Home / Romansa / Menipu Sang CEO Buta / #174 Tewas Tapi Untuk Apa?

Share

#174 Tewas Tapi Untuk Apa?

Author: aisakurachan
last update publish date: 2026-02-09 07:06:48
"Ada apa?" Wajah Raven mengerut penuh amarah, begitu telinganya mendengar kabar dari Jasper.

"Bagaimana bisa?!"

Jasper menjawab pertanyaan itu dengan tidak memuaskan, karena kerutan dahi Raven tidak berkurang.

"Tapi untuk apa mereka melakukannya sekarang? Mereka sejak awal sudah mengaku!"

Dan lagi, Jasper tidak bisa memberikan pendapat maupun jawaban yang menyenangkan. Raven mengakhiri panggilan itu dengan kasar.

Sejenak dia berdiri bersandar di counter dapur berpikir. Ellie tentu penasaran, tap
aisakurachan

🙂🙂

| 4
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 Extra 8 - Tahu Dan Marah

    Sumpah serapah diteriakan Matteo dalam hatinya, saat mendengar Ivy menyambut hangat dan menerima bunga itu. Bunga itu buruk sekali seharusnya, karena sama sekali tidak ada warna ungu di sana, tapi Ivy tetap ramah menyambut hadiah itu.Matteo mengeratkan genggaman pada pintunya, saat melihat mereka berdua masuk. Ini adalah ujian terbesar dalam masa pengintaian itu. Matteo ingin sekali menendang pintu apartemen Ivy, dan menyeret pria itu keluar."Berpikir! Berpikir!" Matteo bergumam gelisah, sementara kakinya mondar-mandir tak bisa diam, seakan memaksa otaknya bekerja mencari solusi. Namun kemudian Matteo malah mendesis kesal, saat menemukan jawaban. Karena jawaban itu bukan pilihan menyenangkan. Pilihan pintar, tapi tidak menyenangkan.Matteo menyambar ponsel dengan wajah enggan. Dia tidak ingin melakukan ini, tapi hanya ini satu-satunya jalan yang bisa ditempuh saat ini, sementara dia tidak mungkin muncul di hadapan Ivy. Dan Matteo tahu dia ada di rumah, karena melihatnya masuk ke ged

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 Extra 7 - Menatap Dan Jauh

    Mungkin terdengar sinting, tapi Matteo sungguh merasa iri kepada bangku taman. Dia iri karena bangku itu bisa berada dekat dengan Ivy, sementara dirinya harus puas hanya dengan memandang saja.Saat ini dia merasa lebih sial dari bangku taman yang sedang diduduki Ivy, dan juga kesal luar biasa, karena melihat Ivy tersenyum saat menatap ponselnya.Matteo bersedia membayar mahal, untuk tahu siapa yang sedang mengirim pesan pada Ivy, dan membuatnya tersenyum seperti itu. Matteo bersungguh-sungguh berharap pesan itu bukan dari laki-laki lain.Kemarin Matteo hampir saja kehilangan kendali, dan menyerbu ke dalam Westwood, karena melihat Sean berada di sana. Untung saja Matteo ingat, jika Ivy masih menganggap Sean sebagai anak-anak. Dia tidak perlu mengkhawatirkan soal Sean. Pemuda itu boleh beredar di sekeliling Ivy, dan Ivy tetap tidak akan memiliki perasaan lebih padanya.Matteo menyesal karena sempat melupakan kemampuan Ivy untuk menarik banyak pria saat Dante menjelaskan rencana ini. Dia

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 Extra 6 - Kejutan Dan Kebetulan

    Tapi belum cukup bagi Marion. Dia melepaskan genggaman Matteo, lalu mengelus pipi Matteo dengan tangan gemetar."Tapi tidak seharusnya aku meninggalkanmu. Aku tahu apa yang dilakukan iblis itu padamu di ruangan gelap itu. Seharusnya aku membawamu pergi. Tapi aku terlalu takut saat itu. Kalau pergi seorang diri, aku berharap dia tidak akan terlalu marah. Jika membawamu serta, aku yakin dia akan berusaha sangat keras mencariku, meski harus menggali ke dalam lubang yang paling dalam sekalipun. Aku membuatmu menjadi tameng, dengan meninggalkanmu di sana."Sangat jelas terlihat, Marion memendam perasaan itu berulang kali. Tangannya yang mengelus pipi Matteo bergetar dengan sangat hebat, dan wajahnya kini basah kuyup.Matteo meraup tangan yang kini terasa dingin itu, dan memandangnya."Aku sebelum hari ini, mungkin akan marah mendengar ini, tapi aku yang sekarang tidak akan marah maupun membencimu..... Mom." Lidah Matteo sedikit kaku saat mengucapkan kata yang sudah puluhan tahun tidak pern

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 Extra 5 - Maaf Dan Pengertian

    Rasa gelisah dan mual yang dialami Matteo saat menghubungi ibunya kemarin, tidak apa-apa ada apa-apanya, bila dibanding dengan saat ini. Perutnya yang telah terisi oleh sedikit latte yang dibawakan oleh pelayan cafe, memberontak liar.Cairan itu seakan ingin kembali menuju mulutnya melawan gravitasi. Dia sekarang merasa jika ide Dante untuk mencari ibunya, adalah buruk.Namun apa yang bisa dilakukannya? Mereka sudah memiliki janji untuk bertemu dan itu adalah hari ini. Matteo sendiri tidak menyangka ibunya akan setuju dengan cepat, saat mereka berbicara untuk pertama kalinya. Dia menangis tentu saja, saat sadar jika pria yang berbicara padanya adalah Matteo. Tapi setelah tenang, dia segera setuju untuk bertemu.Matteo tidak terlalu ingat bagaimana suara ibunya, suara yang menyahut dari ujung telepon kemarin itu, terdengar serak. Suara khas dari seorang yang telah lanjut usia.Saat mendengar suara itu, Matteo dengan heran merasa lega. Dia tidak berharap akan merasakan apapun. Kelegaan

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 Extra 4 - Hilang Dan Dicari

    Matteo mengusap dadanya sekali lagi. Kali ini tidak berhubungan dengan rasa sakit dari peluru. Sesuatu seakan meremas jantungnya, saat ingatan Ivy yang menangis kembali berkelebat di benaknya. Dia tidak menginginkan ini."Karena ini aku tidak mengungkap rencana ini padamu sebelumnya," gumam Dante."Hm?""Aku tahu kau tak akan setuju. Kau tidak akan mau menyakiti Ivy. Dan rencana ini menyakitinya."Matteo memejamkan mata, karena tak tahu apakah harus mengumpat atau berterima kasih pada Dante. "Di mana aku sekarang?" Matteo akhirnya membelokkan pembahasan, tak tahan dengan bayangan Ivy yang menderita."Aku dengar kau ada di Swiss. Mungkin.""Mungkin?""Aku hanya mengusulkan negara itu pada Raven. Mungkin dia menyetujuinya. Tapi kau tahu sendiri bagaimana dia sangat sulit menyetujui pendapat orang."Matteo hanya mengangguk, meski Dante tak bisa melihatnya. Dan sejujurnya Matteo tak lagi peduli dengan keberadaannya. Tidak penting dirinya berada di mana, karena Ivy tak ada di sini."Aku ak

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 Extra 3 - Hidup Dan Nanti

    Kenyataan memang kadang tidak seindah rencana, meski sudah menunggu ternyata Matteo justru jatuh tertidur saat Dante menghubunginya,Saat mencoba menghubungi balik nomor yang menghubunginya, nomor itu sudah tidak aktif. Dengan terpaksa Matteo menunggu lagi. Namun untung saja, kantuknya sudah berkurang, karena tubuhnya semakin kuat. Ponsel itu akhiri bergetar, setelah Matteo menghabiskan sarapan lembek yang terasa hambar."Aku sudah mulai takut kau tidak akan bangun lagi."Suara Dante terdengar emosional, sampai membuat Matteo terharu. Maklum saja, sapaan terakhir yang dia dengar dari ponsel itu, membuatnya kesal dalam taraf yang tidak wajar."Untuk apa ini semua?" tanya Matteo, langsung."Aku mengabulkan keinginanmu." jawab Dante."Apa aku pernah mengatakan ingin ditembak oleh Dom, dan juga olehmu? Seingatku tidak." Matteo mendengus."Bukan bagian itu. Kau pernah mengatakan padaku ingin keluar dari Notte. Itu yang sedang aku berikan.""Kau membuat kematian palsu untukku?" Matteo tentu

  • Menipu Sang CEO Buta   #317 Istri Tapi Musuh

    Ellie tahu benar ini, meski Raven tidak pernah mengungkap secara jelas.Raven tidak mau membahas Lonan, karena tahu Ellie akan mengutuknya lagi. Dia masih ingin melindungi nama baik Lonan di mata Ellie, setelah semua itu."Dia yang membujuk..."Lonan membatalkan kalimatnya. Sadar dia baru saja akan

  • Menipu Sang CEO Buta   #316 Saudara Tapi Tidak Diharap

    Sekilas memandang suasana pesta hari ini, Ellie dengan cepat menyimpulkan, jika pesta itu adalah pesta termewah yang pernah dia datangi. Mengalahkan pesta ulang tahun Raven beberapa tahun lalu.Tapi mungkin hanya karena pesta ini bersifat lebih resmi dari pada pesta Raven dulu, yang hanya mengundang

  • Menipu Sang CEO Buta   #315 Saudara Tapi Tidak Diharap

    "Mette? Di sini kau rupanya." Quuen Silvia menghampiri Mette, lalu menoleh kepada Ellie."Kau menemani assistenmu bekerja? Ini manis sekali. Kalian pasti sangat akrab."Mette hanya bisa mengangguk. Dia tadi sudah berhati-hati saat menyelinap ke bagian belakang ini. Tapi Silvia terlalu cepat menyadar

  • Menipu Sang CEO Buta   #314 Ratu Tapi Apa Mendengar?

    "Aku pernah menyukai melukis."Jawaban singkat untuk waktu berpikir yang lama. Ellie ingin memprotes sekarang. Tapi langsung mengatupkan bibir saat melihat Matteo kembali bicara."Tapi semua hasil lukisanku dibakar. Aku sembilan saat itu."Tidak ada nama terucap tentang siapa pelakunya, tapi Ellie l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status