로그인Mata Diana berkabut mendengarnya, nyaris tidak percaya. Suaranya tercekat di tenggorokan, sementara dadanya berdegup kencang dan tubuhnya lemas.“Me—meninggal?’ ucapnya terbata-bata. Air matanya menetes.Diana menggeleng pelan. Air matanya semakin deras. Ia tidak menyembunyikan kesedihannya.“Aku dan Rowan sudah lama tidak berkomunikasi, Tante.”Wajah Agatha tidak menunjukkan keterkejutan. Dengan cepat ia menyadari bahwa Diana belum menyadari bahwa Rowan ada di dekatnya.“Tidak pernah berhubungan?”Ekspresi Agatha membuat Diana membeku. Pada yang sama,ia mengingat Rowan yang dikenalnya itu.“Diana, kupikir kamu perempuan cerdas. Ternyata kamu bodoh dalam hal ini. Rowan yang kamu rindukan, pria yang selama ini selalu ada di dekatmu, Diana … kamu bahkan tidak mengenali anak dari sahabatmu sendiri, Diana.”DEGMata Diana melotot dibuatnya.“Revan, dia an—anak Reylin?”Air mata Diana semakin deras. Agatha menghela napas, lalu menggeleng pelan. Rupanya, selama ini orang yang selalu ia rin
Pagi itu, Agatha sudah siap mengunjungi rumah lamanya ditemani Rowan. Megan menatap putrinya itu.“Kamu benar-benar bersikeras untuk menetap di rumah lama itu, Agatha?” tanya Nenek Megan, suaranya yang paruh baya terdengar tenang namun menuntut jawaban pasti. “Rowan sudah menyiapkan suite terbaik di atas Sinclair Hotel. Rumah lama kita itu sudah belasan tahun tidak kamu singgahi.”Agatha menghentikan langkahnya, membetulkan letak jam tangan emasnya dengan perlahan. “Hanya beberapa hari, Ibu. Aku ingin melihat sejauh mana putraku mengelola aset lama keluarga kami di sana. Dia terlalu tertutup sejak kembali kemari.”Suara raungan halus mesin sedan hitam memutus percakapan mereka. Mobil mewah milik Rowan bergerak lambat memasuki pekarangan, berhenti tepat di depan teras. Rowan turun dari pintu kemudi. Pria itu mengenakan kemeja kasual formal berwarna hitam. Langkah kakinya bergerak cepat menghampiri ibunya dan sang nenek di teras, lalu membungkuk hormat secara formal.“Selamat pagi, Mom.
Diana menyesap kopinya perlahan. Matanya tertuju pada ponsel yang tergeletak di atas meja kaca teras. Hari ini ia sengaja mengambil libur total dari kantor pusat Livora. Tubuhnya butuh istirahat, namun pikirannya justru terus berputar memikirkan rumah di sebelah halaman rumahnya.Suara deru mesin besar mendadak memecah kesunyian kompleks. Diana menurunkan cangkirnya, lalu berdiri mendekati pagar pembatas.Sebuah truk boks berhenti tepat di depan gerbang rumah Rowan. Beberapa pria berbadan tegap keluar dan mulai membuka pagar besi rumah mewah itu. Mereka melangkah masuk, lalu mengangkut perabotan dan barang-barang dari dalam rumah ke bak truk.Diana terpaku di tempatnya berdiri saat melihat pria bersetelan formal yang mendampingi para pekerja tersebut, Davian.‘Jangan bilang Rowan—’Sekretaris pribadi Rowan yang sudah beberapa hari ini tidak ia temui, kini berdiri di depan halaman seraya memegang sebuah papan klip dokumen. Pria itu sibuk mengarahkan para pekerja.Dada Diana mendadak te
Suasana di dalam gazebo kayu itu seketika mendingin. Hembusan angin dari arah danau buatan bertiup pelan.Mendengar pertanyaan Agatha, gerakan tangan Rowan yang hendak mengangkat cangkir di meja seketika berhenti. Di bawah meja, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.Rowan perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata tajam ibunya, ekspresi pria itu tidak berubah."Saya tidak tahu, Mom," jawab Rowan. Suara baritonnya terdengar sangat datar dan tenang. Ia menolak memberikan celah emosi sedikit pun yang bisa dibaca oleh Agatha.Agatha menaikkan sebelah alisnya, lalu tersenyum tipis. Wanita itu menyandarkan kembali punggungnya pada kursi seraya menyesap sisa teh chamomile miliknya.“Dia gadis yang baik dan cukup pintar,” ucap Agatha.“Mama mendengar dari relasi Mama di Ibu kota, sekarang dia memiliki perusahaan furnitur premium bernama Livora. Kemajuannya luar biasa sejak kembali dia pegang sendiri.”Rowan tetap diam, seolah tidak begitu tertarik dengan ucap
Hari keempat hingga hari terakhir penutupan pameran nasional bergulir dengan ritme yang sangat cepat. Stan Livora penuh, sejak pukul sepuluh pagi, antrean calon pembeli sudah mengular di depan meja demonstrasi produk.“Sistem sensornya benar-benar halus ya, Mbak? Kalau kain penutupnya kotor, apa aman dicuci?” tanya seorang ibu paruh baya sambil menyentuh penutup otomatis kereta bayi premium Livora.Diana tersenyum hangat, menunjukkan profesionalismenya yang matang. “Sangat aman, Ibu. Kainnya menggunakan bahan hidrofobik premium, jadi cukup diseka dengan kain setengah basah. Sensor otomatisnya juga sudah dilapisi pelindung anti air.”“Wah, kalau begitu saya ambil tipe yang ini satu, Mbak. Tolong sekalian nota pengirimannya untuk alamat Surabaya,” sahut pembeli itu puas, langsung menyerahkan kartu debitnya kepada staf pemasaran.Di sudut stan yang lain, Arsen sedang sibuk memeriksa berkas bersama beberapa staf. Sementara itu, Maira yang tadinya berdiri di dekat area dalam stan mendadak
Diana mematikan mesin mobilnya, menyisakan suara napasnya yang lelah setelah seharian berdiri di aula pameran. Perempuan itu membuka pintu mobil, lalu melangkah turun.Langkah kakinya mendadak tertahan di samping pintu mobil. Diana mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kompleks perumahan malam ini terasa sangat sunyi, menciptakan atmosfer keheningan yang teramat asing, tidak seperti malam kemarin yang penuh ketegangan.Refleks, matanya bergerak menoleh ke arah halaman sebelah. Rumah mewah milik Rowan tampak gelap gulita di lantai bawah. Hanya ada lampu teras yang menyala, memantulkan bayangan pada permukaan dinding beton pembatas setinggi dada yang baru saja selesai dibangun.Sedan hitam milik pria itu tidak ada di sana. Halamannya kosong melongpong.“Dia tidak pulang ke rumah juga?” gumam Diana, sikap tetangganya itu terasa seperti tidak biasa. Artinya Revan juga sedang bersama pria itu saat ini.Diana berdiri diam di posisinya, menatap lekat ke area rumah sebelah yang tak berpenghuni







