เข้าสู่ระบบUsai bicara, aku langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.Aku memutar keran hingga aliran air yang paling deras. Air panas yang menyengat terus mengguyur tubuhku, tapi aku tak merasakan kehangatan sedikitpun.Saat memejamkan mata, wajah Johan yang tampan sekaligus penuh aura nakal itu malah kembali terbayang di benakku.Habislah riwayatku.Benar-benar sudah tamat.Tepat setelah aku selesai mandi dan keluar hanya dengan balutan handuk, ponselku berdering.Ada sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal.Aku membukanya.[Aku di bawah rumahmu.]Itu dari Johan.Hanya empat kata singkat, tapi membawa perintah yang tak menerima penolakan.Seketika, jantungku berdegup kencang tak karuan.Sudah semalam ini, untuk apa dia datang ke sini?Ken ada di kamar sebelah.Aku reflek ingin menghapus pesan itu dan pura-pura tak melihatnya.Namun, jariku malah bertindak di luar kendali dan mengetik sebuah jawaban.[Iya.]Begitu pesan berhasil terkirim, aku sadar bahwa diriku sudah tak bisa kembal
Itu adalah sebuah rangsangan yang luar biasa hebat dan sulit dijelaskan dengan kata-kata.Di hadapan suamiku, serta ayah dan ibu mertuaku, diriku sedang digoda oleh pria lain dengan cara seperti ini.Rasa bersalah dan gairah bercampur menjadi satu bagaikan ombak pasang yang menenggelamkanku sepenuhnya.Aku bisa merasakan aliran hangat itu kembali mendesak keluar tanpa bisa dikendalikan.Mengalir turun membasahi pahaku secara perlahan.Sensasi basah yang lengket itu membuatku merasa sangat malu.Tepat pada saat itu, gerakan kaki Johan tiba-tiba terhenti.Sepertinya dia juga menyadari sesuatu.Dia agak menundukkan kepala, mengarahkan pandangannya ke lantai di antara posisi duduk kami berdua.Kemudian, dia mendongak dan melemparkan senyuman penuh makna ke arahku.Senyuman itu tampak sangat puas dan penuh godaan.Seolah-olah sedang berkata lihat, kamu basah lagi.Aku tak sanggup menahannya lagi.“Aku… aku ke kamar mandi sebentar.”Aku langsung buru-buru berdiri. Karena gerakanku yang terla
Seluruh tubuhku membeku, darahku seolah mendadak berhenti mengalir.Kok dia bisa ada di sini?!“Eh, Johan sudah datang? Ayo, silakan duduk,” sapa ayah mertua dengan hangat.“Hari ini benar-benar sudah merepotkanmu, sampai harus sengaja datang ke sini untuk mengantarkan dokumen penting ini.”Ternyata dia datang untuk mengantarkan dokumen.Aku menundukkan pandangan, mencoba menyembunyikan kepanikan di tatapanku.Johan melepaskan mantelnya, menampilkan kemeja putihnya yang tampak rapi. Lengan kemejanya digulung sampai ke siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang kekar.Layaknya tamu yang sudah biasa berkunjung ke rumah ini, dia dengan santai duduk di sofa tunggal yang berada tepat di hadapanku.Terhalang oleh sebuah meja, tatapan matanya langsung tertuju lekat-lekat padaku.Tatapan itu terasa sangat agresif, seolah-olah sanggup menembus gaunku untuk melihat kondisiku yang saat ini sedang ‘kosong’.Pipiku memanas tanpa bisa dikendalikan. Aku reflek merapatkan kedua kakiku semakin erat.“Re
“Jangan takut,” ujarnya.“Waktu kita… masih sangat panjang.”Usai bicara, dia bangkit berdiri dan menatapku untuk terakhir kalinya dengan sorot mata yang sulit diartikan.Kemudian, dia berbalik dan melangkah meninggalkan studio.Begitu mendengar suara pintu ditutup, akhirnya pertahananku runtuh dan aku pun menangis histeris.Aku menatap diriku sendiri di dalam cermin, pakaian yang berantakan dan wajah penuh air mata, membuat hatiku dirundung keputusasaan yang mendalam.Apa yang harus kulakukan?Kapan permainan ‘penerus keturunan’ yang konyol dan diatur sepenuhnya oleh ayahku ini akan berakhir?Atau permainan ini… akan berakhir suatu hari nanti?Aku tak tahu.Aku hanya tahu bahwa tubuh dan hatiku perlahan-lahan mulai terjerat oleh pria bernama Johan itu tanpa bisa dikendalikan.Saat aku larut dalam lamunanku, ponselku kembali berdering.Kukira itu panggilan dari Ken lagi, jadi aku langsung mengangkatnya tanpa melihat.“Halo?”“Ini aku.”Dari balik telepon, terdengar suara Johan yang ber
Setiap dia menekan, terdengar suara basah yang becek, suaranya sangat jelas sekaligus menggoda di dalam studio yang sunyi ini.Aku merasa begitu malu hingga rasanya ingin menghilang saja.Di dalam cermin, aku melihat diriku sendiri yang sedang memejamkan kedua mata. Air mata tampak bergantung di bulu mata panjangku, bibirku juga bengkak, benar-benar memperlihatkan sosok yang sudah pasrah dipermainkan.Di bawah godaannya, tubuhku bergetar pelan tanpa bisa dikendalikan, malah seolah menyambut setiap gerakan yang dia lakukan.Aku bahkan merasa asing dengan diriku yang tampak begitu liar.“Benar-benar… penggoda alami.”Ujarnya memuji, gerakan jarinya juga semakin kurang ajar.Tak lagi puas dengan godaan yang terhalang kain, dia langsung menggeser celana dalam thong yang malang itu ke samping.Tekstur ujung jarinya yang kasar kini menyentuh area tersembunyi yang paling lembut tanpa ada lagi penghalang apapun.Aku spontan menarik napas dalam, tubuhku menegang seperti busur yang ditarik penuh
Aliran hangat di dalam tubuhku berkumpul bagaikan lahar, bergolak hebat di perut bagian bawahku, mendesak kuat mencari jalan keluar.Aku benar-benar hampir tak sanggup lagi.Aku mencengkeram lengannya, hingga kuku-kukuku tertusuk dalam ke kulit.“Kumohon… Johan… lepaskan aku….”“Lepaskan kamu?” Dia menghentikan gerakannya, menurunkan kakiku, tapi malah memanfaatkan kesempatan itu untuk membalikkan tubuhku dan menekannya ke cermin.Seketika, permukaan cermin yang dingin membuatku merinding.Aku terpaksa menghadap ke cermin, menatap sosok diriku yang tampak malang, serta pria di belakangku yang terlihat bagaikan seekor binatang buas.Dia menempel erat dari belakang, mengurungku sepenuhnya di bawah bayang-bayang tubuhnya.“Rebeca.” Ini pertama kalinya dia memanggil namaku.Dengan suara yang sangat serak, dia melanjutkan, “Misi kita baru saja dimulai.”Kedua tangannya menyelinap masuk dari balik ujung bawah bajuku.Telapak tangannya yang panas langsung menyentuh kulit pinggangku yang halus







