MasukMaya Sanchez moved into L.A with a plan, finish her medical residency and help her parents out, but when four men ambush her house in the middle of the night, she is forced to treat Holden, the brother of the man who turns her life upside down. Cassian White is the leader of the B-T-13 mafia that operates in Los Angeles, he is ruthless and all he cares about is maintaining the power he has but all that is threatened when he finds out he might be going blind. And like good luck, fate drops him an Ophthalmologist in the form of Maya Sanchez. He promises to clear her medical debt and give her a monthly allowance if she moves into his mansion and operate on him but what Maya doesn't know is that she is falling into a trap, and having two insanely hot brothers beside her at each moment of the day can prove to be more difficult than she thinks. Watch a medical and mafia love story unfold in a chaotic environment, from danger to not knowing which brother to choose.
Lihat lebih banyak"Nyonya Serena, hari ini tuan ingin mengajak anda makan malam bersama."
Serena yang tengah memakan sarapannya berhenti mengunyah. Wanita itu melirik pelayan yang menyela waktu sarapannya dengan tatapan kesal. "Katakan aku tidak bisa," jawab Serena dingin meletakkan kembali garpunya. Pelayan itu tampak terkejut saat Serena bangkit dari kursinya dan meninggalkan meja makan beserta piring yang masih dipenuhi makanan. Wanita itu sudah kehilangan selera makannya. Hanya dengan mendengar tentang suaminya, itu sudah cukup untuk merusak mood paginya. Serena kembali ke kamarnya. Seperti biasa, wanita itu hanya bermalas-malasan sambil menghamburkan uang suaminya. Membeli gaun dan permata keluaran terbaru tiap bulannya. Hidup dengan boros tanpa memikirkan harta suaminya yang semakin hari semakin kering akibat ulahnya. Bukan salahnya lagi jika suaminya jatuh miskin akibat gaya hidup Serena. Karena pria itu sudah berjanji diawal pernikahan mereka bahwa kehidupan Serena setelah menikah akan terjamin dan Serena bebas menggunakan uang milik suaminya untuk memenuhi seluruh kebutuhan wanita itu. "Serena." Serena terkesiap saat pintu kamarnya tiba-tiba dibuka. Raut wajahnya seketika masam ketika mendapati sosok yang tidak ingin dia lihat berdiri diambang pintu kamarnya. Pria tinggi besar menatap Serena dengan sepasang mata zambrutnya. "Tuan Darius, seharusnya Anda mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Apa Anda melupakan sopan-santun hanya karena saya adalah istri Anda?" Sambut Serena menatap pria yang dia nikahi tiga tahun yang lalu dengan sinis. "Maaf." "Saya yakin bukan itu yang ingin Anda katakan sampai Anda repot-repot datang kemari. Jadi katakanlah apa yang Anda inginkan?" Serena menyilangkan kedua tangan di dada, menatap suaminya dengan tatapan datar. Sikap Serena yang selalu dingin dan tak berbasa-basi membuat Darius menghela napas. Sejak pernikahan mereka, tak pernah sekalipun Serena memberikan tatapan bersahabat pada suaminya. Istrinya itu tidak menyukainya. Lebih buruk, Serena mungkin membencinya. Darius mengetahuinya. Tapi pria itu tidak bisa melakukan apa-apa selain berusaha memenuhi semua permintaan Serena. "Kudengar kamu memesan permata baru lagi. Apa yang ingin kukatakan itu tentang keuangan keluarga. Karena proyek senjata, keuangan kita akhir-akhir ini kurang bagus. Jadi—" "Jadi maksud Anda saya boros?! Anda ingin menyalahkan saya karena keuangan keluarga memburuk akibat gaya hidup saya yang boros, begitu?!" potong Serena dengan marah. Fakta bahwa Serena menghamburkan uang Darius itu memang benar. Lalu Serena juga tau bagaimana seluruh orang di kediaman ini memandangnya sebagai istri yang boros dan sombong, itu juga Serena mengetahuinya. "Tidak. Bukan begi—" "Saya mengerti! Mulai hari ini saya tidak akan membeli apapun dengan uang Anda lagi. Kalau tidak ada lagi yang ingin Anda katakan, saya harap Anda bisa segera pergi." Serena terang-terangan menunjukkan tatapan permusuhan. Darius yang sudah biasa mendapatkannya masih bersikap dengan tenang. Pria itu bahkan tak pernah tersinggung dengan sikap istrinya yang sekalipun tak pernah menghargainya. "Tentang makan malam—" "Saya akan makan di dalam kamar!" Darius menghela napas. Meski sudah kesekian kalinya Serena menolak ajakannya, pria itu sama sekali tak pernah lelah untuk berusaha bicara pada Serena. Dengan wajah lelah Darius berpamitan, "Kalau begitu selamat beristirahat." Setelah Darius keluar, Serena kembali merebahkan dirinya. Serena memukul-mukul kasurnya melampiaskan kekesalannya. 'Istri tuan yang boros dan sombong.' 'Istri benalu tuan Darius.' Selama ini Serena selalu menulikan telinganya atas komentar buruk orang-orang di kediaman suaminya. Serena tak pernah mempermasalahkannya selama suaminya sendiri tidak mempermasalahkan tentang seberapa boros dirinya. Tapi hari ini, Serena tidak bisa tinggal diam mendengar suaminya sendiri juga melayangkan komentar yang sama dengan orang-orang. Kira-kira apa yang dipikirkan Darius tentang Serena? Bahkan Serena tidak pernah memikirkannya. 'Istri yang dingin, sedingin kulit reptil' 'Istri tak berguna, tuan Darius yang malang' 'Wanita culas yang tak layak dijadikan istri' Itu adalah perkataan-perkataan buruk yang sering dilayangkan orang-orang di belakang Serena. Serena tentu mengetahuinya, tapi sejahat apapun mulut orang-orang Serena tetap memilih diam. Itu karena Serena berpikir tak ada gunanya untuk mempermasalahkannya. Memecat mereka hanya akan menimbulkan kerugian karena kastil Braun hanya memiliki sedikit pekerja. Selain itu apa yang dikatakan orang-orang tentang dirinya itu mungkin tidak salah. "Aku membencinya." Benar, Serena sungguh membencinya. Komentar buruk orang-orang, suaminya dan pernikahannya. Serena membenci semuanya. Darius Braun, dia menikahi pria itu semata-mata karena wasiat terakhir sang ayah. Jika bukan karena itu, Serena tak pernah mau menikah dengan Darius yang dua puluh tahun lebih tua darinya. Terlebih, tinggal di wilayah Braun yang terpelosok jauh dari keramaian ibu kota. Mustahil memiliki pernikahan yang bahagia. Serena bahkan tak sanggup untuk berhadapan dengan suaminya. Hanya ada rasa marah dan benci ketika dia melihatnya. Serena marah karena Darius setuju untuk menikahinya. Padahal jelas wasiat ayahnya hanya berlaku apabila Darius mau menerimanya. Apabila hari itu Darius menolak, maka wasiat sang ayah tidak akan berlaku dan Serena tidak perlu terjerat dalam pernikahan ini sekarang. Serena tidak pernah tertarik pada cinta dan pernikahan. Baginya kehidupan yang ia habiskan di kediaman ayahnya sudah cukup membahagiakan. Tak perlu suami. Serena yakin dirinya lebih bahagia jika hidup sendiri. Itulah kenapa Serena terus mengabaikan surat-surat dari para tuan muda yang datang di masalalu, sampai akhirnya sang ayah jatuh sakit dan memberikan wasiat terakhirnya, yaitu permintaan menikah dengan Darius. Mengapa? Mengapa diantara sekian banyaknya pria, ayahnya hanya memilih Darius, bukan yang lain? Padahal bisa saja ayahnya memilih salah satu pria yang pernah mengirim surat pada Serena. Tapi, ayahnya tidak melakukannya. Apa alasannya? Apa tujuannya? Hanya karena Darius adalah teman baiknya? Karena ayahnya begitu percaya bahwa Darius akan menjaga Serena setelah kematiannya? Apa yang sebenarnya diharapkan ayahnya dari pernikahan ini? Serena tak mengerti apa yang dipikirkan sang ayah saat memutuskan pernikahannya. Tidak pernahkah ayahnya berpikir jika putrinya mungkin tidak bahagia dengan wasiat pernikahan yang ditinggalkannya? Serena tidak bahagia. Pernikahannya sudah memasuki tahun ketiga dan kehidupannya terasa semakin hambar. Seandainya waktu bisa diputar ulang, Serena berharap dia tidak menikah dengan suaminya. "Nyonya!" Serena sudah hampir tertidur saat pintu kamarnya dibuka paksa dengan kasar dan teriakan seorang pria yang memanggilnya benar-benar menusuk telinga. Apa-apaan tindakan kurang ajar ini?! ***Maya's pov Three years later I balance my bag of groceries and my work bag in my hands closing the car door with my leg and walking to the house. An unfamiliar car is parked at the entrance and my brows furrow. Who does that belong to? I unlock the door and Mia's giggle echoes in the room. “I'm home,” I announce walking towards the kitchen where I can hear two male voices. I place the bags down just in time to watch Mia run out of the kitchen her ponytails swinging. “Mum,” Mia screams running into my arms. I lift her twirling her around. “How was your day?” I ask taking a strand of her hair from her face and tucking it behind her ear. “Good, Daddy's brother is here,” she says pointing to Holden who leans on the door his gaze boring into mine. “Hi Mommy,” he says making a chill run down my spine. I put her down and she rans back to the kitchen where I assume Leo was busy entertaining her with his dry jokes. He steps closer pulling me into his arms. His scent envelopes m
Maya's pov I watch from the window my father talking to Cassian who listens attentively and answers on occasion. I rub my belly not believing he is here. I thought I would never see him again. “Did you know he was coming?” I ask Leo who only shakes his head vigorously. He tends to keep things from me and I don't like it. “I promise,” he says when I squint my eyes at him. I huff looking forward and they hug. “Fuck,” I curse. They enter and I pull him in my arms again. “Can we talk?” I ask holding his bicep. We have so much to talk about and honestly, I have so much to tell him. He nods placing a kiss on my forehead. I bring him to my room avoiding the curious gazes of my mother. We sit on the edge of the bed and he rubs my belly. “How far?” “Five months and two weeks.” He smiles lifting my shirt to touch my baby bump. “Then why is it so big?” He asks making me cackle. “Uh, the baby must be fat.” He places his lips on it and I weave my fingers into his hair. “I
Cassian's pov I take the burban drink I was holding to my lips my mind plaqued with millions of thoughts. I don't want to change my face, but the nasty cut that runs through it makes me look like a monster, not that I am not and I'm a wanted fugitive. In my mind, this is not how things were supposed to work out, now that Maya's pregnant, my mum is alive. There's more reason to go through with this. “Ugh,” I groan massaging my temples. A presence behind me draws me out of my thoughts. “You must be Cassian,” the old man who I presume is James says. I shake his warm hand. “And you must be the man that kept my mother to himself.” He chuckles looking at the vast expanse of land filled with Marijuana. You would think my mother had enough of the mafia and then she goes ahead to marry an Italian Mob boss. But at least he treats her better. “She's gold, and I don't let go of precious things.” He says that as a joke but I can tell he is very serious. “All that matters is she's happy.” “
Cassian's povI place the phone on my chest wishing I had talked to her more but that involves me getting caught and her inquiring about how I am.The bed cuts through my skin but two months of this has toughened me up a bit. I thought I knew suffering but my time here only showed me what I had gone through was a teardrop in an ocean. The cold bits on my skin and my face is still sore from the earlier injury, but it's fine since it stopped bleeding. I close my eyes imagining Maya stitch me up and suddenly I feel worse.“I need to find a way out of here,” I whisper my chest tightening.I look at my phone hoping Victor will call but two hours later still nothing. I need to get out of here and I'm not going to work for someone who is in the cartel.I'm done with that life and nobody will convince me otherwise.The guards' warning about coming in about thirty minutes floods my mind. Shit. I turn again and speak of the devil he appears by the door.“What did you decide?” He asks his face s
Maya's povI flip the envelope in my hand ready to open it just to piss him off. He just keeps on getting worse and if that's not enough he even sends Holden after a girl.How could he?My fingers slide under the seal tearing the top off not caring about the consequences. The paper rustles as I tak
Cassian's pov“Again,” I repeat, my hand on my chin. He takes a deep breath before starting.“Maya said she was going to have milkshakes with her friend Jenny for thirty minutes in the cafe near the hospital. She told me to wait for her and when she was done she would come find me. So I waited for
Cassian's povMaya's heels click against the pristine marble floor, the sound echoing through the towering lobby. “Maya,” I call.“Maya,” I repeat. Her curious eyes meet mine, and for a second I'm pulled to her shimmering lips. “Stop looking around, eyes ahead.”She narrows her eyes at me but nods
His figure leaves the room and I clutch my head. What did I just do? I can't be that stupid, I can't move into his house, I can't operate on him, I'm toast. I take a seat at the couch rubbing my thighs up and down. The nagging feeling that I missed something still lingers even as the hours went












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.