LOGINTessa... She is the real definition of exquisiteness and adornment. She is a crazy girl with an innocent look. She is sausy, rude and classy. She is also the only child of Peterson family. She gets everything she wants in a twinkle of an eye. She is a popular Mingo in her school with tones of followers. Tessa universe crumbles when she learnt that she was Betrothed to an old man during a contract signed by her father's company. She was shattered by this, she tried to run, unfortunately, her parents already tightened the securities, around the house and they collected her phone. Do you think she will agree to this?. Will she surrender and accept her fate?.
View MoreWajah Agni terlihat panik dengan tatapan kosong, dia terus berusaha melangkahkan kedua kakinya walaupun memang terlihat sangat kesulitan. Beberapa kali Agni hampir terjatuh karena tersandung sesuatu yang tidak dia lihat dan tangan kanannya bergerak aktif meraba-raba.
Pun jauh di sana, suara itu sangat terdengar begitu menakutkan bagi Agni dan seakan membuat jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa saat. "Kenapa jalanmu begitu cepat, sayang?" Suara itu begitu nyaring terdengar dan menggema seakan berada di dalam ruang yang kosong. Mereka berdua memang sedang berada di sebuah area tempat yang sudah lama tidak dipakai. Entah bagaimana ceritanya Agni bisa sampai di sana dan bahkan sekarang sedang dalam keadaan tertekan dan ketakutan. "Ti-tidak! Pergi menjauh dariku!" Getaran suara yang keluar dari mulut Agni membuat si pria itu tertawa nyaring. Walaupun jarak itu belum terlalu dekat. "Hahaha ... dari suaramu itu kau terlihat cukup ketakutan, bukan begitu sayang?" Tentu saja pria tersebut sudah bisa menebaknya. Tap ... tap ... tap! "Sayang ... oh sayang. Kau bersembunyi dimana? Apakah kau sedang mengajakku untuk bermain petak umpet?" Pria itu berhenti sejenak, mengedarkan pandangannya, "Ayolah, kita berdua bisa memulai pesta bersama." Suara dan langkah itu membahana dan sangat mengusik kedua telinga Agni. Merapatkan tubuhnya pada tembok, meremas sesuatu yang sedang dia pegang di tangannya. Agni bergerak pelan dengan tubuh masih menempel pada tembok. Sepertinya dia sedang cosplay menjadi cicak. Debar jantung itu membuat Agni semakin gugup dan gelisah akan nasibnya yang gelap. Segelap apa yang dilihatnya. Beberapa detik setelah itu, kedua telinga Agni tidak mendengarkan apapun. Hening dan senyap. Ini sungguh aneh. "Ahaa ... rupanya kau di sini, cantik!" Pria dengan tubuh setengah tambun itu tiba-tiba muncul dari arah belakang Agni dan membuat Agni berjenggit kaget. Tanpa pikir panjang, pria itu menarik paksa wanita yang sudah mulai meronta dan berusaha membuat perlawanan. Namun berakhir sia-sia hingga tongkat itu terlepas dari genggaman tangan Agni. "Mari, kita berpesta, sayang. Kau pasti paham, apa yang harus kau lakukan?" Tangan Agni ditarik paksa menuju sebuah ruangan yang di sana terdapat sofa yang sudah usang, tapi masih layak untuk dipakai. Pria itu menghempaskan tubuh Agni ke atas sofa. Hampir saja pria itu menggagahinya sebelum akhirnya Agni menendang tanpa arah, akan tetapi tendangan itu tepat pada sasarannya. Pria itu jatuh mengerang sambil memegangi daerah vitalnya. "Wanita br*ngs*k! Berani sekali kau menendang kejantananku!" Tangannya menjambak rambut Agni dengan kasar dan sempat meludahi wajah Agni. Kembali dia mendorong tubuh itu ke sofa. Pria itu tersungkur ke lantai saat seseorang menendangnya. Dia tampak mengerang kesakitan dan mengumpat. Hal itu membuat Agni kaget dan dia berusaha menutup daerah dadanya yang sudah terekspos. "Apa aku merusak pestamu?" tanyanya melirik Agni, "Pria macam apa kau ini, hah! Yang hanya beraninya menggauli seorang wanita yang sudah tidak berdaya bahkan dia buta," cibirnya berdiri tepat di depan Agni yang tampak ketakutan dengan pandangan kosong. "Y-Yo-sua ...." Dia lebih terkejut saat mengetahui siapa orang yang telah menendangnya, "Ja-jangan mendekat!" lanjutnya. "Kau mengenaliku?" Yosua tetap melangkah maju mendekati pria tambun itu. Beberapa saat setelah itu terdengar teriakan yang menyayat hati dan membuat pilu ulung hati. Agni begitu cemas saat mendengar langkah kaki mendekatinya, "Si-siapa? Be-berhenti di situ," ucap Agni gugup dan takut. Tak ada respons suara dan tiba-tiba pria itu sudah berjongkok di depan Agni menutupi tubuhnya dengan jaket serta menggenggam kan tongkat milik Agni ke tangannya. "Sebentar lagi polisi akan datang ke sini. Kau tidak perlu khawatir dengan pria itu. Dia tidak akan berani berbuat macam-macam." *** Yosua berlari secepat kilat, berusaha sedang menghindari sesuatu yang tengah mengejarnya. Buliran peluh yang mengucur deras ditubuhnya tidak dia hiraukan. Sesekali dia menoleh ke belakang, mencari tahu apakah jarak yang dia buat sudah cukup jauh dari para pemangsa yang tengah mengejarnya. Tampak dia berhenti dan kepalanya menoleh kanan dan kiri. Batin Yosua begitu sangat kesal karena dia tidak menemukan tempat yang cocok untuk bersembunyi. "Sial!" pekik Yosua tak kala kedua telinganya mendengarkan teriakan suara. Pria itu begitu sangat jengkel, mereka belum juga tertinggal jauh. Semalaman dia sudah lelah berkelahi dan sekarang dia harus bermain kejar-kejaran. Dengan napas yang masih tersengal, Yosua kembali berlari secepat yang dia bisa, "Kenapa mereka suka sekali mengejarku? Kali ini aku harus mencari tempat bersembunyi untuk sementara. Iya, hanya untuk malam ini sampai pengawalku menemukanku." Jika tidak sedang dalam keadaan terluka, mungkin Yosua akan lincah dan bisa melarikan diri dengan cepat. Pria dengan perawakan tinggi 179 cm itu berhenti sejenak saat merasa dia sudah cukup jauh meninggalkan para polisi yang mengejarnya. Dia membungkuk dan memegangi lututnya, mencoba mengatur napasnya sambil menengok ke belakang. Ada sedikit kekhawatiran dan samar-samar telinganya masih bisa mendengar suara. "Kau cari sebelah sana! Cari dengan teliti, di setiap sudut tempat!" Suara itu terdengar cukup lantang. "Br*ngs*k!" umpatnya. Yosua berdiri dan berkacak pinggang sambil membuang napas. Saat itu kedua matanya menemukan sebuah obyek. Segeralah dia berlari ke sana dan duduk di balik semak. Beberapa saat bersembunyi dibalik semak, barulah Yosua sadar jika tempat itu pastinya tidak aman. Yosua memegang lengan kirinya yang terluka dan rasa perih itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Darah segar mengucur di sana melewati sela-sela jari jemari tangannya. Tak hanya luka pada lengannya, ternyata bagian paha kanannya juga sempat dicium oleh timah panas. Walaupun peluru itu hanya numpang lewat saja, tapi membuat celana milihnya robek dan pastinya meninggalkan luka di paha Yosua. "Jika mereka tidak datang, tentunya aku sudah menebas leher orang itu. Huh ... Benar-benar perusak pesta," Akan berbeda lagi ceritanya jika polisi tidak datang. Dia pastinya sudah memporak porandakan tempat tersebut dan membunuh semua yang ada di sana, tapi ada untungnya juga para polisi datang sehingga sebagai para gangster tertangkap. Gara-gara polisi juga, Yosua harus berpisah dengan para pengawalnya dan juga anak buahnya. Pria itu sempat bepikir jika ada yang menjebaknya, tapi untuk saat itu Yosua belum bisa berpikir dengan jernih. Kembali Yosua melihat keadaan sekeliling, dia harus tetap waspada. Pria tampan berhidung mancung itu memang gemar berurusan dengan polisi, tapi dia juga tidak ingin para polisi itu menemukannya. Yosua memutar otaknya untuk mencari jalan cara menyelamatkan diri dari kejaran para polisi. Yosua bergerak pelan dan berusaha untuk tidak menimbulkan goyangan pada semak. Berharap sekali pengawalnya segera menemukan keberadaannya dan dia tidak perlu bermain kejar-kejaran pada malam itu. Yosua memang sudah mengirimkan pesan pada para pengawalnya tentang keberadaannya. Di tengah keadaan yang genting, Yosua melihat sebuah rumah yang tidak jauh dari sana. Dia berpikir mungkin itu tempat aman untuk bersembunyi sementara sambil menunggu pengawalnya datang. Dia segera bergerak menuju rumah tersebut. Dari kejauhan Yosua bisa mendengarkan bahwa para polisi itu sudah hampir sampai, "Semoga ada cela untuk aku bisa masuk ke dalam rumah itu." Dan ternyata Dewi Fortuna sedang berpihak pada Yosua. Dia melihat pintu bagian belakang tidak dikunci dan peluang emas untuknya masuk lebih mudah. Sebelum masuk ke dalam rumah itu, Yosua memeriksa keadaan rumah dengan mengendap-endap dan mengintip. Singkat cerita Yosua sudah berada di dalam rumah yang memang cahayanya tidak terlalu terang. Dia bisa bernapas lega karena di dalam rumah itu hanya terdapat tumpukan kayu serta ada beberapa tumpukan karung. Setelah diperiksa oleh Yosua ternyata beras. "Aku yakin mungkin ini adalah gudang. Para polisi tidak mungkin akan memeriksa gudang ini." Namun, baru juga hilang rasa khawatir yang terus menerus menyerangnya. Kini Yosua dibuat ketar-ketir saat seorang pria yang tiba-tiba keluar dari sebuah ruangan dan pria itu mengenalnya. "Yo-Yosua Aksara!" Suara itu memang terdengar agak bergetar dan tidak terlalu keras, tetapi akan sangat berbahaya bagi Yosua. Yosua bergerak cepat, tidak ingin memberikan ruang pada pria itu untuk bernapas. KREEKK!! BRUK!!*CHRISTIAN*I drove through the street of Nevada City. I recalled about what happened to me."I like her already". I said smiling. not like idiot you love her. my instinct tells me, I laughed.I played a song, I danced like an insane person.~~~~CHRISTIAN'S HOUSEI honked the car when I got to the entrance of the house. The gate opened immediately, I drove in, I parked properly before coming down. I walked into the mansion with my backpack hung on my shoulders."Hey Chris". I heard a familiar male voice called me, I turned at once only to see Richard my friend.Richard is my childhood friend, he is the same age grade as me."Hey man, how are you". I greeted, we shook and hugged at the same time."Am good, I am just feeling sleepy". He replied sitting on a couch."Feeling sleepy???. You better start going to your house". I said jokingly. I slumped on the chair smiling."Hey man, what's up, why are you smiling". He asked giving me those silly looks."Nothing man, I just feel like smi
**** We headed out for lunch when the bell was rang. We sat round a table."Who is free this weekend". I asked passing my glares around."Me!!!!". They said at once."I want to invite you guys over to my house this weekend to discuss about my upcoming birthday". I said joyfully."Don't worry, I know how to do those stuffs very well, I will prepare a check list before I come". Beatrice shouted."Thank you". I appreciated. We chatted for a long time the bell was rang for a class after lunch. We stood up."I want to visit the white house, I will join you in class soon". I said then I went into another direction."Tessa". I heard a familiar Christian' s voice called my name. I frowned and continued walking. He walked closer to me I increased my pace, I could feel each of his steps as he walked closer to me, I felt a hand on my arm, he turned me to himself."What the f**k is going on here". I yelled, he left my arm, I folded my hands under my breast."I...'. He stammered running his h
We got into his classroom, I was panting by now thanks to him for the way he walks faster. I collapse on his chair, while greeting his friends. He looked at me weirdly, I look away. He shook his head."Where should I sit?". He asked staring at me strangely."Go find somewhere else to sit I am sitted here already". I said not looking at him"You are so unbelievable". He said walking over to a sit after his own sit."You too". I said, he looked at me."For goodness sake can you just please stop staring at me, I might just turn into an air if you don't stop". I whispered into his ear. He ignored me pressing his phone.He is no boring for my liking, I folded my arms under my br**st thinking of what to do."I will answer the question for you, you are staring because you haven't seen any girl as beautiful as me". I said smiling."Can you just stop talking, please I am doing something very important here, Okay". He half yelled.I blinked my eyes severally, not knowing what to say again. I ca
Nothing, I am just having a mood swing lately. I said non challantly. Erica and Jerry walked in with trays in their hands. They dropped it on the table taking their sits.Thanks. I said picking up my cutleries. Erica, are you being chased, I said in surprise seeing Erica almost finishing her food.You guys won't understand the hunger I am currently feeling. Erica said with her mouth full of food.I guess you left home without breakfast. Beatrice said digging her food. Erica ignored her and continue eating. I noticed Jerry is not eating, he is just playing with the food with his cutlery...what happened why are you not eating. I asked.Nothing... He replied calmlyThat's unlike you, what's wrong. I asked, we leaned our ears forward.Why are you guys like this. I said there is nothing wrong with me. He said, we withdraw our ears. We continued eating. We chatted for a while after eating, we stood up walking to the class. I sat down on my sit, scrolling down things on my phone, the princi
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews