Short
No More Time Together

No More Time Together

By:  Arctic IslandsCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
9Chapters
192views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

After finishing my meal, I went to the cashier counter to settle the bill as usual. It took me longer than usual because the signal was poor. By the time I settled the bill, I could not find Corbin, my boyfriend, or Mabel, my best friend, anywhere inside or outside the restaurant. I called over a dozen times before they finally answered. “You were taking too long, so we just went ahead. “We’re at the Perler bead craft store on the second floor. Hurry up and get over here. The mall was packed and even more crowded than usual for the holiday. The elevator came twice, and both times it was full. So, I gave up and took the escalator instead. By the time I got to the store, every seat at the craft table was already taken. Corbin and Mabel were sitting together, talking about starting at Northbridge University this September and planning out the next ten years of their lives, from graduate school all the way to their doctorates. It was this grand plan for their future, and I had no place in it. They had already made plans to enroll in prestigious universities as early as May. I, however, failed my PSATs and was still considering repeating a year to catch up. Seeing me standing frozen at the door, Corbin said in a helpless tone, “You’re always so slow. Just wait outside for now.” I watched their backs, and a sudden exhaustion washed over me. “Corbin, I’m done chasing you.”

View More

Chapter 1

Chapter 1

"Sudah cerai?"

Aku keluar dari pengadilan dan Ibu menghampiriku.

"Sudah."

"Dia tetap nggak datang?"

"Nggak."

"Kalau gitu, apa dia tahu?"

Aku menggelengkan kepala.

"Pengadilan sudah mengumumkan selama 60 hari dan nggak ada yang bisa hubungi dia. Kurasa dia juga nggak punya waktu untuk melihatnya."

Suara ibu tercekat.

"Karena Venny?"

"Hmm, waktu itu dia lagi operasi dan dalam keadaan kritis antara hidup dan mati."

Ibu mengusap air mata di sudut matanya.

"Lalu, apa penyakitnya sudah sembuh?"

"Mungkin."

"Laura, bukankah kamu masih mencintainya?"

"Selama tiga tahun menikah, dia yang urus semua makanannya, mulai dari sarapan, makan siang dan makan malam, tanpa pernah terlewat. Bu, mungkin di hatinya ada aku, tapi juga ada dia."

Wajah Ibu tampak makin sedih dan muram, tetapi Ibu tidak lagi mengatakan apa-apa.

Lima tahun lalu, kami bertemu di rumah sakit.

Waktu itu, dia sudah menjadi dokter bedah toraks paling terkenal di seluruh provinsi.

Sementara aku, aku ini pasiennya.

Setiap pukul delapan pagi, dia selalu memimpin para dokter untuk melakukan kunjungan pasien, tetapi tatapannya tidak pernah tertuju padaku.

Namun, setiap kali, dia selalu meninggalkan permen untukku.

Dia bilang, “Obatnya agak pahit. Makanlah permen biar rasanya nggak terlalu pahit.”

Pada hari aku sembuh dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Eric Maheswara datang sendirian untuk melakukan kunjungan pasien.

Dia bilang, "Kondisimu udah baik-baik aja. Ke depannya, kamu nggak perlu datang lagi."

Aku pun tidak bisa menyembunyikan kekecewaan di mataku.

Namun, kalimat berikutnya yang dia ucapkan membuatku terpaku di tempat.

"Kamu sekarang bukan lagi pasienku, bolehkah aku mengejarmu?"

Saat itu, seluruh rumah sakit tahu bahwa Dokter Eric menyukaiku.

Selama sebulan aku dirawat di rumah sakit, Eric menukar semua jadwal jaga yang bisa ditukar, hanya agar bisa lebih sering melihatku.

Seringkali, dia bekerja bergantian antara shift malam dan shift siang tanpa henti.

Semua itu hanya untuk menanyakan satu hal kepadaku, "Gimana keadaanmu hari ini?"

Ting.

Pintu lift terbuka dan menarikku kembali dari kenangan itu.

Setibanya di rumah, layar ponselku menyala. Ternyata itu pesan dari Eric.

Pesan itu berupa sebuah foto.

Foto tiket pesawat dari Kota Damira ke Kota Kansar.

Waktunya besok.

Detik berikutnya, Eric kembali mengirim pesan.

[Sayang, aku akan segera pulang!]

Aku berdiri di depan pintu dan menatap kata-kata itu untuk waktu yang sangat lama.

Tahun lalu, aku menderita radang usus buntu akut.

Saat dibawa ke rumah sakit, aku juga mengirimkan pesan kepadanya dengan kata-kata yang serupa.

Hanya saja, pesanku berupa kalimat tanya.

[Sayang, bisakah kamu pulang?]

Hari itu, ponselku hening sepanjang hari.

Belakangan, aku melihat Eric di vlog Venny.

Wajah Eric tampak tegang. Saat kamera menjauh, aku melihat Eric menyemprotkan krim kue dengan hati-hati.

Di atas kue itu tertulis: [Semoga Venny sehat dan bahagia.]

Tiga tahun berlalu dan tepat di hari ini, aku memutuskan untuk melepaskan Eric.

Namun, Eric justru mengatakan bahwa dia akan pulang.

Aku membuka pintu, membungkuk untuk mengganti sepatu dan memandang sekeliling rumah ini.

Sejauh mata memandang, hanya ada jejak keberadaanku saja.

Sandal pria di rak sepatu yang belum pernah dibuka, sudah tergeletak di sana selama tiga tahun.

Pakaian yang dijemur di balkon juga hanya milikku.

Barang-barang Eric tidak banyak.

Namun, barang-barang yang menjadi milik kami bersama, tidak ada sama sekali.

Aku membuka video yang disematkan oleh Venny, yang juga memiliki jumlah suka terbanyak.

Itu adalah rumah mereka di Kota Damira.

Di bawah rak sepatu, ada dua pasang sandal rumah yang tertata rapi.

Satu berwarna merah muda dan satu lagi biru.

Sandal yang berwarna biru, bagian solnya sudah agak aus.

Di balkon, tergantung pakaian-pakaian mereka, persis seperti sepasang suami istri.

Kamera kemudian mengarah ke bawah, menunjukkan berbagai bunga berwarna-warni.

Venny muncul di depan kamera sambil tersenyum cerah dan memperkenalkan bunga-bunga itu satu per satu.

Ada bunga mawar, aster, bunga matahari dan bugenvil.

Semua itu ditanam Eric untuk Venny tanpa alasan khusus, selain hanya ingin membuat Venny lebih bahagia.

Di tahun kedua kami tinggal bersama, aku juga menanam bunga di balkon.

Namun, Eric selalu lupa menyiramnya.

Aku pun berkata, "Eric, bisakah kamu lebih perhatian sedikit?"

Dia pun menjawab.

"Hanya bunga aja."

Hanya itu saja.

Hanya kepadaku saja.

Dia memang hanya tidak cukup peduli padaku.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status