登入"Bagaimana para saksi? Sah?" Tanya penghulu yang langsung datang dari Indonesia tersebut.“Sah!” jawab para saksi serentak.Gemuruh suara saksi dan kerabat yang memenuhi ruangan akad nikah di ballroom hotel mewah itu seketika membuat dada Arbi bergetar hebat. Pria itu mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokannya. Tangannya yang menjabat erat tangan Tuan Albert perlahan mengendur, menyisakan sensasi dingin akibat rasa gugup yang teramat sangat.Ia sudah berhasil. Kalimat ijab kabul yang ia hafalkan selama seminggu penuh hingga membuatnya hampir gila, berhasil diucapkan dalam satu tarikan napas yang mantap dan lantang.Namun, ketegangan Arbi ternyata belum usai.Jantung pria itu justru berdegup dua kali lebih cepat sekarang. Kedua tangannya yang disembunyikan di atas lutut mendadak saling meremas. Matanya tidak berkedip, menatap lurus ke arah pintu besar ballroom yang masih tertutup rapat.Di balik pintu itulah, istrinya—Alicia—sedang bersiap untuk melangkah mas
"Mommy, jangan bicara begitu..." Alicia langsung maju selangkah, menenggelamkan tubuhnya ke dalam pelukan hangat Aruna. Ia memeluk ibunya erat-erat, menumpahkan segala rasa haru, cinta, dan ketakutan emosional yang bercampur menjadi satu di dalam dadanya. "Aku tidak akan pernah meninggalkan Mommy. Aku tetap Alicia-nya Mommy..."Albert yang sejak tadi berdiri diam menyaksikan pemandangan itu, akhirnya tidak mampu lagi membendung air matanya. Setetes air mata lolos melewati pipinya. Pria yang selama puluhan tahun dikenal dingin dan kejam di dunia bisnis itu kini melangkah mendekat.Albert mengulurkan kedua lengan kekarnya, merengkuh tubuh istri dan putri bungsunya ke dalam satu pelukan keluarga yang teramat erat. Ia mengecup puncak kepala Alicia yang mengenakan mahkota berlian "Daddy juga tidak rela, Alicia," bisik Albert, suaranya terdengar berat dan serak karena menahan tangis yang hampir pecah. "Jika bisa egois... Daddy ingin mengunci pintu rumah kita rapat-rapat, membatalkan acara
"Selesai, Mademoiselle Alicia. Anda bisa melihatnya di cermin." Wanita penata rias itu mundur selangkah, menatap takjub hasil karyanya sendiri.Alicia perlahan membuka matanya yang sempat terpejam. Saat pandangannya lurus menatap cermin besar di hadapannya, napas gadis itu seolah tertahan di tenggorokan.Apakah itu benar-benar dirinya?Gaun pengantin putih gading itu melekat sempurna di tubuhnya, berpadu anggun dengan mahkota berlian kecil yang berkilau di atas sanggul sederhananya. Gadis berdarah campuran Prancis dan Indonesia itu tampak sangat memesona dengan riasan natural yang menonjolkan kecantikan alami dan keanggunan darah bangsawan di tubuhnya.Tepat saat Alicia masih terpaku menatap pantulan dirinya, suara ketukan pintu terdengar lembut sebanyak tiga kali.Cklek.Pintu kamar terbuka perlahan. Dua sosok paling penting dalam hidup Alicia melangkah masuk—Tuan Albert dan Aruna.Namun, begitu melangkah melewati batas pintu dan netra mereka menangkap sosok Alicia yang berdiri di te
Pagi itu, langit Paris tampak begitu cerah.Sinar matahari musim semi menyelinap lembut melalui jendela-jendela besar mansion Samuel dan Violet.Hari yang telah ditunggu selama bertahun-tahun akhirnya tiba.Hari pernikahan Arbi dan Alicia.Sejak subuh, suasana rumah sudah dipenuhi kesibukan.Para pelayan keluar masuk membawa pakaian, kotak-kotak perlengkapan, serta berbagai kebutuhan untuk acara pernikahan.Samuel bahkan sudah sibuk sejak pagi mengurus berbagai hal, sementara Violet beberapa kali menerima panggilan dari mansion Albert yang hari ini jauh lebih ramai.Namun di tengah semua kesibukan itu—Arbi justru duduk sendirian di balkon kamar yang disediakan untuknya.Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun berjuang...ia merasa gugup.Sangat gugup.Bahkan saat pertama kali mendirikan perusahaan.Bahkan saat menandatangani kontrak bernilai miliaran.Bahkan saat berbicara di depan ratusan investor.Ia tidak pernah segugup ini.Hari ini berbeda.Karena hari ini bukan tentang uan
Mereka bertiga kemudian langsung tertawa. Mungkin karena sama-sama pusing.Silsilah keluarga mereka memang sudah terlalu rumit untuk dijelaskan.Akhirnya Arbi mengangkat kedua tangan."Aku menyerah.""Bagus." Jawab Samuel."Aku cemas. Jika kamu tidak menyerah, apa lagi besok hari pernikahan mu.""Panggil apa saja terserah."Samuel menganggukkan kepalanya.Lalu menatap Arbi beberapa saat."Kamu deg-degan ya?"Arbi mengangguk pelan.Kali ini tanpa bercanda."Iya, Sangat."Samuel tersenyum tipis.Ekspresinya berubah lebih hangat."Aku juga begitu dulu.""Michael juga.""Bahkan Leo dan Noah lebih parah."Arbi tertawa kecil.."Serius?""Iya.""Malam sebelum menikah mereka gak tidur. Padahal sudah jelas besok acara."Arbi menggeleng.Ternyata dirinya tidak sendirian.Samuel menyandarkan tubuhnya ke sofa.Lalu berkata pelan."Besok semuanya akan baik-baik saja."Arbi diam."Kamu sudah menunggu empat tahun. Sudah bekerja keras. Sudah membuktikan dirimu."Samuel tersenyum kecil. Samuel, Micha
Akhirnya Arbi menyerah dan keluar dari kamar.Rumah Samuel masih cukup terang.Beberapa lampu masih menyala.Dan dari ruang keluarga terdengar suara-suara kecil.Ketika mendekat, Arbi langsung menemukan sumber keributan itu.Violet sedang duduk di lantai dengan wajah yang mulai terlihat lelah.Samuel duduk di samping istrinya sambil membaca sebuah buku.Sedangkan Eve...Gadis kecil berusia lima tahun itu duduk bersila di atas karpet dengan wajah serius.Sangat serius.Seolah sedang menghadapi ujian masuk universitas."Kamu punya lima permen," ujar Violet sabar."Iya.""Lalu kamu kasih dua permen untuk Amelia.""Iya.""Berapa sisa permenmu?"Eve berpikir beberapa detik.Lalu menjawab mantap."Tetap lima."Violet membeku.Samuel langsung menutup bukunya perlahan."Kenapa tetap lima?" tanya Violet.Karena aku nggak kasih permen ke Amelia.""Hah?""Dia pelit."Violet memejamkan mata."Eve...""Dia juga suka ambil pensilku.""Eve..." Violet sampai kehilangan kata-kata."Aku nggak suka dia.
Setelah kata “sah” dari para saksi terucap, ruangan sejenak hening. Seperti seluruh dunia menunggu satu momen yang sudah ditunggu lama—4 hari yang terasa seperti tahun, di mana mereka dilarang bertemu, hanya bisa merenungkan wajah satu sama lain dari jauh.Samuel dan Noah berdiri berdampingan di de
Apartemen Noah begitu luas dan mewah. Setiap sudutnya tertata rapi, mencerminkan karakter pemiliknya yang tidak pernah membiarkan satu benda pun berada di tempat yang salah. Bahkan rak buku di sudut ruangan tampak seperti perpustakaan mini, buku-buku disusun berdasarkan nomor katalog yang ia buat s
Butik itu dipenuhi cahaya lembut dan aroma parfum mahal. Deretan gaun tergantung rapi, berkilau di balik kaca—seolah masing-masing menyimpan cerita elegan yang berbeda.Anisa duduk di kursi rodanya, tangannya bertumpu ringan di pangkuan. Matanya menyapu sekeliling, kagum… tapi juga ragu.“Leo,” uca
Mansion Michael sore itu ramai seperti biasa.Suara langkah kaki pelayan, obrolan keluarga di ruang tengah, dan tawa yang sesekali pecah—semuanya terasa terlalu hidup untuk dua calon pengantin yang sedang… kehabisan privasi.Aishwa melirik sekeliling dengan waspada.“Mas,” bisiknya pelan, menarik l







