登入Bab 13
Setelah saling memeluk dan melupakan segala rasa sedih, marah, dan penyesalan di bawah langit sore itu, Arthur dan Melati pun berjalan pulang beriringan. Tidak ada lagi jarak di antara mereka. Arthur menggenggam tangan Melati begitu erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu akan menghilang. Sepanjang jalan, Arthur terus menatap wajah Melati dengan pandangan yang penuh kasih sayang, namun dibalut rasa bersalah yang mendalam. Ia merasa sangat malu pada dBab 21Aku merasakan panas menjalar ke seluruh wajahku mendengar bisikan itu, ditambah dengan sentuhan tangannya yang membuat setiap jengkal kulitku seolah terbakar rasa hangat yang tak terlukiskan. Napasku tersendat saat kepalaku mendongak sedikit, menatap wajahnya yang masih terlihat berantakan dan mengantuk, namun ada kilatan lembut yang mendalam di manik matanya. "Aku tidur sangat nyenyak," jawabku pelan, suaraku hampir hilang tertelan kehangatan pelukannya. "Mungkin karena di sini terasa... aman. Terutama saat ada kamu di sampingku sepanjang malam." Arthur tersenyum tipis, senyum yang selalu berhasil membuat jantungku berpacu lebih cepat. Ia menurunkan kepalanya sedikit, menyentuhkan bibirnya lembut di sisi pipiku, persis di sudut bibirku, sebelum akhirnya melepaskan pelukannya perlahan—meskipun tangannya masih enggan beranjak dari pinggangku, seolah takut aku akan hilang begitu saja jika ia melepaskanku sepenuhnya.
Bab 20 Malam semakin larut, dan udara dingin khas pegunungan mulai menembus masuk ke celah-celah jendela kayu kabin, membuat suhu di luar semakin menurun. Namun, di dalam ruangan, suasana terasa begitu kontras—hangat, nyaman, dan diterangi oleh cahaya remang-remang dari nyala api perapian yang masih menyala terang, memantulkan bayangan-bayangan lembut yang menari-nari di dinding kayu. Arthur dan Melati duduk bersebelahan di atas karpet tebal yang terbentang tepat di depan perapian. Mereka bersandar pada bantal-bantal empuk, tubuh mereka saling bersentuhan rapat seolah tak ingin ada jarak sedikit pun di antara keduanya. Melati membenamkan punggung dan bahunya ke dada bidang Arthur, sementara lengan kekar pria itu melingkar erat di pinggangnya, memeluknya sepenuhnya dalam dekapannya yang aman dan hangat. "Apa kau merasa cukup hangat, Sayang?" bisik Arthur pelan tepat di telinga Melati, napasnya yang hangat menyapu kulit leher kekasihnya. Ia meng
Bab 19 Perjalanan mereka kembali berlanjut, namun kali ini suasana di dalam mobil terasa berbeda—lebih tenang, lebih hangat, dan penuh dengan kebahagiaan yang baru saja mereka rasakan. Rasa lelah yang semula ada kini berubah menjadi rasa senang yang membahagiakan, dan keduanya duduk berdekatan, saling menggenggam tangan, sesekali saling menatap dengan senyum yang tak terucapkan. Jalanan yang dulunya terasa panjang kini terasa begitu cepat berlalu, seolah alam pun ikut mendukung kebahagiaan mereka berdua. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya di depan mata mereka terlihat sebuah papan petunjuk yang bertuliskan "Kabin Pegunungan - 2 Kilometer Lagi". Mata keduanya seketika bersinar terang, rasa sabar mereka yang tersisa kini makin memuncak karena tak sabar ingin segera tiba di tempat tujuan. "Sudah hampir sampai, Sayang," kata Arthur dengan suara lembut, matanya menatap lurus ke depan dengan perasaan yang
Bab 18 Tubuh Melati bergetar hebat saat ia perlahan-lahan merendahkan dirinya, membiarkan seluruh panjang dan besarnya kelelakian Arthur masuk dan menenggelamkan dirinya sepenuhnya ke dalam rongga tubuhnya yang hangat dan basah. Sensasi penuh yang mendadak memenuhi setiap sudut kewanitaannya membuat napasnya tercekat, dan sebuah desahan panjang lolos dari bibirnya. Rasanya begitu besar, begitu dalam, dan begitu pas seolah diciptakan khusus hanya untuk dirinya. Kepala Arthur terjatuh ke belakang, bersandar lemas pada sandaran kursi mobil yang empuk. Matanya terpejam rapat, rahangnya mengeras kuat menahan gejolak kenikmatan yang meledak-ledak di sekujur tubuhnya. Sebuah erangan parau dan berat terdengar merobek dari tenggorokannya saat ia merasakan bagaimana dinding-dinding lembut milik Melati menyelimutinya dengan keketatan yang luar biasa, meremas dan memeluk setiap inci kulitnya seolah tak ingin melepaskannya lagi. "S
Bab 17 Tubuh Melati seketika tersentak hebat mendengar ucapan Arthur. Kulitnya terasa membara luar biasa, dipenuhi oleh rasa rindu yang mendalam dan gairah yang meluap-luap—terutama karena sudah cukup lama keduanya tidak menumpahkan rasa kasih sayang secara fisik. Setiap kata yang keluar dari mulut kekasihnya itu terasa seperti pemicu yang membakar seluruh kesabaran yang tersisa di dalam dirinya. Dengan napas yang mulai memburu dan mata yang berkilat menantang, Melati berbisik, "Benarkah? Apakah rasanya akan sedalam itu dan sesulit yang kau bayangkan, Sayang?" Arthur tertawa pelan, namun ada nada rendah dan bahaya yang terselip di dalamnya. Matanya berbinar tajam, sepasang mata yang kini menatapnya seperti seekor pemangsa yang sedang menemukan mangsa terlezatnya. Ia melirik sekilas ke arah Melati, pandangannya penuh dengan niat yang tak terelakkan. "Oh, Sayangku... rasanya akan jauh lebih dalam dan jauh lebih dahsyat dari apa yang bisa kau ba
Bab 16 Perjalanan menuju pegunungan masih cukup panjang, namun suasana di dalam mobil terasa hangat dan akrab. Arthur dan Melati terus mengobrol, tertawa, dan berbagi cerita sepanjang jalan, membuat waktu terasa berlalu begitu saja. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa lelah mulai perlahan menyerang Melati. Ia menoleh ke arah Arthur, menatap profil wajah kekasihnya yang tampak fokus menyetir, lalu bertanya dengan suara lembut yang sedikit berisi keluhan manja, "Arthur, kira-kira kita sampai di sana jam berapa ya? Rasanya aku sudah tak sabar ingin segera tiba." Arthur melirik sekilas ke arahnya dengan senyum kecil, lalu mengalihkan pandangannya ke layar GPS yang terpasang di dasbor mobil. Ia memindai angka-angka dan peta yang tertera di sana dengan cermat sebelum menjawab, "Sekitar tiga jam lagi perjalanan kita, Sayang. Bisa saja menjadi empat jam kalau nanti lalu lintasnya agak padat atau lambat." Ia menyesuaikan posisi tangannya di setir, menggenggam







