author-banner
Melati Lu
Melati Lu
Author

Novels by Melati Lu

Selir Yang Terlupakan

Selir Yang Terlupakan

AREA DEWASA!! Di istana yang penuh intrik, ada seorang selir yang seolah tak pernah ada. Kaisar tak pernah memanggilnya, bahkan seolah melupakan namanya. Namun, di balik pengabaian itu tersimpan rahasia kelam. Apakah ia benar-benar terlupakan… atau justru sengaja disembunyikan?
Read
Chapter: Hanya Milikmu Seutuhnya
Bab 137 Hongwu terdiam sejenak, terpaku oleh pujian yang begitu sederhana namun terasa begitu hangat. Rona merah perlahan menjalar dari lehernya naik hingga ke pipi yang biasanya tampak dingin dan tegas — pemandangan yang tak seorang pun di seluruh kekaisaran ini berani membayangkan pernah ada. Ia tertawa pelan, napasnya masih sedikit terengah, sambil menggelengkan kepala seakan ingin memastikan bahwa semua ini sungguh nyata. Bukan sebagai Kaisar yang ditakuti jutaan orang, melainkan sebagai seorang pria yang berdiri di hadapan wanita yang dicintainya. "Tampan?" ulangnya pelan, suaranya masih terdengar berat dan serak sambil bersandar lembut pada kedua telapak tangannya di belakang tubuhku. Matanya terpejam sejenak seakan menikmati setiap sentuhan jari-jariku di wajahnya. "Lianhua... aku adalah pria yang bertahun-tahun hidup di medan perang, berlumuran debu dan darah. Tubuhku penuh bekas luka yang membuat kebanyakan wanita berpaling ngeri." Ia
Last Updated: 2026-08-09
Chapter: Hanya Untukmu
Bab 136 "Baiklah," ucapku pelan sambil merenggangkan jari-jariku di atas senar, lalu mulai memainkan lagu yang telah kusiapkan. Nada pertama meluncur lembut namun jernih, membelah keheningan aula seketika. Melodinya mengalun berliku — menceritakan kerinduan yang tak terucap, kesabaran yang tak pernah patah, dan ketangguhan yang tersembunyi di balik senyap. Udara di ruangan yang luas itu seakan menahan napas, terhanyut dalam alunan yang menyentuh kalbu. Saat jari-jariku menari di atas senar, ketegangan yang semula memenuhi ruangan perlahan mencair. Para tamu yang duduk berjejer satu per satu mencondongkan tubuh ke depan, terpaku. Bahkan para selir yang sejak tadi menatap sinis pun tak kuasa menahan diri, mata mereka terbelalak terpaku pada guzheng dan jari-jariku yang bergerak lincah. Hongwu duduk diam di sampingku. Ia tak menoleh ke kanan maupun ke kiri. Tak memandang penari, tak memandang pejabat. Sepenuhnya ia menatapku — tatapannya begitu d
Last Updated: 2026-08-09
Chapter: Perayaan Kepulangan Dari Selatan
Bab 135 Tawa Hongwu terdengar tulus kali ini — suara yang hangat dan bergema pelan, seakan membuat burung-burung di pohon willow ikut terdiam. Ia menatapku, benar-benar menatapku, dan di matanya terpancar kepastian yang teguh dan indah, sepenuhnya percaya pada janji yang baru saja terucap. "Hati-hati, Lianhua," katanya sambil tersenyum geli. "Dunia di luar taman ini tak selembut tempat ini. Mereka akan berbisik di belakang punggung. Mereka akan menyusun rencana. Mereka akan berusaha mencari celah di setiap perbuatanmu." Ia mengulurkan tangan, menyelipkan helaian rambut ke belakang telingaku. Sentuhannya lembut namun terasa membekas di kulit. "Namun biarlah mereka mencoba," tambahnya, secercah kilatan tajam dan berbahaya kembali menyala di matanya. "Aku justru ingin melihat siapa yang berani mencoba menghalangi langkahmu." Hongwu menegakkan tubuh kembali, namun tangannya tak pernah melepaskan genggamanku. Momen kelembutan yang sunyi i
Last Updated: 2026-08-08
Chapter: Penaklukan Sebuah Hati
Bab 134 Napas Hongwu tercekat pelan, suara itu nyaris tak terdengar di antara desir angin. Kedekatannya memabukkan — aroma tubuhnya yang bercampur wangi bunga taman menyusup lembut ke dalam napasku. Tangannya perlahan beralih dari pipiku ke tengkukku, jari-jarinya menyisir lembut rambutku di sana. "Penaklukan yang tak menuntut setetes darah pun," bisiknya, suaranya merendah menjadi nada yang dalam dan penuh keinginan. "Yang tak memerlukan perang, tak perlu merebut tanah demi tanah." Tatapannya menatapku lekat-lekat, menyala dengan kerinduan yang jauh lebih besar daripada sekadar hasrat fisik. Ia memiringkan kepalanya pelan, bibirnya hanya berjarak sehelai rambut dariku. "Aku ingin menaklukkan hatimu, Lianhua. Setiap rahasia yang kau simpan, setiap ketakutan yang kau sembunyikan, setiap kebahagiaan yang kau pendam selama empat tahun ini. Aku ingin semuanya. Tak ada yang tersisa." Ia berhenti sejenak, matanya meneliti wajahku, mencari
Last Updated: 2026-08-08
Chapter: Penaklukan Yang Berbeda
Bab 133 Lady Xiwu tetap berdiri mematung di tempatnya. Matanya tertuju padaku — bukan dengan rasa hormat, melainkan dengan kebencian yang sedingin es dan penuh perhitungan yang membuat udara di ruangan itu seakan menegang. Hongwu menyadarinya. Tak satu pun hal kecil di hadapannya luput dari perhatian. "Nyonya Xiwu," suaranya terdengar datar, dingin, tanpa secercah kehangatan pun. Tubuh Xiwu menegang kaku. Dagu sedikit terangkat sebelum ia membungkuk — namun gerakannya dangkal, sekadar formalitas yang tak tulus sama sekali. "Yang Mulia?" "Sepertinya kau lupa tempatmu," ucap Hongwu. Bukan pertanyaan. Sebuah pernyataan yang berat dan tak terbantahkan. "Sidang telah dibubarkan. Silakan ikut yang lain pergi." Rahang Xiwu mengeras. Tatapannya kembali melesat ke arahku — satu kali pandangan yang penuh ancaman janji kesulitan di masa mendatang — sebelum ia berbalik. Jubah sutranya berkibar tajam di belakangnya, seakan cambuk yang m
Last Updated: 2026-08-08
Chapter: Mahkota Yang Tak Terduga
Bab 132 Transformasinya sempurna dan teliti. Sutra merah tua yang berat dan mewah menyelimuti tubuhku, sulaman benang emas berbentuk burung phoenix menangkap setiap kilatan cahaya lilin dan sinar matahari yang masuk, berkilauan di setiap gerakanku. Jepit rambut giok ditempatkan dengan presisi, menyusun rambutku menjadi gaya anggun yang memanjangkan leher dan membingkai wajahku dengan sempurna. Akhirnya, pelayan yang memegang kalung mutiara berjalan maju. Ia mengalungkannya di leherku — batu-batu dingin dan halus itu bertumpu di tulang selangka, ringan namun terasa seperti beban yang penuh makna. "Anda tampak seperti Permaisuri, Nyonya Lianhua," pelayan yang lebih tua menghela napas kagum, mundur selangkah untuk mengagumi hasil kerja mereka. Suaranya tulus dan penuh hormat. Pelayan yang lebih muda menyerahkan cermin perunggu kecil yang dipoles hingga berkilau. "Yang Mulia pasti akan sangat senang." Di luar pintu, suara istana mulai te
Last Updated: 2026-08-07
My Game Boyfriend

My Game Boyfriend

Arthur lebih memilih sibuk dengan permainan dan siaran langsungnya daripada memperhatikan Melati. Bosan diabaikan, Melati punya cara sendiri: mengirim foto diri dengan gaun tidur tipis, lalu diam-diam mengunggah foto berenang dengan pakaian yang dilarang Arthur. Langkah itu sukses besar. Sikap dinginnya hilang seketika, berubah jadi cemburu buta dan posesif yang tak terkendali. Dia marah, menuntut, dan tak rela ada siapa pun yang melihat kekasihnya. Sementara Melati tersenyum puas — karena cowok yang dulunya gila game itu, kini sudah sepenuhnya terobsesi dan tak mau melepaskannya lagi.  
