LOGINBagi Hazel, pernikahan adalah sebuah komitmen suci, hingga ia menyadari bahwa seluruh hidupnya hanyalah sebuah panggung sandiwara yang kejam. Di kehidupan pertamanya, Hazel harus meregang nyawa setelah dikhianati secara brutal oleh dua orang yang paling ia percayai: Axel, suami yang sangat ia cintai, dan Luna, adik tiri yang selama ini memakai topeng kepolosan. Tidak hanya merebut kasih sayang sang ayah, mereka juga merampas seluruh harta warisan dan membuang Hazel seolah ia adalah sampah tak berguna. Namun, takdir menolak untuk membiarkan kejahatan itu menang. Hazel terbangun kembali di masa lalu. Ia diberi kesempatan kedua, terlahir kembali di linimasa sebelum semua petaka itu terjadi. Berbekal ingatan dari masa depan, Hazel bersumpah tidak akan menjadi anjing yang penurut lagi. Kali ini, ia sendiri yang akan menjadi serigala. Satu per satu, ia akan merebut kembali haknya, menghancurkan reputasi Luna, dan membuat Axel merangkak memohon ampunan. Rencana balas dendam Hazel awalnya berjalan sempurna, sampai munculnya hal kecil mengubah seluruh jalannya cerita. Hazel mendapati dirinya berhadapan dengan sesosok pria misterius yang sama sekali tidak pernah ada dalam ingatan kehidupan lalunya. Pria itu datang seperti bayangan, tak terprediksi, namun memiliki senyuman yang entah mengapa terasa begitu familiar di relung memori Hazel yang paling dalam. Siapakah sebenarnya pria misterius ini? Apakah ia adalah sekutu tak terduga yang dikirim takdir untuk membantu Hazel menghancurkan para pengkhianat? Atau justru... dia adalah variabel baru yang akan mengacaukan seluruh rencana balas dendam Hazel dan menenggelamkannya ke dalam konspirasi yang jauh lebih kelam? Saat benang takdir mulai kusut dan masa lalu menolak untuk dilupakan, akankah Hazel berhasil mendapatkan keadilannya?
View MoreLampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya.
Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depannya, segelas anggur merah yang baru saja ia sesap menyisakan bercak kemerahan di bibirnya yang mulai memucat. Di seberang meja, Axel berdiri dengan tenang. Pria itu perlahan merapikan jas hitamnya yang licin tanpa cela, lalu memasukkan sebelah tangan ke saku celana. Tidak ada kepanikan. Tidak ada raut cemas dari seorang suami yang melihat istrinya sedang sekarat. Dengan sisa kesadaran yang kian menipis dan pandangan yang mulai mengabur, Hazel menatap pria yang selama tiga tahun ini berbagi ranjang dengannya. Air mata Hazel jatuh, bukan hanya karena rasa sakit fisik yang membakar organ dalamnya, tapi karena penolakan batin yang teramat sangat. Ia masih tidak percaya. Pria yang selalu memeluknya hangat setiap malam, kini menatapnya seperti melihat seekor serangga yang menjijikkan. "A-Axel..." suara Hazel tercekat, parau dan nyaris habis. "Kenapa...? Apa salahku... sampai kamu tega melakukan ini?" Axel melangkah mendekat. Langkah sepatunya terdengar begitu tegas dan dingin di keheningan ruangan pribadi itu. Ia membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya yang tampan namun kini terasa begitu asing bagi Hazel. Sebuah senyuman tipis—dingin dan tanpa rasa bersalah sedikit pun—terukir di bibirnya. "Kamu mau tahu kenapa, Hazel?" bisik Axel, suaranya begitu tenang, seolah mereka hanya sedang membicarakan cuaca. "Sederhana. Karena setiap detik yang kuhabiskan bersamamu adalah siksaan. Aku sangat membencimu. Menjijikkan rasanya harus menyentuh wanita sepertimu." Hazel terbelalak, dadanya kian sesak. "Tapi... pernikahan kita... ucapan cintamu..." "Semua itu palsu!" potong Axel cepat, tatapannya menajam, memancarkan kebencian yang mendalam yang selama ini berhasil ia sembunyikan dengan sempurna. "Satu-satunya alasanku sudi menurunkan harga diriku, berlutut melamarmu, dan berpura-pura menjadi suami yang penuh kasih, adalah demi Luna!" Nama itu mencuat seperti belati kedua yang menusuk jantung Hazel. "Luna..." gumam Hazel lirih di sela rintihannya. "Ya, Luna. Gadis malang yang hidupnya hancur karena terus-menerus kamu rundung dan kamu injak-injak," ucap Axel, nadanya kini bergetar oleh amarah yang tertahan. Ia mencengkeram dagu Hazel yang sudah melemah, memaksanya menatap langsung ke dalam manik matanya yang kelam. "Kamu merebut segalanya dari dia, Hazel. Dan hari ini, aku datang sebagai takdir yang akan membalaskan seluruh rasa sakitnya. Anggap saja ini akhir dari permainanmu." Axel melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat tubuh Hazel tersungkur ke lantai marmer yang dingin. Pria itu berbalik, melangkah pergi tanpa sekali pun menoleh ke belakang, meninggalkan Hazel yang perlahan tenggelam dalam kegelapan malam, ditemani detak jantungnya yang kian melambat. Hazel tertawa getir. Suara tawa yang keluar dari tenggorokannya yang tercekat terdengar lebih mirip bisikan hantu. Air mata mengalir melewati sudut matanya, membasahi pipinya yang kian memucat. Awalnya ia mengira jika Axel mengajaknya untuk makan malam sebagai perayaan pernikahan mereka yang ke 3 tahun. Namun tak disangka, momen yang begitu indah malah digantikan menjadi momen yang memberikan rasa sakit tak terduga. Axel sengaja memberikan resto mewah itu untuk makam pribadi Hazel malam ini. Hazel tak pernah menyangka jika ia akan berakhir dengan mengenaskan. ’Bodoh... Kau begitu bodoh, Hazel,’ batinnya memaki diri sendiri. Dia teringat bagaimana dia dengan sukarela menyerahkan segalanya untuk Axel, percaya pada setiap bualan manis dan pelukan hangat yang ternyata hanyalah topeng dari sebuah ambisi busuk Pandangan Hazel mulai mengabur. Cahaya lampu gantung di langit-langit kamar tampak berpendar, menjauh, seiring dengan detak jantungnya yang kian melambat. Sukmanya terasa mulai merenggang, bersiap melepaskan diri dari raga yang telah hancur. Memori di mana ia berkali-kali difitnah, ditindas oleh Luna semuanya terlihat dengan jelas. Namun, alih-alih kepasrahan, rasa hangat yang pekat dan membara mendadak menyelimuti sisa kesadarannya. Itu bukan lagi rasa sedih, melainkan kebencian murni. Dengan sisa kekuatan terakhir yang mengalir di nadinya, Hazel mencengkeram dadanya, bersumpah di dalam kegelapan yang menjemputnya: "Demi langit dan bumi yang menyaksikanku mati malam ini... jika Tuhan mengizinkanku bernapas kembali, jika aku terlahir kembali ke dunia ini..." Angin malam berdesir kencang, seolah menyambut sumpah matinya.. "...akan kupastikan kalian merangkak di kakiku! Setiap air mata, setiap tetes darah, dan setiap jengkal rasa sakit ini! Akan aku balas berkali-kali lipat! Aku bersumpah!" Bersamaan dengan kalimat terakhir yang bergema di benaknya, tangan Hazel terkulai lemas di atas marmer dingin. Napasnya berhenti. Matanya tertutup rapat, membawa dendam membara yang mengunci jiwanya. Kegelapan yang menjemput Hazel ternyata tidak membawa kedamaian yang sunyi. Begitu napas terakhirnya terenggut, sukmanya tidak melayang ke langit, melainkan terlempar dengan hantaman yang luar biasa dahsyat. Hazel merasa tubuhnya seringan kapas namun ditarik oleh gravitasi yang tak kasat mata, menerobos masuk ke dalam sebuah lubang hitam yang pekat dan tak berujung. Angin tak bersuara menghantam kesadarannya, berputar-putar dalam pusaran waktu yang mengaburkan batas antara kematian dan kehidupan. Wusss! Rasa pening mendadak menyerang kepalanya seperti hantaman gada besi. Hazel tersentak, kelopak matanya terbuka lebar secara refleks. Bukan lantai marmer dingin tempatnya meregang nyawa yang ia lihat. Bukan pula kegelapan pekat yang menakutkan. Pandangannya justru menangkap pendar cahaya keemasan dari lampu gantung kristal yang megah. Bau anyir racun di tenggorokannya lenyap, berganti dengan aroma panggangan daging premium dan pekatnya wangi anggur merah. Suara denting garpu dan pisau yang beradu dengan piring porselen, serta obrolan santai kelas atas bergemuruh di sekelilingnya. "Hazel? Kau melamun lagi? Makanannya keburu dingin..." Hazel menoleh patah-patah ke arah sumber suara. Di samping kirinya, duduk Axel. Pria itu mengenakan setelan tuksedo formal, memotong daging steak dengan gerakan yang sangat elegan. Senyumnya begitu menawan, senyum yang sama yang dulu selalu membuat jantung Hazel berdesir hangat—namun kini, melihat senyum itu justru membuat bulu kuduk Hazel meremajakan rasa ngeri. "K-kau..." Suara Hazel tercekat, tangannya gemetar hebat di bawah meja. Di seberang meja, seorang gadis dengan gaun putih bersih tampak tertawa kecil sambil menyeka sudut bibirnya dengan serbet. "Kakak, apa ada hal lain yg lebih penting selain perjamuan makan malam ini sampai Kakak melamun begitu?" "Memang Luna kita yang paling mengerti, tidak seperti anak lain yang egois dan lebih mementingkan dirinya sendiri!" sahut Rona, mama tiri Hazel. Hazel mencengkeram rok gaunnya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Kepalanya berputar cepat, menyusun kepingan memori yang mendadak tumpang tindih di otaknya. 