My Bullies Are Twin Hockey Players

My Bullies Are Twin Hockey Players

last updateLast Updated : 2025-11-27
By:  DizaCompleted
Language: English
goodnovel18goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
253Chapters
8.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

After one very personal prank sparks an all-out war, Tara finds herself locked in a battle of egos with the Twin captains of the hockey team. Infamous heartbreakers. Menaces with matching smirks. one-liners, and sabotage so insane it makes the school gossip page explode daily. But when a family arrangement forces the twins to move in, the battlefield shifts from school hallways to bathrooms. From cafeteria showdowns to kitchen tension that’s definitely not just about burnt toast. Enemies were easy. Living under the same roof? Complicated. Especially when both twins aren’t backing down. They started this war. She’s going to end it… unless her heart gets caught in the crossfire.

View More

Chapter 1

Chapter 1: The Locker Prank

5 tahun bukan waktu yang sebentar.

Bagi sebagian orang, 5 tahun adalah waktu yang berganti menjadi kehidupan baru.

Ada yang berpindah tempat kerja, berpindah rumah, lulus dari perkuliahan, bahkan berganti status dari lajang menjadi berpasangan.

Tapi rasanya… di lantai apartemen dua puluh tujuh itu… waktu berhenti berdetak sejak 5 tahun yang lalu.

Gerald Aiden Mahatma berdiri di depan cermin dalam kamar, menatap pantulan dirinya yang tampak asing. Dia tidak lagi mengenali dirinya sendiri sejak hidup dalam kesunyian kota. Jemarinya bergerak mengikat dasi sutra berwarna biru gelap, pemberian dari orang paling dicintainya.

“Lima tahun,” gumamnya pelan. “Aku masih mengikat dasi dengan cara yang sama seperti kamu waktu itu, Lena.”

Ia menghela napas, menoleh pada lemari pakaian yang terbuka lebar. Di sisi kanan, deretan gaun kerja dan blus sutra milik istrinya—Elena Maheswari Atmaja masih tergantung rapi. Seolah-olah sebentar lagi Elena akan selesai mandi dan memilih salah satunya. Tidak ada satu pun pakaian yang bergeser dari posisinya semula.

Perlahan, Gerald berjalan mendekat. Menyentuh ujung kemeja putihnya yang kebesaran. Ia tersenyum getir. Ia teringat bagaimana Elena lebih suka memakai kemeja itu saat mereka bersantai di akhir pekan daripada dress mahal yang ia belikan.

“Waktu itu, kamu bilang kemejaku bau parfum sandalwood yang menenangkan,” bisiknya pada kekosongan. “Aku kangen lihat kamu pakai kemeja ini lagi, Sayang.”

Ia beralih ke meja rias. Disana, bedak dengan tutup retak dan lipstick warna nude yang hampir habis masih berada di posisinya. Gerald mengambil botol parfum favorit Elena yang isinya masih penuh. Ia tidak pernah menyemprotkannya. Ia hanya menyesap aromanya dari bibir botol, takut sekali rasanya jika partikel parfum itu menguar ke udara dan menambah kerinduan yang Gerald rasakan.

Perlahan, Gerald berjalan menuju sudut ruangan. Menyalakan vacuum cleaner untuk memecah keheningan. Setiap hari, Gerald melakukan aktivitas dengan ritme yang stabil. Meskipun ada pelayan yang datang dua hari sekali membersihkan lantai marmer, Gerald tidak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh kamar utama.

“Kalau suatu hari kamu balik…” Gerald bergumam sambil menyedot debu di sudut karpet, “kamu nggak perlu nyari apapun.”

Ia mematikan alat itu dan menyimpannya kembali. Langkahnya membawa dirinya ke ruang makan. Di atas meja kayu mewah itu, dua set alat makan selalu tertata, meski hanya satu yang akan digunakan.

Setiap hari, Gerald menggunakan layanan cathering untuk makan. Rasanya dapur itu tidak lagi sama tanpa tangan Elena yang memasak untuknya. Meskipun sebenarnya Gerald tidak benar-benar selera makan, tetapi dia harus tetap hidup dan sehat untuk kembali menemukan Elena.

Ponsel di ata meja bergetar hebat. Nama ‘Lucas’ berkedip di layar. Gerald menatapnya selama tiga detik, sebuah ritual kecil yang ia lakukan untuk menyiapkan hati dari kemungkinan kekecewaan yang sama selama 5 tahun terakhir.

Perlahan ia menghembuskan napas dan menggeser layar hijau.

“Pagi, Pak,” suara Lucas terdengar dari seberang sana, profesional namun mengandung nada simpati yang tipis.

“Pagi,” jawab Gerald datar.

“Mengenai pencarian di minggu ini… untuk hari ini, masih belum ada update baru, Pak,” lapor Lucas hati-hati.

Gerald memejamkan mata. Kepalanya bersandar pada sandaran kursi. “Data imigrasi? Rumah sakit di Singapura? Yayasan di pedalaman?”

“Semua sudah diperiksa kembali, Pak. Jejak terakhir tetap di bandara lima tahun lalu. Setelah itu, seperti yang Bapak tahu, seolah-olah Nyonya Elena hilang ditelan bumi,” Lucas menjelaskan dengan nada menyesal.

“Cari lagi,” perintah Gerald, volumenya rendah namun penuh penekanan.

“Kami tetap lanjutkan, Pak. Ada beberapa kemungkinan baru di luar negeri, mungkin di bagian Eropa Timur yang datanya belum terintegrasi—”

“Semua, Lucas,” potong Gerald tajam. “Cari semuanya. Jangan lewatkan satu panti asuhan pun, jangan lewatkan satu klinik kecil pun. Gunakan semua sumber daya yang kita punya.”

“Baik, Pak. Saya mengerti.”

Sambungan terputus. Gerald menatap kursi kosong di depannya. Tiba-tiba, memori itu menghantamnya. Dulu, mereka sering duduk di sini, berdebat tentang hal-hal sepele.

“Kopinya terlalu pahit, Gerald! Kamu mau meracuniku?” suara Elena dalam ingatannya terdengar begitu nyata.

“Itu karena kamu terlalu banyak mengonsumsi gula, Lena. Aku hanya menyelamatkan kesehatanmu,” jawab Gerald dalam bayangannya sendiri.

Kini, ia akan memberikan seluruh kekayaan Mahatma Entertainment hanya untuk bisa mendengar keluhan soal kopi pahit itu sekali lagi.

***

Dua jam kemudian, Gerald sudah berada di kantornya sebagai Direktur Utama Mahatma Entertainment. Dunia seakan tidak peduli kosong dan rapuhnya hati peimpin tertinggi sekaligus paling berpengaruh di industri hiburan negara ini. Semuanya tetap berjalan. Di depan para bawahan dan rekan bisnisnya, Gerald adalah tembok es. Tegas, dingin, efisien, dan tak tersentuh.

“Saya ingin naskah yang berbeda untuk film terbaru. Cari naskah dengan tema yang berbeda, sesuaikan dengan target pasar yang ada,” katanya pada tim kreatif. “Kalian coba naskah yang lebih dark, tapi penuh dengan makna. Saya tidak akan tanda tangan proyek terbaru kalian jika naskahnya masih monoton seperti ini.”

Gerald memimpin dengan ketegasan yang luar biasa. Tidak ada yang berani membantah saat dokumen tersebut sudah terlempar halus ke tengah meja. Pertanda bahwa dia benar-benar tidak menginginkannya.

Ia jarang tersenyum. Ia hampir tidak pernah membicarakan kehidupan pribadinya. Meskipun publik tahu bahwa Nyonya Mahatma telah menghilang secara misterius, Gerald tidak pernah memberikan klarifikasi satu kata pun. Baginya, itu bukan urusan dunia.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Di setiap dokumen resmi, di setiap profil perusahaan, dan di setiap kesempatan di mana namanya disebutkan, nama Elena Maheswari Atmaja selalu tertera di sampingnya sebagai istrinya yang sah. Gerald tidak akan pernah menghapus nama itu.

Selesai rapat, Lucas menyusulnya ke ruang kerja. “Pak, ada undangan makan malam dari keluarga Santoso. Mereka menanyakan keberadaan Anda.”

Gerald tidak menoleh dari layar monitornya. “Katakan saya sibuk. Dan Lucas, pastikan di setiap dokumen resmi perusahaan, nama Elena Maheswari Atmaja tetap tercantum sebagai istri saya. Jangan ada yang berani mengubahnya.”

“Tentu, Pak. Tidak ada yang berani mempertanyakan posisi Ibu Elena.”

Gerald tersenyum miring. “Saya tidak punya waktu untuk pertemuan tidak penting. Apalagi jika tujuannya adalah menggantikan posisi Elena. Sampai kapanpun, Elena adalah istri sah saya.”

***

Malam harinya, selesai makan malam, Gerald duduk di sofa ruang tengah. Ia membuka ponsel dan menggulir album foto tersembunyi. Foto-foto pernikahan mereka yang kaku di awal, karena itu adalah pernikahan bisnis. Lalu foto-foto liburan di mana Elena mulai tersenyum tulus. Ada satu foto favorit Gerald: Elena tertidur di sofa dengan buku tebal menutupi dadanya.

“Lena… Aku gagal di banuak hal, ya?” bisiknya pada udara kosong.

Ia tersenyum getir, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku cari kamu setiap hari. Setiap hari, Sayang,” katanya dengan suara bergetar. “Kalau kamu marah, kamu bisa marah. Kalau kamu benci, bilang. Tapi kenapa harus menghilang?”

Hening. Pertanyaan itu tidak pernah terjawab selama 1.825 hari.

Pikiran Gerald kemudian terseret ke malam terakhir itu. Kalimat terakhir yang Elena ucapkan sebelum menghilang ke dalam kegelapan malam Jakarta.

“Kalau kamu masih punya hati, jangan ikuti aku malam ini.”

Suaranya saat itu begitu tenang. Tidak ada teriakan. Tidak ada piring pecah. Hanya kelelahan yang luar biasa dalam matanya. Dan Gerald, dengan segala kebodohannya, menuruti permintaan itu.

“Seharusnya aku melanggar permintaanmu,” pikir Gerald saat ia berdiri di balkon, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. “Seharusnya aku egois. Seharusnya aku mengejarmu dan memaksamu tinggal disini, apapun risikonya.”

Ia tertawa kecil, suara yang terdengar asing bagi telinganya sendiri. “Lucu sekali. Aku bisa menghadapi krisis bisnis miliaran rupiah, tapi satu kepergian wanita mungil sepertimu sudah cukup untuk melumpuhkanku total.”

Gerald berjalan kembali ke dalam, berdiri di ambang pintu kamar. Ia menatap sisi ranjang yang kosong, namun tetap rapi dengan seprai yang diganti rutin. Ia menyalakan lampu meja kecil di sisi Elena.

“Kalau suatu hari kamu pulang,” bisiknya sebelum mematikan lampu utama, “aku mau kamu tahu… aku tidak akan pernah menghapusmu dari hidupku.”

***

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

gingerstory
gingerstory
Love this book so far.
2025-10-08 14:27:50
0
0
Paola Cropper
Paola Cropper
Brilliant book, a must read!
2025-11-22 02:39:57
0
0
253 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status