Mag-log inAsher kembali duduk usai mencuci bersih noda darah di tangannya. Pria itu terlihat lelah dan wajahnya memelas. Don sudah kembali, dia harus mengurus Zion yang kondisinya juga masih sangat mengkhawatirkan.Pria itu berulang kali melirik ke arah pintu ruangan operasi. Sudah dua jam berlalu sejak lampu indikator merah menyala, namun belum ada tanda-tanda jika dokter akan segera keluar. Dada Asher terasa sangat sesak.“Jangan pergi,” desis Asher sambil memejamkan matanya. “Tuhan, atau siapa pun yang bisa mendengar permohonanku, tolong adikku! Aku tahu kalau aku tidak pernah berdoa seumur hidupku, tapi kali ini, aku mohon. Tolong berikan aku kesempatan bertemu Anne lagi.”Pria itu menyandarkan tubuhnya lemah. Sebuah panggilan mengalihkan sedikit perhatiannya.“Ya?”“Tuan, Marcus mati. Dia merebut pistol salah satu dari kami dan menembak dirinya sendiri.”Asher menegang kaku, lalu membanting ponselnya. Kenapa? Atas dasar apa dia mengambil nyawanya sendiri sebelum dia membayar apa yang dia l
Asher melepaskan Marcus hingga tubuh pria itu kembali jatuh, kemudian dia menoleh kepada Vivian. Wanita itu terkesiap, kakinya membeku di tempat. Tatapan Asher berpindah dari wajah Vivian menuju Anne yang terbaring tidak sadarkan diri."Kau!"Vivian mundur, dia menggeleng. "Tuan … dengarkan aku. Ini bukan seperti yang kau pikirkan.""Aku tidak peduli.""Tunggu, aku bisa menjelaskan.""Kau boleh menjelaskan nanti."Asher menunjuk salah satu anak buahnya."Jangan biarkan mereka keluar."Dua orang anak buah Asher langsung maju dan menjaga pintu. Asher berjongkok di sisi Anne, mengangkat tubuhnya dengan hati-hati. Berbeda dengan sikapnya terhadap Marcus, setiap gerakannya saat menyentuh Anne begitu lembut.Dia menatap wajah pucat itu, mengelusnya pelan seolah wajah Anne adalah kertas rapuh yang jika disentuh akan hancur."Maaf aku terlambat," bisiknya. Asher mengeratkan pelukannya. Dia menunduk, kening mereka saling bersentuhan. "Jangan berani meninggalkanku. Kau sudah melakukannya sekali.
Anne telah kehilangan kesadaran.Tubuhnya tergantung lemah dengan kedua tangan terikat, kepalanya terkulai ke depan, sementara napasnya terdengar begitu tipis hingga nyaris tidak terdengar. Beberapa detik sebelumnya, Marcus masih berdiri di dekat tuas, memandangi Anne dengan tatapan dingin yang sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.Lalu suara itu terdengar …sangat dekat, namun entah kenapa Anne merasa itu adalah sebuah halusinasi. Dia mengenal suara itu. Dia tahu. Tapi dia tidak menemukan alasan kenapa pemilik suara itu ada di ruangan ini.Asher!Tatapan dingin pria itu langsung menemukan Anne yang digantung bak kantong tinju. Untuk sesaat, dunianya seolah berhenti bergerak. Marcus yang berada di dekat mesin menoleh dengan napas memburu. Dia mengenal Asher, tentu saja, karena dia telah mengikuti Zion kemana pun.Dia mengetahui reputasi buruk Asher, bagaimana dingin dan tanpa ampunnya pria itu. Karena panik, dia menarik tuas. Terdengar bunyi mekanis dari alat yang menahan tali peng
Namun tiba-tiba, sebuah tamparan keras menghantam wajah Anne. Kepalanya terlempar ke samping. Beberapa detik dia hanya diam, berusaha menahan rasa sakit yang menjalar di pipinya. Vivian yang berdiri di belakang Marcus tersenyum dengan tatapan puas yang nyaris tidak terlihat.Anne perlahan mengangkat wajah. "Kau salah," desisnya, masih tetap berusaha meyakinkan Marcus walau harapannya nihil.Marcus mencengkeram kerah bajunya dan menariknya berdiri. "Kau masih membelanya?""Karena dia tidak bersalah."Marcus mendorongnya kembali hingga tubuh Anne terbentur dinding, lalu memekik, "Berhenti berbohong!""Aku tidak berbohong."Marcus mengangkat tangannya lagi, tetapi kali ini Anne menatapnya tanpa sedikit pun rasa takut."Kalau kau membunuhku, kebenaran tidak akan berubah."Marcus terdiam."Zion adalah korban. Sama seperti anak-anak lainnya, keluarga lainnya. Dia kehilangan adik perempuannya. Dia kehilangan separuh hidupnya. Bertahun-tahun kewarasannya dirampas oleh orang-orang yang melakuka
Baik Anne dan Marcus sama-sama menoleh ke arah pintu. Anne yang duduk dengan tangan terikat mengangkat wajahnya. Meskipun tubuhnya sudah lemah, sorot matanya masih menyimpan keyakinan yang tidak tergoyahkan.Sedikit lagi. Dia melihat Marcus sempat goyah. Jika dia bisa mengatakan lebih banyak soal kejadian itu, Marcus mungkin bisa melepaskannya.Marcus berdiri di tengah ruangan dengan napas berat. Sebelum mendengar suara Vivian, kepingan-kepingan fakta yang selama ini dia kumpulkan mulai membentuk gambaran yang berbeda dari apa yang selama ini dipercayainya.Vivian melangkah masuk, namun langkahnya terhenti saat ponselnya berbunyi. Dia berdecak, melirik Anne dan Marcus tajam, seolah enggan meninggalkan mereka, namun tak bisa mengabaikan telepon itu. Wanita itu mendengus kesal, lalu kembali ke luar.Meninggalkan Anne dan Marcus kembali berdua.Itu bagus, Anne bernapas lega. Setidaknya dia bisa kembali mengubah persepsi Marcus terhadap semua cerita penculikan itu.“Marcus, dengarkan aku!
Anne pernah menganggap pria itu sebagai salah satu orang yang paling bisa dipercaya Zion. Sekarang Marcus menatapnya dengan kebencian yang membuat darahnya terasa dingin."Di mana Zion?" Suara Marcus bergema diantara dinding. “Kau tak perlu menyembunyikannya. Dimana dia?”Anne menelan ludah. Harusnya Zion ada di rumah sakit. Apakah mungkin Marcus tidak menyadarinya?"Aku tidak tahu." Anne mendesah.Marcus menghantam meja di sampingnya. "Jangan berbohong!"Anne tersentak, kepalanya kembali berdenyut. "Aku benar-benar tidak tahu," katanya. “Bisakah kau turunkan aku dulu? Kita bisa bicara baik-baik. Aku akan mengatakan semuanya.”Marcus menahan napas. Tapi rupanya dia masih memiliki sedikit rasa kasihan. Diturunkannya tubuh Anne, namun saat akan mendekati lantai, tali pengamannya dilepas begitu saja hingga tubuh Anne membentur lantai.Sakit, tapi ini jauh lebih baik dari digantung di atas sana.Marcus mengambil sebuah foto dari atas meja, lalu melemparkannya ke hadapan Anne. Foto itu mem
Saat Vivian melangkah masuk, dia bisa melihat cara staff lain melihatnya seperti apa. Tidak hanya itu, mereka juga berbisik, entah apa yang sedang mereka bicarakan.Insiden dalam rapat itulah pemicunya. Entah bagaimana video itu bisa terselip diantara presentasinya. Padahal sebelum masuk, dia telah
Dengan tubuh besar Zion menghimpitnya, Anne merasa ruang geraknya benar-benar terkunci. Tapi dia tenang. Keberadaan Zion, juga kehangatan tubuhnya membuat Anne aman. Aroma ringan dari tubuh Zion dihirupnya pelan-pelan, lalu bergerak menggeser tubuhnya.Anne mencium bahu Zion, memeluknya, lalu mende
Vivian mengamati dari kejauhan. Sudah beberapa hari dia di sana, melihat bagaimana Summer dijemput dengan pengawasan ketat oleh bodyguard yang dipekerjakan Zion. Dia memegang setir kuat-kuat.“Sial! Kenapa dia masih mendapatkan dukungan setelah bertahun-tahun keluar dari keluarga Roselle?” umpatnya
Anne mengamati wajah Zion dari jarak yang nyaris tanpa celah. Keringat tipis masih membasahi dahinya, namun sesuatu dalam diri pria itu telah berubah sejak beberapa menit lalu. Tangannya tidak lagi gemetar. Justru genggamannya pada tangan Anne terasa semakin kuat, seperti dia tengah berusaha menah







