LOGIN😏😏 nggak gitu nggak rame ya Rave
Musim panas di Italia tahun ini, mulai mencapai puncak. Udara yang hangat hanya tinggal kenangan saja.Hanya ada panas menyiksa, yang hanya bisa dilawan dengan segelas es teh dan pohon rindang. Kegiatan favorit semua orang di Genoa, saat ini adalah berpiknik, di sekitar tempat yang sejuk. Karena itu tidaklah mengherankan, melihat sekelompok keluarga bersantai di tepi sungai, siang itu.Yang mengherankan, suara ribut pertengkaran yang terdengar, justru berat dan dalam. Bukan lengkingan ceria atau pun teriakan lucu, yang biasa dikeluarkan saat anak-anak bertengkar.Pertengkaran justru terjadi antara dua pria yang jelas berusia paling tua, dalam rombongan itu. Mereka duduk di atas batu yang ada di tepi sungai, dengan es teh di tangan.Tidak terlihat kalau mereka berdua adalah penyumbang pajak yang terhitung sangat besar pada negara masing-masing tempat mereka tinggal. Perdebatan dan omelan seperti itu, membuat mereka tampak seperti pria paruh baya keras kepala, yang sifat bijak-nya belum
"Apa ini?" Ivy menatap takjub, ke sekeliling apartemen Matteo. Unit apartemen itu tentu saja sama persis dengan miliknya. Semua tatanan interior persis sama. Berwarna putih bersih dan rapi.Tapi jika Ivy mempertahankan tatanan seperti saat membeli, Matteo membuat perubahan mencolok di ruang tengah.Ruang yang seharusnya berisi sofa, dengan TV dan perapian elektrik, berganti rupa menjadi studio lukis. Sofa dan yang lain telah di pindahkan ke tepi. Ada tiga buah easel yang berdiri di depan jendela, menampung kanvas separuh penuh. Aroma thinner danDi sekitarnya, tergantung beberapa lukisan, ada juga kanvas yang sudah selesai dilukis, bersandar pada tembok. Ada juga yang bergantung di dinding.Ivy seakan berada dalam lautan warna yang berpadu memanjakan mata."Kau mencoba melukis manusia?" Ivy menunjuk salah satu kanvas yang ada di easel. Dan menjadi satu-satunya kanvas yang tergambar sosok manusia.Matteo mengangguk. "Tapi sulit."Bagian wajah lukisan itu belum sempurna, meski rambut ge
Raven mengikuti Ellie sambil menunduk dalam-dalam, kembali ke lantai paling atas. Ellie tidak mengucap satu patah kata pun, semenjak keluar dari apartemen Ivy. Dia hanya memandang galak pada Matteo, yang menunggunya dengan cemas, lalu berbalik pergi.Menimbang Ivy masih tenang berada dalam apartemennya, maka itu berarti dugaan Raven amat sangat benar. Ellie mungkin berniat mengatakan semua pada Ivy, tapi tak mampu, setelah menimbang resiko.Raven menarik nafas panjang, dengan galau. Kini dia harus mencari jalan agar Ellie mau memaafkannya. Raven mulai merasa kehidupan Matteo dan Ivy menyebalkan, karena sampai membuatnya bersusah payah seperti ini.Dulu Raven menyelesaikan masalah salah paham Lonan dengan mengajak Ellie menikah, tapi tak mungkin mengadakan pernikahan dua kali, jadi cara itu tak bisa lagi dipakai.Ellie menghenyakkan tubuh ke sofa, lalu melipat tangan di depan dada, menyilangkan kaki, dan masih dilengkapi oleh palingan wajah, yang menolak untuk memandang Raven. Ellie mu
Sumpah serapah diteriakan Matteo dalam hatinya, saat mendengar Ivy menyambut hangat dan menerima bunga itu. Bunga itu buruk sekali seharusnya, karena sama sekali tidak ada warna ungu di sana, tapi Ivy tetap ramah menyambut hadiah itu.Matteo mengeratkan genggaman pada pintunya, saat melihat mereka berdua masuk. Ini adalah ujian terbesar dalam masa pengintaian itu. Matteo ingin sekali menendang pintu apartemen Ivy, dan menyeret pria itu keluar."Berpikir! Berpikir!" Matteo bergumam gelisah, sementara kakinya mondar-mandir tak bisa diam, seakan memaksa otaknya bekerja mencari solusi. Namun kemudian Matteo malah mendesis kesal, saat menemukan jawaban. Karena jawaban itu bukan pilihan menyenangkan. Pilihan pintar, tapi tidak menyenangkan.Matteo menyambar ponsel dengan wajah enggan. Dia tidak ingin melakukan ini, tapi hanya ini satu-satunya jalan yang bisa ditempuh saat ini, sementara dia tidak mungkin muncul di hadapan Ivy. Dan Matteo tahu dia ada di rumah, karena melihatnya masuk ke ged
