Mag-log inIn a world plagued by darkness and despair, Maria, a young woman striving to survive, finds herself trapped in a web of cruelty and exploitation. Sold to the ruthless Alpha King as a breeder, Maria endures unspeakable horrors, longing for escape and a brighter future. Amidst the chaos, Maria discovers her true identity as the Silver Wolf, a legendary being sought after by a coven of dark witches eager to eliminate the werewolf clan. As the prophecy unfolds, Maria must confront her destiny, allies become enemies, and the lines between love and betrayal blur. In this enthralling tale of love, strength, and survival, can Maria harness her true power and overcome the darkness that threatens to consume her? Will she find redemption, forge alliances, and finally reclaim her happiness? The answer lies in the heart-pounding battles, heartbreaking betrayals, and unexpected alliances that await her on her path to freedom and love.
view more"Tuan, tolong bebaskan utang saya. Saya akan memberikan putri saya untuk Anda sebagai gantinya."
Diana terperangah mendengar ayahnya memohon-mohon sambil mendorong tubuhnya ke hadapan seorang pria yang duduk dengan angkuh.
Hati Diana teriris diperlakukan seperti barang.
Tadinya Diana pikir, ia diajak sang ayah hanya untuk menemui salah satu partner bisnis.
Diana juga sempat menolak, apalagi kehadiran ayahnya itu sangat tiba-tiba. Tetapi Dody, ayahnya, membujuknya dengan menjanjikan akan menyekolahkan adiknya. Dan jika partner bisnisnya mau membantu, perekonomian Diana pun akan terbantu.
Maka dari itu, Diana menyetujui permintaan ayahnya, meski ia sempat bingung mengapa ayahnya juga menyuruhnya untuk berdandan menggunakan pakaian haram ini.
Dan ternyata….
Pria blasteran bernama Michel Rahardian itu menatap tubuh Diana sambil berdecak remeh.
Diana mengenali pria itu karena sering melihatnya tampil di TV.
"Dia ini tidak ada nilainya untukku. Tidak berharga dibandingkan dengan nyawamu, Dody. Aku bisa mendapatkan wanita mana pun yang aku mau, kenapa aku harus menerima gadis ini?"
Dari luar ruangan, terdengar suara lagu dari DJ dan juga teriakan orang-orang yang sudah mabuk. Meski Diana berteriak memohon untuk dilepaskan, orang yang berada di luar tidak akan bisa menolongnya.
Michel kemudian berjalan mengelilingi Diana yang kedua tangannya kini diikat oleh Dody.
"Anak saya ini masih murni, Tuan. Dia masih perawan," ujar Dody kembali memohon.
Diana melebarkan matanya, terkejut. “Tidak, tidak… Aku tidak ingin dijual. Jangan sangkut-pautkan aku dengan kesalahanmu!”
Tetapi setelah mendengar penuturan Doddy, Michel langsung menyeringai sinis ke arahnya. Ia menilai Diana dari atas ke bawah, membuat gadis itu risih.
"Baiklah, bawa dia pergi dari sini."
Michel lalu memerintah anak buahnya untuk membawa Dody pergi dari tempatnya.
"Aku bersikap baik hari ini karena anakmu," kata Michel sambil melirik Diana sekali lagi. "Dia tidak buruk."
Michel menendang kaki Dody hingga pria paruh baya itu bersujud di kaki Diana yang masih tidak percaya bahwa ayahnya telah benar-benar menjualnya.
"Diana, maafkan Papa, Nak,” ujar Dody.
“Tu-tunggu…” lirih Diana.
“Tuan, terima kasih banyak," sambung Dody kembali, setelahnya dibawa pergi oleh kedua anak buah Michel.
Diana melihat semua itu dengan bingung. Ia sebenarnya belum bisa mencerna apa yang terjadi padanya sekarang. Ia bahkan baru tahu jika ayahnya ini memiliki utang, dengan seseorang yang baru ia temui malam ini.
Diana tidak tahu mengapa ayahnya bisa berurusan dengan orang seperti Michel. Melihat bagaimana seisi klub begitu hormat padanya, dan anak buah yang selalu sigap pada tuannya itu, Diana bisa merasakan bahwa Michel bukanlah orang sembarangan. Ia pasti sangat berkuasa.
Tiba-tiba ketakutan menjalar dalam tubuh Diana. Ia ingin kabur, berlari menuju pintu keluar. Jadi, ia memberontak di kursinya.
"Lepaskan aku! Aku mohon! Jika kalian tidak melepaskanku, aku akan melaporkan kalian semua!" teriaknya frustrasi.
Bukannya takut dengan ancaman itu, semua anak buah Michel yang berada di ruangan tersebut malah menertawakan Diana.
Michel bersikap tenang lalu menarik kursinya dan duduk tepat di hadapan Diana.
"Tuan, aku rasa ada salah paham di sini. Aku tidak tahu apa yang dilakukan ayahku. Kumohon, lepaskan aku. Aku akan melakukan apa pun.”
Michel hanya menatapnya sambil bersedekap.
“Aku akan bayar utang ayahku. Aku janji. Jadi, tolong lepaskan aku," pinta Diana lagi, kali ini sambil terisak.
"Apa kamu sanggup membayar utang ayahmu itu, Diana?" Michel menatapnya intens. "Utangnya sangat besar, 50 miliar. Bahkan jika organ ayahmu atau kamu dijual sekalipun, tidak akan cukup untuk melunasi semua hutangnya."
Diana tersentak.
Bagaimana bisa ayahnya memiliki utang sebesar itu? Diana terdiam sejenak dan memikirkan cara apa yang bisa ia gunakan untuk bebas dari sini.
Diana tidak punya siapa pun yang bisa ia mintai pertolongan. Ia hanya punya Doni, adiknya. Dan Doni tidak bisa melakukan apa pun untuk menolongnya karena adiknya itu masih sekolah. Diana juga tidak mungkin melibatkannya.
Mereka sudah tidak punya ibu karena ibu kandungnya sudah meninggal dan ayahnya sudah memiliki keluarga baru.
"Lalu, apa yang akan Tuan lakukan padaku? Apakah Tuan akan membunuh dan menjual organ tubuhku?" Diana bertanya dengan wajah nanar.
"Tergantung. Jika kamu membuat saya tidak senang, saya akan memutilasi tubuhmu!" kata Michel dengan maksud untuk bercanda. Tapi nada datarnya justru membuat tubuh Diana bergetar hebat.
"Tuan, bagaimana bisa Anda bertindak tidak adil seperti ini? Yang berbuat salah bukan aku, tetapi kenapa aku yang harus dihukum? Tuan bisa menangkap ayahku!” seru Diana tidak terima.
"Tidak ada pilihan lain lagi, Diana. Kamu adalah milik saya sekarang.”
Dengan gerakan tangan dari Michel, salah satu anak buahnya melepaskan ikatan tangan Diana. Lalu Michel memerintahkan anak buahnya itu untuk mengambil satu botol bir.
Mendengar itu, Diana segera bangkit dan berusaha kabur, karena ia punya firasat jika Michel akan menjebaknya.
Belum sempat ia sampai di pintu, tiba-tiba…
DOR!
Suara tembakan menggema dan Diana langsung terdiam membatu di tempatnya.
Michel menghampirinya. Langkahnya begitu gegas dan gagah. Ia lalu mencengkeram kedua pipi Diana dan menuang sebotol bir ke mulut Diana secara paksa.
Namun, Diana memuntahkan minuman yang sangat berbahaya itu.
Uhuk, uhuk!
Diana tersedak, tetapi Michel kembali mencengkeram pipinya, dan menengadahkan kepala Diana ke atas.
Minuman haram itu dimasukkan kembali dan kali ini lolos masuk ke tenggorokannya. Diana bisa merasakan pahitnya cairan itu dan tubuhnya kian bergetar dengan perbuatan Michel.
Setelah Diana berhasil meminumnya beberapa teguk, Michel baru melepaskannya.
Pria itu menyeringai puas.
Tubuh Diana melemah. "Tuan, aku mohon. Aku wanita baik-baik dan aku harus mengurus adikku yang masih sekolah,” lirihnya dengan suara bergetar. Tetapi Michel hanya menatapnya dengan tajam.
Rasa pening mulai menguasai diri Diana. Efek alkohol begitu cepat muncul dalam dirinya. Dari sudut matanya, Diana bisa melihat bahwa pintu keluar tidak jauh darinya. Dan beberapa anak buah menjauh dari pintu, seperti memberikan waktu untuk tuannya.
Michel berjalan ke arahnya, dan Diana bergerak mundur. Tanpa banyak pikir, Diana tetap nekat bergegas keluar dari tempat menyeramkan ini.
Ia berhasil berlari dengan cepat, membuka pintu dan keluar dari ruangan. Namun, di luar ruangan itu ternyata lebih luas dari ruangan tempat Diana ditahan.
Ada banyak lampu warna-warni yang semakin membuatnya pusing, dan musik disko yang telah diputar membuatnya tidak bisa mendengar suara orang lain.
Meski kepalanya pusing dan tubuhnya terasa lemas, Diana berusaha mencari jalan keluar.
Ia terus berjalan melewati lorong sampai tiba di lantai dansa yang penuh sesak. Diana membelah kerumunan hingga menabrak orang-orang yang sibuk berjoget dan bersenang-senang di tempat tersebut.
Sampai akhirnya Diana jatuh tersungkur di hadapan seorang pria mabuk yang melihatnya dengan tatapan lapar.
Pria itu langsung menarik Diana dan memeluknya dengan erat. Diana bergidik karena pria itu mencoba untuk menyentuh tubuhnya.
“Lepaskan aku!” pekik Diana sambil berusaha menjauhkan pria itu darinya. Tapi tenaga Diana tidak sebanding dengan pria yang bobotnya dua kali dari tubuhnya sendiri.
Diana akhirnya hanya bisa pasrah, kehabisan tenaga untuk melawan. Namun, saat pandangannya mulai memburam, tiba-tiba suara serak menggelegar membuat Diana dan pria yang melecehkannya itu tersentak kaget, dan otomatis menoleh ke arah sumber suara.
"Lepaskan tanganmu dari wanitaku!"
Maria's POV FOUR YEARS LATER"Evris, don't run around. The wedding will begin soon" I whispered furiously to Evris who didn't want to sit still. "Hey, beautiful" Leo's voice warmed my ears as he bent to kiss me on the cheeks and the lips. "Hey babe. The ceremony is almost finished. We should be moving soon" I said to him and moved my swollen legs around. The pregnancy was now nine months and anytime from now, the baby was expected to come. Leo had asked us to take a break to raise Evris two years ago, and he had done just that. We had gotten married and I had even found out that Sophia had been the one controlling him with magic all that time. My heart sank whenever I thought about her but I knew that she did deserve to be locked up forever. "What are you thinking about?" Leo asked me and I smiled. Ever since he marked me and I became bound to him, he has been able to read my thoughts and some other things accurately. It was also how he knew I was ready to have a child but I coul
Maria's POV ONE WEEK LATER"I do hope that you forgive me, but even if you do not want to stay with me, I would understand. All I ask for is that you allow me to do everything for you and my child. I owe you both the world after everything that you all have been through" Leo said to me as he held my hands on the bed in his chambers. He had brought me back to the palace, alongside my son after he had thrown Sophia into the dungeon. The rest of the witches that had been captured faced the same fate but I knew that Sophia faced a fate worse than that. Leo was angry and I could also read that his ego was hurt. His mate had been hurt and he had even helped, it was the umpteenth time that he was coming to me to apologise. "There are so many people out there that I still have to pay back for how kind they were to me. I can't just stay here and ignore them all, moreover, I made a promise to someone." I said, and the image of Ro and Elvira immediately filled my mind. My eyes watered but I m
Maria's POV I jerked awake, not knowing what had woken me up. Everywhere was eerily quiet, and for some weird reason, it felt as if I was hanging upside down. The dirty air filled my lungs, and I found myself gasping for breath. It felt like I was in the corner of a large empty room, as every sound I made echoed loudly across the room. "Looks like someone is finally awake," Sophia said and I caught sight of her figure as she turned on the lights and made her way to me. Her scent had changed completely, and the horns on her had captured her true form. I looked around the room, hoping that my son was somewhere around, but my eyes only fell on the sight of the dry walls. "What do you want from me? Where is my son?" I demanded, looking up to see that my legs had been tied to the roof and it felt as if all the blood in my body settled heavily at the tip of my skull, causing me a bear black out experience each time I tried to wriggle my way out of the ropes. "Be patient, there's no nee
Leo's POV Her room was empty when I got in and it took me a while to fully understand that they were actually gone. I went to the cot and found out that it was empty. My heart thumped loudly in my chest. It was as if there was a gaping hole there, one that was caused by the loss of Maria the second time. "Guards!" I bellowed, anger seething through me. "Yes your majesty" they answered, running to the room. "Where is the woman who was in my room?" I barked at them, my wolf rambling inside me for weird reasons that I had no idea about. "She has not left this room since morning, your majesty" one of the men responded as his eyes swept across the room. "And will I be asking you where she has gone to if she were here? And if she is not here, is that not a clear indication that she did step out of her room and you can't do your job?" I snapped at him and he cowered in fear."Get me the nurse, tell her that I want her here as soon as possible" I instructed as the guard bolted out of th
Maria's POV "How dare you come back here to show face?" She snapped at me, anger written all over her face. I was not surprised, she didn't really hide her hatred and superiority over me. I wondered why she was upset knowing very well that she had Leo's heart in her hands. "I don't want to be bac
Maria's POV When I woke up, the cry of a baby seeped into my thoughts and I felt a dull ache settling in my stomach. The scent of this place was oddly familiar and I wondered if I was just imagining things, but I knew that I wasn't. I had my baby. My eyes flew open as I searched frantically around
Sophia's POV "Yes, he will come back with the silver wolf and then we can go ahead with our plan" I assured my mother as she came to me to know what was happening. "Are you sure about it this time?" She demanded and I could see the heavy doubts that her eyes held for my words. "Yes, mother. I am
Maria's POV I was so close to entering the northern packs when I felt a stirring in my heart. The first pack I went to, told me that they had no idea of whom I was talking about and by the time I got to the fourth pack, I had already lost all the energy I had saved up to look for my people. It fel






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.