LOGINReya, dokter muda yang dingin dan keras kepala, tak pernah menyangka hidupnya berubah sejak ia menyelamatkan Felix, mafia paling berbahaya di kota, yang justru menjadikannya dokter pribadi dan terus mengejarnya dengan sikap posesif serta godaan yang penuh gairah.
View More“Siapa yang harus kuobati?” tanya Raya datar.
Gadis itu kemudian mengarahkan pandangannya pada seorang pria yang berdiri membelakanginya di dalam ruangan. Dari belakang saja, Raya bisa melihat tubuhnya yang tinggi dengan bahu lebar dan otot yang tampak padat di balik pakaiannya. Kulitnya yang sawo matang terlihat jelas di tengkuknya, sementara posturnya yang tegap membuat sosok itu tampak begitu dominan.
Seolah menyadari dirinya sedang diperhatikan, pria itu perlahan berbalik. Saat itulah Raya akhirnya melihat rahangnya yang tegas, hidungnya yang lurus, serta sepasang mata gelap yang tajam seperti binatang pemangsa.
“Felix?” gumam Raya membatin, lututnya langsung terasa gemetar.
Bagaimana tidak, Felix adalah pewaris tunggal keluarga Wicaksono yang terkenal dengan dunia gelapnya di negara ini.
Mata Raya makin melebar begitu melihat tubuh pria itu yang penuh tato. Ada tato seekor serigala hitam besar di sisi dada kirinya, giginya terbuka. Juga ada beberapa bekas peluru dan luka yang memanjang di dada pria itu.
“Tubuhnya sempurna sekali,” lirih Reya yang ternyata didengar Felix.
Pria itu, langsung menyeringai kecil. Lalu dengan santainya berkata, “Aku sering dengar itu.”
Malam itu seharusnya menjadi shift malam pertama Reya yang tenang. Reya baru seminggu resmi bekerja sebagai dokter di rumah sakit pusat. Hingga pintu IGD terbuka keras dan pria-pria berjas hitam masuk tanpa izin. Ia tak diberi pilihan. Ia dibawa paksa dengan ditutup kepalanya.
Kini, Felix duduk di kursi dengan santai, dan barulah Reya melihat luka tusukan dengan jelas di area dada pria itu. Untuk pria normal, pasti sudah pingsan. Tapi, pria itu malah masih bisa bersandar dengan mengulum permen di mulutnya.
Reya tersenyum kecil lalu mendekat. Ia mencondongkan tubuh, lalu mengambil permen itu begitu saja dari bibir Felix dengan mulutnya.
“Manis,” kata Reya sambil memasukkannya ke mulut sendiri. “Aku dibayar berapa?”
“Lima juta,” jawab pengawal.
“Oke.” jawab Reya berusaha santai.
Gadis itu lalu dengan teliti mulai membersihkan luka dan menjahitnya tanpa anestesi sama sekali. Ia bahkan sesekali sengaja menekan lukanya, menikmati melihat bos mafia kejam itu menyeringai menahan rasa sakit.
Wajah Reya sangat dekat dengan dada Felix. Bibir mereka bahkan beberapa kali nyaris bersentuhan.
Felix bisa mencium aroma lembut dari rambut Reya. Saat jarum menusuk kulitnya, Felix menautkan tangannya di sisi ranjang, urat-urat lengannya menegang.
“Jangan tegang,” ucap Reya tenang. Bibirnya melengkung tipis. “Malu sama tato segarang ini, tapi sakit segini aja kaku?”
Felix terkekeh pelan, “Mulutmu tajam juga.”
Saat Reya kembali menekan luka jahitan itu, Felix mendesis pelan. Tangannya tiba-tiba bergerak turun, menyentuh paha Reya yang terbuka sedikit karena rok dokternya terangkat saat ia duduk terlalu dekat.
Reya langsung menatap tajam, “Jangan macam-macam.”
Felix hanya menyeringai miring seolah tak bersalah. “Aku refleks karena menahan sakit.”
“Refleksmu kurang ajar.” balas Reya malas.
Tapi beberapa menit kemudian, telapak tangan Felix justru semakin berani bergerak naik perlahan di paha mulus Reya. Jemarinya mengusap pelan, membuat Reya menahan napas karena terkejut.
Reya langsung menekan luka tusuk di dada Felix lebih keras.
“Sakit—” Felix protes sambil tertawa pelan.
“Bagus,” balas Reya dingin.
“Aku cuma menahan sakit,” ucap Felix santai, tetapi tangannya masih bergerak semakin dekat ke bagian pribadi Reya.
Tatapan Reya langsung berubah tajam. Seketika ia menangkap pergelangan tangan Felix kuat-kuat lalu menghempaskannya kasar dari pahanya
“Sekali lagi kau coba, aku jahit mulutmu sekalian.”
Bukannya marah, Felix malah tertawa rendah. Tatapan gelapnya justru semakin tertarik pada wanita di depannya.
Beberapa saat kemudian, ketika Reya kembali fokus menjahit, Felix tiba-tiba memiringkan wajahnya mendekat ke telinga Reya. Napas hangat pria itu menyapu kulitnya sebelum gigitan kecil mendarat di daun telinganya.
Reya langsung membeku, karena ini pertama kali baginya disentuh seorang pria.
Felix mendesah pelan menahan nyeri di dadanya lalu berbisik serak, “Sorry… aku cuma menahan sakit.”
“Mau mati ya kau?” desis Reya sambil menahan wajah Felix menjauh dengan telapak tangannya.
Felix hanya menatapnya penuh minat. Tiba-tiba tangannya bergerak lagi. Felix menarik pinggang Reya ke arahnya. Sekejap saja cukup untuk membuat wajah mereka lebih dekat lagi.
Jantung Reya berdegup keras. Ia menyadari satu kesalahan kecil saja bisa membuatnya mati di tempat ini. Namun ia berusaha bersikap profesional dan mencoba memasang wajah setenang mungkin. Ia bahkan sempat jujur pada dirinya sendiri mengagumi ketampanan Felix.
Wajah pria itu simetris sempurna, tubuhnya tegap. Otot-otot tubuh yang… sangat sesuai dengan tipenya yang biasanya hanya ia lihat dari film saja.
Felix menyeringai merasa puas melihat reaksi Reya. “Pegang saja. Kau sudah sejauh ini.”
Reya mendengus pelan. “Aku tidak pegang sembarang pria.”
Reya melepaskan diri dengan tenang dan kembali bekerja seolah tak terjadi apa-apa. Salah satu pengawal melangkah maju, pistol terangkat ke kepala Reya. Ia bahkan tidak menoleh dan tetap menjahit sambil mengisap permen santai.
Felix mengangkat tangan. Ini pertama kalinya ia melihat perempuan yang sama sekali tidak takut padanya. “Turunkan.”
Saat selesai, Reya berdiri, melepas sarung tangan, lalu berjalan pergi. Ia sempat menepuk-nepuk pipi pengawal yang tadi menodongkan pistol.
“Jangan lupa transfernya,” ujar gadis itu dengan nada menggoda.
Pinggulnya berlenggak santai meninggalkan ruangan itu, membuat mata Felix tak henti melihat wanita itu. Ia juga terlihat terpesona dengan kaki jenjangnya.
Begitu pintu tertutup, senyumnya makin lebar.
“Wanita gila,” gumam Felix. Lalu suaranya berubah dingin, penuh obsesi dominan. “Cari tahu apa pun tentang dia.”
Sementara di luar, Reya hampir menangis menahan gemetar tangannya. “Syukurlah… aku bisa keluar dengan selamat.”
….
Keesokan harinya, Reya mengira semuanya akan kembali normal. Namun, ia salah besar.
Tiba-tiba terdengar keributan, disusul langkah kaki tergesa, bisikan ketakutan, dan tatapan panik yang menyebar cepat di sepanjang lorong.
Dari balik ruang praktiknya, Reya melihat sekelompok pria berjas hitam memasuki area rumah sakit tanpa izin. Wajah pucat para perawat dan pasien sudah cukup menjadi jawaban bahkan sebelum nama pria yang mereka takuti itu disebut.
Pemimpin mafia Kota Milenium yang paling kejam datang terang-terangan kali ini.
Reya mendengus kesal ketika melihat Felix duduk santai di kursi roda, seolah kedatangannya ke rumah sakit hanyalah kunjungan biasa. Tanpa ragu, Felix mengusir satu per satu pasien yang sedang menunggu giliran untuk diperiksa Reya.
“Dokter ini sibuk,” ucap Felix dingin.
Reya akhirnya keluar dari ruang praktik dengan wajah datar, meski rahangnya mengeras menahan kesal.
“Masuk,” katanya singkat kepada Felix.
Reya sendiri yang mendorong kursi roda Felix masuk ke ruangannya. Ketika salah satu pengawal Felix hendak ikut masuk, Reya menoleh tajam ke arahnya. Ia kemudian menutup pintu dengan kasar tepat di depan wajah pengawal tersebut.
Brak!
Setelah itu, Reya kembali menghampiri Felix. Ia berdiri tepat di depan pria itu, lalu menumpukan kedua tangannya di sisi kursi roda, membuat posisi Felix seolah terkurung di antara kedua lengannya.
“Apa yang kau lakukan di sini, ha?” tanya Reya kesal, suaranya rendah, menahan emosi.
Felix menyeringai. Tangannya terangkat, lalu menarik ID card Reya agar wajah mereka mendekat.
“Ganti perban,” kata Felix ringan. “Apa lagi?”
Reya hampir meledak karena emosi.
“Hanya itu?” protes gadis itu masih mencoba menahan diri. “Kau bikin satu rumah sakit ketakutan cuma untuk ini?”
Felix tertawa kecil. Tiba-tiba tangannya bergerak. Ia menarik tangan Reya hingga keseimbangannya goyah dan dalam satu tarikan, Reya terduduk di pangkuannya. Felix memeluknya paksa, wajahnya mendekat ke leher Reya.
“Aroma ini,” bisik Felix pelan, penuh obsesi, “yang membuatku menggila,” ucapnya sambil menjilat leher mulus Reya sembari mendesah pelan.
Darah Reya berdesir. Jantungnya berpacu dengan cepat. Ia meronta, mendorong dada Felix, berusaha melepaskan diri.
“Lepaskan aku,” kata Reya tegas, tapi tangan kekar Felix terlalu kuat memeluknya.
Untungnya, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka.
“ADA APA INI?!” Suara tegas terdengar dari ampang pintu.
"Felix, kau..." lirih Reya dengan napas yang makin memburu.Meskipun mulutnya berusaha memprotes, reaksi tubuh Reya justru bertolak belakang. Kedua tangannya bergerak refleks, mencengkeram erat rambut tebal Felix dan menekan kepala suaminya makin dalam di antara paha meleburnya. Pijatan dan jilatan basah yang makin memabukkan itu menghancurkan sisa kewarasan Reya seketika. Tubuhnya meliuk pasrah di atas ranjang."Ahh... ahh... jangan berhenti, sayang!" desah Reya parau, tak sanggup lagi menyembunyikan dahaga gairahnya.Felix terkekeh kecil di bawah selimut. Dengan sudut bibir yang sudah basah oleh cairan intim istrinya, ia makin mempercepat tempo sedotan dan permainannya, menghisap titik sensitif Reya tanpa ampun."AHHHH!"Jeritan nikmat meluncur dari tenggorokan Reya saat ledakan klimaks yang hebat menghantam seluruh saraf tubuhnya. Paha mulusnya berguncang hebat, menjepit kepala Felix erat-erat sebelum akhirnya terkulai lemas di atas kasur.Dengan napas berat dan bibir yang masih ba
Felix terkekeh kecil, matanya berkilat nakal saat memperhatikan reaksi syok di wajah istrinya yang menggemaskan. Tangannya yang mengunci paha Reya makin merapat, mengusap kulit mulus itu dengan ritme yang memancing getaran halus."Jangan membulat begitu bibirnya, sayang... aku bisa tidak tahan untuk tidak melahapmu sekarang," goda Felix dengan suara berat yang teramat parau.Chittt!"Aww!" Felix meringis pelan saat jemari Reya mendaratkan cubitan keras di lengan tegapnya."Seriuslah!" tegur Reya dengan wajah memerah, berusaha menarik kakinya meski cengkeraman Felix di pahanya masih begitu protektif.Felix mendengus pelan, lalu merengkuh jemari Reya dan menggenggamnya erat. "Aku serius, Reya. Pengenalan Bella sebagai putri keluarga mereka hanya bermodalkan sebuah liontin tua dan gelang emas berukir. Itu sangat mencurigakan. Aku yakin kaulah anak kandung mereka karena aku ingat jelas itu liontin dan gelangmu saat kecil."Mendengar itu, Reya seketika tertegun sejenak. Ia mencoba menginga
Reya segera memutar tubuhnya, menghela napas panjang untuk mengurai gejolak aneh yang sempat singgah di dadanya sesaat setelah berinteraksi dengan Prof. Carlo. Tanpa membuang waktu lebih lama, Reya pun segera naik taksi untuk pulang. Tak butuh waktu lama, Reya pun selamat sampai di rumah kediaman megah milik Wicaksono.Begitu kaki Reya melangkah melewati pintu utama, suasana rumah terasa berbeda…Felix ternyata sudah berada di sana, berdiri menunggunya di dekat ruang tengah dengan kemeja yang sedikit terlipat di bagian lengan. Begitu menangkap sosok istrinya masuk, raut cemas di wajah Felix seketika berganti dengan kehangatan. Pria itu melangkah mendekat, hendak menyambut Reya ke dalam dekapannya."Kenapa kau lambat pulang, sayang?" tanya Felix dengan suara beratnya yang penuh perhatian. "Aku baru saja dari kantormu, tapi orang-orang di sana bilang kau sudah pulang jauh lebih awal."Reya menyetop langkahnya sejenak. Bayangan tentang bagaimana Felix memapah pinggang Bella dengan beg
Reya baru saja hendak mengikis jarak untuk mengejar Felix ketika lengan bajunya ditarik paksa dari samping."Reya! Cepat kemari!" panggil Dihyas panik, menuntunnya menuju ruang radiologi untuk mengambil hasil CT scan adik kandungnya.Kehadiran Reya di Rumah Sakit Grand Medika memang bukan untuk memata-matai suaminya, melainkan karena kabar duka yang ia terima dari Dihyas beberapa jam lalu. Begitu seluruh prosedur hukum dan pemecatan Alex di Henderson Group selesai ditangani Beno, Reya langsung bergegas menyusul Dihyas. Kei ternyata menjadi korban tabrak lari hingga bagian belakang kepalanya terluka parah dan harus dirawat intensif.Reya melirik sekali lagi ke arah koridor tempat Felix memapah Bella. Meski dadanya dihantam rasa panas dan kepala dipenuhi rentetan pertanyaan melihat kemesraan suaminya, Reya memilih menekan semua emosi itu. Ia mengabaikan Felix dan memfokuskan pikirannya pada keselamatan Kei.Beruntung, hasil CT scan menunjukkan tidak ada pendarahan otak yang membahayaka
Felix menatapnya beberapa detik tanpa menjawab. Senyum tipis penuh godaan kembali muncul di bibir pria itu saat ia memperhatikan bagaimana Reya mulai gelisah di depannya.“Kau terlihat takut,” gumamnya rendah.“Aku serius!” Reya buru-buru mencoba bangkit, tetapi tangan Felix di rambutnya menahan le
Pintu kamar tiba-tiba terbuka pelan. Reya yang masih sibuk menarik ujung gaun hitam sepaha itu langsung menoleh tajam. Napasnya memburu penuh emosi saat melihat Felix berdiri santai di ambang pintu.Pria itu bersandar malas di sana dengan kedua tangan di saku celana. Kemeja hitamnya terbuka sedikit
Reya langsung panik menghampiri pria itu, tetapi Felix sudah keluar lebih dulu dari mobil dengan gerakan tenang yang justru terasa menakutkan. Wajah pria itu datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. Lampu jalan memantulkan sorot dingin di matanya yang gelap.Pria pejalan kaki tadi masih terduduk geme
“Siapa yang harus ku obati?” tanya Reya datar.Ia lalu melihat seorang pria yang berdiri membelakang di sebuah ruangan. Tubuhnya tinggi dengan bahu lebar dan otot padat. Kulitnya sawo matang, rahangnya tegas, hidungnya lurus, dan mata gelapnya tajam seperti binatang pemangsa.“Felix?” gumamnya memb
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore