author-banner
Melati Lu
Melati Lu
Author

Novels by Melati Lu

Selir Yang Terlupakan

Selir Yang Terlupakan

AREA DEWASA!! Di istana yang penuh intrik, ada seorang selir yang seolah tak pernah ada. Kaisar tak pernah memanggilnya, bahkan seolah melupakan namanya. Namun, di balik pengabaian itu tersimpan rahasia kelam. Apakah ia benar-benar terlupakan… atau justru sengaja disembunyikan?
Read
Chapter: Waktu Yang Hanya Milik Kita Berdua
Bagian 1 Matahari baru saja merayap naik di atas atap istana Utara, menyinari halaman Sayap Timur dengan cahaya keemasan yang lembut dan hangat. Udara pagi terasa segar, beraroma bunga melati yang tumbuh subur di sepanjang pagar kayu — tanaman yang kubawa dari Selatan, yang kini berakar kuat di tanah Utara, seolah tak pernah berpindah tempat sama sekali. Embun masih menetes dari ujung daun, jatuh perlahan ke tanah basah, menciptakan bunyi halus yang menenangkan di tengah keheningan pagi.Aku duduk di meja kayu rendah di beranda, sedang menyeduh teh melati. Uap panas mengepul perlahan, membawa harum yang lembut dan menenangkan. Tangan yang tadi menyiram bunga masih sedikit basah, dan ujung rambutku yang terurai terkena embun pagi yang dingin namun menyegarkan. Tidak ada pelayan yang berdiri di sudut ruangan. Tidak ada utusan yang berjalan bergegas. Hanya aku, cangkir teh yang mengepul, dan dunia yang perlahan terbangun dalam keheningan yang damai.Belum lama, pintu terbuka pelan. Hong
Last Updated: 2026-09-02
Chapter: Story S2 - 4
Cerita Sampingan 2 — Story 4: Warisan yang Tak Pernah Pudar Bagian 1: Musim Gugur yang Penuh Kenangan Waktu berlalu bagaikan sungai yang tenang, membawa musim demi musim tanpa henti. Tiga puluh tahun telah berlalu sejak hari gempa besar itu — tiga puluh tahun di mana tidak ada pedang yang terhunus, tidak ada tembok yang dibangun, dan tidak ada satu pun orang yang mati karena perang atau perselisihan antar-wilayah. Dua kekaisaran yang dulu saling bermusuhan kini telah menyatu sepenuhnya, menjadi satu negeri yang luas, makmur, dan damai — tempat di mana bunga melati tumbuh di setiap halaman rumah, dan nama Lianhua serta Hongwu diucapkan dengan rasa hormat dan kasih sayang oleh jutaan orang. Namun waktu tidak berhenti untuk siapa pun. Rambutku kini memutih sepenuhnya, kerutan melukis wajahku seperti peta perjalanan panjang yang telah kutempuh. Hongwu juga demikian — tubuhnya masih tegap, namun langkahnya lebih pelan, dan matanya yang dulu tajam kini penuh kelembutan dan kedamaian. K
Last Updated: 2026-09-01
Chapter: Story S2 - 3
Cerita Sampingan 2 — Story 3: Di Bawah Langit yang SamaBagian 1: Kabar yang Menggetarkan Dua NegeriSetelah musim kemarau yang berat itu berlalu, dua kekaisaran yang bersatu tampak semakin kuat. Sawah kembali hijau, sungai mengalir jernih, dan di setiap perbatasan berdiri taman-taman bunga melati yang menjadi lambang perdamaian. Namun takdir selalu punya cara untuk menguji keteguhan hati manusia.Suatu musim semi, saat bunga-bunga bermekaran paling indah, utusan datang bergegas dari wilayah paling selatan — wilayah yang berbatasan dengan hutan belantara dan pegunungan tinggi. Wajah utusan itu pucat, napasnya memburu, dan di tangannya memegang laporan yang disegel dengan tinta merah — tanda bahaya paling mendesak.Hongwu membuka laporan itu di ruang kerja Sayap Timur. Semakin lama ia membaca, semakin dalam kerutan di dahinya. Aku berdiri di sampingnya, dan saat ia menyerahkan kertas itu, tangannya sedikit gemetar."Gempa bumi besar," katanya pelan, namun kata-katanya terasa berat sepe
Last Updated: 2026-08-31
Chapter: Story S2- 2
Cerita Sampingan 2 — Story 2: Cahaya yang Menembus KabutBagian 1: Musim Kemarau yang Tak Kunjung UsaiTiga tahun telah berlalu sejak perjalanan kami ke Selatan — hari di mana Xiao Yu dengan polosnya berkata bahwa ia punya “dua rumah, tapi satu hati”. Kata-kata itu kini menjadi nyata dalam setiap sendi kehidupan dua kekaisaran yang bersatu. Perdagangan mengalir bebas, jalan-jalan diperlebar, sekolah-sekolah dibangun di perbatasan, dan setiap musim panen dirayakan bersama-sama, tanpa melihat dari mana asal seseorang. Namun takdir sering kali menguji kebahagiaan yang paling utuh sekalipun.Musim kemarau tahun itu datang lebih awal dan lebih ganas dari yang pernah ada. Bulan demi bulan berlalu tanpa setetes pun hujan turun. Sungai yang biasanya jernih dan deras perlahan menyusut, memperlihatkan bebatuan di dasarnya yang retak dan kering. Sawah-sawah hijau berubah menjadi kuning cokelat, lalu menjadi debu yang beterbangan saat angin bertiup. Waduk yang dulu mampu menampung air untuk satu
Last Updated: 2026-08-30
Chapter: Story S2 - 1
Cerita Sampingan 2 — Story 1: Jejak Kecil di Dua NegeriTahun-tahun berlalu bagaikan air sungai yang mengalir tenang, membawa serta musim demi musim yang penuh kehangatan. Xiao Yu kini berusia tujuh tahun — anak laki-laki yang cerah, berani, dan selalu penuh rasa ingin tahu. Matanya yang gelap sering kali menatap jauh ke luar jendela, seakan ada sesuatu yang memanggilnya dari kejauhan.Suatu pagi, saat kami sedang sarapan bersama di beranda Sayap Timur, Xiao Yu tiba-tiba meletakkan sendoknya dan menatap kami berdua dengan tatapan serius yang lucu."Ibu, Ayah," katanya dengan suara yang berusaha terdengar dewasa. "Kemarin Kakek Lian Cheng bercerita tentang rumahnya di Selatan. Tentang sungai yang airnya jernih seperti giok, dan gunung yang selalu tertutup kabut putih. Bisakah kita pergi ke sana? Aku ingin melihatnya sendiri."Hongwu menatapku, lalu tersenyum lebar — senyum yang kini selalu menghiasi wajahnya. "Kenapa tidak? Dulu perjalanan itu penuh bahaya dan penjagaan ketat. Sekarang
Last Updated: 2026-08-29
Chapter: Story 4
Cerita Sampingan 4: Kembalinya Cahaya di Balik KabutDua puluh tahun telah berlalu sejak hari perdamaian itu ditandatangani. Dua puluh tahun di mana tidak ada pedang yang terhunus, tidak ada pesan rahasia yang dikirim di tengah malam, dan tidak ada lagi anak-anak yang tumbuh di bawah bayang-bayang perang. Xiao Yu kini telah resmi menjadi Kaisar — bukan Kaisar Utara maupun Selatan, melainkan Kaisar dari Kekaisaran Bersatu, sebuah negeri yang membentang dari pegunungan utara hingga pantai selatan, di mana bendera bunga melati berkibar di setiap menara kota.Aku dan Hongwu kini hidup sederhana di Sayap Timur — bukan lagi sebagai penguasa yang memegang kendali pemerintahan, melainkan sebagai orang tua yang bangga melihat buah perjuangan mereka tumbuh menjadi pohon yang menaungi jutaan orang. Rambut kami mulai memutih, kerutan muncul di wajah kami, namun di mata kami berdua, cahaya itu tidak pernah pudar — cahaya ketenangan yang tak ternilai harganya.Surat dari PegununganSuatu pagi musim
Last Updated: 2026-08-28
My Game Boyfriend

My Game Boyfriend

Arthur lebih memilih sibuk dengan permainan dan siaran langsungnya daripada memperhatikan Melati. Bosan diabaikan, Melati punya cara sendiri: mengirim foto diri dengan gaun tidur tipis, lalu diam-diam mengunggah foto berenang dengan pakaian yang dilarang Arthur. Langkah itu sukses besar. Sikap dinginnya hilang seketika, berubah jadi cemburu buta dan posesif yang tak terkendali. Dia marah, menuntut, dan tak rela ada siapa pun yang melihat kekasihnya. Sementara Melati tersenyum puas — karena cowok yang dulunya gila game itu, kini sudah sepenuhnya terobsesi dan tak mau melepaskannya lagi.  
Read
Chapter: Permainan Yang Berakhir Menjadi Selamanya
Bab 111Angin sore berhembus lembut menyapu halaman rumah, membawa wangi melati yang mekar sempurna—wangi yang tak pernah berubah, sama seperti perasaan yang mengikat hati mereka berdua, dan kini hati ketiga nyawa yang melengkapi segalanya. Di teras depan, Melati duduk di kursi rotan yang sama persis seperti bertahun-tahun lalu, sementara Arthur duduk di sebelahnya, membiarkan kepala putri kecil mereka yang kini sudah berusia tiga hari bersandar tenang di dadanya. Cahaya matahari senja yang keemasan menyelimuti mereka bertiga, seolah ingin mengabadikan momen damai ini dalam ingatan waktu yang tak akan pernah pudar. Melati menatap wajah suaminya, lalu menatap wajah mungil Bunga Melati Anindya yang terlelap damai dalam dekapan ayahnya. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan karena hati yang terasa begitu penuh hingga tak sanggup lagi menampung segala rasa syukur yang meluap. Ia teringat kembali bagaimana semuanya bermula—dari sebuah tantangan permainan
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Melati Kecil Yang Datang Membawa Cahaya
Bab 110 Matahari pagi menyelinap lembut lewat jendela kamar rumah sakit, menyentuh permukaan selimut putih dengan cahaya keemasan yang hangat. Di atas tempat tidur, Melati masih terbaring lemah namun matanya terbuka lebar, tak pernah sekalipun beralih dari wajah mungil yang kini terlelap damai di pelukannya. Bunga Melati Anindya—nama yang sudah mereka pilih dengan penuh harapan, kini menjadi nyata dalam genggaman. Kulitnya kemerahan halus, rambut hitamnya tipis namun lembut, dan setiap kali ia menggerakkan jari-jarinya yang mungil, seolah ada getaran bahagia yang menjalar ke seluruh hati kedua orang tuanya. Arthur duduk di tepi tempat tidur, tak berani bergerak terlalu banyak, tak berani bersuara terlalu keras, seolah takut merusak keindahan momen ini. Matanya masih berkaca-kaca, masih tak percaya bahwa gadis kecil yang selama ini ia nantikan, kini benar-benar ada di hadapannya. Sesekali ia mengusap pelan ujung jari mungil putrinya, dan setiap kali jari kecil itu
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Saat Waktu Menjembatkan Rindu
Bab 109 Malam itu terasa berbeda sejak awal. Angin yang biasanya berhembus lembut menyapa jendela, kali ini membawa udara yang sedikit lebih sejuk, seolah memberi isyarat bahwa sesuatu yang sudah lama dinanti tak lagi jauh jaraknya. Melati terbangun berulang kali, bukan karena tak nyaman, melainkan karena rasa kencang yang datang dan pergi dengan jeda yang makin teratur—tidak terlalu menyakitkan, namun cukup untuk membuatnya sadar bahwa tubuhnya kini sedang bersiap menyambut kehadiran sang buah hati. Arthur yang tidur dengan posisi selalu setengah sadar seketika terjaga setiap kali Melati bergerak. Tanpa perlu banyak bicara, ia langsung duduk di sampingnya, menopang punggung istrinya dengan bantal-bantal empuk, lalu mulai mengusap punggung Melati dengan gerakan memutar yang tenang dan teratur. Keringat dingin mulai muncul di pelipis Melati, namun ia menahan napas dan berusaha tersenyum setiap kali menatap wajah Arthur yang tampak begitu cemas namun berusaha tetap
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Jalan Menuju Pertemuan
Bab 108 Malam itu hujan turun perlahan, mengetuk pelan atap rumah seolah irama pengantar tidur yang lembut dan berirama. Udara dingin yang menyelinap masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka membawa aroma tanah basah yang khas, berpadu dengan wangi melati yang tumbuh merambat di dinding samping kamar. Di dalam kamar yang remang diterangi cahaya lampu tidur berwarna kekuningan, Melati terbangun perlahan. Awalnya ia hanya merasa tidak nyaman, namun lama-kelamaan rasa pegal yang samar mulai menjalar dari pinggang belakang hingga ke bagian bawah perutnya. Ia mencoba memutar tubuh perlahan agar tidak mengganggu tidur Arthur, namun rasa itu kembali muncul dengan jeda yang teratur. Belum sempat ia menarik selimut lebih tinggi atau memanggil pelan, sebuah tangan hangat langsung bergerak mencari tangannya di bawah selimut. Arthur ternyata sudah terbangun, seolah instingnya selalu terjaga setiap kali ada sesuatu yang sedikit saja mengganggu istrinya. Ia segera mengan
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Satu Harapan Di Bawah Langit Yang Sama
Bab 107 Matahari baru saja naik setinggi jengkal di ufuk timur, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut menyentuh permukaan tanah yang masih lembap sisa embun semalam. Udara pagi terasa begitu sejuk, membawa aroma wangi bunga melati yang merambat di dinding luar kamar, bercampur dengan harum rumput basah yang segar. Di dalam kamar yang remang namun perlahan terang oleh cahaya matahari pagi, Melati terbangun perlahan. Ia tidak terbangun karena suara bising atau rasa tidak nyaman, melainkan karena rasa hangat yang begitu nyaman melingkar rapat di pinggangnya—rasa perlindungan yang selalu ia temukan setiap hari di samping Arthur. Arthur masih tertidur pulas di sampingnya, napasnya teratur dan tenang. Satu lengannya melingkar lembut di perut Melati yang kini semakin membulat, sementara telapak tangannya menumpu persis di sana, seolah bahkan dalam tidurnya ia tak ingin kehilangan momen berdekatan dengan calon putra atau putri mereka. Wajahnya yang biasanya tegas dan t
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Rasa Cinta Yang Baru Berbentuk
Bab 106   Udara pagi membawa aroma tanah basah dan wangi bunga cempaka yang tumbuh di sudut halaman, menyusup lembut lewat celah jendela kamar yang dibiarkan terbuka semalam. Melati terbangun dengan perasaan yang sedikit berbeda—badannya terasa lebih berat, namun hatinya terasa begitu penuh hingga sesak karena kebahagiaan. Ia memiringkan tubuh perlahan, melihat Arthur yang sedang duduk di tepi tempat tidur, sedang melipat handuk kecil berwarna putih bersih dengan sangat hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kain sutra paling rapuh. "Kau sudah bangun?" tanyanya lembut saat menyadari Melati bergerak. Ia segera meletakkan handuknya, lalu berjalan mendekat untuk membantu istrinya duduk. "Tadi aku mendengarmu berbicara dalam tidur. Kau menyebutkan nama 'Bunga' berulang kali. Apakah kau memimpikan sesuatu?" Melati tersenyum samar, tangannya bergerak mengelus perutnya yang kini terlihat jelas membulat, menandakan usia kehamilan yang memasuki perte
Last Updated: 2026-07-16
You May Also Like
Hati yang Kau Sakiti
Hati yang Kau Sakiti
Romansa · Vanilla_Nilla
51.4K views
Hot Mother
Hot Mother
Romansa · Amy_Asya
51.3K views
Istri Kilat Presdir Tampan
Istri Kilat Presdir Tampan
Romansa · Aldra_12
51.1K views
Benci Berbuah Cinta
Benci Berbuah Cinta
Romansa · ANGELA HIKARU
51.1K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status