MasukDengan ragu Daisy menuruti perintah Jack. Dia menyalakan laptop dan menghubungkannya ke proyektor. "Berikan ponsel anda. Aku akan memeriksa video itu untuk melihat apakah anda berbohong atau tidak." "Haha, apa anda kira saya sebodoh itu? Siapa bisa menjamin anda tidak akan menghapusnya. Tapi, ini bukan masalah besar. Saya akan mengirim video itu ke email anda." Daisy menggertakkan gigi. Dia ingin menampar mulut Victor, tapi dia tahan-tahan. "Sudah." Victor tersenyum. "Jangan lupa untuk menghubungkan laptop anda ke pengeras suara, supaya anda bisa mendengar percakapan di video itu dengan lebih jelas." Victor menoleh pada Elena yang tersenyum lebar. Dalam benak Victor sesumbar, 'Video itu tidak hanya akan membuat Tuan Filantropi menemuiku, tetapi juga akan memaksanya agar menerima proposal yang aku ajukan. Itu artinya, selangkah lagi, posisi CEO di EchoBuild Contruction akan jatuh ke tanganku!' Dia tersenyum licik.Daisy menahan napasnya ketika hendak menekan tombol 'play' pada vid
Elena mendengus kesal. Sudah cukup lama dia dan Victor menunggu, tapi Tuan Filantropi tidak juga datang menemui."Sebenarnya, seberapa dekat hubunganmu dengan Tuan Filantropi? Kenapa dia membiarkan kita menunggu begitu lama?" keluh Elena berwajah masam.Selain karena Elena merasa dongkol menunggu tanpa kepastian kapan Tuan Filantropi akan datang, sebenarnya dia memiliki niat busuk, yakni melanjutkan penghinaannya kepada Jack dan pacar barunya. Ia tidak terima karena belum membalas ucapan kurang ajar Emma tadi.Lebih dari itu, Elena yang begitu licik berharap bisa menemui Tuan Filantropi sebelum Emma menjalani tes wawancara. Dia ingin memengaruhi Direktur Redwave Group itu agar tidak menerima Emma di perusahaannya dengan merendahkan reputasinya, supaya si gadis miskin menyadari kesalahannya yang berani melawan wanita terhormat seperti Elena."Tenang, Sayang. Pasti saat ini Tuan Filantropi sedang menguji kita. Kamu tahu bahwa proyek kerjasama yang aku ajukan ini bernilai fantastis. Dia
Jack mengembangkan senyum. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku bertanya pada salah seorang karyawan yang kebetulan lewat tadi, khawatir kalau-kalau mendadak nanti merindukanmu, jadi aku bisa menyusulmu langsung." Emma menunduk sebentar, menyembunyikan senyum. Pipinya memerah. Suasana di dalam lift menjadi sedikit canggung. Emma seperti tidak bisa memulai obrolan lagi setelah mendengar ucapan manis dari Jack. Ia hanya mendorong helai rambutnya ke belakang telinga.Meski begitu, keduanya diliputi rasa bahagia. Bahkan kebersamaan sesaat di dalam lift itu terasa berharga. Sampai saat lift terbuka, Jack menggandeng tangan Emma, hendak menuntunnya menuju ruang wawancara.Emma pasrah mengikuti, biarpun ia bisa pergi sendiri mencari keberadaan ruang wawancara itu sesuai penjelasan resepsionis. Sepanjang langkah ia tidak henti-hentinya mengamati tangannya dalam genggaman tangan Jack yang kekar."Ini ruangannya. Baiklah, aku akan pergi melihat-lihat sekitar. Jika memerlukan apapun,
Jack diam. Walau dia tahu alasan orang-orang itu bersikap demikian, dia tidak bisa berterus terang. "Mungkin karena kamu sangat cantik," jawab Jack sambil menunjukkan barisan giginya yang putih.Emma mendengus. "Kamu mulai lagi." Ia lalu turut tersenyum, "Tapi ini bagus. Artinya, jika aku diterima bekerja di sini, aku berada di lingkungan orang-orang yang sangat menghargai dan menghormati orang lain.""Itu benar. Sekarang, fokus saja pada wawancaramu, dan berhenti memikirkan hal lain.""Kamu benar. Aku harus fokus agar kesempatan berharga ini tidak terlewat begitu saja.""Pergilah, aku akan menunggu di sini." Jack duduk di kursi.Emma merapatkan bibir. "Apa kamu yakin akan menungguku di lobi? Um, aku belum tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk interview. Aku khawatir membuatmu menunggu terlalu lama." Dia duduk di samping Jack.Dengan santai Jack menjawab, "Tidak masalah. Aku bisa berkeliling jika bosan.""Tapi...""Jangan cemas. Aku sudah dewasa. Aku tidak akan tersesat."Sebu
Saat memasuki halaman gedung Redwave Group, Emma dibuat terpukau dengan kemegahan dan arsitektur bangunan itu. Sebelumnya ia hanya melihat dari luar, rupanya dari dalam area terlihat lebih bagus dari yang ia bayangkan. Ia turun dari skuter masih dengan tatapan terkesima, menyisir sekitar. Jack yang baru turun dengan sigap membantu melepas helm dari kepala Emma setelah melepas helmnya sendiri. "Aku mendadak gugup." Emma memegang dadanya yang berdebar. Darahnya seperti mengalir lebih cepat, terpacu oleh detak jantung yang kian kencang. "Bagus!" Kedua alis Emma turun, menoleh dengan lemas dan bertanya, "Apanya yang bagus?" "Penampilanmu." Jack menjawab dengan semangat. Emma melipat bibirnya sambil menoleh ke arah lain, pipinya bersemu merah lantaran Jack tersenyum memujinya. "Jangan menggodaku," ucapnya manja, "Aku serius, rasanya benar-benar gugup." Jack tertawa kecil, memandang Emma dalam-dalam. "Aku juga serius. Kamu benar-benar..." Ia menghentikan ucapannya. Emma menunggu
"Kalian keterlaluan," desis Emma tak habis pikir. Napasnya menjadi pendek-pendek lantaran dadanya terasa sesak. Apa yang terlontar dari mulut Victor dan Elena seperti polusi yang mencemari sekitar."Aku hanya bercanda. Tolong jangan diambil hati." Victor memegang pundak Jack. Jack melirik ke arah tangan Victor yang lancang. Victor sempat membiarkan tangan itu tetap di sana beberapa saat. Tapi kemudahan tatapan tajam dan intens dari Jack, tanpa disertai sepatah kata pun, membuat hatinya ciut juga.Ketika Victor menarik tangannya kembali, dengan cepat Jack mengusap-usap bekas tangan Victor di pundaknya.'Kurang ajar! Dia kira tanganku ini tai?' Pelipis Victor berkedut. Meski Jack masih tidak mengatakan apapun, gesture yang ditunjukkan seperti menjelaskan bahwa tangan Victor telah mengotori pundak Jack.Lantas Victor mengangkat dagunya. Dengan kesombongan penuh dia menarik jasnya. "Hari ini adalah hari yang baik untukku. Aku akan menemui Tuan Filantropi di gedung Redwave Group untuk me







