LOGINAfter one very personal prank sparks an all-out war, Tara finds herself locked in a battle of egos with the Twin captains of the hockey team. Infamous heartbreakers. Menaces with matching smirks. one-liners, and sabotage so insane it makes the school gossip page explode daily. But when a family arrangement forces the twins to move in, the battlefield shifts from school hallways to bathrooms. From cafeteria showdowns to kitchen tension that’s definitely not just about burnt toast. Enemies were easy. Living under the same roof? Complicated. Especially when both twins aren’t backing down. They started this war. She’s going to end it… unless her heart gets caught in the crossfire.
View More5 tahun bukan waktu yang sebentar.
Bagi sebagian orang, 5 tahun adalah waktu yang berganti menjadi kehidupan baru.
Ada yang berpindah tempat kerja, berpindah rumah, lulus dari perkuliahan, bahkan berganti status dari lajang menjadi berpasangan.
Tapi rasanya… di lantai apartemen dua puluh tujuh itu… waktu berhenti berdetak sejak 5 tahun yang lalu.
Gerald Aiden Mahatma berdiri di depan cermin dalam kamar, menatap pantulan dirinya yang tampak asing. Dia tidak lagi mengenali dirinya sendiri sejak hidup dalam kesunyian kota. Jemarinya bergerak mengikat dasi sutra berwarna biru gelap, pemberian dari orang paling dicintainya.
“Lima tahun,” gumamnya pelan. “Aku masih mengikat dasi dengan cara yang sama seperti kamu waktu itu, Lena.”
Ia menghela napas, menoleh pada lemari pakaian yang terbuka lebar. Di sisi kanan, deretan gaun kerja dan blus sutra milik istrinya—Elena Maheswari Atmaja masih tergantung rapi. Seolah-olah sebentar lagi Elena akan selesai mandi dan memilih salah satunya. Tidak ada satu pun pakaian yang bergeser dari posisinya semula.
Perlahan, Gerald berjalan mendekat. Menyentuh ujung kemeja putihnya yang kebesaran. Ia tersenyum getir. Ia teringat bagaimana Elena lebih suka memakai kemeja itu saat mereka bersantai di akhir pekan daripada dress mahal yang ia belikan.
“Waktu itu, kamu bilang kemejaku bau parfum sandalwood yang menenangkan,” bisiknya pada kekosongan. “Aku kangen lihat kamu pakai kemeja ini lagi, Sayang.”
Ia beralih ke meja rias. Disana, bedak dengan tutup retak dan lipstick warna nude yang hampir habis masih berada di posisinya. Gerald mengambil botol parfum favorit Elena yang isinya masih penuh. Ia tidak pernah menyemprotkannya. Ia hanya menyesap aromanya dari bibir botol, takut sekali rasanya jika partikel parfum itu menguar ke udara dan menambah kerinduan yang Gerald rasakan.
Perlahan, Gerald berjalan menuju sudut ruangan. Menyalakan vacuum cleaner untuk memecah keheningan. Setiap hari, Gerald melakukan aktivitas dengan ritme yang stabil. Meskipun ada pelayan yang datang dua hari sekali membersihkan lantai marmer, Gerald tidak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh kamar utama.
“Kalau suatu hari kamu balik…” Gerald bergumam sambil menyedot debu di sudut karpet, “kamu nggak perlu nyari apapun.”
Ia mematikan alat itu dan menyimpannya kembali. Langkahnya membawa dirinya ke ruang makan. Di atas meja kayu mewah itu, dua set alat makan selalu tertata, meski hanya satu yang akan digunakan.
Setiap hari, Gerald menggunakan layanan cathering untuk makan. Rasanya dapur itu tidak lagi sama tanpa tangan Elena yang memasak untuknya. Meskipun sebenarnya Gerald tidak benar-benar selera makan, tetapi dia harus tetap hidup dan sehat untuk kembali menemukan Elena.
Ponsel di ata meja bergetar hebat. Nama ‘Lucas’ berkedip di layar. Gerald menatapnya selama tiga detik, sebuah ritual kecil yang ia lakukan untuk menyiapkan hati dari kemungkinan kekecewaan yang sama selama 5 tahun terakhir.
Perlahan ia menghembuskan napas dan menggeser layar hijau.
“Pagi, Pak,” suara Lucas terdengar dari seberang sana, profesional namun mengandung nada simpati yang tipis.
“Pagi,” jawab Gerald datar.
“Mengenai pencarian di minggu ini… untuk hari ini, masih belum ada update baru, Pak,” lapor Lucas hati-hati.
Gerald memejamkan mata. Kepalanya bersandar pada sandaran kursi. “Data imigrasi? Rumah sakit di Singapura? Yayasan di pedalaman?”
“Semua sudah diperiksa kembali, Pak. Jejak terakhir tetap di bandara lima tahun lalu. Setelah itu, seperti yang Bapak tahu, seolah-olah Nyonya Elena hilang ditelan bumi,” Lucas menjelaskan dengan nada menyesal.
“Cari lagi,” perintah Gerald, volumenya rendah namun penuh penekanan.
“Kami tetap lanjutkan, Pak. Ada beberapa kemungkinan baru di luar negeri, mungkin di bagian Eropa Timur yang datanya belum terintegrasi—”
“Semua, Lucas,” potong Gerald tajam. “Cari semuanya. Jangan lewatkan satu panti asuhan pun, jangan lewatkan satu klinik kecil pun. Gunakan semua sumber daya yang kita punya.”
“Baik, Pak. Saya mengerti.”
Sambungan terputus. Gerald menatap kursi kosong di depannya. Tiba-tiba, memori itu menghantamnya. Dulu, mereka sering duduk di sini, berdebat tentang hal-hal sepele.
“Kopinya terlalu pahit, Gerald! Kamu mau meracuniku?” suara Elena dalam ingatannya terdengar begitu nyata.
“Itu karena kamu terlalu banyak mengonsumsi gula, Lena. Aku hanya menyelamatkan kesehatanmu,” jawab Gerald dalam bayangannya sendiri.
Kini, ia akan memberikan seluruh kekayaan Mahatma Entertainment hanya untuk bisa mendengar keluhan soal kopi pahit itu sekali lagi.
***
Dua jam kemudian, Gerald sudah berada di kantornya sebagai Direktur Utama Mahatma Entertainment. Dunia seakan tidak peduli kosong dan rapuhnya hati peimpin tertinggi sekaligus paling berpengaruh di industri hiburan negara ini. Semuanya tetap berjalan. Di depan para bawahan dan rekan bisnisnya, Gerald adalah tembok es. Tegas, dingin, efisien, dan tak tersentuh.
“Saya ingin naskah yang berbeda untuk film terbaru. Cari naskah dengan tema yang berbeda, sesuaikan dengan target pasar yang ada,” katanya pada tim kreatif. “Kalian coba naskah yang lebih dark, tapi penuh dengan makna. Saya tidak akan tanda tangan proyek terbaru kalian jika naskahnya masih monoton seperti ini.”
Gerald memimpin dengan ketegasan yang luar biasa. Tidak ada yang berani membantah saat dokumen tersebut sudah terlempar halus ke tengah meja. Pertanda bahwa dia benar-benar tidak menginginkannya.
Ia jarang tersenyum. Ia hampir tidak pernah membicarakan kehidupan pribadinya. Meskipun publik tahu bahwa Nyonya Mahatma telah menghilang secara misterius, Gerald tidak pernah memberikan klarifikasi satu kata pun. Baginya, itu bukan urusan dunia.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Di setiap dokumen resmi, di setiap profil perusahaan, dan di setiap kesempatan di mana namanya disebutkan, nama Elena Maheswari Atmaja selalu tertera di sampingnya sebagai istrinya yang sah. Gerald tidak akan pernah menghapus nama itu.
Selesai rapat, Lucas menyusulnya ke ruang kerja. “Pak, ada undangan makan malam dari keluarga Santoso. Mereka menanyakan keberadaan Anda.”
Gerald tidak menoleh dari layar monitornya. “Katakan saya sibuk. Dan Lucas, pastikan di setiap dokumen resmi perusahaan, nama Elena Maheswari Atmaja tetap tercantum sebagai istri saya. Jangan ada yang berani mengubahnya.”
“Tentu, Pak. Tidak ada yang berani mempertanyakan posisi Ibu Elena.”
Gerald tersenyum miring. “Saya tidak punya waktu untuk pertemuan tidak penting. Apalagi jika tujuannya adalah menggantikan posisi Elena. Sampai kapanpun, Elena adalah istri sah saya.”
***
Malam harinya, selesai makan malam, Gerald duduk di sofa ruang tengah. Ia membuka ponsel dan menggulir album foto tersembunyi. Foto-foto pernikahan mereka yang kaku di awal, karena itu adalah pernikahan bisnis. Lalu foto-foto liburan di mana Elena mulai tersenyum tulus. Ada satu foto favorit Gerald: Elena tertidur di sofa dengan buku tebal menutupi dadanya.
“Lena… Aku gagal di banuak hal, ya?” bisiknya pada udara kosong.
Ia tersenyum getir, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku cari kamu setiap hari. Setiap hari, Sayang,” katanya dengan suara bergetar. “Kalau kamu marah, kamu bisa marah. Kalau kamu benci, bilang. Tapi kenapa harus menghilang?”
Hening. Pertanyaan itu tidak pernah terjawab selama 1.825 hari.
Pikiran Gerald kemudian terseret ke malam terakhir itu. Kalimat terakhir yang Elena ucapkan sebelum menghilang ke dalam kegelapan malam Jakarta.
“Kalau kamu masih punya hati, jangan ikuti aku malam ini.”
Suaranya saat itu begitu tenang. Tidak ada teriakan. Tidak ada piring pecah. Hanya kelelahan yang luar biasa dalam matanya. Dan Gerald, dengan segala kebodohannya, menuruti permintaan itu.
“Seharusnya aku melanggar permintaanmu,” pikir Gerald saat ia berdiri di balkon, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. “Seharusnya aku egois. Seharusnya aku mengejarmu dan memaksamu tinggal disini, apapun risikonya.”
Ia tertawa kecil, suara yang terdengar asing bagi telinganya sendiri. “Lucu sekali. Aku bisa menghadapi krisis bisnis miliaran rupiah, tapi satu kepergian wanita mungil sepertimu sudah cukup untuk melumpuhkanku total.”
Gerald berjalan kembali ke dalam, berdiri di ambang pintu kamar. Ia menatap sisi ranjang yang kosong, namun tetap rapi dengan seprai yang diganti rutin. Ia menyalakan lampu meja kecil di sisi Elena.
“Kalau suatu hari kamu pulang,” bisiknya sebelum mematikan lampu utama, “aku mau kamu tahu… aku tidak akan pernah menghapusmu dari hidupku.”
***
Tara’s POVTwo months had passed since that dark day at the hospital. A month of healing, of learning, of slowly rebuilding the fractured relationships that had been shattered by lies and betrayal.Today was graduation day.I stood in the hallway outside the auditorium, adjusting my cap and gown nervously. My hands were trembling slightly whether from excitement or anxiety, I couldn’t quite tell.I could see Jasper and Sarah down the hall, and I smiled watching them. Jasper had finally realized what I’d known for weeks that he was completely in love with Sarah. Just last week, they had officially started dating, and seeing them together made my heart happy. They deserved each other. They deserved this happiness after everything.Nearby, I caught sight of Tony and Zoey together. They had grown closer over the past month in a way that surprised everyone. Tony had asked her out two weeks ago, and she had said yes with that signature smirk of hers. Now they were practically inseparable, t
Tara’s PovI returned to school the following Monday, and the atmosphere felt different. Lighter, somehow, despite everything that had happened.The principal came inside our class and made an announcement that caught everyone’s attention.“I want to inform the student body that the charges regarding the leaked video have been dropped,” the principal said from the podium. “The family of the victim has decided to pursue alternative measures for justice and healing.”Whispers erupted through the auditorium. People turned to look at Sarah, who sat calmly in her seat, her expression unreadable.“Why.” I asked. “My parents dropped the charges,” she said simply. “I asked them to.”“What?” I said, shocked. “But why?”“Because you helped me,” Sarah said, looking directly at me. “When I was at my lowest, when I wanted to hurt myself, you showed up for me. You defended me. You cared about me even when I didn’t care about myself. I couldn’t hurt someone that you care about, even if that person
Jasper’s POVThe hospital room fell silent after Tara’s declaration of forgiveness. Xavier lay in the bed, tears streaming down his face, his hand still gripping Tara’s like she was his lifeline.My parents stood in the doorway, their expressions shifting from relief to confusion as they processed what they’d just witnessed. The tenderness between Tara and Xavier, the way she held his hand, the intimate nature of her forgiveness it was all adding up to something they didn’t understand.My mother’s eyes narrowed slightly. “Wait,” she said, stepping further into the room. “What exactly is going on between you two?”I watched as Tara’s face flushed deep red. Xavier looked away, unable to meet their gaze.“They were dating,” I said flatly, the words falling from my mouth before I could stop them. “Xavier and Tara. That’s what all of this has been about.”My parents’ jaws dropped simultaneously. My father looked like he’d been punched in the stomach.“Dating?” my mother repeated, her voice
Multiple POVThe next morning, Xavier didn’t come down for breakfast.His mother set a plate for him anyway, as she always did, waiting for him to appear. But minutes ticked by, then an hour, and still no Xavier.“Jasper, can you go check on your brother?” his mother asked, her voice carrying a note of concern. “See if he’s feeling alright.”Jasper looked up from his cereal, his expression hardening. He set down his spoon with deliberate slowness. “No,” he said flatly. “I’m not going.”His mother’s face fell slightly, but she didn’t push. Instead, she turned to Tara, who had come down for breakfast and was sitting quietly at the table, her untouched plate in front of her.“Tara, sweetheart, would you mind checking on Xavier? Just to make sure he’s okay?”Tara’s stomach twisted. The thought of facing Xavier alone made her anxious, but she was already shaking her head before she could think it through. “I can’t,” she said quietly, her voice barely above a whisper. “I’m sorry, but I just
Jasper’s POVI wanted to step aside, to just walk away from this confrontation that was clearly about to happen. But Tara was standing right there, and despite everything that had happened, I couldn’t bring myself to leave. Some part of me needed to stay, needed to see how this played out.Jane too
Jasper’s POVI woke up that morning after two days of staying home from school, and I knew I couldn’t avoid going back any longer. My parents had been understanding about letting me take time to process everything, but they’d made it clear that I needed to return to class today.I got dressed mecha
Xavier’s POV“Can you back up a little?” I asked. “Your gestures are making me feel like you’re judging me or something.”Sarah raised an eyebrow. “That’s your guilty conscience talking,” she said flatly. “I’m not forcing you to do anything. I didn’t force you to put on a mask and pretend to be som
Tara’s POVI sat in the cafeteria during lunch, mechanically munching on an apple while my mind wandered through everything that had happened. The apple tasted like nothing, I was just eating because I knew I needed to, not because I actually wanted to.Zoey sat across from me, pushing her food aro
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews