LOGINEsme Sunny, 19-year-old girl, is the half-quarter of Gamma Lycan, daughter of the legendary Gamma Lycan warlord. Esme inherited her father's powers, because of it the moon goddess chose Esme to be Lucan Tharique's mate, an Alpha Lycan who is the son of the first King in the Kingdom of Nychia in the land of Wolverse, the world of werewolves and Lycans, for seize the throne from the treacherous current king. Lucan's good looks and romantic attitude make Esme fall in love and is willing to accept Lucan with all the consequences. When the mating process took place, Lucan learned a fact that Esme's father was a traitor who had killed his father. Lucan left Esme for the Wolverse world when his enemies came to the human world to possess Esme. Will Lucan leave Esme even though he really needs her? How Esme struggles to keep Lucan as his eternal mate because of love?
View More"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGAs if my soul was separated from my boneless body. My legs felt weak to walk over to Lucan's body, which was lying helpless on the ground, bloodstained on his chest, and his face was ashen white. Throwing my unsteady body onto the ground where it was filled, I cried and screamed. Shaking his body I asked, "Wake up Alpha, you are strong, why do you have to lie here, wake up, we won!!!" Someone wanted to pull me and stop my crazy actions, shaking Lucan's body so hard that his blood spurted out again onto my face and armor. I jerked him around and Carlos took over the orders to carry Lucan and take him home. "Luna, come on, get up." "Give Lucan back, give him back his breath!" I shouted and Carlos grabbed my hand roughly, pulling me until I stood up. put his arm around my shoulder, and walked behind. Lucan who was carried into the black hole. I don't have the strength anymore, letting Carlos hug me will make Lucan jealous and he will wake up, Yes he will be angry seeing this. When w
It was the first time I was faced with a situation like this. The hardened, upright 'trunk' filled my hand. "Ssh," He hissed as the tip of my tongue touched his 'head' and smeared it with my saliva which was only accompanied by a gentle massage on his big ball. Kiss him as an introduction. "Ugh," His heavy moan escaped as my mouth began to gently massage his muscular 'trunk', bringing out the stretch lines within his transparent skin. "Faster honey, oh—" He grew impatient, speeding up the rhythm by moving in and out without the usual pauses he did to me where I should. We never did like this before. He's the one always beneath me, but this is so sensual. I can see his twisting hips so erotic. Sexy curvy belly. His mouth was agape as he gasped for breath. His eyes were so glazed enjoying the sensation. The sensation of my mouth warming it. The longer the 'trunk' the more it filled my mouth, throbbing and he was like a person who lost control. "Turn around!" he ordered as he pulled
A long howl sounded 3 times in a row, indicating that today's war was over. The pitch black sky had become dark gray, approaching morning. It doesn't feel like time has passed so quickly. One enemy was defeated in one night. I don't know how it is from the Lycans and werewolves. The two camps moved away from each other, without any more physical contact. The badly injured could not walk, being dragged by a herd of them. The Lycans have returned to human form with their clothes torn. Lucan ran over to me who was also walking towards him. "Oh, baby." The warm embrace of his body enveloped me, suddenly my body became weak when I was in his arms."You're great," he said, compliment after compliment as he kissed my head. The look on his face was worried looking at me who might be a little messy. Erasing the trace of blood that remained on my forehead. Sucking on my wound and then kissing my forehead repeatedly. "Are you injured?" I asked, watching his face which was also a little messy.
The war was going on, the Lycans and wolves were attacking each other wildly. My eyes were fixed on the figure of the woman below who was waiting for me, while I was still on the hill. In the normal way, I went down the hill by tracing the rocks that lined the slope down.We were far from their fighting hordes. This is one of their cunning tactics to not let Lucan and I be together. This woman led me far away so as not to disturb them. Arriving at the bottom. The woman was ready with two thin swords that she pulled out from behind her back.Her eyes were wild, seeing me as her meal to be hunted before morning came. Both legs had taken a position to attack, both swords were ready to chop me alive. Focus! My eyes continued to pay attention to the movements of her feet and hands.She launched her first attack by slashing toward the front at a 30-degree angle, I immediately parried it with the spear and pushed her hard until she fell far back."Not bad," She said, sounding trivial to my e
When the sky began to darken, the usually tense forest atmosphere became very friendly to us. The bonfire starts to burn. A kiln for barbecue is also ready. The men sit and sing. Thalita and I helped the girls rub the spices on the grilled meat."Pretty exciting," whispered Thalita. I hope there's no
"You're not afraid to walk by my side are you?" I asked Dominic who smiled at me and then looked back. "Don't look at him, he'll get even angrier," I said. I didn't mean to harm Dominic. This time I will defend him if Tharique wants to hurt him. Of course, the blonde's actions annoyed me and Thariqu
I lay weak on a warm soft bed. My eyes are hard to open, it's like there's glue covering my eyelids. My ears can only hear conversations from foreign voices that I don't recognize. "If she wakes up, just give her some food and ask her where her house is. We have to look for another human trapped in
It's hard to be mad any longer when he tells me he loves me. His sad eyes, his overflowing emotions when he saw me with another man. His hand touches my neck, his thumb stroking my jaw. "You know, my heart burned with jealousy when I saw you sitting and talking to him. I don't want 'mine' close to a






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore