MasukPada hari pertama pernikahan kami, aku berkata kepada suamiku yang merupakan seorang presdir, "Aku nggak keberatan kalau kamu jatuh cinta sama orang lain kelak. Tapi kalau orang itu berani buat keributan di depanku, kamu nggak akan pernah melihatku lagi." Jadi, ketika suamiku itu jatuh cinta pada seorang guru perempuan di sekolah, dia hanya bisa menyembunyikannya. Dia memberikan apa pun yang diinginkan wanita itu, tetapi melarangnya muncul di depanku. Hanya saja, wanita simpanan itu malah sangat tidak patuh mentang-mentang dimanjakan suamiku. Dia yang hamil malah membual di hadapanku. "Yudha sendiri yang bilang dia nggak pernah mencintaimu. Dia menikahimu cuma demi dapatkan keuntungan dari Keluarga Lorandi. Lebih baik kamu gugurkan kandunganmu dan bercerai dengannya secepat mungkin. Kalau tunggu sampai Yudha mencampakkanmu, kamu nggak akan dapatkan sepeser pun!" Aku tersenyum dan menghubungi nomor ayahku. "Tarik investasi untuk Grup Cengkara! Aku mau cerai."
Lihat lebih banyakKabar kehamilan Windy diketahui pada suatu sore yang cerah.Axel memegang hasil tes dengan jari-jari yang agak gemetar. Suaranya yang biasanya tenang kini juga terdengar bergetar. "Se ... serius?"Dokter tersenyum dan mengangguk. "Selamat, istrimu sudah hamil enam minggu."Axel tiba-tiba berbalik, lalu mengangkat Windy dan memutarnya. Setelah tiba-tiba teringat sesuatu, dia menurunkan Windy secara perlahan dan dengan panik menyentuh perut Windy yang masih rata. "Apa aku akan melukai bayinya? Aku meremasmu terlalu kuat."Windy tertawa, lalu mencubit wajah Axel yang tegang, "Mana mungkin bayinya serapuh itu."Namun, Axel masih sangat gugup. Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, dia memperlambat laju kendaraan menjadi 40 km/jam. Setiap kali bertemu polisi tidur, dia bahkan ingin keluar dan meratakan jalan.Sesampainya di rumah, Axel segera mengeluarkan buku catatan dan mulai membuat daftar. Dia menulis tentang nutrisi kehamilan, jadwal pemeriksaan rutin, hal yang harus diperhatikan wa
Pada hari pernikahan mereka, Windy yang mengenakan gaun pengantin putih bersih berdiri di ujung karpet merah. Dia menggandeng lengan Irfan sambil tersenyum lembut.Mata Irfan memerah. Tangannya yang menggenggam tangan putrinya sedikit gemetar. Dia menarik napas dalam-dalam dan berbisik, "Windy, keinginan terbesarku dalam hidup ini adalah melihatmu bahagia." Windy pun merasa ingin menangis. Dia dengan lembut membalas genggaman tangan Irfan. "Ayah, aku sangat bahagia sekarang."Irfan mengangguk, lalu menahan air mata dan menuntun Windy berjalan selangkah demi selangkah ke arah Axel yang berdiri di ujung karpet merah.Axel mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Dia menatap Windy dengan mata membara dan penuh cinta yang tak tersembunyi. Ketika Windy akhirnya berdiri di hadapannya, dia menelan ludah dan berkata dengan suara agak serak, "Windy, aku sudah menunggu hari ini begitu lama."Pendeta tersenyum dan memberi isyarat agar mereka bertukar sumpah. Axel menarik napas dalam-dalam dan men
Windy berdiri di depan jendela. Axel memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya dengan lembut di atas kepalanya."Lagi mikir apa?" Napas hangat Axel menyapu telinga Windy.Windy bersandar ke pelukannya dan tanpa sadar tersenyum. "Aku lagi mikir soal pertemuan kita waktu itu dan kamu masukkan katak ke dalam tasku."Axel terkekeh dan Windy dapat merasakan getaran dadanya. "Kamu tahu nggak? Habis kamu dorong aku ke air mancur, aku mimpi buruk selama tiga hari berturut-turut!"Tawa dan percakapan riang terdengar dari lantai bawah. Irfan dan Rayyan sedang bermain catur di taman, sedangkan ibunya Axel dan koki Keluarga Lorandi sedang mendiskusikan menu untuk resepsi pernikahan.Sejak Windy dan Axel resmi berpacaran, kedua keluarga berkumpul hampir setiap minggu."Windy, ayo cicipi ini." Linda, ibunya Axel berjalan mendekat dengan membawa sepiring kue. "Aku sudah modifikasi kue osmanthus ini sesuai seleramu. Gulanya dikurangi jadi setengah saja." Windy menggigitnya. Aroma manis dan se
Yudha berdiri di luar vila Keluarga Lorandi dan menggenggam erat tas edisi terbatas yang mahal itu. Manset jasnya sudah usang, sedangkan sepatunya kehilangan kilaunya. Namun, matanya terlihat penuh tekad."Windy!" Ketika melihat Windy keluar, Yudha segera menghampirinya. "Lihat, ini tas yang kamu suka. Aku sudah membelinya."Hari ini, Windy mengenakan setelan berwarna krem dan rambutnya diikat dengan asal. Penampilannya terlihat santai sekaligus berkelas. Dia melirik tas di tangan Yudha dan tersenyum tipis."Oh?" Windy mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Di bawah tatapan penuh harap Yudha, dia tiba-tiba melepaskannya. Dengan bunyi "gedebuk", tas itu jatuh ke lantai.Windy mengangkat kakinya, lalu menginjak dan menggesek tas itu dengan sepatu hak tingginya tanpa menunjukkan belas kasihan."Kamu!" Mata Yudha melebar. Dia menyaksikan hal ini dengan tidak percaya."Apa yang kusuka kemarin sudah nggak kusuka hari ini," ucap Windy dengan santai. Matanya terlihat dingin, seolah-olah seda






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.