LOGINWhen two enemies finally stop trying to strangle each other, the sparks won't just fly, they'll set the room on fire. °-----*-----*-----•**•-----*-----*-----° The Bloodmoon Alpha demands a tribute from the Nightveil pack every year. This time, Kradamian asks for the Crown Princess. To save the only sister who has ever shown her kindness, Akira offers herself in her place. Delivered to the most feared Alpha alive, Akira has only one goal: kill him... or die trying. If you love angst, emotional damage, hilarious bickering, and a payoff worth waiting for, you've found your next obsession. Welcome to a romance where love doesn't bloom overnight: it kicks, bites, growls, argues, and occasionally plots murder first.💀 M.E.M.F.A is a slow-burn enemies-to-lovers romance, so please don't expect my stubborn Alpha and equally stubborn heroine to fall head over heels after three chapters. Expect explosive banter, possessive moments, stolen glances, jealousy, emotional damage, and enough unresolved tension to make you yell, “JUST KISS ALREADY!"
View MoreTiga pegunungan yang dikenal dengan sebutan Gunung Tiga Maut itu membangun sebuah lembah mematikan. Dari ketiga gunung tersebut mengalirlah dua sungai, yang pada akhirnya mengalir menjadi satu.
Dua sungai tersebut mengalir dari celah-celah Gunung Tiga Maut. Sungai yang mengalir dari celah selatan airnya sangat dingin. Sedang sungai yang mengalir dari celah barat airnya sedikit hangat. Dua sungai itulah yang disebut dengan Sungai Keabadian.
Tidak mudah untuk sampai pada Sungai Keabadian. Jebakan-jebakan yang berasal dari alam, atau jebakan-jebakan yang berasal dari manusia selalu menunggu setiap saat. Mengintai dari balik-balik semak. Jalan setapak pun tidak tampak sebab satu tahun sekali belum tentu ada manusia yang melaluinya.
Apakah tidak ada yang berminat? Bukan masalah minat atau tidak minat. Tapi mereka lebih dahulu gagal sebelum memasuki kawasan Gunung Tiga Maut yang sebenarnya. Jadilah jalan setapak tidak terbentuk.
Ketika matahari hampir tumbang, sinarnya yang kemerah-merahan meredup, berjalanlah seorang pemuda dengan pakaian serba hitam. Rambutnya tergerai angin tidak beraturan. Keringat membasahi tubuh.
Matanya berkunang-kunang, wajahnya menafan lelah. Hampir empat belas hari dia menaiki Gunung Tiga Maut, belum sampai juga pada lembahnya.
“Aku harus menguatkan tekat,” kata lelaki itu kepada dirinya sendiri.
Tangan pemuda itu meraih akar pohon yang melingkari batu besar, dia berusaha menaiki pegunungan yang terjal. Ah, ternya akar pohon itu tidak terlalu kuat untuk menahan dirinya. Akar itu lepas dari bebatuan.
Buk...
“Aduh...,” seru pemuda itu. Tubuhnya terjatuh menimpa bebatuan di bawah tebing.
Belum hilang rasa sakit yang dia rasa sebab menimpa bebatuan, dari arah atas terjun bebas sebuah batu seukuran kepala. Dengan sisa tenaga yang ada dan dengan menahan rasa sakit pemuda itu berusaha menghindar.
Bruk...
Meski dia cepat menghindar, tapi tangan kanannya tetap tertimpa batu seukuran kepala itu.
“Aduh..,” dia mengaduh untuk yang kedua kalinya.
“Pantas saja tidak banyak manusia yang berhasil sampai di puncak Gunung Tiga Maut. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja.”
Pemuda itu kembali bangkit, meraih akar-akar pohon yang melilit batu, menaiki tebing terjal. “Apakah tidak ada jalan yang lebih buruk dari ini?” kata pemuda itu kepada dirinya sendiri.
Tangan kanannya meraih akar yang melilit batu padas, sedang tangan kirinya meraih sebuah dahan pohoh seukuran kaki orang dewasa. Hampir saja dia kembali terjatuh sebab tangan kirinya yang ragu-ragu berpegangan.
“Syukurlah,” katanya pada diri sendiri. Kakinya berpijak pada batu padas. Keringat dingin kembali mengucur dari sekujur tubuhnya.
Masih butuh dua ratus meter lagi pendakian hingga akhirnya sampai di puncak Gunung Tiga Maut. Semakin ke atas, tebing semakin terjal. Bahkan semakin ke atas, akar-akar tumbuhan semakin hilang, menyisakan bebatuan padas berlubang kecil. Lereng juga semakin tegak. Lengah satu kali saja maka akan terjatuh. Entah apa yang menunggu di bawah sana.
Tinggi lereng keseluruhan hampir enam ratus meter. Dan sekarang, pemuda itu telah menaiki lereng hingga ketinggian empat ratus meter.
“Nah, syukurlah! Di atas sana ada terasering yang bisa aku gunakan untuk istirahat malam ini.” Matanya menatap cerah selapang tanah yang berukuran tiga meter lebih, di atas sana. Dia kembali semangat mengais dan mengais akar-akar tanaman. Beberapa kali ia terpaksa mengais batu yang menempel pada lereng gunung, sebab tidak ada akar terdekat yang bisa ia gunakan. Ia semakin dekat dengan tempat peristirahatan untuk malam ini.
Matahari telah sempurna hilang. Awan kemerah-merahan beranjak pergi digantikan awan hitam keabu-abuan. Pemuda itu belum kunjung sampai juga di terasing untuk bermalam.
Tangan kiri pemuda itu meraih sebuah akar yang melilit batu seukuran kepala. Tangan kanannya berusaha meraih akar pohon di atasnya. “Nah, semoga saja sampai.”
Tapi ternyata tidak semudah yang dia bayangkan. Ketika tangan kanannya satu senti dari akar pohon di atasnya, sebuah anak panah melesat menyasar tangan kanan pemuda tersebut. “Keparat. Apakah ada manusia di alam seperti ini?” Tangan kanan pemuda itu sekarang berpegangan pada akar yang sama dengan tangan kiri. Kakinya memijak batu seadanya.
Matanya memandang kiri-kanan, dari asal muasal anak panah. Tidak ada siapa-siapa. “Ah, paling itu adalah anak panah pemburu yang tengah membidik sembarangan.” batin dia.
Tangan kanannya kembali berusaha meraih akar pohon semula. Tapi ketika tangannya satu senti dari akar tersebut, tiba-tiba anak panah kembali menyasar, membidik tangannya.
Matanya menatap tajam asal anak panah. “Hai, siapa saja kau, keluarlah! Jangan jadi pengecut.” Pemuda itu berteriak marah.
Tidak ada jawaban. Lengang. Bahkan suara angin sekalipun tidak terdengar.
Dia harus segera naik. Satu, sebab akar pohon itu tidak mampu menahan tubuhnya lebih lama lagi. Dua, hari semakin gelap. Pendakian tebing ini tidak akan bisa berlanjut jika gelap menyelimuti. Alhasil, apapun akibatnya pemuda itu harus segera naik. Entah anak panah itu kembali datang atau tidak.
Perlahan tangan kanannya kembali meraih dahan pohon seukuran tangan orang dewasa. Sepertinya kali ini aman, tidak ada anak panah yang kembali menyasar tangannya. Tubuh pemuda itu kembali naik satu meter.
Kakinya berpijak pada dahan pohon yang sekiranya mampu menahan berat tubuhnya. Tangan kirinya meraih dahan yang tidak jauh dari kepalanya, berhasil.
Tangan kanannya kembali meraih batu yang setengah terkubur di lereng pegunungan, sedikit kesulitan, batu itu setengah besar. Tangan kirinya buru-buru meraih akar yang melilit batu, kakinya terangkat menopang tubuhnya untuk naik. Berhasil. Tubuhnya kembali naik satu meter.
Sampai beberapa saat akhirnya pemuda itu berhasil naik sampai tanah terasering. Wajahnya tersenyum bangga. “Ah, tidak akan ada yang bisa menghalangiku lagi.”
Salah, ternyata pemuda itu sangat salah. Sebuah anak panah kembali melesat, menyasar tangan kanannya.
Wush...
Syukurlah, setidaknya telinganya masih bisa mendengar desingan anak panah itu. Dengan sigap tangannya bergerak naik. Anak panah itu mengenai sebuah dahan pohon menancap di sana. Belum sempat tangannya turun, sebuah anak panah kembali mendesing menyasar lehernya.
Wush...
Kali ini dia terpaksa mengayunkan tubuhnya ke belakang, meliuk seperti karet terbakar panasnya api. Itu semua belum selesai. Dua anak panah kembali mendesing bersamaan, menyasar kaki dan kepalanya. Ah, kali ini pemuda itu terbang ke atas. Tubuhnya salto bebas.
Belum sampai tubuhnya menyentuh tanah, tiba-tiba belasan batu seukuran kepalan tangan beterbangan menyerang dirinya. Nyiur angin dingin bertiup. Dengan susah payah pemuda itu menghindar. Sesekali dia harus menggunakan ajian peringan tubuh, meski itu sangat menguras energinya.
Wush...
Sebuah anak panah kembali menyasar perutnya. Dengan mudah pemuda itu bisa menghindar.
Dari arah tidak begitu jauh, dari bawah sebuah pohon beringin, terdengar suara tepuk tangan beberapa kali. Plok... plok... plok... terdengar berjeda dua detik dari masing-masing tepukan.
“Hai, Pemuda! Sepertinya kemampuan pendengaranmu sedikit bisa membantu.” Suara itu terdengar kabur oleh suara angin.
Mata pemuda itu memandang asal suara. Dia menemukan sebuah sosok tinggi hitam, mata orang yang berkata itu berpendar-pendar kekuningan.
Pemuda itu berkata, “Siapa kau berani-beraninya menyerangku...?”
Belum selesai dia berbicara, sebuah anak panah kembali menyassarnya.
Wush...
Tepat mengenai perutnya. Pemuda itu tidak bisa menghindar sama sekali. Tubuhnya terkulai jatuh. Tidak sadarkan diri.
AKIRA’S POVA strange tingle flared deep in my chest the moment his skin left mine. My lungs burned as I crashed to the stone floor, coughing violently and clutching my bruised neck. I ignored the warmth, brushing it off as nothing more than a rush of adrenaline.Kradamian stumbled back a step, his chest heaving as if he were the one who had just been deprived of air. His dark eyes locked onto mine, completely intense and filled with an expression that I could not understand.I refused to give him the satisfaction of seeing me cower. He was responsible for the death of my mother. I would never bow to him! Never!I forced myself to sit up, coughing violently as I continued to rub my neck.“What's the matter?” I spat, my voice raw but entirely sharp. “Couldn’t suddenly kill a wolfless girl?”“Shut your mouth, you insolent woman!” Lady Veticia’s voice boomed through the hall, cutting me off. “You have said and done enough.”While still trying to catch my breath, my eyes moved to Veticia.
KRADAMIAN’S POVThousands of Bloodmoon wolves lined the streets, packed shoulder to shoulder against the stone walls. Necks bared, foreheads pressed toward the dirt.I walked past them into the main courtyard, the severed head of the Rogue King I had just defeated dangling in my hand. For three good months, this coward hid in the northern ridges, calling himself a liberator. Now, he was a trophy.“Hail the Conqueror,” a low chant rose from the front ranks of the pack warriors, spreading among the civilians until the stone walls vibrated. “Hail the Alpha of all alphas, Kradamian Nightingale.”I didn't acknowledge the praises.Victory wasn't an occasion for celebration; it was the standard. The rogues had questioned my authority, and I corrected their mistake. Power was simple. Those strong enough to take territory kept it. Those too weak to defend it deserved to lose it.At the base of the palace steps, I tightened my grip on the Rogue King’s hair before flinging it onto the flags. It
AKIRA’S POVThe two servants didn’t even look at me. They stuffed my worn dresses into a rough travel sack as though they were nothing but rags.“Hurry up,” the other one muttered, not caring if I heard. “I don't want to remain inside this cursed room.”I sat on the cold floor with my back against the wall. There was no bed in my room, only a thin mat in the corner. I was leaving this prison forever, and yet, my chest felt tight. I wasn't going to miss this room or this palace. The only thing pulling at my heart was the thought of leaving Madura and Elijah behind.Tears blurred my vision, hot and stinging. They were the only reason I had survived ten years of hell. I needed to see them. I needed to hold them one last time before the Bloodmoon warriors dragged me away to my death.The door burst open, and Madura ran in. Her face was already red, tears covering her cheeks.“Akira!” she sobbed, throwing herself down onto the floor and locking her arms around my neck. She held me so tight
AKIRA’S POVBefore I could steady myself, a rough hand yanked me up by my collar. My feet didn’t walk—they dragged.Every single jerk forward felt like fire, but it was my back that made me want to scream. The whip had sliced straight through my dress, gluing the torn fabric to open, bleeding flesh. With every step the guard took, the cloth pulled at the wounds, tearing them open all over again.I bit my inside cheek, swallowing the taste of my own blood.“Move your legs!” the soldier shouted, throwing me hard against the wall at the base of the stairs. “The Alpha is waiting for you.”I didn't cry or beg. Years in this palace had beaten both out of me. Crying earned more blows. Begging earned laughter. When everyone in the pack has branded you a curse, silence is the only thing you have left to protect yourself.They pushed me through the upper hallways, and the moment we entered the main corridors, the usual chatter from the servants died down.People stopped dead in their tracks to
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.