Short
Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening

Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening

Oleh:  AmelliaTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
28Bab
943Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Pada hari pertama pernikahan kami, aku berkata kepada suamiku yang merupakan seorang presdir, "Aku nggak keberatan kalau kamu jatuh cinta sama orang lain kelak. Tapi kalau orang itu berani buat keributan di depanku, kamu nggak akan pernah melihatku lagi." Jadi, ketika suamiku itu jatuh cinta pada seorang guru perempuan di sekolah, dia hanya bisa menyembunyikannya. Dia memberikan apa pun yang diinginkan wanita itu, tetapi melarangnya muncul di depanku. Hanya saja, wanita simpanan itu malah sangat tidak patuh mentang-mentang dimanjakan suamiku. Dia yang hamil malah membual di hadapanku. "Yudha sendiri yang bilang dia nggak pernah mencintaimu. Dia menikahimu cuma demi dapatkan keuntungan dari Keluarga Lorandi. Lebih baik kamu gugurkan kandunganmu dan bercerai dengannya secepat mungkin. Kalau tunggu sampai Yudha mencampakkanmu, kamu nggak akan dapatkan sepeser pun!" Aku tersenyum dan menghubungi nomor ayahku. "Tarik investasi untuk Grup Cengkara! Aku mau cerai."

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Windy Lorandi duduk di ruang VIP salon kuku, tetapi stafnya berkata dengan canggung, "Bu, saldo kartu keanggotaanmu nggak mencukupi."

Windy pun terkejut. Bulan lalu, suaminya, Yudha Cengkara, baru memberinya kartu itu dan mengatakan ada 60 juta di dalamnya. Ini adalah pertama kalinya dia menggunakan kartu itu.

Setelah memeriksa di komputer, staf itu berkata, "Bu Windy, ada transaksi sebesar 56 juta pada Kamis sore lalu."

"Kamis lalu? 56 juta?" Jari-jari Windy berhenti bergerak. "Aku ada di perusahaan hari itu."

Staf itu tergagap, "Pa ... Pak Yudha bawa seorang wanita datang. Waktu pergi, dia bilang 56 juta itu tip buat salah satu staf kami."

Jantung Windy tiba-tiba berdebar kencang dan telinganya berdengung. Kamis lalu, Yudha mengatakan akan bertemu klien dan baru pulang jam 8 malam. Dia juga mengeluh betapa sulitnya menghadapi klien tersebut.

Windy ingat dirinya mengakhiri rapat lebih awal untuk membuatkan sup pereda mabuk untuk Yudha.

"Aku mau periksa rekaman CCTV," kata Windy pelan. Hatinya tiba-tiba tenggelam.

Dalam rekaman itu, Yudha berjalan masuk bersama seorang gadis berbaju biru muda. Gadis itu mendongak dan mengatakan sesuatu, lalu Yudha tersenyum dan mengelus rambutnya.

Windy pun membeku. Gerakan intim itu membuat mereka terlihat seperti pasangan muda, seandainya Yudha bukan suaminya.

Tiba-tiba, Yudha dalam video itu berlutut dan mengecat kuku kaki gadis itu secara pribadi di bawah arahan tukang manikur. Setelah selesai, dia bahkan mengangkat kaki gadis itu dan menciumnya dengan penuh kasih.

Darah Windy terasa seperti sudah membeku. Yudha benar-benar mengesampingkan harga dirinya untuk mengecat kuku orang lain. Setelah pulang malam itu, Yudha bahkan menciumnya dengan mulut sama yang telah mencium kaki orang lain. Windy merasa sangat mual.

Video itu berlanjut dan menunjukkan Yudha tetap berada di sisi gadis itu sepanjang waktu. Saat pergi, dia mengambil tas putih gadis itu dengan alami.

Windy menatap layar dengan saksama. Tas itu sama persis dengan yang ada di lemarinya. Itu adalah hadiah yang dibawa Yudha dari perjalanan bisnisnya minggu lalu. Ternyata, Yudha tidak hanya memberikan tas itu kepadanya.

"Kirim videonya ke e-mail aku." Windy berdiri dengan kedua kaki yang terasa lemas. Dia mengambil tasnya, lalu bergegas keluar.

Setelah kembali ke vila, Windy langsung masuk ke ruang kerja. Jari-jarinya gemetar saat dia menekan nomor detektif swasta. "Aku mau tahu seluruh jadwal Yudha belakangan ini."

Tiga jam kemudian, e-mail Windy dibanjiri belasan foto. Yudha dan seorang gadis bernama Nadia terlihat berbelanja bahan makanan dan berpegangan tangan di bioskop. Foto yang paling mengejutkan adalah foto akta nikah yang menunjukkan bahwa mereka sudah "menikah" setahun lebih.

Windy gemetar tak terkendali. Dia ingat Yudha berlutut di hadapannya dalam resepsi pernikahan mereka dan bersumpah, "Windy, aku nggak akan pernah khianati kamu seumur hidupku."

Ternyata, seumur hidup yang dimaksud Yudha begitu singkat.

Ponsel Windy tiba-tiba bergetar. Detektif swasta itu ​​mengirimkan informasi tambahan.

[ Nadia Suwanto, 24 tahun, guru sekolah menengah internasional. Akta nikah itu palsu. Yudha suruh orang untuk membuatnya dengan harga 600 ribu. Yudha pergi ke apartemennya setiap Rabu dan Jumat sore. ]

Tangannya gemetar saat menekan sebuah nomor. "Ayah, kalau kita tarik investasi proyek energi terbaru Grup Cengkara itu ...."

"Ada apa?" Suara Irfan, ayah Windy tiba-tiba menjadi serius. "Yudha menindasmu?"

Kata-kata itu langsung menghancurkan Windy.

Di resepsi pernikahan mereka, Irfan yang berlinang air mata pernah meletakkan tangan Windy di atas tangan Yudha sambil berujar, "Kalau kamu berani buat putriku menderita, aku akan pastikan kamu nggak bisa lanjut bertahan di dunia bisnis."

"Dia ...." Tenggorokan Windy terasa seperti tersumbat. Dia tiba-tiba teringat ketika dirinya demam tinggi akibat pneumonia tahun lalu. Yudha membawanya ke UGD pada larut malam dan berlutut di samping tempat tidurnya selama tiga hari penuh. Bagaimana mungkin pria yang bersedia bergadang untuknya itu "menikah" dengan orang lain?

"Nggak apa-apa dulu untuk sekarang." Windy menggigit punggung tangannya keras-keras agar tidak menangis. "Tunggu kabarku."

Setelah menutup telepon, Windy mendengar pintu garasi dibuka.

Yudha berjalan masuk dengan membawa sebuah map. Wajahnya masih selembut biasanya. "Kamu pulang begitu cepat hari ini?"

"Emm, aku pergi manikur." Windy mengulurkan tangannya sambil berkata, "Pakai kartu keanggotaan yang kamu berikan."

Tubuh Yudha langsung menegang. Meskipun dia pulih dengan cepat, Windy tetap melihatnya dengan jelas.

"Ngomong-ngomong." Windy bertanya dengan santai, "Staf toko bilang, kamu bawa seorang gadis ke sana Kamis lalu?"

Ekspresi Yudha membeku sesaat. Dia mengamati ekspresi Windy dengan saksama. Melihat ekspresi Windy yang normal, dia tersenyum lembut. "Itu putri tetangga. Dia mau manikur, tapi takut pergi sendiri. Jadi, aku rekomendasikan tempat biasamu."

Yudha berjalan mendekat dan memeluk Windy. "Lapar nggak? Aku akan masak."

Windy memperhatikan Yudha berjalan menuju dapur. Hatinya dipenuhi kepahitan. Apakah jika dia tidak menemukannya, Yudha akan memperlakukannya seperti orang bodoh selamanya? Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Irfan.

[ Tarik investasi itu minggu depan. Aku mau cerai. ]

Setelah mengirim pesan, Windy melihat ke arah dapur. Yudha sedang memotong sayuran dengan gerakan terlatih. Apakah dia mengasah keterampilan memasaknya di rumah gadis itu selama setahun terakhir?

Windy berdiri, lalu melepas cincin pernikahannya dan meletakkannya di atas meja kopi. Dia berbalik dan berjalan menuju kamar tidur.
Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
28 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status