Read
Chapter: Permainan Yang Berakhir Menjadi Selamanya
Bab 111Angin sore berhembus lembut menyapu halaman rumah, membawa wangi melati yang mekar sempurna—wangi yang tak pernah berubah, sama seperti perasaan yang mengikat hati mereka berdua, dan kini hati ketiga nyawa yang melengkapi segalanya. Di teras depan, Melati duduk di kursi rotan yang sama persis seperti bertahun-tahun lalu, sementara Arthur duduk di sebelahnya, membiarkan kepala putri kecil mereka yang kini sudah berusia tiga hari bersandar tenang di dadanya. Cahaya matahari senja yang keemasan menyelimuti mereka bertiga, seolah ingin mengabadikan momen damai ini dalam ingatan waktu yang tak akan pernah pudar. Melati menatap wajah suaminya, lalu menatap wajah mungil Bunga Melati Anindya yang terlelap damai dalam dekapan ayahnya. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan karena hati yang terasa begitu penuh hingga tak sanggup lagi menampung segala rasa syukur yang meluap. Ia teringat kembali bagaimana semuanya bermula—dari sebuah tantangan permainan
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Melati Kecil Yang Datang Membawa Cahaya
Bab 110 Matahari pagi menyelinap lembut lewat jendela kamar rumah sakit, menyentuh permukaan selimut putih dengan cahaya keemasan yang hangat. Di atas tempat tidur, Melati masih terbaring lemah namun matanya terbuka lebar, tak pernah sekalipun beralih dari wajah mungil yang kini terlelap damai di pelukannya. Bunga Melati Anindya—nama yang sudah mereka pilih dengan penuh harapan, kini menjadi nyata dalam genggaman. Kulitnya kemerahan halus, rambut hitamnya tipis namun lembut, dan setiap kali ia menggerakkan jari-jarinya yang mungil, seolah ada getaran bahagia yang menjalar ke seluruh hati kedua orang tuanya. Arthur duduk di tepi tempat tidur, tak berani bergerak terlalu banyak, tak berani bersuara terlalu keras, seolah takut merusak keindahan momen ini. Matanya masih berkaca-kaca, masih tak percaya bahwa gadis kecil yang selama ini ia nantikan, kini benar-benar ada di hadapannya. Sesekali ia mengusap pelan ujung jari mungil putrinya, dan setiap kali jari kecil itu
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Saat Waktu Menjembatkan Rindu
Bab 109 Malam itu terasa berbeda sejak awal. Angin yang biasanya berhembus lembut menyapa jendela, kali ini membawa udara yang sedikit lebih sejuk, seolah memberi isyarat bahwa sesuatu yang sudah lama dinanti tak lagi jauh jaraknya. Melati terbangun berulang kali, bukan karena tak nyaman, melainkan karena rasa kencang yang datang dan pergi dengan jeda yang makin teratur—tidak terlalu menyakitkan, namun cukup untuk membuatnya sadar bahwa tubuhnya kini sedang bersiap menyambut kehadiran sang buah hati. Arthur yang tidur dengan posisi selalu setengah sadar seketika terjaga setiap kali Melati bergerak. Tanpa perlu banyak bicara, ia langsung duduk di sampingnya, menopang punggung istrinya dengan bantal-bantal empuk, lalu mulai mengusap punggung Melati dengan gerakan memutar yang tenang dan teratur. Keringat dingin mulai muncul di pelipis Melati, namun ia menahan napas dan berusaha tersenyum setiap kali menatap wajah Arthur yang tampak begitu cemas namun berusaha tetap
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Jalan Menuju Pertemuan
Bab 108 Malam itu hujan turun perlahan, mengetuk pelan atap rumah seolah irama pengantar tidur yang lembut dan berirama. Udara dingin yang menyelinap masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka membawa aroma tanah basah yang khas, berpadu dengan wangi melati yang tumbuh merambat di dinding samping kamar. Di dalam kamar yang remang diterangi cahaya lampu tidur berwarna kekuningan, Melati terbangun perlahan. Awalnya ia hanya merasa tidak nyaman, namun lama-kelamaan rasa pegal yang samar mulai menjalar dari pinggang belakang hingga ke bagian bawah perutnya. Ia mencoba memutar tubuh perlahan agar tidak mengganggu tidur Arthur, namun rasa itu kembali muncul dengan jeda yang teratur. Belum sempat ia menarik selimut lebih tinggi atau memanggil pelan, sebuah tangan hangat langsung bergerak mencari tangannya di bawah selimut. Arthur ternyata sudah terbangun, seolah instingnya selalu terjaga setiap kali ada sesuatu yang sedikit saja mengganggu istrinya. Ia segera mengan
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Satu Harapan Di Bawah Langit Yang Sama
Bab 107 Matahari baru saja naik setinggi jengkal di ufuk timur, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut menyentuh permukaan tanah yang masih lembap sisa embun semalam. Udara pagi terasa begitu sejuk, membawa aroma wangi bunga melati yang merambat di dinding luar kamar, bercampur dengan harum rumput basah yang segar. Di dalam kamar yang remang namun perlahan terang oleh cahaya matahari pagi, Melati terbangun perlahan. Ia tidak terbangun karena suara bising atau rasa tidak nyaman, melainkan karena rasa hangat yang begitu nyaman melingkar rapat di pinggangnya—rasa perlindungan yang selalu ia temukan setiap hari di samping Arthur. Arthur masih tertidur pulas di sampingnya, napasnya teratur dan tenang. Satu lengannya melingkar lembut di perut Melati yang kini semakin membulat, sementara telapak tangannya menumpu persis di sana, seolah bahkan dalam tidurnya ia tak ingin kehilangan momen berdekatan dengan calon putra atau putri mereka. Wajahnya yang biasanya tegas dan t
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Rasa Cinta Yang Baru Berbentuk
Bab 106   Udara pagi membawa aroma tanah basah dan wangi bunga cempaka yang tumbuh di sudut halaman, menyusup lembut lewat celah jendela kamar yang dibiarkan terbuka semalam. Melati terbangun dengan perasaan yang sedikit berbeda—badannya terasa lebih berat, namun hatinya terasa begitu penuh hingga sesak karena kebahagiaan. Ia memiringkan tubuh perlahan, melihat Arthur yang sedang duduk di tepi tempat tidur, sedang melipat handuk kecil berwarna putih bersih dengan sangat hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kain sutra paling rapuh. "Kau sudah bangun?" tanyanya lembut saat menyadari Melati bergerak. Ia segera meletakkan handuknya, lalu berjalan mendekat untuk membantu istrinya duduk. "Tadi aku mendengarmu berbicara dalam tidur. Kau menyebutkan nama 'Bunga' berulang kali. Apakah kau memimpikan sesuatu?" Melati tersenyum samar, tangannya bergerak mengelus perutnya yang kini terlihat jelas membulat, menandakan usia kehamilan yang memasuki perte
Last Updated: 2026-07-16
You may also like
Biarkan Aku Pergi!
Biarkan Aku Pergi!
Romansa · Selatan Dangkal
6.2M views
Saat Matanya Terbuka
Saat Matanya Terbuka
Romansa · Kesunyian Sederhana
4.8M views
Istri Gelap Tuan Arrogant
Istri Gelap Tuan Arrogant
Romansa · Ipak Munthe
4.1M views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status