Share

Bab 6

Penulis: Amellia
Windy terbangun karena bau disinfektan yang menyengat. Rasa sakit tumpul masih terasa di perut bagian bawahnya. Dia secara refleks mengelus perutnya dan ujung jarinya menyentuh jarum infus yang dingin.

"Sudah sadar?" Suara Yudha terdengar dari sebelah kanan Windy.

Windy menoleh dan melihat pria itu duduk di samping tempat tidur. Dia membungkuk untuk menyentuh perut Windy, tetapi gerakannya tiba-tiba berhenti.

"Kamu sudah sadari kesalahanmu?" tanya Yudha.

Windy memejamkan matanya.

Melihat Windy tidak menjawab, Yudha mengulurkan tangan dan membelai wajahnya. "Seandainya kamu sepatuh ini sebelumnya."

Ibu jari Yudha menyentuh bibir Windy yang kering dan berkata dengan suara lembut, "Kamu juga nggak perlu menderita seperti ini."

"Demi seorang anak tetangga, kamu buat istrimu yang hamil berlutut?" Windy memalingkan kepalanya untuk menghindari sentuhan Yudha. "Apa menurutmu itu masuk akal?"

Tangan Yudha membeku di udara. Dia mengerutkan kening dan menjawab, "Aku cuma pertimbangkan benar dan salah, bukan perasaan."

"Aku mau istirahat." Windy menarik selimut. "Silakan pergi."

Ekspresi Yudha jelas membeku. Dia menatap Windy selama beberapa detik, lalu melirik ponselnya dan berkata, "Ada urusan mendesak di kantor. Aku akan kembali nanti."

Yudha tiba-tiba berbalik di depan pintu dan bertanya, "Tes apa yang dijadwalkan untuk besok? Aku dengar kamu ngomong sama dokter sebelumnya."

"Pemeriksaan kehamilan rutin." Windy tertegun sejenak.

Yudha mengamati ekspresi Windy, lalu tiba-tiba berbalik. Dia mengambil ponsel Windy dari meja samping tempat tidur. "Apa kata sandinya?"

"Tanggal lahirku." Windy mencibir, "Kamu masih ingat?"

Yudha memasukkan kata sandi yang salah dua kali, lalu akhirnya berhasil membukanya pada percobaan ketiga. Dia segera memeriksa riwayat panggilan, tetapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan dan melemparkan ponsel itu kembali ke tempat tidur. "Nadia ada di kamar sebelah. Jangan ganggu dia."

Melihat Windy diam saja, Yudha tiba-tiba tertawa. "Dasar pencemburu! Dia benar-benar cuma anak tetangga."

Windy tersenyum mengejek dan mengangguk.

Setelah pintu tertutup, Windy segera menekan bel untuk memanggil dokter.

"Kamu yakin mau jadwalkan operasi aborsinya pukul sembilan besok?" tanya dokter sambil membolak-balik catatan medis.

"Ya," jawab Windy dengan pelan. "Nggak usah kasih tahu dia."

Baru saja dokter pergi, pintu kamar rawat inap tiba-tiba dibuka dengan kuat. Nadia yang mengenakan jubah rumah sakit bergegas masuk dengan tertatih-tatih. Namun, matanya berbinar dengan sangat terang. "Kamu mau gugurkan anak Yudha?"

Windy perlahan-lahan duduk.

Nadia sama sekali tidak terlihat lemah saat ini.

"Lebih baik kamu gugurkan kandunganmu dan bercerai dengannya secepat mungkin." Nadia mencengkeram pagar ranjang dan melanjutkan, "Kalau tunggu sampai Yudha mencampakkanmu, kamu nggak akan dapatkan sepeser pun!"

Windy tiba-tiba tertawa. "Yudha nggak kasih tahu kamu siapa yang mendukung perusahaannya?"

"Nggak usah omong kosong." Suara Nadia terdengar melengking. "Yudha sendiri yang bilang dia nggak pernah mencintaimu. Dia menikahimu cuma demi dapatkan keuntungan dari Keluarga Lorandi. Kalau bukan karena proyek itu, dia pasti sudah ...."

"Plak!" Suara tamparan itu terdengar nyaring.

Wajah Nadia miring ke samping. Bekas merah langsung muncul di pipinya.

"Tamparan ini untukmu yang jelas-jelas tahu orang lain sudah menikah, tapi tetap merusak rumah tangga orang." Windy menggoyang-goyangkan tangannya yang mati rasa.

"Plak!" Tamparan kedua ini lebih kuat lagi dan Nadia langsung terhuyung.

"Tamparan ini karena kamu menjebakku."

Nadia menutupi wajahnya dan mundur dua langkah. Amarah terpancar di matanya. Namun, dia menangkap sekilas sosok yang mendekat dari luar pintu, ekspresinya langsung berubah menjadi sedih. Dia menjerit, lalu membenturkan kepalanya ke dinding dan jatuh lemas ke lantai.

Pintu dibuka dengan kuat. Yudha bergegas masuk dengan kunci mobil di tangannya. Dia menatap Nadia yang terbaring di lantai dengan mata terbelalak, lalu bergegas ke samping tempat tidur, "Windy! Kalau terjadi sesuatu pada Nadia, aku akan buat kamu membayarnya dengan nyawamu!"

"Lebih baik kamu tanyakan dulu apa yang sudah dia katakan," ucap Windy dengan tenang.

Yudha sudah menggendong Nadia dan mencibir, "Apa yang bisa dikatakan pasien seperti dia?"

Dia melirik tangan Windy yang bengkak dan menambahkan, "Sebaliknya kamu, kamu benar-benar bertindak tanpa ampun."

Staf medis bergegas masuk dan buru-buru mengangkat Nadia ke atas tandu.

Yudha mengikuti mereka keluar, tetapi tiba-tiba berbalik ketika mencapai pintu. "Pengawal, awasi dia."

Matanya terlihat bengis. "Kalau terjadi sesuatu pada Nadia dan bayinya, aku akan buat kamu menyesal."

Windy memperhatikan mereka menghilang di belokan koridor, lalu perlahan-lahan berbaring kembali. Dia mengambil ponselnya. Layar kunci menunjukkan foto pernikahannya dengan Yudha.

Senyum Yudha di foto itu begitu tulus, matanya dipenuhi cinta saat menatap Windy. Sekarang, demi wanita lain, pria itu mengatakan akan membuatnya menyesal.

Jari Windy melayang di atas nomor Irfan, tetapi dia akhirnya meletakkan kembali ponselnya.

Langkah kaki terdengar di luar pintu. Dua pengawal berjas hitam berdiri di luar jendela kaca dengan tatapan dingin.

Windy perlahan-lahan meringkuk. Dahinya menempel di lutut. Rasa sakit menjalar di perut bagian bawahnya, tetapi yang lebih menyakitkan adalah hatinya yang terasa seperti dirobek.

Lima tahun pernikahan pada akhirnya berakhir sia-sia.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 28

    Kabar kehamilan Windy diketahui pada suatu sore yang cerah.Axel memegang hasil tes dengan jari-jari yang agak gemetar. Suaranya yang biasanya tenang kini juga terdengar bergetar. "Se ... serius?"Dokter tersenyum dan mengangguk. "Selamat, istrimu sudah hamil enam minggu."Axel tiba-tiba berbalik, lalu mengangkat Windy dan memutarnya. Setelah tiba-tiba teringat sesuatu, dia menurunkan Windy secara perlahan dan dengan panik menyentuh perut Windy yang masih rata. "Apa aku akan melukai bayinya? Aku meremasmu terlalu kuat."Windy tertawa, lalu mencubit wajah Axel yang tegang, "Mana mungkin bayinya serapuh itu."Namun, Axel masih sangat gugup. Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, dia memperlambat laju kendaraan menjadi 40 km/jam. Setiap kali bertemu polisi tidur, dia bahkan ingin keluar dan meratakan jalan.Sesampainya di rumah, Axel segera mengeluarkan buku catatan dan mulai membuat daftar. Dia menulis tentang nutrisi kehamilan, jadwal pemeriksaan rutin, hal yang harus diperhatikan wa

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 27

    Pada hari pernikahan mereka, Windy yang mengenakan gaun pengantin putih bersih berdiri di ujung karpet merah. Dia menggandeng lengan Irfan sambil tersenyum lembut.Mata Irfan memerah. Tangannya yang menggenggam tangan putrinya sedikit gemetar. Dia menarik napas dalam-dalam dan berbisik, "Windy, keinginan terbesarku dalam hidup ini adalah melihatmu bahagia." Windy pun merasa ingin menangis. Dia dengan lembut membalas genggaman tangan Irfan. "Ayah, aku sangat bahagia sekarang."Irfan mengangguk, lalu menahan air mata dan menuntun Windy berjalan selangkah demi selangkah ke arah Axel yang berdiri di ujung karpet merah.Axel mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Dia menatap Windy dengan mata membara dan penuh cinta yang tak tersembunyi. Ketika Windy akhirnya berdiri di hadapannya, dia menelan ludah dan berkata dengan suara agak serak, "Windy, aku sudah menunggu hari ini begitu lama."Pendeta tersenyum dan memberi isyarat agar mereka bertukar sumpah. Axel menarik napas dalam-dalam dan men

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 26

    Windy berdiri di depan jendela. Axel memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya dengan lembut di atas kepalanya."Lagi mikir apa?" Napas hangat Axel menyapu telinga Windy.Windy bersandar ke pelukannya dan tanpa sadar tersenyum. "Aku lagi mikir soal pertemuan kita waktu itu dan kamu masukkan katak ke dalam tasku."Axel terkekeh dan Windy dapat merasakan getaran dadanya. "Kamu tahu nggak? Habis kamu dorong aku ke air mancur, aku mimpi buruk selama tiga hari berturut-turut!"Tawa dan percakapan riang terdengar dari lantai bawah. Irfan dan Rayyan sedang bermain catur di taman, sedangkan ibunya Axel dan koki Keluarga Lorandi sedang mendiskusikan menu untuk resepsi pernikahan.Sejak Windy dan Axel resmi berpacaran, kedua keluarga berkumpul hampir setiap minggu."Windy, ayo cicipi ini." Linda, ibunya Axel berjalan mendekat dengan membawa sepiring kue. "Aku sudah modifikasi kue osmanthus ini sesuai seleramu. Gulanya dikurangi jadi setengah saja." Windy menggigitnya. Aroma manis dan se

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 25

    Yudha berdiri di luar vila Keluarga Lorandi dan menggenggam erat tas edisi terbatas yang mahal itu. Manset jasnya sudah usang, sedangkan sepatunya kehilangan kilaunya. Namun, matanya terlihat penuh tekad."Windy!" Ketika melihat Windy keluar, Yudha segera menghampirinya. "Lihat, ini tas yang kamu suka. Aku sudah membelinya."Hari ini, Windy mengenakan setelan berwarna krem ​​dan rambutnya diikat dengan asal. Penampilannya terlihat santai sekaligus berkelas. Dia melirik tas di tangan Yudha dan tersenyum tipis."Oh?" Windy mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Di bawah tatapan penuh harap Yudha, dia tiba-tiba melepaskannya. Dengan bunyi "gedebuk", tas itu jatuh ke lantai.Windy mengangkat kakinya, lalu menginjak dan menggesek tas itu dengan sepatu hak tingginya tanpa menunjukkan belas kasihan."Kamu!" Mata Yudha melebar. Dia menyaksikan hal ini dengan tidak percaya."Apa yang kusuka kemarin sudah nggak kusuka hari ini," ucap Windy dengan santai. Matanya terlihat dingin, seolah-olah seda

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 24 

    Windy berbaring malas dalam pelukan Axel. Jari-jarinya bermain-main dengan kancing kemeja Axel.Sinar matahari masuk melalui jendela. Axel sedang mengupas anggur untuk Windy. Jari-jarinya yang panjang bergerak dengan cekatan. Daging buah yang berkilauan pun jatuh sempurna ke dalam mangkuk buah."Axel, aku pengen makan macaron dari toko di timur kota itu," kata Windy dengan manja. Axel segera meletakkan anggur dan mengambil ponselnya. "Aku akan suruh orang untuk membelinya sekarang juga." Windy menyipitkan mata dengan puas. Perasaan dimanja sangat menyenangkan. Baru saja dia mendekat dan hendak mencium Axel, tiba-tiba terdengar teriakan melengking dari luar jendela."Windy! Aku akan tunjukkan tekadku!"Yudha berdiri di luar gerbang vila Keluarga Lorandi. Dia masih mengenakan jubah rumah sakit. Luka cambukan di punggungnya membuatnya tidak dapat berdiri tegak, tetapi matanya terlihat penuh tekad.Windy mengerutkan kening dengan kesal. "Dia datang lagi ...."Axel menepuk-nepuk tangan Wi

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 23

    Yudha perlahan-lahan membuka matanya di tengah bau disinfektan. Rasa sakit yang membakar di punggungnya membuatnya meringis. "Hk."Sinar matahari menerobos tirai dan menciptakan bayangan berbintik di ranjang pasien. Yudha masih terhanyut dalam mimpi yang baru saja dibuatnya. Dalam mimpi itu, dia tidak mengkhianati Windy. Mereka hidup bahagia bersama dan memiliki anak kembar yang menggemaskan.Dalam mimpi, senyum lembut Windy terasa begitu nyata. Yudha bahkan masih bisa mengingat aroma melati dari rambutnya. Sebelum senyum itu memudar, kenyataan menghantamnya seperti tersiram air dingin.Kamar rawat inap ini kosong, hanya terdengar suara peralatan medis yang teratur. Tidak ada rumah hangat dari mimpinya, apalagi istri yang menyelimutinya."Heh." Yudha menertawakan dirinya sendiri. Bekas cambukan di punggungnya berdenyut kesakitan setiap kali dia bergerak. Namun, rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penyesalan di hatinya.Yudha teringat tatapan dingin Windy hari itu, j

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status