Share

Misi Rahasia Di Dalam Kapar Persiar
Misi Rahasia Di Dalam Kapar Persiar
Author: Liam

Bab 1

Author: Liam
Namaku Rebeca, seorang perempuan yang dibesarkan layaknya burung kenari di dalam sangkar emas.

Aku sudah belajar menari sejak kecil. Tubuhku lentur dan pembawaanku anggun, membuat orang lain melihatku sebagai peri yang tak tersentuh oleh urusan duniawi.

Namun, di balik penampilanku yang dingin itu, mereka tak tahu betapa aku mendambakan percikan gairah.

Hari ini adalah pesta kapal pesiar yang diadakan oleh perusahaan suamiku, Ken. Sebagai istrinya, aku mengenakan gaun tali panjang berbahan sutra warna biru dengan potongan punggung yang sangat rendah, nyaris memperlihatkan lekukan tulang ekor.

Bahan gaun itu sangat tipis dan melekat ketat di tubuhku, menonjolkan lekuk bokongku yang montok dan dadaku yang kencang, berkat latihan menari bertahun-tahun.

Demi mendapatkan tampilan yang benar-benar mulus, aku bahkan tak memakai bra dan hanya menggunakan dua lembar nipple pad kecil.

Saat angin laut berhembus, ujung gaunku melambai, kain sutra yang dingin itu bergesekan dengan paha bagian dalamku, menghadirkan rasa geli yang samar.

Sambil memegang gelas sampanye, aku berjalan di antara para tamu dengan senyuman ramah, padahal hatiku terasa sangat hampa.

Suamiku, Ken sedang asik mengobrol dengan beberapa rekan bisnisnya tanpa melirikku sedikitpun.

Selama satu tahun pernikahan, kami saling menghormati layaknya tamu, tapi ada perasaan sama sekali. Dia bahkan sangat jarang menyentuhku.

Dulu, aku mengira dia hanya terlalu lelah bekerja. Hingga akhirnya setengah bulan lalu, aku tak sengaja menemukan laporan pemeriksaan kesehatan yang dia sembunyikan.

Azoospermia.

Satu kata itu bagaikan sambaran petir di siang bolong, membuat kepalaku pusing dan pandanganku kabur.

Yang lebih membuatku hancur adalah Halim, ayahku yang sangat gila kendali ternyata juga mengetahui hal ini.

Dia memanggilku ke ruang kerja dan menyodorkan sebuah dokumen ke hadapanku.

“Rebeca, Ken nggak bisa diandalkan, tapi keluarga kita nggak boleh nggak ada penerus.”

Suaranya terdengar dingin.

“Ini data tentang Johan. Dia adalah bawahan kepercayaanku yang paling hebat, tubuhnya sehat dan kecerdasannya di atas rata-rata. Aku sudah membuat kesepakatan dengannya untuk membantumu… menyelesaikan misi untuk meneruskan garis keturunan kita.”

Seluruh tubuhku terasa membeku. Aku menatap ayahku dengan tak percaya.

“Ayah! Kamu sudah gila?! Mana bisa begitu?!”

“Apa yang nggak boleh?” potongnya.

“Setelah urusan ini selesai, aku akan memberinya uang yang cukup untuk dia foya-foyakan seumur hidup, lalu menyuruhnya menghilang untuk selamanya. Ini adalah pilihan terbaik bagi kita semua.”

Johan….

Aku pernah mendengar nama itu.

Dia adalah senjata paling tajam milik ayahku. Hanya dalam beberapa tahun, dia berhasil merangkak dari posisi paling bawah hingga ke jajaran petinggi perusahaan. Orangnya kejam dan penuh ambisi.

Aku pernah melihatnya beberapa kali dari kejauhan. Aku hanya ingat tubuhnya sangat tinggi, bahunya bidang dan tatapan matanya tajam seperti serigala.

Aku tak bisa membayangkan jika harus berhubungan dengan pria sehebat itu….

Di tengah lamunanku, tiba-tiba kapal pesiar berguncang hebat.

Aku tak berdiri stabil, langsung memekik kaget dan hampir saja terjatuh.

Namun, sepasang tangan kekar yang kuat langsung menopangku.

Tangan itu terasa sangat panas seperti besi membara. Melalui kain sutra yang tipis, tangan itu mencengkeram pinggangku dengan erat.

Dengan rasa terkejut yang belum hilang, aku mendongak dan langsung bertatapan dengan sepasang mata yang dalam.

Itu dia.

Johan.

Ternyata dia jauh lebih tinggi dari yang kubayangkan. Setelan jas hitam yang pas di tubuhnya membuatnya tampak seperti seekor macan tutul yang siap menerkam mangsanya.

Jaraknya terlalu dekat denganku, sangking dekatnya hingga aku bisa mencium aroma tembakau yang segar berpadu dengan aroma hormon pria yang langsung menyebar dan mengurungku.

“Hati-hati, Nona Rebeca.”

Suaranya terdengar berat dan serak dengan sedikit nada menggoda, sementara pandangannya langsung tertuju pada dadaku tanpa ragu.

Tatapannya begitu agresif, seolah-olah ingin menembus kain tipis ini untuk melihat seluruh tubuhku.

Pipiku terasa panas dan aku reflek mencoba mendorongnya menjauh.

“Terima kasih, aku sudah nggak apa-apa.”

Namun, tangannya seperti tongkat besi, tak bergerak sedikitpun. Dia bahkan bergerak nakal dengan mengusap lembut bagian pinggangku yang sensitif.

Sentuhan ujung jarinya yang kasar terasa menembus kain sutra, membuat sensasi asing bagaikan aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhku.

“Pak Halim sudah bilang padaku,” ujarnya sambil membungkuk, menghembuskan napas panas tepat di daun telingaku. Lalu melanjutkan, “Mengenai masalahmu dan juga misiku.”

Seketika, otakku langsung terasa kosong.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Misi Rahasia Di Dalam Kapar Persiar   Bab 12

    Usai bicara, aku langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.Aku memutar keran hingga aliran air yang paling deras. Air panas yang menyengat terus mengguyur tubuhku, tapi aku tak merasakan kehangatan sedikitpun.Saat memejamkan mata, wajah Johan yang tampan sekaligus penuh aura nakal itu malah kembali terbayang di benakku.Habislah riwayatku.Benar-benar sudah tamat.Tepat setelah aku selesai mandi dan keluar hanya dengan balutan handuk, ponselku berdering.Ada sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal.Aku membukanya.[Aku di bawah rumahmu.]Itu dari Johan.Hanya empat kata singkat, tapi membawa perintah yang tak menerima penolakan.Seketika, jantungku berdegup kencang tak karuan.Sudah semalam ini, untuk apa dia datang ke sini?Ken ada di kamar sebelah.Aku reflek ingin menghapus pesan itu dan pura-pura tak melihatnya.Namun, jariku malah bertindak di luar kendali dan mengetik sebuah jawaban.[Iya.]Begitu pesan berhasil terkirim, aku sadar bahwa diriku sudah tak bisa kembal

  • Misi Rahasia Di Dalam Kapar Persiar   Bab 11

    Itu adalah sebuah rangsangan yang luar biasa hebat dan sulit dijelaskan dengan kata-kata.Di hadapan suamiku, serta ayah dan ibu mertuaku, diriku sedang digoda oleh pria lain dengan cara seperti ini.Rasa bersalah dan gairah bercampur menjadi satu bagaikan ombak pasang yang menenggelamkanku sepenuhnya.Aku bisa merasakan aliran hangat itu kembali mendesak keluar tanpa bisa dikendalikan.Mengalir turun membasahi pahaku secara perlahan.Sensasi basah yang lengket itu membuatku merasa sangat malu.Tepat pada saat itu, gerakan kaki Johan tiba-tiba terhenti.Sepertinya dia juga menyadari sesuatu.Dia agak menundukkan kepala, mengarahkan pandangannya ke lantai di antara posisi duduk kami berdua.Kemudian, dia mendongak dan melemparkan senyuman penuh makna ke arahku.Senyuman itu tampak sangat puas dan penuh godaan.Seolah-olah sedang berkata lihat, kamu basah lagi.Aku tak sanggup menahannya lagi.“Aku… aku ke kamar mandi sebentar.”Aku langsung buru-buru berdiri. Karena gerakanku yang terla

  • Misi Rahasia Di Dalam Kapar Persiar   Bab 10

    Seluruh tubuhku membeku, darahku seolah mendadak berhenti mengalir.Kok dia bisa ada di sini?!“Eh, Johan sudah datang? Ayo, silakan duduk,” sapa ayah mertua dengan hangat.“Hari ini benar-benar sudah merepotkanmu, sampai harus sengaja datang ke sini untuk mengantarkan dokumen penting ini.”Ternyata dia datang untuk mengantarkan dokumen.Aku menundukkan pandangan, mencoba menyembunyikan kepanikan di tatapanku.Johan melepaskan mantelnya, menampilkan kemeja putihnya yang tampak rapi. Lengan kemejanya digulung sampai ke siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang kekar.Layaknya tamu yang sudah biasa berkunjung ke rumah ini, dia dengan santai duduk di sofa tunggal yang berada tepat di hadapanku.Terhalang oleh sebuah meja, tatapan matanya langsung tertuju lekat-lekat padaku.Tatapan itu terasa sangat agresif, seolah-olah sanggup menembus gaunku untuk melihat kondisiku yang saat ini sedang ‘kosong’.Pipiku memanas tanpa bisa dikendalikan. Aku reflek merapatkan kedua kakiku semakin erat.“Re

  • Misi Rahasia Di Dalam Kapar Persiar   Bab 9

    “Jangan takut,” ujarnya.“Waktu kita… masih sangat panjang.”Usai bicara, dia bangkit berdiri dan menatapku untuk terakhir kalinya dengan sorot mata yang sulit diartikan.Kemudian, dia berbalik dan melangkah meninggalkan studio.Begitu mendengar suara pintu ditutup, akhirnya pertahananku runtuh dan aku pun menangis histeris.Aku menatap diriku sendiri di dalam cermin, pakaian yang berantakan dan wajah penuh air mata, membuat hatiku dirundung keputusasaan yang mendalam.Apa yang harus kulakukan?Kapan permainan ‘penerus keturunan’ yang konyol dan diatur sepenuhnya oleh ayahku ini akan berakhir?Atau permainan ini… akan berakhir suatu hari nanti?Aku tak tahu.Aku hanya tahu bahwa tubuh dan hatiku perlahan-lahan mulai terjerat oleh pria bernama Johan itu tanpa bisa dikendalikan.Saat aku larut dalam lamunanku, ponselku kembali berdering.Kukira itu panggilan dari Ken lagi, jadi aku langsung mengangkatnya tanpa melihat.“Halo?”“Ini aku.”Dari balik telepon, terdengar suara Johan yang ber

  • Misi Rahasia Di Dalam Kapar Persiar   Bab 8

    Setiap dia menekan, terdengar suara basah yang becek, suaranya sangat jelas sekaligus menggoda di dalam studio yang sunyi ini.Aku merasa begitu malu hingga rasanya ingin menghilang saja.Di dalam cermin, aku melihat diriku sendiri yang sedang memejamkan kedua mata. Air mata tampak bergantung di bulu mata panjangku, bibirku juga bengkak, benar-benar memperlihatkan sosok yang sudah pasrah dipermainkan.Di bawah godaannya, tubuhku bergetar pelan tanpa bisa dikendalikan, malah seolah menyambut setiap gerakan yang dia lakukan.Aku bahkan merasa asing dengan diriku yang tampak begitu liar.“Benar-benar… penggoda alami.”Ujarnya memuji, gerakan jarinya juga semakin kurang ajar.Tak lagi puas dengan godaan yang terhalang kain, dia langsung menggeser celana dalam thong yang malang itu ke samping.Tekstur ujung jarinya yang kasar kini menyentuh area tersembunyi yang paling lembut tanpa ada lagi penghalang apapun.Aku spontan menarik napas dalam, tubuhku menegang seperti busur yang ditarik penuh

  • Misi Rahasia Di Dalam Kapar Persiar   Bab 7

    Aliran hangat di dalam tubuhku berkumpul bagaikan lahar, bergolak hebat di perut bagian bawahku, mendesak kuat mencari jalan keluar.Aku benar-benar hampir tak sanggup lagi.Aku mencengkeram lengannya, hingga kuku-kukuku tertusuk dalam ke kulit.“Kumohon… Johan… lepaskan aku….”“Lepaskan kamu?” Dia menghentikan gerakannya, menurunkan kakiku, tapi malah memanfaatkan kesempatan itu untuk membalikkan tubuhku dan menekannya ke cermin.Seketika, permukaan cermin yang dingin membuatku merinding.Aku terpaksa menghadap ke cermin, menatap sosok diriku yang tampak malang, serta pria di belakangku yang terlihat bagaikan seekor binatang buas.Dia menempel erat dari belakang, mengurungku sepenuhnya di bawah bayang-bayang tubuhnya.“Rebeca.” Ini pertama kalinya dia memanggil namaku.Dengan suara yang sangat serak, dia melanjutkan, “Misi kita baru saja dimulai.”Kedua tangannya menyelinap masuk dari balik ujung bawah bajuku.Telapak tangannya yang panas langsung menyentuh kulit pinggangku yang halus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status