LOGINMy boyfriend was a therapist. On the day I got diagnosed with ALS, he was busy celebrating his friend's birthday. He said, "Sophie's got depression. Without me, she could break down, hurt herself, or do worse things." To look after her, he broke up with me and moved into her place. I blocked him on everything, agreeing we'd go our separate ways. Strangely, he lost his nuts when he found out I was dying.
View More"Kamu sepertinya menikmati sekali mandi keringat begitu, Rus."
Suara itu terdengar lembut, namun dampaknya seketika membuat tubuh Rusdi membeku. Gunting rumput di tangannya berhenti di udara. Lantas, saat ia berbalik badan, napasnya langsung tercekat karena melihat siapa yang berdiri di sana.
Ternyata itu Nyonya Vivian.
Akan tetapi, penampilannya hari ini sungguh berbeda. Tidak ada pakaian kantor yang kaku atau gaun pesta mewah seperti biasanya.
Kali ini, hanya sehelai lingerie sutra merah menyala yang membungkus tubuhnya. Kain itu begitu tipis dan licin, jatuh pas mengikuti lekuk pinggang serta pinggulnya.
Apalagi ketika angin siang menyingkap sedikit ujung gaun itu, paha putih mulusnya terpampang nyata.
Pemandangan itu sangat kontras dengan tangan Rusdi yang kotor dan kasar akibat tanah kebun.
Rusdi merasa darahnya langsung naik ke wajah, lalu turun ke bawah perut dalam satu tarikan panas yang menyakitkan. Ia buru-buru menunduk, mencoba menghindari pemandangan itu, tapi sudah terlambat.
Bayangan tubuh Nyonya Vivian sudah muncul di matanya, lekuk pinggul yang menggoda, dada yang naik-turun pelan mengikuti napasnya, dan bibir merah yang sedikit terbuka seolah menanti sesuatu.
Pria normal jelas akan terbuai dengan kemolekan tubuh Vivian. Tak terkecuali Rusdi!
“Nyo—Nyonya?” suaranya serak, hampir pecah. Ia tahu diri, siapa dirinya saat ini.
"Kenapa menunduk?" Vivian terkekeh pelan seraya melangkah maju tanpa alas kaki. "Saya justru suka pemandangannya."
Sekarang jarak mereka hanya beberapa senti. Rusdi bisa melihat renda tipis lingerie itu dari dekat, bisa merasakan panas tubuhnya.
Vivian mengangkat tangan kanannya perlahan. Jari-jarinya hampir menyentuh dada Rusdi, tapi berhenti tepat sebelum bersentuhan.
Seketika itu juga, wangi parfum mahal menyerbu hidung Rusdi, mengalahkan bau tanah maupun sengatan matahari.
Rusdi menelan ludah keras. Tubuhnya bereaksi tanpa izin. Di bawah sana ada sesuatu yang mengeras di antara pahanya yang ia coba abaikan dengan sekuat tenaga.
Ini Nyonya Vivian, majikannya. Wanita yang selama dua tahun ini ia panggil “Nyonya” dengan hormat, yang selalu berdiri jauh di balik tembok es sikapnya yang dingin.
Para pekerja menyebutnya “Putri Salju” karena kulitnya yang pucat dan tatapannya yang tak pernah benar-benar melihat mereka.
Namun siang ini, tembok es itu seakan runtuh sepenuhnya.
"Gerah sekali ya ..." bisik Vivian.
Rusdi merasakan telunjuk Nyonya Vivian yang lentik menyentuh lengan. Sentuhan itu ringan, tapi langsung membuat otot lengannya mengeras.
Kulit Nyonya Vivian dingin dan halus, sangat kontras dengan lengan Rusdi yang kasar dan panas oleh matahari siang.
“I-iya, Nyonya. Panas,” jawab Rusdi. Suaranya parau, tenggorokannya mendadak kering.
Vivian tersenyum kecil, matanya menyipit sedikit. Ia menarik jarinya perlahan, seolah enggan melepaskan kontak itu.
Rusdi tak bisa menahan diri, pandangannya jatuh ke lingerie sutra merah yang menempel ketat di tubuh Nyonya Vivian.
Kain tipis itu mengikuti lekuk pinggang ramping dan pinggul lebar. Belahan dada dalam terlihat jelas saat ia condong sedikit ke depan.
Vivian tersenyum nakal, lalu menarik jarinya perlahan seolah enggan melepaskan kontak fisik itu.
Jantung Rusdi berdegup kencang, terasa sampai di telinga. Panas naik cepat dari dada ke bawah perut. Celana jeans terasa semakin sesak. Ia buru-buru menunduk, tapi gambar lekuk tubuh itu sudah terpaku di kepalanya.
“Apa Tuan Adrian tidak akan pulang malam ini, Nyonya?” tanya Rusdi, suaranya masih serak.
Ia mencoba mengalihkan pikiran ke Tuan Adrian, suami Nyonya Vivian yang selalu sibuk, sering pergi ke luar kota atau luar negeri, meninggalkan rumah besar ini sepi.
“Tuan Adrian tidak akan pulang malam ini, Rus,” jawab Nyonya Vivian dengan nada rendah dan tenang.
Nyonya Vivian melangkah setengah langkah lebih dekat. Wangi parfumnya langsung menyerbu hidung Rusdi, manis dan kuat, menutupi bau tanah dan keringat di tubuhnya sendiri.
“Oh iya, di kamar saya AC-nya dingin, Rus. Tapi rasanya sepi,” bisiknya lagi, suara penuh undangan. “Saya butuh laki-laki kuat untuk pijat kaki saya. Bukan laki-laki yang sibuk rapat terus. Kamu mau temani saya?”
Jantung Rusdi berdegup gila-gilaan. Walaupun logikanya berteriak bahaya karena takut dipecat jika tidak menuruti majikannya, tapi sebagai pria normal tubuhnya bereaksi lain. Godaan wanita yang biasanya angkuh ini terlalu sulit untuk ditolak.
Vivian tidak menunggu jawaban. Ia lantas berbalik dan membiarkan pinggulnya bergoyang lembut di balik sutra merah itu saat berjalan masuk.
"Jangan kelamaan mikir. Pintunya nggak saya kunci," serunya tanpa menoleh.
Rusdi menatap punggung itu menghilang di balik pintu kaca.
Akhirnya, persetan dengan logika. Ia meletakkan guntingnya di rumput, kemudian melangkah cepat menyusul majikannya. Begitu masuk, udara dingin AC langsung menyergap kulitnya yang basah.
Ketika sampai di dalam kamar utama, lampu temaram menciptakan suasana intim. Vivian sudah duduk di tepi ranjang besar dengan kaki disilangkan anggun sehingga gaunnya tersingkap tinggi.
"Masuk, Rus," perintahnya pelan saat melihat Rusdi di ambang pintu. "Dan kunci pintunya, karena saya nggak mau diganggu."
Rusdi menelan ludah sambil memutar kunci pintu dengan tangan gemetar.
Klik.
Suara itu terdengar sangat keras di telinganya.
Ia berbalik, tetapi langkahnya terhenti sebab ia sadar kondisinya saat melihat cermin besar di sudut kamar. Celana jeans penuh debu tanah, tangan kasar berlumur kotoran.
Di tepi ranjang, Vivian duduk. Ia menyilangkan kakinya, membuat paha mulusnya semakin terlihat. Bahkan, renda dari celana dalamnya sudah mengintip keluar.
Itu jelas membuat Rusdi semakin bergetar. Kapan lagi ia bisa melihat Nyonya-nya dengan pemandangan seperti ini?!
"Maaf, Nyonya," ucap Rusdi ragu sambil mencoba memalingkan wajahnya. "Saya ... saya kotor dan banyak keringat. Nanti seprai Nyonya kotor."
Mendengar itu, Vivian tertawa kecil dengan suara serak yang menggoda. Ia bangkit, lalu berjalan mendekat hingga tubuh mereka nyaris bersentuhan.
Wangi tubuh Vivian bercampur dengan aroma keringat Rusdi, menciptakan sensasi yang memabukkan.
"Siapa bilang kamu harus naik ke kasur sekarang?" bisiknya tepat di depan wajah Rusdi seraya mendongak, menatap matanya dengan lapar.
Vivian meletakkan tangannya di dada Rusdi yang bidang. "Lagi pula, saya bosan dengan segala sesuatu yang terlalu bersih dan rapi seperti suami saya. Saya suka kalau kamu kotor begini. Terlihat lebih... jantan."
Mateo grabbed his car keys and stormed out, leaving the stunned crowd behind.My condition tanked. I'd been on a ventilator for a while, just hanging on.In a sterile hospital bed, I felt my body go numb. It meant my time on earth was through.It was not a bad thing. Once I passed, all my pain would end.Because of my lack of will to live, the hospital sent shrinks to talk me up."Dr. Larsen, this one's on you. We've done all we can," said a doctor.It shocked me that Mateo was there. I had thought I'd never see him again, not in this life."ALS patients often feel hopeless," he replied. "The weak will to live is normal. I'll do my best."He was great with patients, always keeping it light and private.Within minutes, he'd disarm them. But I didn't think he had ever treated someone close to him.He pulled up a chair and sat by my bed, crossing his legs."I know you can hear me. What's your name?" he started.But when he saw the chart, he lost his voice.He had finally foun
Word came that Mateo proposed to Sophie.Their flash engagement threw me off. I'd only been gone for a while, and he was ready to tie the knot.He invited everyone he knew, eager for the whole world to cheer for their love story.That day, a friend wheeled me to the venue. It was a show I couldn't miss.Sophie's parents were surprised to see me there. They hissed, "What are you doing here? This is Sophie and Mateo's big day."I smirked, "You wouldn't acknowledge me. Can't I at least bless her? What, are you scared I'll blow up her perfect wedding?"They clammed up but kept a close watch on me, worried I'd flip a table.It was funny that they never asked why I was in a wheelchair. Their worries were laughable.The party peaked.Sophie's parents held her hands, sobbing like it was a movie. Mateo gazed at her softly.It was a sweet scene, except everyone had their own agenda.He took her hand but paused from kissing her when his eyes inadvertently met mine.Sophie blinked. "Wh
I had once suspected that I was just Sophie's stand-in.On the nights Mateo wasn't home, I'd lie awake, wondering, 'What is he doing now? Are Sophie and he cuddling up like we used to?'He was my whole world. Now, that world was crumbling and fading away.I questioned if I deserved love at all. Then I figured it wasn't my problem.Mateo was the one two-timing. I couldn't punish myself for his mistake.He might have forgotten how we started.Back then, his family cut him off. He could only scrape by.I thought he was just too proud to apply for subsidies. The two of us rented a tiny studio near campus for 700 bucks, taking turns cooking to save cash.When he gave me a $60 skirt, I was over the moon."If I proposed right now, would you say yes?" he asked."Of course, I would," I replied.Later, he made it big and started buying me fancy clothes and jewelry.I couldn't match that, so after I turned down a few gifts, he stopped.Later, I found out his family was loaded.Sudde
I raised an eyebrow, surprised."So, you think you know her inside and out, even after all these years apart?" I asked. "If you believe I'd lie to you, why is it so hard to believe Sophie might do the same?"He froze, realizing he'd trusted some long-lost friend than me, his girlfriend, who had been with him for four years.I used to think that he had betrayed me. Now it looked like there was more to it."Guess you haven't told Sophie about me, so I won't crash your party. This might be our last run-in. Go ahead. She's waiting," I said, brushing past him toward the elevator.He grabbed my wrist. "What do you mean, 'last run-in'? Where are you going?""I'm dying," I said flatly.He scoffed, "In that case, swing by my office some time. No charge."His phone buzzed before he could say more. He shot me a warning look, and I understood it was Sophie."Where are you? Weren't you just downstairs?" she asked. "I went to see the doctor. They said I'm getting better. My parents are here












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews