เข้าสู่ระบบ"Ibu mau kemana lagi sih?" Kali ini aku mendekati ibu yang berjalan keluar dengan menyeret sebuah koper besar.
"Ibu bermalam lagi di rumah teman Nil. Jangan lupa nanti kirimi Robi makan siang lho." Lalu tak lama kemudian, Pak Parman yang merupakan salah seorang tetangga kamipun datang dan gegas memasukkan semua barang-barang ke dalam bagasi mobil. Tak terkecuali koper besar yang ku lihat tadi. "Tapi buat apa bawa barang sebanyak ini kalau cuma sehari?" Aku masih penasaran. Ibu lantas membalikkan badan untuk berhadapan denganku. Lalu ibu mencubit pucuk hidungku dengan gemas. "Tumben sih mantu ibu ini kepo banget. Nanti ibu kasih voucher ke klinik kecantikan mau gak?" Jelas saja ku kembangkan senyum padanya. Lagian siapa yang akan menolak tawaran tersebut. Mertuaku ini memang sangat royal bahkan sebelum aku meminta padanya. "Tapi ibu pulang besok lho ya. Jangan nunda-nunda kayak kemarin. Kasihan Robi yang khawatir." Ibu mengangguk dan kemudian segera masuk ke dalam mobil. Pak Parman yang masih berdiri di sebelahku selepas ibu pergi pun berniat untuk pamit tapi aku langsung menghalanginya terlebih dahulu. "Mbak Nilna mau ngajak ngapain nih?" Aku membelalakkan mata melihat pria setengah tua itu tertawa keras. "Wah, boleh juga nih bapak-bapak." Dia semakin mengeraskan tawanya. Kemudian duduk di kursi teras. "Kok bapak tau kalau ibu mau pergi dan ngebantuin masukin barang-barang ke mobil?" "Ya Bu Salma kan tadi pagi ke rumah bapak, minta tolong buat bantuin gitu." Lalu Pak Parman mengeluarkan selembar uang berwarna biru dan memerkannya padaku. "Enak nih buat ngopi di warung janda pirang depan gang?" "Mbak Nilna tau aja. Nih bapak sudah boleh pulang belum?" Akupun mengangguk. Setelah semua urusan rumah beres. Aku mengecek keadaan Amar terlebih dahulu untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja. "Eh Mbak Nil, ada yang ngirim pesan ke aku ngakunya sih mas-mas kemarin." Aku mengerutkan kening mendengar Amar bercerita saat baru saja masuk ke dalam kamarnya. "Nanyain kabar?" Dia menggeleng pelan. "Malah nanyain isi jok motor. Terus nanya lagi, sebelum aku pergi ngecek jok motor dulu nggak." "Mungkin dia cuma memastikan kalau ada barang yang penting sih Mar." Aku memberi tanggapan atas ceritanya. "Bukan kayaknya. Orang dia kayak maksa aku buat jawab lihat isi jok gak sebelumnya." Amar menunjukkan raut kesal dan heran dalam waktu bersamaan dan membuatku ikutan bertanya tentang apa maksudnya. "Kak Nil, bude kemana?" Aku menaikkan kedua bahuku secara bersamaan. "Tau tuh, dolan terus dari kemarin." "Tapi semalam aku lihat bude sibuk beresin kamar Kak Bobi." Lanjutnya. Aku langsung menghentikan aktifitasku yang tengah melipat selimutnya. "Serius?" Amar mengangguk. "Emang kamu ngintip?" Dia mengangguk lagi. "Pas bude ngangkatin barang-barangnya kan jelas lewat sini kak." Benar juga yang dikatakan oleh Amar. Memang letak kamar Amar ini dekat dengan tangga yang menjadi akses lantai satu dan lantai dua. Televisi masih menyala, tapi aku tak bisa fokus untuk menontonnya. Cerita Amar tentang ibu, masih terngiang jelas di kepalaku. "Bengong terus." Robi menyenggol lenganku dengan keras dan membuatku langsung menoleh padanya. Posisi kita sekarang sedang duduk di atas ranjang kamar. "Kamu tau engga kemana ibu pergi?" Robi menggeleng dengan pelan. Dia meletakkan ponselnya di atas meja sebelah ranjang. "Tau nggak kalau ibu pergi bawa banyak tas dan satu koper besar?" Kini Robi justru mendekatkan wajahnya tepat dihadapanku. Sangat jelas keterkejutan diwajahnya. "Memangnya ibu mau pergi berapa lama? Cuma izin sehari aja." Sebuah pertanyaan yang membuatku semakin penasaran dan menaruh curiga kepada ibu.Langit di atas pemakaman sore itu tampak muram, seolah semesta pun enggan berhenti berduka. Bau tanah basah yang bercampur dengan aroma bunga kamboja terasa menyesakkan dada. Aku berdiri di samping Robi yang bahunya masih bergetar hebat. Di bawah gundukan tanah yang masih merah itu, terkubur sesosok wanita luar biasa yang baru kami sadari keberaniannya setelah ia tiada. Ibu Salma."Nil, aku ini anak macam apa?" bisik Robi lirih. Suaranya pecah, tersapu angin sore. "Aku menghakimi Ibu, menganggapnya kejam karena kematian Bobi, sementara Ibu justru menyerahkan nyawanya untuk menghancurkan orang yang merusak adikku."Aku hanya bisa mengeratkan pelukanku pada lengan suamiku. Tidak ada kata-kata yang bisa menyembuhkan luka ini. Kehilangan dua orang tercinta dalam waktu kurang dari dua bulan adalah ujian yang nyaris membuat kami kehilangan kewarasan.Setelah para pelayat pulang, Tante Wanda mendekati kami dengan wajah sembap. Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat yang
[Tante, Haryono sudah sepakat. Hari ini jangan ke mana-mana, ya. Di rumah saja.]Pesan dari Krisna pagi ini masih terpampang di layar ponsel. Namun, membacanya justru semakin menguatakan tekadku untuk melakukan apa yang sudah kupikirkan sejak semalam.Aku sudah bersiap, membawa mukena dan buku Yasin. Tanpa berpamitan pada Nilna maupun Robi, aku mengambil kunci motor Bobi. Motor itu sebenarnya masih baru dan jarang ia gunakan, tapi hari ini aku membutuhkannya.Saat baru saja keluar dari halaman rumah, suara seseorang menghentikanku.“Bu Salma, udah dandan cantik aja?”Cindy sedang menyapu halaman rumahnya. Aku menghentikan motor dan tersenyum padanya.“Gak masuk kerja, Cin?” tanyaku.Dia menggeleng lemas. “Sebentar lagi mau praktik magang, Bu. Makanya aku resign.”Aku mengangguk paham, lalu menyerahkan kantong plastik berisi beberapa gamis dan jilbab yang masih bagus.“Ka
"Nilna sama Robi marah, Kris." Aku meletakkan secangkir teh hangat yang kupesan barusan setelah menyeduhnya.Bukannya terlihat simpati, dia justru tertawa dengan lirih. Lalu meletakkan ponselnya tepat di hadapanku."Haryono sepertinya tertarik. Tapi Aditama juga baru saja memberikan tanggapan." Aku justru mengerucutkan bibirku seolah kesal dengan keterlambatan Aditama."Terus, apakah Tante harus memberikan ini pada Aditama saja?""Tante tahu Wilona?" Aku mengangguk dengan ragu. Seingatku, Wilona adalah putri dari Aditama yang akan menikah dengan Ricard. "Dia baru saja bertemu dengan Nilna. Bagaimana kalau Tante juga ikut serta menyerangnya?""Tapi, Kris ....""Biarkan saja, setidaknya dia tak masuk kubangan oleh suami dan ayahnya sendiri." Sesaat jawaban dari Krisna membuatku terdiam.Jangan tanya bagaimana perasaanku saat ini, pasti sangat melelahkan. Terpaksa menumbuhkan rasa benci dari putra sulungku untuk tak membenci adiknya. Tap
Aku hanya bisa diam saja saat Nilna mengajakku untuk pergi ke panti asuhan. Aku tahu maksud mereka ke sini. Tapi bagaimana dengan hatiku yang masih terus terbayang dengan Bobi?"Bu Salma, bukankah lebih baik mengatakan pada Mbak Nilna dan juga Mas Robi bahwa Ibu donatur pembangunan gedung yang tengah direnovasi?"Aku menggeleng pada wanita seusiaku yang sekarang menatap padaku. Lantas dengan cepat menggeleng padanya."Jangan ya, Bu. Biarkan saja mereka tak pernah tahu." Wanita ini semakin lekat menatapku dan kemudian membelai lembut pundakku. Tampak wajahnya menunjukkan raut kesedihan.Aku tahu, Nilna baru saja memeras Ricard untuk harga video yang sengaja kubiarkan tak terhapus di flashdisk kecil peninggalan Bobi.[Tan, bukannya ini alamat rumah Tante?]Krisna mengirimiku pesan saat aku baru saja tiba dan masuk ke dalam kamar. Keningku berkerut untuk memastikan bahwa alamat tersebut memang benar di sini."Ada apa, Kris?"
"Akhirnya saya bisa juga ketemu sama Nilna." Krisna mengulas senyum saat aku mengunjunginya di klinik kecantikan."Benarkah?" Dia mengangguk. Kami berdua memang sempat bingung memikirkan cara agar Krisna bisa bertemu dengan Nilna dan Robi tanpa terlihat disengaja."Saya beli pembalut untuk Alex." Dia tertawa lagi. Aku hanya membalasnya dengan senyum getir. Entah kenapa setiap membahas pembalut, hatiku seolah tersayat karena mengingat Bobi."Alex positif herpes genital, sekarang sedang diusahakan untuk berobat ke luar negeri." Aku hanya bisa mengembuskan napas dengan keras.Padahal sudah banyak kasus tentang penyakit menular seperti ini, tapi kenapa juga masih banyak orang yang terjerumus dan seolah mengacuhkannya.Krisna lalu menyerahkan sebuah voucher diskon dari kliniknya untuk bisa digunakan oleh Nilna. Aku paham maksudnya sekarang."Tan, akhir pekan ada acara grand launching apartemen milik Haryono Corporation." Aku mas
"Ibu, jangan tidur dulu. Kita bahas masalah yang tertunda." Robi mencoba mengingatkanku yang baru saja meletakkan bekas piringnya ke wastafel. Membuatku menghela napas panjang."Sekarang aja, Rob, Ibu juga sudah capek ini." Akhirnya aku pergi ke kamar untuk mengambil hasil pemeriksaan Bobi saat itu. Sesuai saran Krisna, aku sudah menyalinnya sebelum menyerahkannya kepada Robi kali ini."Rob, sekitar sebulan sebelum Bobi meninggal, Ibu mengantarnya periksa." Aku meletakkan map itu di atas meja dan langsung dibuka oleh Nilna."Granuloma Inguinale?" Robi membacanya dengan terbata-bata. "Apa ini, Bu?""Coba kamu cari di internet saja, Rob, Ibu kesusahan jika harus menjelaskannya." Aku masih memperhatikan dengan seksama saat mereka nampak terkejut dengan tatapan lurus ke ponselnya.Mataku membulat dan terperangah seolah tak percaya dengan apa yang kubaca di laman tersebut."Apa, Nil?" Robi nampak bertanya pada istrinya, Nilna."Pe







