LOGINThe Blackwood pack is on the brink of extinction due to a mysterious illness that has been decimating their numbers. In a desperate attempt to save their pack, the Alpha has invited other werewolf packs to send their strongest warriors to mate with their females in the hopes of producing stronger offspring who can fight off the illness. Mia finds out that she is mated to three different Alphas of the different packs and their unified powers are to be used to cure the pack of the rampaging illness. Mia must navigate treacherous waters as she tries to uncover the truth and save her pack while dealing with her complicated feelings for her three mates.
View More“Aku hamil anakmu, tapi kamu malah sibuk berpacaran dan akan menikah dengan wanita lain!? Tega kamu!”
Seruan nyaring Alisha di restoran elit ibu kota itu menarik perhatian semua orang. Alisha berdiri di tengah ruang restoran, tepat di hadapan seorang pria yang tengah makan bersama wanita lain. Air mata mengalir deras menuruni wajahnya, tampak begitu menyedihkan hingga banyak orang merasa kasihan padanya dan memandang tajam pria di depannya. “Sudah menghamili anak orang, tapi masih bermain-main dengan wanita lain. Dasar pria nggak bertanggung jawab!” “Hah … padahal tampan, tapi kenapa sikapnya seperti seorang bajingan …,” sahut tamu yang lain. Mendengar makian-makian ini, pria yang tertuding itu menatap Alisha tajam. “Nona, kita bahkan tidak saling mengenal. Bagaimana mungkin kamu bisa hamil anakku?” tanyanya dingin. Kalimat sang pria membuat Alisha menangis semakin kencang. “Ya Tuhan, demi menutupi aibmu, sekarang kamu berpura-pura tidak mengenalku?! Padahal sebelumnya kamu berjanji akan memperkenalkanku ke keluargamu dan menikahiku. Ternyata semua itu bohong! Keterlaluan kamu!” Tak berhenti di sana, Alisha kemudian beralih kepada wanita di seberang sang pria. “Nona, kamu terlihat begitu cantik dan berpendidikan, aku yakin kamu juga wanita dengan latar belakang luar biasa dan masa depan cerah. Oleh karena itu, sebagai sesama wanita, aku memohon padamu untuk memberikan aku dan calon anakku jalan hidup. Pria ini harus bertanggung jawab untuk kehamilanku atau aku akan–” Sraak! Suara kursi yang bergesek dengan lantai terdengar, diikuti dengan tangan Alisha yang digenggam sang wanita cantik yang sekarang berdiri di hadapannya. Wanita yang sepengetahuan Alisha adalah calon yang dijodohkan keluarga kepada pria tersebut. “Kamu sungguh hamil anak Zayden?” tanya wanita itu dengan mata berbinar, membuat Alisha sedikit kebingungan. “U-uh … ya …?” jawab Alisha selagi mengangguk setengah ragu. “Ini berita bagus! Kalau begitu, kalian harus segera menikah!” Hah? Alisha sedikit terbengong. Kenapa wanita ini malah terlihat senang ketika mengetahui calon suaminya menghamili wanita lain? Bukankah seharusnya dia merasa tersinggung dan malu, lalu pergi meninggalkan restoran begitu saja sebelum berakhir membatalkan perjodohan? Jadi, kenapa sekarang dia malah mendukung dan menyuruh Alisha menikahi calon suaminya!? “Mama! Jangan percaya omong kosong wanita ini! Aku bahkan tidak mengenalinya!” ucap pria itu secara tiba-tiba, membuat Alisha terperangah. Mama?! Alisha menatap wanita cantik yang dia kira masih berumur sekitar dua puluh lima tahun itu. “Kamu mamanya? Bukan calon istrinya?!” Wanita cantik itu menyentuh sisi wajahnya dengan senyum malu-malu. “Ya, aku mamanya. Apa wajahku semuda itu sampai kamu salah mengenaliku sebagai calon istri Zayden?” Kemudian, dia menggenggam tangan Alisha erat dan mata berbinar. “Tenang saja, Nak. Zayden tidak pernah punya pacar, bahkan Tante sampai khawatir dia suka pria. Kalau ternyata kamu memang mengandung anaknya, itu berkah dan kalian harus segera menikah!” Dihadapi dengan semangat membara ibu sang pria, Alisha menjadi panik. Bukan, bukan perkembangan cerita seperti ini yang Alisha harapkan! Seharusnya, wanita di depannya ini adalah calon istri yang dijodohkan oleh keluarga sang pria. Lalu, ketika Alisha datang dan mengaku dihamili oleh pria tersebut, wanita ini seharusnya marah dan pergi! Hanya dengan begitu, barulah misi Alisha untuk membantu sang sahabat yang ingin membatalkan perjodohan pria yang dia sukai bisa berhasil! Lalu, apa ini!? Alisha menatap lagi pakaian sang pria, juga nama di atas meja. Kemeja merah gelap, warna yang sesuai informasi dari temannya seharusnya dikenakan oleh pria yang dia suka. Kemudian, nama tamu yang tertera di kertas yang berada di atas meja adalah … Zayden Wicaksana!? Kenapa ‘Zayden Wicaksana’ dan bukan ‘Alvin Wicaksana’?! Alisha salah orang???!!! Menyadari kesalahan fatalnya, kepanikan seketika langsung menyelimuti Alisha. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu menatap seorang pria lain yang duduk tidak jauh dari sana, yang tengah sibuk berbincang dengan seorang wanita. Kemeja pria itu … berwarna sama persis dengan pria di hadapan Alisha sekarang, dan nama di atas meja … Alvin Wicaksana?!! Alisha sungguh salah orang!!! Melihat kegelisahan Alisha, ibu sang pria menyadari ada yang salah. Dia menyentuh pundak Alisha dan berkata dengan wajah khawatir, “Nak, kamu baik-baik saja? Wajahmu pucat .…” Kemudian, wanita itu terlihat panik. “Oh, tidak! Apa salah mengira aku kekasih Zayden membuatmu stres?! Tidak, kamu tidak boleh stres! Kita harus ke rumah sakit! Jangan sampai ada hal yang terjadi dengan anak dalam kandungan–” “T-tunggu!” Alisha langsung menarik lepas tangannya dari tangan sang wanita. Senyum canggung menghiasi wajahnya. “T-Tante, maaf, sepertinya ada salah paham. L-lupakan apa pun yang aku katakan, permisi!” Kemudian, dia langsung lari sekencang mungkin meninggalkan restoran. “Eh!! Kenapa malah lari!?” seru ibu sang pria dengan bingung, berniat mengejar, tapi Alisha menghilang secepat angin! Wanita itu pun menatap putranya. “Zayden! Kejar dong! Kamu sebagai pria kenapa malah diam saja!?” tegurnya, membuat Zayden menatap ibunya datar. Apa sang ibu masih tidak sadar kalau putranya baru saja dipermainkan!? “Ma … wanita tadi berbohong ….” Ucapan sang anak membuat Martha, ibu Zayden, mendengkus kesal. “Bohong atau tidak, itu urusan Mama untuk memastikan nanti! Pokoknya sekarang, Mama mau kamu untuk bawa seorang calon istri ke hadapan Mama atau 80% saham perusahaan akan Mama suruh Papa berikan ke sepupumu! Titik!” Setelah mengucapkan itu, ibu Zayden pun meraih tas dan melangkah pergi dengan kesal. Bertahun-tahun khawatir sang putra tidak pernah berpacaran dan memiliki preferensi menyimpang, ternyata hari ini ada kemungkinan pria itu sudah memiliki kekasih, yang sudah hamil pula! Tentu saja kesempatan ini tidak akan Martha lewatkan! Pokoknya, Martha akan pastikan putranya itu tidak menyimpang dan bisa melanjutkan keturunan keluarga! Melihat kepergian ibunya, Zayden yang masih jadi perbincangan hangat satu restoran pun memasang ekspresi gelap. Dia mengingat-ingat wajah wanita yang mengaku hamil anaknya tadi. Alis ramping dan mata bulat, hidung mancung, dan bibir mungil dengan rona merah alami yang menggoda. Rambut panjang bergelombang yang membingkai wajahnya juga menambah kecantikan wanita tersebut. Sayangnya, secantik apa pun wanita itu, karena dia sudah mencari masalah dengan seorang Zayden, maka dia harus membayarnya atas rasa malu yang pria itu rasakan hari ini!I opened my eyes to find myself lying on a bed. The room was not familiar. I remember the last thing that happened to me before I passed out. I was in the pack house with my mates. Oh shit, my mates. I looked around the room to find Damon half asleep on a chair. He was wearing different cloth from what I had seen him with. Wait, how many days have I been gone? Damon sprang up as I moved my body. "Are you okay? What happened to you?" He asked, worry written all over his face. His voice was loud enough to attract people and immediately my parents ran into the room where Kian, Ezra, Emma, and Alpha Fridolf followed them. My mom hugged me while looking at me with concern. "What happened to you? You fainted and have been asleep for three days". My father asked with relief. "The pack doctors told us you were alive and that we had to wait for you to wake up"."I am fine, guys", I said looking at them. "Mia, you met the moon goddess?" My mom asked looking at my arm. I felt my eyes change colo
As he came up to us, I got a closer look at him. He had tanned skin that radiated under the sun and he moved so gracefully like royalty. His eyes were deep amber and he had a perfect body. I sighed, what was worse than having three hot men as mates? He stopped right in front of me and took my hand. I felt sparks inside of me as I made contact with him. My stomach suddenly developed butterflies as I felt a tinge of sensation as his hands held mine. "Hey baby, I am Damon, Alpha of Midnight Pack", he said while searching my face. Shit…another alpha. "Mia", I muttered. He nodded his head and looked towards my other mate, "I guess we are all sharing one mate". They laughed. You guys were heading to the pack house? Damon asked. "Oh yes, I wanted you guys to meet my father". "Alright then let's go", Damon said as Ezra took my hand we headed to the pack house and the sparks returned. My life had taken a fast turn within the space of one hour. I had gone from a single girl who was not intere
Emma and I had been best friends for as long as I could remember. We were treated as sisters by everyone and practically lived in each other's houses. She was raised by her uncle as her parents had died in a pack war shortly after she was born. We had spent the majority of our lives together, as my parents treated her like their own child.We stepped outside the house and turned to the road leading to the pack house. There were fewer people on the street as many people had already headed to the pack house. I had a lot of things I wanted to tell Emma. I wanted to tell her about Bri, but I had already promised not to say anything about it. Emma had been able to shift into her wolf since she turned 18 but had never mentioned anything about talking to her wolf. Why was mine different?You will find out soon. The voice in my head said. Oh shit, I had completely forgotten again that bri could hear my thoughts."Are you okay?" Emma asked, looking at me with a worried expression on her face.
"Hello Mummy, Hello Daddy," I greeted them as I walked into the house. "Welcome baby", my mother said as my father just gave me an approving nod. I sat down on one of the large sofas near the table. " We lost my boss this evening", I said looking at my father who was no longer looking at the paper but was peering into space. "We keep losing more and more important members of our pack", my mother said. "If care is not taken, our pack would be wiped off in the space of a week. Hopefully, this would save our pack". My father said, "What I asked?""We got some information today, we found out that this illness is being sent by the alpha of the Darkmoon pack. He really would go to any length to get power into his hands. The illness is not contagious so we don't know who else can get it." My dad added sadly, "I hope this works", my mom said looking at the paper. That was the paper they were looking at before I came in, so I just took it and glanced through it.The Alpha of my pack was alway
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.