka.
"Pergi ...! Sebelum aku tembak mati kalian berdua!" seru pria itu tanpa mau mendengar penjelasan dari kedua orang tersebut.
Kedua pria itu saling pandang. Mereka tampak saling mengangguk. Dan tanpa aba-aba keduanya lari tunggang langgang.
Pria pemilik mobil itu masuk dan langsung mengunci pintunya. Chelsea yang berada di belakang mobil masih belum mau keluar dari persembunyian. Masih takut jika ada kedua penjahat itu.
Mobil melaju menuju sebuah rumah yang sangat mewah. Setelah itu sang pemilik memasukan ke dalam garasi.
Melihat mobil berhenti berjalan, Chelsea keluar dari persembunyiannya. Pria itu yang ingin keluar dari mobil terkejut melihat dari spion ada seorang wanita dalam mobilnya.
"Siapa kau ...?" tanya pria itu dengan suara yang keras dan tegas.
Chelsea yang masih ketakutan, hanya terdiam. Tak menjawab pertanyaan pria itu. Tanpa di duga, sang pemilik mobil membuka pintu dan menarik tangan gadis itu agar keluar dari mobil.
Chelsea yang masih ketakutan, bukannya lari tapi justru memeluk erat tubuh pria itu.
"Tolong ... mereka ingin memperko'saku," ucap Chelsea ketakutan.
Pria itu lalu terdiam karena dapat merasakan tubuh Chelsea yang bergetar. Dia lalu menarik tangan gadis itu dengan pelan agar masuk ke dalam rumah. Dia yakin jika gadis itu pasti dikejar pria yang tadi ada di dekat mobilnya.
Sampai di ruang keluarga, dia lalu meminta Chelsea duduk. Gadis itu menunduk ketakutan.
"Tolong aku, Pak," ucap Chelsea. "Mereka perampok, setelah merampas tasku, mereka bermaksud ingin melecehkan aku," ucap Chelsea dengan gemetar.
"Kenapa kau bisa berkeliaran di daerah rawan begitu malam-malam?" tanya pria itu.
"Aku ... aku ...." Chelsea tak dapat meneruskan ucapannya. Dia tak mungkin mengatakan pada pria yang baru dikenalnya jika dia kabur dari rumah. Takut pria itu berpikir yang bukan-bukan tentangnya.
"Kenapa ...? Atau sebenarnya kamu adalah komplotan mereka? Kau hanya pura-pura, dan ingin merampok juga di rumahku?" tanya pria itu dengan penuh penekanan.
"Bukan ... bukan Pak. Masa Bapak tak bisa melihat. Wajahku yang imut dan cantik ini tak cocok sebagai penjahat. Cocoknya sebagai istri yang disayangi dan diratukan suaminya," ucap Chelsea.
Pria itu tersenyum sinis. Dia lalu berjalan mendekati Chelsea. Tubuh gadis itu makin gemetar. Dia takut jika pria itu juga ternyata penjahat.
"Chelsea, kenapa hari ini nasibmu sangat sial. Keluar dari kandang macan, masuk kandang singa," gumam Chelsea dalam hati.
Pria itu makin mendekati Chelsea. Gadis itu mencoba mundur. Hingga bersandar di sofa.
"Apa kau tak punya mata? Aku ini masih lajang. Tampan, lebih tampan dari aktor Angga Yunanda. Bisa-bisanya di panggil Bapak!" seru pria itu dengan penuh penekanan.
Chelsea yang mendengar dengan jelas semua ucapan pria itu lalu mengangkat wajahnya. Penasaran dengan wajah pria itu, apakah benar setampan aktor favoritnya itu.
Mulut Chelsea terbuka karena terkejut dan tak menyangka saat melihat wajah pria itu. Dia bukan setampan Angga, tapi lebih dari itu. Seperti aktor drama cina yang sering dia tonton.
"Tutup mulutmu ...! Takutnya nanti lalat masuk. Apa kau tak pernah melihat pria tampan?" tanya pria itu.
Chelsea dengan lugu menggelengkan kepalanya. Selama ini dia memang belum pernah melihat pria setampan ini. Dia dibesarkan di desa bersama sang nenek sejak ibunya meninggal. Jawaban gadis itu yang jujur, membuat pria itu tersenyum.
"Pantas kau langsung terpesona," ucap pria itu. Dia lalu makin mendekati Chelsea.
"Sekarang katakan padaku kenapa kamu bisa ada dijalanan itu?" Kembali pria itu bertanya.
Chelsea menarik napas dalam. Dia masih berpikir untuk menjawab apa. Tak mungkin jujur dengan mengatakan jika dia sedang kabur dari rumah karena marah dengan kedua orang tuanya.
Chelsea keluar dengan membawa satu tas saja. Sepertinya barang miliknya memang tidak banyak."Bu, Kak Desy, tolong katakan sama ayah, aku pindah ke apartemen. Mulai besok aku kerja di perusahaan Bang Nathan. Kalau ada yang mau ayah tanyakan, bisa cari aku ke sana," ucap Chelsea."Kenapa kamu nggak langsung pamit sama ayah. Apa kamu takut tak diizinkan?" tanya Desy."Tak ada alasan Pak Chandra tak mengizinkan Chelsea bekerja di perusahaan milikku!" ucap Nathan dengan suara tegas.Desy tampak menarik napas dalam. Dia tak berani terlalu banyak bicara. Takut mengundang kemarahan Nathan."Nak Nathan, apa tidak sebaiknya menunggu ayahnya pulang dulu. Atau besok saja Chelsea pindah ke apartemen. Bagaimana manapun dia anak gadis. Masih tanggung jawab ayahnya," ucap Tante Erna.Tante Erna berusaha menahan Chelsea. Dia harus tahu, apa yang dilakukan di rumah Neneknya Nathan, sehingga dia bisa langsung diterima bekerja dia perusahaan pria itu. Selama ini yang dia tahu, antara Nathan dan Yendra t
"Kenapa banyak banget belinya?" tanya Chelsea saat berada di dalam mobil."Apa masih kurang? Kamu mau kita beli lagi? Mau dibeli dengan butiknya sekalian?" tanya Nathan dengan suara datar.Chelsea mengambil majalah yang ada di dalam mobil dan memukulnya ke lengan Nathan. Merasa kesal dengan pertanyaan pria itu."Ini sudah kebanyakan. Kenapa harus beli lagi?" Chelsea bertanya dengan cemberut."Biasanya yang protes itu karena kurang. Kalau kelebihan, kenapa komplain?" tanya Nathan lagi."Aku harus jawab apa kalau ayah dan ibu bertanya, dari mana semua baju ini," ucap Chelsea."Kenapa mereka bertanya?""Kamu ini ngerti nggak, sih. Kamu beli baju terlalu banyak. Pasti ayah akan bertanya, karena aku tak memiliki uang. Apa lagi ibu dan Kak Desy. Mereka akan bertanya sampai dapat jawaban pasti," jawab Chelsea."Kamu tak perlu menjawab dan kedua orang tuamu tak akan bertanya. Karena kamu tak akan bawa baju-baju ini pulang. Kamu akan tinggal di apartemen dekat perusahaan'ku. Aku akan mengantar
Setelah sarapan, Chelsea pamit dengan nenek. Tadi dia sempat menolak untuk bekerja di perusahaan Nathan, tapi nenek tetap memaksa. Dia bertanya, apa alasan dirinya tak mau bekerja di perusahaan Nathan. Tak mungkin memberikan alasan sebenarnya, akhirnya Chelsea menerima tawaran itu.Chelsea mengikuti langkah kaki Nathan menuju garasi mobil. Berhenti saat Nathan membuka pintu mobil. Gadis itu memilih duduk di belakang, sehingga pria itu kesal."Duduk depan ...!" perintah Nathan sambil membuka pintu belakang agar gadis itu keluar."Aku di sini saja," jawab Chelsea."Aku bukan supir'mu!" seru Nathan dengan sedikit membentak.Chelsea sedikit takut mendengar bentakan Nathan. Tapi, gadis itu masih belum bergerak. Dia masih tetap duduk di bangku belakang. Hal itu membuat kesabaran Nathan yang setipis tisu menjadi geram. Dia lalu menarik sedikit tangan gadis itu agar mendekat ke pintu. Setelah itu menggendongnya."Nathan, turunkan aku! Nanti ada yang lihat," ucap Chelsea.Nathan tak mau menden
Pagi harinya, Chelsea terbangun. Dia langsung menuju kamar mandi. Gadis itu ingin segera pulang. Dia harus mencari kerja. Ayahnya tak ada memberikan uang buat pegangan.Chelsea tak mau membuat kesalahan yang sama. Dia tak mandi, karena takut tak ada baju ganti. Tapi saat dia akan mengambil tas di atas meja, dia melihat paperbag dan ada tulisan tangan. "Untuk calon adik ipar tercinta."Chelsea membukanya dan melihat ada gaun yang sangat manis. Gaun lengan pendek dan dalamnya selutut. Tak sek'si. Seperti yang dia pakai saat ini.Di dalamnya juga lengkap dengan pakaian dalam. Gadis itu menarik napas dalam."Kenapa Nathan bisa tau ukuran pakaian dalamku? Apakah dia melihat dari pakaian dalamku dan bajuku yang tertinggal?" tanya Chelsea dalam hatinya.Chelsea membuka bajunya. Dia ingin mandi karena sudah memiliki pakaian ganti. Saat dia membuka baju, jadi teringat jika seluruh bagian tubuhnya, sudah pernah dilihat oleh Nathan."Bajuku masih berada di rumah Nathan. Takutnya pria itu menyimp
Salah seorang wanita yang bekerja di rumah Nathan, mengantar Chelsea ke kamar tamu. Dia memandangi jalanan. Tampak hujan mulai turun."Apakah Ayah akan mencari ku? Tak mungkinlah. Ayah pasti tak tau jika aku kabur dari rumah. Tapi, aku rasa memang sebaiknya aku terima saja pertunangan ini. Bukankah
Chelsea keluar dari taksi setelah membayar uangnya. Dia berjalan memasuki halaman rumah dengan santainya. Saat sampai depan pintu rumah, dia mendengar perdebatan papa dan ibu tirinya. Mereka masih menginginkan dirinya bertunangan dengan anak orang kaya itu."Apa tidak sebaiknya aku menerima perjodo
Setelah mengganti bajunya, Chelsea bermaksud keluar dari kamar. Dengan kaos crop top dan celana pendek jeans sepaha. Dia kembali bercermin untuk mematut pakaiannya."Ukurannya pas banget. Kenapa Nathan bisa tau, apakah dia mengukurnya saat aku pingsan?" tanya Chelsea dalam hatinya.Chelsea menggele
Chelsea bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Di dalam, dia membuka seluruh pakaiannya dan memperhatikan badannya. Tak ada jejak sedikitpun atas tindakan pelecehan. Dia juga tak merasakan apa pun."Seperti yang aku dengar dari teman di kampung, katanya saat pertama melakukan sakit. Tapi aku tak m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.