LOGIN[WARNING: THIS STORY CONTAINS MATURE CONTENTS!!!] “Princess, I love you. With all my heart. With all my life. More than life itself. I’m so glad that I found you. Remember princess, I love you.. till my last dying breath, till the day I die.” – Rai. “That’s right, baby girl. You. Are. Mine! Ever since the day you were born, you are mine! God created you for me and no one else! Remember that, baby girl.” – Damian. Meet Katarina, a cheerful, free-spirited woman with a dark past, whose fate brought her to two best friends - Damian, the charming, easy-going one, and Rai, the calm, gentle one. Her prince charming and her knight in shining armor, each with secrets of their own. Different yet similar in their own way, best friends nonetheless. Both loving her, both wanting her. Would she be able to choose between the two of them? Who would be her greatest love and who would be her worst heartbreak? Would any of them be her always? Her forever? What would happen when their demons started to haunt them again? Could she be the strength of someone else despite all her traumas? Could their love survive those many obstacles and tragedies? Could love really conquer all? Would they finally be able to have their ‘happily ever after’? Find it out in this love-triangle romance with dark twists. Cover by: @Rainygraphic
View MoreHatiku sangat hancur, membaca pesan itu. Seorang Gerald, benar-benar marah padaku. Aku tidak tahu lagi, bagaimana nasibku ke depan. Entah salah langkah atau tidak, yang pasti aku melakukan semua ini demi kebaikan semuanya dan masa depannya.
Anakku. Aku mengelus perutku, aku akan bertahan hidup demi anakku. Karena berusaha bagaimana pun, aku dan Gerald tidak ditakdirkan bersama. Tidak apa, yang penting Gerald bisa bebas dan bisa melanjutkan kuliahnya. Semua ini, kulakukan demi kebahagiannya.
David, mengajak pulang ke rumahnya. Aku hanya mengikut, permainannya. Karena aku telah kalah. Dia begitu licik, dan pandai memanfaatkan situasi.
"Udah jangan nangis lagi, kita akan berbahagia." kata David lagi menghapus air mataku ketika aku turun dari motor miliknya. Aku tak menghiraukan dirinya, dia setan, dia iblis!
"Janji, jangan sedih lagi, ya?" ujar David lembut. Aku menatapnya, dan bisa merasakan ketulusannya. Akhirnya aku mengangguk.
Aku kembali lagi ke rumah ini, rumah David, rumah besar yang membawa sial dalam hidupku berganti-ganti tersebut. entah berbuat apa di sini, tapi aku hanya mengikuti semua permainan David.
"Miss, bisa menempati kamar yang kemarin."
"Terima kasih."
"Yaudah, saya mau mandi. Anggap saja rumah sendiri. Kalau, Miss, mau masak juga nggak papa." Masak? Aku mau masak apa? Memangnya David mengira aku seorang pemasak yang handal? Bahkan, menghidupkan kompor saja aku kepayahan.
Akhirnya, aku masuk kembali ke kamar yang mengingatkan betapa menyedihkan hidupku. Dan sekarang lebih menyedihkan. Aku bingung harus berbuat apa. Teringat kata David, masak. Tidak ada salahnya aku berkesperimen.
Aku melangkahkan kakiku ke dapur. Dan aku tidak melihat tanda-tanda pembantu David di dapur. Bingung, mulai melandaku. Kurasa goreng-goreng tidak masalah. Aku membuka kulkas besar milik David, dan sudah ada seekor ikan besar yang telah dibumbui. Dan banyak sekali persediaan makanan untuk satu bulan ke depan, benar-benar lengkap.
Tinggal menggoreng ini saja kurasa tidak susah. Aku menghidupkan kompor dan tidak mendapati minyak goreng di mana pun. Aku mencari-cari minyak goreng tersebut. Dan ketika aku menoleh kompor sudah terbakar. Betapa cerobohnya aku! Stupid Rara, yang berbuat apa-apa, selalu ceroboh.
Dengan cepat, aku mengambil air dan menyiramnya. Malah apinya makin merambat melahap air yang kusiram. Keadaan dapur juga sudah terasa sangat panas, api sudah membubung tinggi. Sebentar lagi, si jago merah melahap semua barang yang ada di dapur ini.
"David, tolong kebakaran!" Suaraku kalah dengan kobaran api.
"David, tolong!" teriakku lebih keras lagi. Aku panik! Api semakin besar, dan hampir melahap seluruh bagian kompor. Dan sebentar lagi, kompor ini meledak.
Kulihat David berlari ke dapur hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya, dan sudah dua kali aku melihatnya bertelanjang dada.
Aku makin panik dan menangis.
Dan yang membuatku terpaku, entah sadar atau tidak David membuka lilitan handuknya dan menutup api tersebut. Bukan aksi heroiknya mematikan api, tetapi aku terdiam karena dia telanjang bulat di depanku. Bagaimana mungkin dia tak sadar sama sekali? Apa memang panik, bisa membuat semua orang berlaku seperti ini?
God....
Air ludahku kering. Aku terpaku, ini kali kedua aku melihat lelaki telanjang. Bahkan, melihat Gerald telanjang saja, aku masih ngeri, apalagi orang asing seperti David. Jangan disebutkan 'miliknya' itu punya orang. Aku menggeleng dengan pikiran kotor yang menghampiri otakku. Bisa-bisanya, situasi genting otakku malah traveling. Ugh.. I hate my mind!
Setelah api itu mati, David dengan santai kembali melilitkan handuk di pinggang. Memangnya itu tak panas? Tapi, aku segan untuk bertanya.
"Kalau kebakaran gini, jangan pakai air. Malah tambah merambat apinya, pakai kain tutupin apinya." Aku masih merekam jelas telanjangnya tadi dan hanya diam. Tubuhku masih keringat dingin, bahkan hampir menggigil, mengingat David bugil tadi. Apa dia sengaja untuk menggodaku?
"Kamu... kamu... tadi telanjang." Lolos juga pertanyaan itu. Aku penasaran, bagaimana tanggapannya? David hanya tersenyum simpul.
"Nggak papa. Yang penting udah nggak kebakaran lagi." jawab David tanpa dosa.
Dengan suasana yang begitu canggung aku pun mengangguk. "kamu nggak malu telanjang?" Aku bertanya lagi. Bukan apa, dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Aku yang malah ingin kejang-kejang. Mengingat tadi.
"Nggak lah. Ini milik, Miss. Nanti ngerasain juga, ngapain malu. Anggap aja perkenalan." Aku memalingkan wajahku yang sudah memerah. Aku malu, dia sama seperti Gerald and I have no words to say.
"Maaf, ya, menyusah kamu lagi. Dan terima kasih sudah menyelamatkanku lagi." ujarku pada David.
"Sudah menjadi tugasku." David merapatkan tubuhnya ke arahku.
Aku mundur, badanku menabrak counter. Dan David mengurung diriku, di tubuhnya yang besar."Atau, Miss, mau lihat lagi?" David mencoba menggodaku. Dengan menahan keseimbangan tubuhku, aku menggeleng.
"Nggak papa, Miss. Kita sudah dewasa, apalagi yang akan dilakukan dua orang dewasa berbeda jenis kelamin di rumah berduan?" Gawat! Bunyi sirine dalam otakku berbunyi keras. Ini tak boleh terjadi!
Masih dengan menahan keseimbangan tubuhku, kurasa sebentar lagi aku akan jatuh dan mencium lantai. Dada David semakin menempel, aku mencium aroma sabun yang menggoda imanku. Apalagi dia sedang bertelanjang dada. Secara keseluruhan badannya lebih bagus dari Gerald. Ya Tuhan, kuatkan imanku. Aku menahan ludah, menahan suaraku, terutama menahan berat tubuhku, jangan sampai berguling ke bawah lantai.
"Kamu... kamu ganti baju." Aku mendorong dada David. Akhirnya ia bangun, dan tersenyum.
"Ya, Miss benar. Saya harus ganti baju." Aku bernapas dengan lega, akhirnya. Dan aku merubah posisiku.
Sebelum menjauhkan badannya, David sempat mencuri mencium bibirku cepat. Aku hanya terpaku. Kenapa dia suka melakukan hal yang tiba-tiba?Setelah David pergi. Aku hanya menggeleng, mencoba menjernihkan pikiran gilaku. Ada yang tidak beres dalam otakku.
Ingat, udah punya suami! Udah hamil!
Itu yang selalu kurapalkan. Aku ingin mencari udara segar, dan mencoba menjernihkan pikiranku. Rumah David, besar dan luas sekali. Sayang sekali, kenapa orang tuanya tidak pernah mendiami rumah ini. Aku juga tak pernah tahu, di mana orang tuanya. Dan juga segan untuk bertannya, karena masing-masing sudah sepakat untuk menjaga privasi masing-masing, walau privasiku sudah menjadi konsumsi publik sekarang.
Akhirnya, aku hanya mengelilingi rumah besar. Meski aku pernah berada disini sebelumnya, tapi aku tidak terlalu meneliti interior di dalamnya. Dan hari ini, aku akan menjelajahnya. Terdapat banyak barang mahal di mana-mana. Guci besar, dan mahal, terdapat di setiap sudut rumah. Apa itu sebagai, pawang pengusir hantu? Ok, yang terakhir abaikan. Puas aku mengagumi interior dan funiture mewah. Aku hanya duduk di sofa panjang, di ruang tamu yang luas.
Bagaimana nasibku? Kenapa harus begini? Trus buat apa aku ke sini? Aku baru sadar, aku telah melakukan kesalahan. Kenapa seorang Rara, baru menyadari kebodohannya yang lain, setelah berkali-kali ia melakukan kesalahan?
Meski, Gerald tidak menginginkan aku lagi. Tapi, aku harus pulang ke rumahku. Jika bunda mendapatiku di sini lagi, aku yakin bunda pasti langsung membunuhku. Walau aku menyayangi Gerald, tapi aku tidak menapikan kalau aku nyaman berada di dekat David. Rasa aman dan terlindungi selalu kurasakan jika berada di dekatnya. Tapi aku takut, semua yang dia lakukan ini tidak tulus. Aku belum siap untuk dikecewakan lagi untuk kesekian kalinya. Terkadang David terlihat seperti manusia brengsek yang licik, terkadang ia begitu tulus seperti malaikat. Sebenarnya, bagaimana David ini?
Jika memang Gerald sudah tidak mengiginkan aku lagi, dan memang David tulus kurasa tidak ada salahnya aku membuka hati. Tapi aku tidak mau membuka hatiku secepat ini. Semoga saja, semua yang dilakukannya tulus.
"Wes... melamun terus, Nona? Masih penasaran yang tadi? Mau saya tunjukin lagi?" Mulutku terbuka sangat lebar. Kenapa dia jadi suka menggodaku? Ini sebelas dua belas aja sama Gerald. Atau apa memang begitu, semua pikiran laki-laki?
"Kamu menggodaku?" tuduku pada David.
Ia mengedihkan bahunya. "Tidak juga, saya hanya ingin menjawab semua rasa penasaran Miss."
"Tapi aku nggak penasaran hal itu." Aku membantah David.
"Jadi, penasaran ingin merasakan langsung?"
What the fuck! Gila nih anak!
"Tidak!" jawabku cepat.
David duduk di sampingku. "Saya bercanda, saya hanya ingin menghibur, Miss, dan membuat, Miss, tidak sedih lagi." Aku selalu terharu mendengar ketulusan David. Benar, dia malaikat.
"David." panggilku. Dia menoleh ke arahku, dengan raut wajah yang serius begitu melihat intonasi suaraku yang serius juga.
"Iya?"
"Aku ingin mengetahui semua motifmu dari semua ini. Dan jujur, jika kamu serius dan tulus kurasa tidak ada salahnya aku membuka hati."
David tidak berekasi.
1 detik.
2 detik.
5 detik.
10 detik.
"Itu yang saya tunggu dari kemarin. Terima kasih, David akan membuktikan kalau semua ini tulus."
Aku pun tersenyum ke arahnya. Wajahnya makin mendekat ke arahku. and tension between us began to.... hot."Jangan sedih lagi, saya akan selalu menjaga kamu. Anak kita—" kata David memegang wajahku, dan memeriksanya.
"Kenapa kamu selalu menyebutnya anak kita?"
"Karena aku merasa itu anakku." Aku menggeleng.
"Bagaimana kamu mengakui, tapi darah yang mengalir di dalam tubuhnya tidak menapikan siapa orang tua kandungnya."
"Aku tidak peduli itu. Yang aku mau, aku akan melindungi, Miss, dan menyayangi anak kita." Aku merasa begitu disayang. Aku telah terlena dengan perhatian orang lain. Semua ini, karena Gerald tak pernah perhatian padaku. Bahkan, ia tahu aku hamil, ia tak pernah peduli pada keadaanku.
"Terima kasih." kataku sambil terharu, dan bulir-bulir bening mulai membasahi pipiku.
"Yah, nangis. Jangan dong, kan David mau bikin senang bukan sedih." Aku mulai mendekap tubuh David, dan mulai merasakan kenyamanan dan kehangatan.
"Aku itu terharu."
"Bentar, ya." Aku menunggu, David yang sedang ke belakang. Berselang tujuh menit ia kembali dengan membawa susu di tangannya.
"Itu susu ibu hamil?" tebakku.
"Benar." Air mataku, merembes lagi. Gerald tidak seantusias ini. Dia seperti tidak peduli dengan kehadiran anaknya. Yang ia tahu, bagaimana menyalurkan semua nafsu binatang miliknya, itu saja!
David mengulurkannya gelas itu padaku, aku ingin mengambilnya. Tapi malah disembunyikan di belakangnya.
"Eits, ada timbal baliknya tapi." David masih menyembunyikan gelas itu do belakang.c
"Apa?" Aku telah berdiri, karena ingin merebut susu itu.
David menyodorkan pipinya.
Cup!
Aku mencium pipinya, dan tersenyum ke arahnya.
"Nih." Aku mengambil susu itu, dan tidak sampai satu menit susu itu telah habis. Karena, susu itu tidak panas tapi hangat. Sepertinya David tahu, kadar suhu untuk membuat susu. Aku saja, susu untuk anakku sendiri tidak pernah kubuat. Betapa tak bergunannya aku mejadi orang tua. Apalagi Gerald, sangat tidak pantas menyandang gelar orang tua.
"Terima kasih." kataku, sambil mengembalikan susu itu ke David.
David mendekat lagi ke arahku, aku mundur dan terjatuh lagi di atas sofa. Tanpa sadar, aku terbaring. Dia menindihku."Karena, Miss sudah berani mengembalikan gelas itu. Sekarang bayaran untuk mengembalikan gelas itu."
Suasana sepertinya panas. Dan kami sangat intim.
"Itu ada sisa susu di bibir Miss." Tunjuk David ke bibirku, aku ingin menyeka sisa susu di bibirku.
"Biar David bersihkan." Dengan cepat, David mencium bibirku, dia menjilat bibirku. Aku merasakan napasnya dan lidahnya yang hangat di atas bibirku.
"Buka bibirnya." Aku membuka bibirku, dengan cepat David memasukan lidahnya dan mulai menciumku dengan lapar. Aku mulai membalasnya dengan tak kalah rakus. Kami saling berebut ingin menyecap bibir satu sama lain.
David membantuku bangun, aku pun bangun dengan lidah kami yang masih menyatu. Tangannya mulai menjalar di leherku berulang-ulang. Aku menutup mataku, agar tidak mendesah.
"Peluk David." perintah David. Aku pun merapatkan tubuhku ke arahnya dan memeluk belakangnya. Tangannya masih bermain di leherku, mengelus-elus, berusaha menggodaku. David berusaha, membuka bajuku. Aku sudah bertekad memasrahkan selurunya kepada lelaki ini.
Dengan perlahan David membuka kancing dressku. Tangannya naik lagi ke leherku, karena tidak kuat aku mulai meremas-remas rambutnya dan mulai membuka bajunya.
David membaringkan tubuhku di sofa. David menindihku tubuhku di atas sofa. Ciumannya makin brutal. Aku hanya bisa bergerak-gerak ke kiri kanan. Menyemibangi ciuman di siang hari yang begitu panas dan liar.
"Miss bangun, dan lepaskan bajunya." David melepaskan ciumannya, dan bangun. Aku juga bangun, dan berdiri. Zipper telah terbuka, jadi aku hanya tinggal mengeluarkan diriku dari pakaian ini.
Aku membuka dari sisi kiri David duduk di sofa dan memperhatikanku dengan penuh gairah dan serius. Matanya mulai gelap.
Ting... ting.... ting....
Pintu rumah David berbunyi. Sepertinya ada tamu.
"Miss disini aja." Aku hanya mengangguk. Dengan napas yang masih memburu. Aku pun duduk, dan menyadari kebodohanku untuk beribu kalinya.
David pun melangkah keluar, tanpa memakai kembali bajunya.
Aku menetralkan kembali napasku. Kurasakan bajuku kusut dan rambutku juga berantakan. Orang yang melihatnya pasti akan merasakan bahwa kami baru saja melakukan hal yang panas. Aku merapikan rambutku.
Dan, kurasa David lama sekali balik. Aku pun menyusul David. David berdiri menghalangi pintu.
Aku mencari celah untuk melihat siapa tamu misterius yang telah membuat David lama kembali.David menatap lawannya dengan serius begitu begitu juga lawannya."Gerald?"
***
Makin seru, makin panas.
Dua singit-dua singit.Jeng-jeng, saksikan apa yg terjadi selanjutnya 😘😘😘😘
So dear readers,It’s true when I told Damian that this story is not about Rai and me, and me and Damian. This story is about me and Damian, from the moment we knew each other through texts, up to our happy ending.Of course, I was very blessed to know and fall in love with Rai. He is still my greatest love and my worse heartbreak. He was gentle and had never hurt me, well, except maybe when he was jealous of Frank and when he saw Damian and me together. He was the perfect boyfriend and forever will be my greatest love.Damian is the love of my life. He gave me strength, and he made me strong. So what do all my lovely readers think? Do I deserve to be with Damian after everything we’ve been through? Or am I too weak for him? I’d like to think I deserve to be with him since I love him so much. But what do you think?And I have just begun to read his POV. It seems interesting. Let me show you a bit of it. It starts off with him canceling his engagement with Clarissa.•••“Uncle, Aunt
Damian and I were lounging on our bed as per usual before we went to sleep. He was reading on his tablet while I was browsing through the internet.I heard his heavy sigh, saw him put his tablet on the bedside table, and he suddenly pulled me toward him abruptly, holding me tight in his arms.“What happened?” I asked him. It felt like he was afraid of losing me, that I would leave him.“I just finished reading your journal,” he mumbled against the top of my head.Ohhh.. That’s why.I pulled back from his tight embrace so I could see his expression.“Why are you sad?” I asked him.“I was such a dick to you, wasn't I?” he asked with a self-deprecating smile on his face.“You were.” I nodded and pretended to agree with him. “And still are sometimes.” I laughed.“But you are my dick,” I added with a teasing smile. I saw his self-deprecating smile turn into a smile of amusement.“I can't believe I put you through so many troubles.” He pulled me back into his embrace and sighed.“It’s all
I walked into our bedroom and saw Damian walking out of the bathroom with only a towel wrapped lowly around his hips, looking as sexy as ever.I had just finished putting on little Luna to sleep and was tired. I quickly went to the bathroom to take a shower, exiting with only a tiny towel covering my petite body.“Baby girl, come here,” I heard Damian’s voice and turned to look at him.I had to swallow hard, looking at the vision in front of me. My handsome and sexy husband was sitting at the edge of the bed, butt-naked, and he was stroking his huge cock that had hardened. I swore I began to get wet just by looking at him being so hot.I went stand in front of him, and he yanked my towel away from my body, leaving me as naked as him.He pulled me forcefully to him, and I sat on his lap, straddling him. He kissed me long and hard without warning, leaving me panting when he withdrew.“You’ve been taking care of the kids. Now it's time for you to take care of your husband,” he husked ou
“You are home, Baby girl,” Damian said as he glanced at me. It had been three months since our wedding reception, and I was quite busy most days. I had to manage the Castilles Hotel, my clothing business, and also the sanatorium I had built with Damian to help people who needed free psychological consultations.I had that idea when I had been kidnapped and found Luna, the girl who had accompanied me, had died. At first, I wanted to build an orphanage for abandoned children, but as there were too many of them, Damian suggested we build a sanatorium instead to help those who had traumas like us. With helps from his friends and connections, we now had more than twenty psychologists and psychiatrists to help us.Today was a tiring day after visiting the sanatorium. The patients always loved to talk to me, and I gladly accompanied them until it was time for me to return home to my family.When I reached home today, I found Damian in the nursery holding our little girl, as he always did.“
“Pu-Punish me?” He stuttered.I smiled with feminine pride as I saw him close his eyes, grit his teeth, and breathe heavily. Only I could make him feel this way.I lay down on his side, aligning my body with his, with one arm and leg across his taut body, my finger playing with his nipple.“Tell me wha
Our Holy Matrimony was held two weeks later in Bali, at the place where Damian ‘proposed’ to me when we acted for my campaign. It was set to end during sunset.The decoration was simple and minimalistic, with glass lanterns filled with candles and pampas grasses creating the path down the aisle. The
I stretched my body, feeling sore all over. Hearing the sound of the shower, I smiled, thinking that Damian had woken up before me to prepare breakfast. Opening my eyes slowly, I felt there was something weird with my surrounding, and dread came to me. I wasn't in the villa, I was just in
I can't breathe.. His hand is choking me. I can't breathe.. I opened my mouth to take a breath, but his sweat dripped into it. I wanted to throw up. It was disgusting.. My eyes flew open, and I bolted from the bed, running toward the bathroom. I lifted the toilet seat up and threw up i






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore