เข้าสู่ระบบBagi dunia luar, Dimitri Volkov adalah seorang Boss Mafia yang kejam, dingin, dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar utama, dia adalah pria dominan yang mengurung Anastasia dalam kuasa mutlaknya. Selama lima tahun pernikahan rahasia mereka, Anastasia mengira dia hanyalah bayang-bayang di hidup Dimitri—istri sah yang selalu menjadi nomor dua demi sahabat masa kecil suaminya. Setelah mencoba dan selalu gagal mendapatkan hati sang suami, Anastasia akhirnya memutuskan untuk menyerah dan berhenti mencintai. Dia memilih pergi. Siapa sangka, Boss Mafia yang tidak pernah goyah itu seketika kehilangan kendali saat ranjangnya mendingin. Dimitri menggunakan seluruh kekuasaannya untuk memburu istrinya, lalu berlutut memohon agar Anastasia mau kembali ke pelukannya. Apakah Anastasia mau kembali setelah banyaknya luka di hati? Atau kali ini, Dimitri harus merasakan siksaan penyesalan seumur hidupnya? IG : EYN820
ดูเพิ่มเติม“Tidak perlu menungguku saat makan malam. Aku ada acara.”
Dimitri berbicara tanpa menoleh saat memasang jam tangan hitam di pergelangan tangannya.
Anastasia yang hendak mengambil jas panjang untuk suaminya berhenti sejenak.
“Ya,” jawabnya pelan, lalu meraih pakaian hangat milik suaminya.
Tidak ada pertanyaan. Tidak ada rasa ingin tahu.
Selama lima tahun menikah, Anastasia sudah belajar bahwa Dimitri tidak pernah suka ditanya tentang urusannya di luar rumah.
Dia berjalan mendekat sambil membawa jaket panjang, dan berniat membantu Dimitri memakai benda itu seperti layaknya seorang istri melayani suami.
Namun sebelum tangannya terangkat untuk memasang kain mahal itu, Dimitri sudah mengambilnya lebih dulu dan mengenakannya sendiri.
Tangan Anastasia menggantung di udara selama beberapa detik.
Lalu, perlahan dia menarik tangannya kembali dan menghela napas pelan.
“Maaf,” gumamnya lirih, meski dia sendiri tidak tahu kenapa harus meminta maaf.
Tidak menjawab, Dimitri langsung berjalan keluar kamar dengan langkah panjang dan cepat.
Anastasia buru-buru mengikutinya.
Melewati ruang makan, aroma mentega yang meleleh bercampur dengan gurihnya keju goreng menguar memenuhi udara. Makanan kesukaan Dimitri.
“Dima?” panggil Anastasia sambil menatap penuh harap pada punggung yang bergerak menjauh menuju pintu utama mansion. “Aku sudah menyiapkan panekuk untukmu. Kamu mau aku mengoleskan krim asam yang segar... atau selai beri?”
Dimitri berhenti beberapa detik. “Aku tidak sarapan," katanya tanpa menoleh.
Jawaban singkat itu langsung mematikan suasana.
Padahal Anastasia bangun pukul lima pagi hanya untuk memastikan panekuknya siap saat Dimitri turun untuk sarapan pagi ini.
Menatap punggung Dimitri, sorot mata Anastasia meredup. “Baiklah," katanya pelan sembari menarik kedua sudut bibirnya. Seperti biasa, Dimitri sudah berjalan lagi, bahkan sebelum Anastasia selesai bicara.
Anastasia terus mengikuti Dimitri sepanjang koridor hingga ke arah pintu keluar mansion.
Udara pagi Rusia terasa dingin menusuk. Kabut tipis menggantung di antara pohon-pohon pinus yang mengelilingi mansion megah keluarga Volkov.
Di ambang pintu, Chief Roman sudah berdiri tegap menunggu.
Begitu Dimitri muncul, Chief Roman segera memberikan anggukan kepala yang dalam dan tegas—sebuah penghormatan mutlak khas mafia Rusia.
"Mobil sudah siap, Tuan Dimitri," ucap Chief Roman. Uap putih mengepul dari mulutnya.
Alih-alih merespon, Dimitri justru menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Tatapan abu-abunya jatuh pada Anastasia yang masih berdiri beberapa langkah di belakang.
“Ada apa?” tanyanya datar.
Anastasia membuka bibir, lalu menutupnya lagi. Sebenarnya dia hanya ingin mengantar Dimitri sebelum keluar dari rumah. Sekedar ingin mengucapkan dan mendengar ucapan sederhana seperti aku pergi, jaga dirimu, atau sampai jumpa. Hal-hal kecil yang biasanya dilakukan oleh pasangan normal pada umumnya.
“Ada yang ingin kamu katakan, Malysh?” ulang Dimitri. Matanya tertuju pada jam tangan di pergelangan, seakan mengatakan kalau dia tidak punya waktu untuk sekedar bicara.
Anastasia menelan ludah. Malysh, artinya gadis kecil. Sebuah panggilan sayang yang biasa diucapkan oleh orang tersayang di Rusia.
Dimitri memang selalu memanggilnya seperti itu, tapi laki-laki itu mengucapkannya tanpa kelembutan sedikit pun. Seolah hanya kebiasaan, bukan kasih sayang atau sebutan spesial.
Anastasia sekali lagi memaksakan diri untuk tersenyum, meski lidahnya terasa kelu saat menjawab dengan suara pelan, "Tidak ada."
Tatapan Dimitri masih tertahan beberapa detik, seakan mencoba memahami sesuatu yang tidak pernah benar-benar dia perhatikan.
Sayangnya, hanya sampai di situ. Kemudian Dimitri berjalan masuk ke dalam mobil tanpa ucapan selamat tinggal atau apa pun.
“Nyonya Anastasia..., maaf,” ucap Chief Roman sebelum mengikuti Tuannya. “Tuan Dimitri sedang sangat sibuk akhir-akhir ini.”
Anastasia mengangguk pelan. “Aku mengerti.”
Semua orang selalu mengatakan kalimat yang sama. Sibuk!
Seolah satu kata itu bisa menjelaskan kenapa seorang suami bahkan hampir tidak pernah duduk sarapan bersama istrinya.
Beberapa saat, Anastasia berdiri diam sambil memandangi mobil hitam itu perlahan menghilang di antara kabut dan hutan pinus yang mengurung mansion mereka.
Selanjutnya, Anastasia masuk kembali ke dalam mansion. Pintu kaca otomatis tertutup di belakangnya. Bangunan megah itu terasa kosong dan sangat sunyi.
Belasan pelayan bergerak cepat saat melihat Anasatasia melintas. Mereka menunduk hormat dan mengucapkan salam. Tidak ada yang berani berbicara lebih panjang.
Kadang Anastasia merasa dirinya hanyalah sebuah benda antik yang harus diperlakukan dengan sangat hati-hati. Tidak boleh disentuh. Tidak bisa didekati.
Satu-satunya tempat yang membuatnya merasa berguna hanyalah ruang kerja pribadinya.
Ruangan itu tersembunyi di balik dinding yang sekilas tampak biasa, namun sebenarnya ada layar komputer canggih dengan keamanan tinggi. Puluhan layar hologram—gambar-gambar bercahaya melayang di udara—menyala bersamaan begitu Anastasia melangkah masuk.
Suhu ruangan juga ikut berubah, menyesuaikan diri dengan suhu tubuh Anastasia supaya tidak kedinginan atau kepanasan.
Bahkan, lantai marmer yang tadinya dingin perlahan berubah hangat, seolah menyambut dan memastikan Anastasia merasa nyaman di sana.
Di tempat itulah dia mengurus seluruh laporan keuangan perusahaan formal Dimitri.
Anastasia baru saja membuka file laporan ketika sistem AI rumah tiba-tiba aktif dan bersuara, “Breaking news!"
Dinding kaca di depannya berubah menjadi layar siaran langsung sebuah stasiun televisi.
Seorang atlet ice skating wanita muncul di sana. Anastasia mengenali sosok cantik dan elegan itu. Kilatan cahaya kamera berkedip tanpa henti saat wanita itu memamerkan medali emas di depan wartawan.
Anastasia mengenalnya.
Seluruh Rusia mengenalnya.
Irene Petrova.
Jari Anastasia membeku di atas keyboard saat suara pembawa acara bergema di seluruh ruangan.
“Malam ini, perayaan kemenangan Irene Antonovna Petrova akan dihadiri sponsor utama, yaitu Dimitri Ivanovich Volkov. Beliau akan datang khusus untuk mengucapkan selamat kepada Irene Antonovna Petrova."
Udara di sekitar Anastasia terasa menipis, dadanya terasa semakin sesak saat ucapan reporter berikutnya kembali terdengar, "Siapa pun tahu kedekatan Dimitri Volkov dan Irene Petrova. Kabarnya, Sang Don bahkan sudah menyiapkan hadiah bernilai fantastis untuk wanitanya."
Anastasia menatap layar tanpa berkedip karena dia tahu betul bahwa hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang kelima.
"Seperti biasa… Dimitri lupa," gumam Anastasia pelan. Lehernya terasa sakit karena menahan tangis.
Pucat pasi, Anastasia menatap ponsel di tangannya dengan jantung yang bertalu-talu.Layar itu masih menampilkan panggilan yang telah terputus. Jempolnya bergerak cepat, menekan nama Dimitri dan mencoba menelepon kembali.Ponsel tidak aktif.Perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan menyeruak ke dalam hati Anastasia. Dia menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan, mencoba mengusir kegelisahan yang memenuhi dada.Meski tahu ponsel Dimitri tidak aktif, Anastasia mencoba menghubunginya sekali lagi. Tentu saja hasilnya tetap sama.Semakin dia mencoba menghubungi, semakin kuat pula rasa tidak nyaman itu melingkupi dirinya.“Apa yang sebenarnya terjadi?” Anastasia mondar-mandir di ruang kerja sambil menggenggam erat ponsel dengan kedua tangan.Hingga, sebuah nama tercetus di kepalanya.“Chief Roman!" Asisten Dimitri itu pasti tahu ke mana Tuannya pergi. Anastasia segera menekan nama Roman.Nada sambung terdengar. Anastasia mendengarkan dengan perasaan berdebar-debar.Satu ka
Anastasia duduk di ruang kerjanya, menatap layar laptop yang menampilkan sistem AI pertanian yang sedang dikerjakannya.Kursor berkedip di antara baris-baris kode, tetapi tidak ada satu pun yang bergerak karena Anastasia bahkan belum menyentuh keyboard sejak hampir dua puluh menit lalu.Bayangan wajah Dimitri kembali memenuhi pikirannya.Begitu pula ciuman pria itu.Anastasia memejamkan mata, tetapi ingatan kejadian semalam semakin jelas. Kata-kata Dimitri kini terngiang di kepalanya.“Aku akan pergi kalau kamu memang mencintainya.”Lalu—“Tapi, aku mau tahu tentang kamu. Semuanya!”Anastasia mengangkat tangan dan memijat pelipisnya.“Kenapa aku masih memikirkannya?”Kalimat itu baru saja lolos dari bibirnya ketika suara Dimitri kembali terdengar di dalam kepalanya, seakan menjawab pertanyaannya.“Aku pun tidak mengenal diriku sendiri sejak berpisah denganmu.”Anastasia membuka mata.“Ya Tuhan...” desahnya frustrasi.Selama ini dia berusaha melupakan pria itu. Semalam Dimitri bahkan s
Di saat Dimitri masih bimbang, hati Anastasia sedikit melunak karena sebuah kesadaran yang tiba-tiba menyeruak ke permukaan.Mengusir seorang Don Volkov dengan cara seperti ini, bukankah sangat berbahaya?Dia sangat tahu bagaimana sosok Dimitri saat murka. Pria itu bisa berubah menjadi monster yang tidak terkendali.Selama bertahun-tahun menjadi istrinya, Anastasia telah melihat sisi Dimitri yang mampu membuat orang lain gemetar hanya dengan satu tatapan.Namun, harga dirinya mengingatkan untuk mengalahkan rasa takut itu.Dimitri tidak boleh merendahkannya untuk kesekian kalinya.Dulu, mungkin Anastasia akan memilih menelan sakitnya demi mempertahankan pernikahan mereka.Sayangnya, saat ini mereka sudah tidak memiliki ikatan itu. Tidak ada alasan baginya untuk kembali menerima perlakuan yang membuat dirinya merasa tidak berharga.Tatapan Anastasia jatuh pada kedua tangannya sendiri. Jari-jarinya masih gemetar, maka dia menautkan tangannya satu sama lain. Berharap Dimitri tidak melihatn
Anastasia terkesiap saat merasakan bibir Dimitri yang menyapu bibirnya. Beberapa detik dia membeku, tubuhnya hampir tidak bisa bergerak. Lengan Dimitri melingkar erat di tubuhnya, terasa seperti sedang mempertahankan sesuatu yang telah hilang dari genggamannya.Namun, rasa terkejut itu tidak berlangsung lama.Anastasia tersadar. Ciuman ini tidak boleh terjadi.Matanya seketika membelalak. Tanpa memberi Dimitri kesempatan untuk bertindak lebih jauh, Anastasia menggigit bibir mantan suaminya sekuat yang dia bisa."Ugh!"Dimitri tersentak. Pegangan di pinggang Anastasia sedikit mengendor.Anastasia segera memanfaatkan kesempatan itu. Kedua telapak tangannya menghantam dada bidang pria itu, mendorongnya sekuat tenaga.“Kamu sudah gila!” pekik Anastasia.Tubuhnya akhirnya terlepas dari pelukan Dimitri.Anastasia mundur beberapa langkah hingga jarak di antara mereka cukup untuk membuatnya kembali bernapas dengan lebih leluasa. Dadanya naik turun dengan cepat. Kedua tangannya masih mengepal d












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็นเพิ่มเติม