Mungkin terdengar sinting, tapi Matteo sungguh merasa iri kepada bangku taman. Dia iri karena bangku itu bisa berada dekat dengan Ivy, sementara dirinya harus puas hanya dengan memandang saja.Saat ini dia merasa lebih sial dari bangku taman yang sedang diduduki Ivy, dan juga kesal luar biasa, karena melihat Ivy tersenyum saat menatap ponselnya.Matteo bersedia membayar mahal, untuk tahu siapa yang sedang mengirim pesan pada Ivy, dan membuatnya tersenyum seperti itu. Matteo bersungguh-sungguh berharap pesan itu bukan dari laki-laki lain.Kemarin Matteo hampir saja kehilangan kendali, dan menyerbu ke dalam Westwood, karena melihat Sean berada di sana. Untung saja Matteo ingat, jika Ivy masih menganggap Sean sebagai anak-anak. Dia tidak perlu mengkhawatirkan soal Sean. Pemuda itu boleh beredar di sekeliling Ivy, dan Ivy tetap tidak akan memiliki perasaan lebih padanya.Matteo menyesal karena sempat melupakan kemampuan Ivy untuk menarik banyak pria saat Dante menjelaskan rencana ini. Dia
Tapi belum cukup bagi Marion. Dia melepaskan genggaman Matteo, lalu mengelus pipi Matteo dengan tangan gemetar."Tapi tidak seharusnya aku meninggalkanmu. Aku tahu apa yang dilakukan iblis itu padamu di ruangan gelap itu. Seharusnya aku membawamu pergi. Tapi aku terlalu takut saat itu. Kalau pergi seorang diri, aku berharap dia tidak akan terlalu marah. Jika membawamu serta, aku yakin dia akan berusaha sangat keras mencariku, meski harus menggali ke dalam lubang yang paling dalam sekalipun. Aku membuatmu menjadi tameng, dengan meninggalkanmu di sana."Sangat jelas terlihat, Marion memendam perasaan itu berulang kali. Tangannya yang mengelus pipi Matteo bergetar dengan sangat hebat, dan wajahnya kini basah kuyup.Matteo meraup tangan yang kini terasa dingin itu, dan memandangnya."Aku sebelum hari ini, mungkin akan marah mendengar ini, tapi aku yang sekarang tidak akan marah maupun membencimu..... Mom." Lidah Matteo sedikit kaku saat mengucapkan kata yang sudah puluhan tahun tidak pern
"Ini." Ellie mengulurkan tongkat ke tangan Raven, dan dia berdiri dengan mudah.Tapi untuk melangkah masih cukup goyah. Sehari sebelum penembakan itu, Ellie menukar walker dengan tongkat satu kaki. Ellie menilai dia sudah cukup kuat.Tadi saat Ellie baru terbangun, dia juga berjalan menggunakan tong
"Aku juga ingin menikmati pemandangan pantai. Mungkin aku hanya akan melihat kegelapan memang, tapi setidaknya aku bisa menghirup segarnya angin laut," kata Raven, dengan nada dan wajah yang tiba-tiba berubah melankolis.Mencela betapa Ellie tidak simpatik pada keadaan matanya dengan bertanya."Aku
NGUUUUNG!!!"Ellie mengerutkan kening, saat mendengar suara gaduh itu. Terdengar seperti suara bor. Begitu matanya terbuka, Ellie sadar dia berada di tempat asing.Kamar itu indah. Berinterior minimalis, dengan cat putih dan ranjang kayu besar bertiang. Kain putih menjuntai di setiap ujungnya. Itu a
"Apa masih lama?" Ellie berdiri, sambil meremas kepalanya, yang pening berputar."Sebentar lagi. Sabar, duduk atau tidur saja. Berdiri hanya akan membuat keadaanmu semakin parah."Raven menarik tangannya, membuat tubuh Ellie terbanting di ranjang. Perjalanan yang awalnya menyenangkan, berubah menjad