'Perjamuan makan malam ini... Restaurant ini... Axel... Orang tua Axel... Luna...'Langkah kaki Hazel terhenti tepat di batas karpet bulu ruang keluarga. Suara isakan Luna yang mendayu-dayu berpadu dengan usapan penuh drama dari Rona menciptakan panggung pertunjukan yang sangat familiar. John, yang duduk di sofa utama dengan segelas air dingin di genggamannya, seketika menoleh begitu mendengar derap langkah Hazel. Matanya menyalang penuh amarah."Bagus! Akhirnya kamu pulang juga, Hazel!" bentak John keras, langsung berdiri hingga air di gelasnya berguncang. "Kamu puas sekarang?! Lihat apa yang sudah kamu perbuat pada adikmu!"Hazel menghentikan usahanya untuk memutar bola mata. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, berdiri tegak dengan sikap tenang yang teramat kontras dibanding ketegangan di ruangan itu. Bumbu komedi hadir dari raut wajah Hazel yang justru terlihat sangat mengantuk ketimbang panik, seperti seseorang yang dipaksa menonton siaran ulang sinetron episodenya sudah ia hafal luar kepala."Ada apa lagi, Pa?" tanya Hazel datar, tanpa nada ketakutan sed
Angin laut yang berhembus kencang di atas puncak tebing membuat ujung gaun Hazel berkibar pelan. Sebelum Hazel menjawab, Axel sepertinya mengerti jika Hazel belum menemukan jawabannya. Pria itu melihat keraguan dan benteng pertahanan yang masih berdiri kokoh di balik manik mata ash brown milik Hazel.Akhirnya Axel bangkit, menepuk-nepuk celana bagian lututnya yang kotor oleh tanah berumput. Ia lalu mengatakan pada Hazel jika ia belum bisa menjawab sekarang tidak apa-apa."Aku tidak menuntut jawabanmu detik ini juga, Hazel," ujar Axel seraya menatapnya lembut. Axel memberikan waktu bagi Hazel untuk mempertimbangkannya sembari membuktikan pada Hazel kesungguhannya. "Biar waktu dan tindakanku yang membuktikannya padamu."Karena Axel sudah bicara seperti itu, jadi Hazel pun setuju. Hazel mengangguk pelan, menyilangkan tangan di dada. Hazel juga ingin tahu bagaimana performa Axel, seberapa lama pria yang dulunya sangat arogan ini sanggup bertahan dalam mode 'pria bertobat'. Tapi Hazel j
Setelah perjalanan yang cukup lama membelah kepadatan lalu lintas kota dan menanjak menyusuri tebing-tebing curam, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Mobil sport milik Axel perlahan melambat dan berhenti sempurna di pelataran rumput liar.Hazel mendorong pintu mobil, menginjakkan kakinya ke atas tanah yang empuk, lalu berjalan perlahan menyusuri tempat itu. Pandangannya seketika dimanjakan oleh batas alam yang memukau.Hamparan rumput hijau yang luas membentang luas di sekelilingnya, menyatu harmonis dengan pemandangan laut biru yang membias pendar matahari bagaikan hamparan kristal cair.Yap, Axel membawanya ke puncak pegunungan tepat di tepi pantai.Suasana yang begitu tenang dengan hembusan angin laut yang cukup kuat menerpa wajah dan menerbangkan helai rambut ash brown-nya yang terurai alami. Aroma garam yang khas bercampur kesegaran rumput basah membuat rongga dada Hazel yang semula sesak mendadak merenggang. Hazel merasa jauh lebih relaks, seolah-olah seluruh beban tumpuka
Axel menatap Hazel dengan raut penuh kecemasan, kedua tangannya terangkat sedikit seolah hendak menggapai jemari wanita itu namun ragu. "Hazel, Papa memintaku kemari karena katanya kamu mau memikirkan ulang soal pembatalan pernikahan kita. Tolong... beri aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya."Hazel terkekeh karena geli mendengar ucapan Axel. Tawa kecil yang renyah namun sarat akan nada sindiran meluncur mulus dari bibirnya. Padahal memang Luna dan Axel sendiri lah yang menjadi penghancur hubungan keduanya, tapi pria ini bertingkah seolah-olah pertunangan mereka retak akibat bencana alam yang tak disengaja."Kamu ini lucu sekali, Axel," ujar Hazel sembari menyilangkan kedua tangannya di dada. Hazel mengatakan jika ia memang bilang pada Om Baron kalau akan memikirkan hubungan antara dirinya dengan Axel. "Tapi bukan berarti aku mencabut pembatalan pernikahan itu. Aku hanya berjanji pada papamu untuk berpikir jernih, bukan berarti aku memaafkanmu begitu saja."Axel mengembuskan napa
Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma
Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku
"Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,
Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews