LOGINGrace stepped back in fear when he stepped ahead. "Do it again and I will break your legs..." He warned. Her eyes filled with tears. "Chief, I am sorry... I didn't wanted to but it happened all of a sudden... I had no idea..." She sobbed. Dominick grabbed her chin harshly. "Open your mouth for only one thing in front of me..." He gritted and she whimpered and sobbed when he let it go with jerk. "Please Don't punish me... I am sorry" She pleaded but her words fell on deaf ears. "I don't want to do it, chief please... I am scared of this... Please, please..." She cried. "Strip..." He ordered while walking towards the wall. Her eyes widened when he did that. Grace couldn't think properly. Out of fear she ran towards the door but poor girl didn't know that she can't open it. ***** Grace is a nice and intelligent girl but her kindness is her enemy. she was living happy and peaceful life until Mob boss knocked on her door. Grace had to sacrifice herself to the devil for her father's mistakes. but does this devil have heart? how will Grace deal with this silent and cruel man who doesn't even talk to her? how long she can do it for her father? afterall it's not easy to have sex with mob boss.
View More"Kang, mau ke mana kamu?"
"Cerewet! Apa setiap mau pergi, harus kuberitahu mau ke mana."
"Bukan begitu, Kang. Tapi ini sudah malam!"
"Justru karena sudah malam, sebaiknya kamu tidur, jangan banyak omong!" bentak kang Andi sambil berlalu pergi membawa jaket juga kunci motornya.
Dua belas tahun berumah tangga, banyak ujian diawal pernikahan, karena terhalang restu orang tua. Kenalkan namaku, Evita. Usiaku 19 tahun, aku memilih laki-laki biasa dari kota Bogor, Kang Andi.
"Vi, sepertinya mamahmu kurang suka terhadapku, maafkan Akang ya, belum bisa membuatmu bahagia," ucap kang Andi.
"Jangan bicara seperti itu, Kang. Sudah cukup cinta yang akang berikan untukku dan aku cukup bahagia dengan itu."
"Tidak, Vi. Semua itu tidak cukup, Akang harus sukses, agar tidak direndahkan oleh keluargamu."
"Apa yang akan Akang lakukan? Evita janji akan mendukung Akang, agar Akang menjadi orang sukses."
"Terimakasih, sayang, Akang mau usaha Vi," ungkap Kang Andi.
Sejak hari itu, dengan modal dari Bapakku, lalu suport dan kerja keras, aku dan suami berhasil sukses, hingga memiliki lima kios di mall besar di kota Bogor.
Bukan hanya soal ekonomi, bahkan
Perjuanganku untuk mendapat seorang anak pun tidak mudah, karena hingga 8 tahun pernikahan aku baru dikaruniai seorang anak, alangkah bahagianya aku, mendapat seorang putra yang lucu dan ganteng, tentu itu membuat rumah tanggaku semakin harmonis.
______
Kala covid melanda dan dijalankannya PSBB, di mana mall tidak boleh buka, jadilah usahaku dan suami agak tersendat, di sanalah sedikit-sedikit terjadi cekcok dan pertengkaran antara kami, karena kurangnya komunikasi.
Terlebih setelah suamiku mengikuti salah satu komunitas grup, aku tidak mengerti kegiatan mereka, suamiku selalu pulang malam, dengan bilang rapatlah, ulang tahun temen grup lah, kumpul-kumpul ngga jelas dan seringnya senyum-senyum sendiri ketika melihat ponsel.
"Kang, ada apa, kok senyum-senyum sendiri?"
"Ini loh, Bun. Anak-anak becandaannya lucu banget."
"Anak-anak, siapa maksudnya?"
"Oh, iya. Akang lupa bilang, sekarang Akang ikut kegiatan di komunitas, Bun. Visi misinya benar-benar bagus, loh. Banyak membantu orang lain."
"Benarkah seperti itu, Kang?"
"Tentu saja, orang anggotanya saja orang-orang yang paham agama, kok," ucapnya yakin.
Dia selalu menghindariku ketika ada hal serius tentang bisnis yang ingin kubahas, makin ke sini makin terlihat ogah-ogahan
dalam menjalankan usaha kami, padahal ada beberapa karyawan yang bergantung hidup pada kami.
Izin berangkat pergi ke kios nyatanya entah ke mana, kulihat akun media sosial suamiku terpampang jelas fotonya dengan beberapa ibu-ibu yang memang usianya lebih tua dariku namun berkelakuan layaknya ABG, jujur aku jengah melihatnya, terlebih melihat senyum semringah suamiku yang seolah menikmati kebersamaan itu.
"Kang, bisa kita bicara? Bagaimana dengan pendapatan kios kita?"
"Sudah tahu sekarang mall tidak boleh buka, kamu malah tanya itu."
"Tapi kan, kita bisa jualan scara online."
"Iya kalau itu, kamu sajalah yang atur, kamu lebih paham pastinya," ucapnya sambil berlalu pergi.
Dia lebih mementingkan kegiatan sosialnya, daripada membahas soal usaha yang sedang dijalankan, yang membuatku kesal, dia sering berboncengan dengan Ara, seorang janda. Sudah cukup banyak foto-foto kedekatan kang Andi dengan Ara. Awalnya aku berpikir positif, sampai akhirnya siang itu.
"Bun, Ayah mau pergi ke setu(danau) dulu, yah, sama teman komunitas," ucap kang Andi
"Tapi, Kang. Kasian si Aa (anak kami) sepertinya dia sudah lama ngga kita ajak main."
"Kan, bisa lain kali, Bun. Kegiatan ini untuk perkenalan antar anggota, supaya silaturahmi kami semakin terjaga."
"Tolonglah kang, kali ini saja, sepenting apa acara itu, bukankah tiap malam juga Akang ikut kegiatan, masa hari minggu pun harus pergi sama mereka lagi?"
"Sudahlah, Bun. kamu jangan cerewet! Aku pergi."
"Tapi, Kang …! Akang …." Belum juga kuselesaikan kalimatku dia sudah pergi lagi.
Diapun berlalu meninggalkanku dan pergi dengan sepeda motornya, lagi-lagi kulihat foto-foto kebersamaan mereka. Kang Andi dan Ara, mereka benar-benar seolah kembali layaknya ABG lupa dengan status dan umur.
Apakah begini silaturahmi yang baik, sementara anak dan istri terabaikan? Aku bukan wanita yang pengekang andai memang kegiatannya membawa hal positif aku akan mendukungnya, namun nyatanya kang Andi lebih memilih dengan teman-teman komunitasnya dari pada menghabiskan waktu dengan anak istrinya.
Beberapa kali aku tegur, kang Andi malah menjadi. Puncaknya hari ini anakku sedang kurang sehat aku memintanya untuk menemani kami, tapi dia kembali meninggalkan kami bahkan dengan membentak-bentak.
"Kang, Aa sakit, antar kami ke dokter ya?"
"Kenapa sekarang kamu manja, Vi. Biasanya juga bawa sendiri, sudah kamu pergi saja sendiri sana."
"Loh, memang Akang mau ke mana?"
"Bukan urusan kamu, dasar wanita sialan!"
Aku yang sakit hati mengancamnya untuk pulang kerumah orang tuaku, bukannya melarang dia malah mempersilahkanku pergi.
"Baik, kalau sikap Akang seperti ini lebih baik aku pulang."
"Pulang sana, kamu pikir aku perduli!"
Sampai satu bulan aku di rumah orang tua, tidak ada inisiatif dia untuk menjemputku, malah rumah kami yang di Bogor dijadikan sarang perkumpulan mereka, bagaimana aku tidak meradang.
Kang Andi bilang teman-teman satu komunitasnya kebanyakan orang yang paham agama, kegiatannya pun positif menjenguk orang sakit, menyantuni anak yatim, juga berbagai kegiatan sosial lainnya, paktanya yang kulihat dari akun medsos komunitas itu sendiri, malah banyak kumpul, makan, dangdutan.
Hiburan-hiburan ngga jelas.
Di mana letak positifnya, kalau dia saja mulai tidak perduli dengan keluarganya.
Saat malam putraku satu-satunya mengalami demam, dia terus menerus menyebut ayahnya, meski rasa gengsi menyelimuti, akhirnya kukalahkan egoku, malam itu aku menghubunginya.
Tuuuut ...Tuuuut….
Tak lama telpon diangkat.
"Kang, Aa panas dari tadi dia panggil-panggil nama kamu, tolong Kang kamu segera datang."
"Salah sendiri, kenapa kamu pulang kerumah orang tua kamu, sekarang seenaknya nyuruh aku datang!"
"Ya ampun, kita ngga usah bahas masalah kita, tolonglah kamu mengalah lihat sebentar anak kita," pintaku memelas
"Kamu pikir dekat apa dari Bogor ke Banten! Sudah jangan ganggu aku."
Tuuuuuuuuttt
Tiba-tiba telpon dimatikan.
Esoknya kulihat status watshap salah satu teman suamiku yang satu komunitas, di sana kang Andi nampak bahagia berfoto bersama di pantai Pelabuhan Ratu.
Ya Tuhan … hatiku menjerit kenapa dia malah pergi rekreasi sementara anaknya sakit dan butuh dia. Namun dia tidak perduli, dan yang semakin membuatku meradang, lagi-lagi foto dia bersama Ara terpampang di beranda F******k komunitas itu.
Akhirnya kuberanikan diri menghubungi orang-orang yang berpengaruh di komunitas itu, hasilnya, nihil. Satupun tidak ada yang menanggapi, dan menganggap aku cari perhatian saja.
Karena kesal akhirnya kuputuskan membuat surat terbuka di beranda F******k agar semua anggota komunitas itu membacanya betapa ada seorang istri yang merasa terganggu dengan kegiatan-kegiatan mereka.
Benar saja hal ini memancing kemarahan suamiku. Dia merasa aku permalukan karena menyangkut pautkan masalah rumah tangga dengan komunitasnya.
Seketika dia menghubungiku.
Trininnggg....
"Hallo, Yah, a-." Belum juga kuselesaikan kalimatku.
" Heh, dasar wanita sialan, kurang ajar, tidak tahu diri, kamu sengaja bikin aku malu, posting-posting masalah di F******k. Ingat yah, mulai saat ini dan selamanya kamu tidak perlu menginjakan kaki lagi ke Bogor, saat ini juga, aku talak kamu!"
Author's POVGrace sighed and grabbed her phone from the counter.Dominick smiled when the baby girl grabbed his fingers in her fist. He is in awe with the tiny hands. They haven't opened their eyes and he is dying to see their eyes, curious to know whom they have inherited. He can see the brunette hair of his girl and raven black of boy. Grace dialled vlad's number, she wasn't sure if he will answer because he haven't answer her calls in all these months. It's Veronica who always answers his calls."Hii Vera!"Grace smiled to hide her disappointment. Vlad again ignored her call."OMG Grace, what happened? Are you in the hospital?"Vera asked concerned when she saw her in the hospital. "What?"Vlad was quick to snatch phone from Her hands. "What happened to you? Did he hurt you?"Vlad asked and Grace smiled at him.Dom rolled his eyes at his response. "I missed you too, Brother."She said."Grace, why are you in the hospital?"He asked."Because i was pregnant, Vlad... If you re
Author's POV"Dom put her down..."Anamika scolded when she saw him carrying her in bridal style."Who the hell told you to carry a pregnant woman like this..."Dom placed her down on the couch."Her water broke and It's too early...""Relax!"She looked at Grace."Grace, Honey... Is it hurting?""Little!"Grace breathed out."Then we have time... Call ambulance!"She ordered. Bella and Alex also came out. Bella was quick to attend Grace. "Atleast wear some clothes."Alex whispered to Dom, who was just wearing sweatpants. Grace was wearing long loose gown which was covering her. "And why your pants are wet...""Shut up... Give me your shirt."Dom pulled his shirt up."The fuck you are doing..."Alex cursed when Dom wore his shirt. "Ma'am Ambulance is here"Guard informed."Wear some clothes..."Dom mocked Alex and walked out when they took Grace towards the ambulance. "Bastard!"Alex cursed. "Alex what are you doing wear some clothes, we have to go!"Bella looked at him in disbe
Author's POVThe Lady Doctor looked Dom and shook her head. He was continuously glaring at her while she was doing check up on Grace. "Today's generation is too sensitive, i tell you"She mumbled and Grace chuckled. "He is a little protective""Little?"Doctor rolled her eyes. "If possible he will do the check up by himself."They finished the tests and Doctor took her place."Baby is healthy... So far i don't see any problem with the pregnancy..."Dom sighed in relief. "But considering your medical history you shouldn't take it easily... Be careful what you eat, how you sit and how much you are keeping your body active..."She warned."I'll take care of it..."Dom said."I just don't want any risk when it comes to her... Do you your work properly."The doctor looked at him through her big fat glasses. "You came here when you were just a fetus, Boy... ask your mother who i am..."Dom rolled his eyes, another arrogant and rude friend of his mother."We trust you doctor..."Grace m
Author's POVDom's eyes snapped open as sweat dripped down from his forehead.He looked around and realised it was just a dream. Painful dream."Fuck!"He mumbled and gathered her in his arms, she was sleeping peacefully. He can't even imagine what he will do if his dream turn into reality."Chief, we will be landing soon..."The airhostess informed him."Bunny!"He wants her dove eyes on her, Wants to see life in her eyes, and hear her soft voice. "Umm!"She groaned in the sleep."5 more minutes"She snuggled in his neck."We are landing soon, let's tie your seatbelt..."His knuckles gently touched her soft cheeks. Grace opened her eyes and whined."I want to sleep..."Dominick chuckled at her.Their jet landed and they headed towards the mansion.Grace blushed when Dom hold her to his chest entire drive."Bella will never forgive me..."Dom sighed and cupped her face."The only thing I want you to do now is, stay away from stress... It's not safe...""I hope Massimo has good reas
Grace's POVIt feels different, to get wrapped in his arms and feel his warmth. His chin is resting on my head while holding me closely to his chest. I didn't expect this when i said 'just sex'.According to his nature i was expecting him to leave after fucking me. Because to be honest i am not ready
Grace's POV"I swear if something happened to my daughter..."Anamika disconnected the call after talking to someone called Rose on the phone.I can understand her concern, she is a mother afterall. Would my mother have reacted the same, guess I'll never know.I was expecting Anamika to lash out on me,
Author's POV"Vlad how can you kill an innocent child..."Grace yelled at him."Stop them!"He pushed her inside."They are not innocent... And don't worry no one will be there to mourn her, her family is also going to die...""What?"Grace looked at him horrified.Her eyes snapped towards the road when she
Grace's POVI kept my mouth shut knowing that maybe I asked something which i shouldn't. Dom is close to his mother and might not be comfortable with sharing her life."She has insomnia..."He broke the silence with a heavy sigh.My eyebrows furrowed. What must have happened with her."It's been years no
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings