MasukMáximo Galloway, es un hombre hermético y está envuelto en un pasado de secretos que oculta a la perfección, directo y poco paciente, se enfrenta a su empleada, Abby Benson, su directora de finanzas, quién durante dos años y en silencio ha provocado algo en él que no puede descifrar, su plan es evitar a toda costa estar cerca de ella, pero alguien se ha dado cuenta de lo que sucede, arma un plan para acercarlos y hacerles ver que son hechos el uno para el otro. Máximo al ver que la primera parte de sus reglas autoimpuestas se ha roto, está dividido entre darse una oportunidad con Abby o continuar acompañado por sus propios demonios.
Lihat lebih banyakBerdiri di depan sebuah bangunan reyot yang tidak tampak layak untuk ditinggali. Sepasang suami istri yang baru saja resmi menikah itu saling beradu pandang.
Kebaya putih dan wiru cokelat dengan belahan di sisi kiri masih melekat di tubuh sang pengantin wanita. Riasan di wajahnya terlihat memudar oleh keringat.
“Sementara kita tinggal di sini dulu, ya? Sampai aku dapat kerja yang lebih baik,” tukas pria berpotongan rambut cepak itu. Tangannya bertaut menggenggam jemari lembut nan kecil milik Dara, istrinya.
Perempuan itu mengangguk. “Kurasa ini sudah cukup baik untuk bernaung di bawah terik panas matahari dan badai saat hujan, Mas.” Tidak masalah di mana pun dia tinggal. Ia pernah tinggal di tempat yang lebih buruk dari tempat itu.
Raka, pria itu mengembangkan senyum. Ia lantas menyeret langkah beriringan dengan sang istri guna memasuki bangunan yang tidak lebih dari enam kali lima meter2 itu.
Tuas pintu didorong masuk dan suara derit menyedihkan mereka dengar. Aroma apak menyeruak menusuk penciuman keduanya. Spontan Raka melepaskan genggaman tangannya dari Dara dan mengibaskan telapak tangan di depan muka, mengusir bebauan yang asing di hidung.
Sorot matanya meliar, memindai setiap sudut yang ada di tempat baru. Kamar mandi berada tepat di sebelah dapur. Satu kamar tidur di sisi kiri pintu masuk dengan ukuran yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu sempit. Cukup untuk tidur keduanya. Kemudian tidak ada lagi sekat antara jalan menuju dapur dan juga ruang tamu.
Jendela dengan bingkai kayu usang dengan kaca buram di tengahnya yang— mungkin fungsinya untuk mengintip penunjung, persis berada di sebelah kanan pintu utama.
Dara menggigit bibir bawah bagian dalam. Tangannya terasa keram. Ia meletakkan tas jinjing yang sudah dia tenteng sejak pulang dari KUA tadi. Lantas ia menjauh dari pintu. Menjelajah ruangan sempit yang akan menjadi tempat berpulang.
“Kita akan buat rumah ini nyaman, Mas. Mungkin sedikit polesan cat bisa membuatnya lebih segar,” tukas Dara. Tangannya menggeser tirai anti air sebagai pengganti pintu kamar mandi.
“Tentu. Warna apa yang kau mau?” Raka melongok meniti bakal kamar tempatnya rehat kala balik dari penatnya bekerja.
“Sepertinya kita tidak butuh cat. Kita plamir saja, biar lebih hemat. Toh, fungsinya juga sama saja kan?”
Raka mengangguk tanpa menoleh ke arah Dara. Matanya masih sibuk mengawasi tembok-tembok penuh dengan lubang di depannya. Bahkan ada sudut yang lembab.
Jelas saja dia setuju dengan gagasan itu. Uangnya hanya tersisa lima ratus ribu. Tidak ada harta lagi di koper yang diseretnya ke mana-mana sejak tadi. Hal tragis dalam hidupnya baru saja terjadi. Berdalih dengan pernikahan ini penderitaannya akan musnah.
Dara duduk di sisi dipan dengan kasur tipis tanpa seprei berwarna biru. Memuntahkan isi dalam tas hitam berukuran sedang itu, kemudian disusun pada lemari plastik yang sudah disediakan oleh pemilik gubuk.
“Mas, maafkan aku. Karena aku kamu harus mengalami hal ini,” sesal Dara. Ia menghentikan aktivitasnya dan meraih vieny hand sang suami, mengisi sela-sela kosong di sana.
Raka menimpuk punggung tangan Dara lalu meremasnya lembut. “Ini pilihanku. Jadi— tidak perlu ada yang disesalkan. Setiap pria dewasa pasti akan menentukan pilihannya. Dan pendirianku berakhir bersamamu, Da. Jadi tolong jangan buat aku kecewa telah memilihmu,” timpal Raka dengan binar mata penuh pengharapan.
Tanpa kau minta, aku juga tidak berniat meninggalkan bahkan menyiakanmu, Mas. Kita akan berjuang bersama mulai hari ini, batin Dara.
“Aku yakin, mereka memaafkan kamu, Mas. Kamu anaknya, satu-satunya lagi. Jadi, jika ada waktu luang kamu boleh mampir ke rumah ibu dan ayahmu,” balas Dara. Sekarang ia rebahkan kepalanya di bahu suaminya. Gelar yang baru dua jam disandang laki-laki dengan tinggi seratus tujuh puluh sentimeter itu.
“Sudahlah, aku tidak berniat membahas mereka lagi. Kalau sudah diusir, berarti mereka memutus kontak denganku. Aku tidak mau mengemis. Selama ini aku sudah menurut sepanjang usia anak-anak, remaja hingga, dua puluh lima tahun, Da. Kemudian, tiga tahun berikutnya saat aku mengenalmu dan meminta izin menikah bersamamu, jawaban mereka apa? Malah ngusir aku dan menghinamu.”
Terdengar jelas emosi yang kuat di nada bicaranya. Bagaimana tidak, dia sudah terus menuruti apa saja pinta orangtuanya. Namun, satu permintaannya justru berakhir dengan— ya, pengusiran.
“Mereka tetap orangtuamu, Mas. Pelan-pelan, ya. Aku yakin kalau—”
“Aku lapar. Sebaiknya kamu beli mie,” sela Raka memutus obrolan. Sungguh dia muak jika membahas tentang kejadian pagi tadi.
Lagi, Dara mengangguk. Ia menarik diri dan menatap wajah Raka yang sekarang sibuk sudah berdiri membelakangi tubuhnya. Dia tahu bagaimana perasaan pria itu. Marah, kecewa, sedih, bahkan mungkin juga menyesal.
UN AÑO DESPUÉS...Abby ― ¿Qué? ―miro lo que sostengo en mis manos, estoy en shock, Melani toca la puerta al ver que no salgo del baño. ― ¡Apúrate! Máximo está nervioso, me va a matar si no llego contigo para que abran la pista―vuelve a tocar y yo no quito la vista de la prueba de embarazo, apenas hace un mes que dejamos de cuidarnos, había afrontado el miedo de embarazarnos...y ahora... estoy embarazada y estoy en shock total. La perilla se mueve inquieta y desesperada por qué Melani intenta abrir la puerta. ― ¡Abby me estás asustando! ¡Abre la puerta! Solo ibas hacer pis rápido... ― ¿Qué pasa que no llega Abby? Máximo está histérico...―escucho la voz de Edward, salgo de mi trance al escuchar "
Máximo Voy por el sendero que me lleva a la nueva casa de la playa, bajo del auto, cuando lo estaciono frente a la casa, puedo ver a un lado el auto de mis padres, bajo quitando la corbata de un tirón, la arrojo en algún lugar cuando corro al interior de la casa, el corazón palpita a gran velocidad, la adrenalina corre por mis venas, la respiración es inestable, el miedo, la angustia, desaparecen, subo de dos en dos las escaleras hasta la nueva habitación, la sonrisa se evapora cuando no encuentro mi objetivo, antes de regresar hacia el pasillo veo un detalle. La fotografía de nosotros dos en la mesa de noche, sonrío. Cierro la puerta y salgo corriendo hacia las escaleras, cuando estoy a punto de bajar, entra Edward junto con el equipo de seguridad. ― ¿Dónde están todo
Máximo ― ¿Máximo? ―la voz de mi madre me hace volverme hacia ella. ―Pasa, madre―arreglo mi corbata negra, me miro en el espejo, mi madre se acerca, me toma del brazo para girarme, ella agarra mi corbata y comienza a anudarla de nuevo, no me había dado cuenta de que no estaba haciendo bien el nudo. ― ¿Estás seguro de querer hacerlo de este modo? ―asiento sin dudar. ―Está bien, tienes nuestro apoyo. Bajo la mirada a la vestimenta de mi madre, sus ojos se cristalizan. ―Madre...―ella niega y se limpia las lágrimas que han caído por sus mejillas. ―Lo sé, lo sé, es solo que sigo consternada, ver a todos vestidos de luto esperando para hacer esa conferencia, Edison con todos los de
Máximo Hoy es una hermosa mañana, el clima es soleado, el auto se estaciona en la acera del edificio justo a tiempo para empezar nuestra rutina de un lunes, el fin de semana estuvimos encerrados en nuestra habitación con un maratón de sexo especial, nuestros cuerpos volvieron a conectarse como hace mucho no lo hacía, el amor al final nos hizo más fuertes más felices, y el hilo delgado del que ambos dependíamos emocionalmente se ha reforzado como nunca, Edison se baja junto con Blair para abrir nuestras puertas, Abby sonríe y ese brillo que hace mucho no veía se instala en su hermosa mirada azulada. Ella pone un pie sobre la acera y se gira hacia mí, antes de cerrar la puerta me da una sonrisa, una de esas que son para siempre, esas dónde tu corazón se agita, se desestabiliza por la emoción,






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak