Mag-log inTaman kota sangat ramai. Festival kembang api akan dimulai sekitar beberapa menit lagi. Edward mengajak Eliana mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka berdua. Mereka menaiki beberapa anak tangga untuk menuju lokasi luas di atas sana, walaupun orang-orang yang datang cukup banyak. "Ramai sekali," ucap Eliana pada Edward yang merangkul pinggangnya dengan posesif. "Kita di sini saja," ujar Edward menarik lengan Eliana untuk mendekat padanya. Eliana berdiri memegangi pagar pembatas. Mereka berada di tempat yang tinggi, di bawah sana juga ramai, dan cahaya lampu natal yang terang meriah ada di mana-mana. Eliana tidak pernah tahu, bila malam natal menjadi malam paling indah yang pernah ia lihat seumur hidupnya. "Duduklah, kakimu bisa sakit nanti," ujar Edward, pemuda itu duduk di belakang Eliana di antara kerumunan orang-orang. Eliana menoleh ke belakang, semua tempat duduk sudah penuh. Tapi Edward menawarkan tempat duduk padanya. Mengetahui wajah bingung Eliana. Edwar
Eliana mematung memegang pipinya pelan, detak jantungnya berdegup cepat usai Edward mengecup pipinya. Wanita itu langsung tertunduk menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas di pipinya. "A-apa yang kau lakukan, Edward?" cicitnya. "Berterima kasih dengan cara yang berbeda. Seperti saat kau berterima kasih padaku waktu itu," jawab pemuda itu. Eliana sontak menatapnya, kulitnya yang putih tampak jelas menunjukkan pipinya yang kini memerah, hal itu membuat Edward terkekeh dan langsung merangkulnya. Eliana sedikit cemberut, ia lelah memahami anak muda ini. "Lain kali jangan diulangi!" seru Eliana tegas, walaupun suaranya pelan dan lirih. "Kenapa memangnya?" "Tidak boleh ya tidak boleh," jawab wanita itu. "Anak muda tidak boleh melakukan hal itu pada orang dewasa!" Alih-alih mendengarkan dan menyesali apa yang telah dilakukannya, Edward hanya terkekeh dan tak merasa bersalah sedikitpun. Pemuda itu langsung meraih tangan Eliana dan menggenggamnya. Satu tangannya
"Kak Eli, Kakak sudah membeli hadiah apa saja?" Flori berjalan mendekati Eliana yang meletakkan paper bag yang ia bawa ke atas meja. Eliana menoleh. "Rahasia," jawabnya sambil tersenyum hangat. Eliana baru saja sampai di tempat kerjanya. Walaupun sebenarnya hari ini ia mendapatkan jadwal cuti, tapi Eliana menolaknya. Wanita itu segera mengambil apron dan memakainya, lalu menatap beberapa barang-barang di dalam sana. "Kakak pasti membelikan hadiah untuk Lea, ya?" tanya Flori sambil meletakan cup minuman cokelat panas di meja yang terletak di samping Eliana. Eliana mengangguk. "Iya, Flori. Mungkin, besok aku mengambil cuti untuk mengunjunginya." "Heem. Sebenarnya Ayah memberi Kakak cuti tiga hari kan? Tapi Kak Eli hanya mengambil setengah hari saja," ujar gadis itu. "Apa Kakak tidak bosan ya, bekerja terus seperti hari seperti ini?" "Tidak, Flori. Kalau aku bosan, bagaimana dengan kebutuhanku?" El
Setelah membalas pesan Edward beberapa menit yang lalu, Eliana segera membersihkan tubuhnya dan bersiap, ia keluar dari dalam kamarnya. Wanita itu berjalan menuju ke arah dapur. Eliana melirik ke arah ruang keluarga, Vier yang biasanya tidur di sana, kini tidak tampak. Entah ke mana perginya pria itu. Tetapi, saat Eliana fokus memasak untuk sarapannya, tiba-tiba wanita itu mendengar pintu kamar sebelah yang terbuka. Eliana mencoba untuk tidak peduli. Sampai akhirnya tubuh kecilnya tersentak saat ia merasakan seseorang yang memeluknya dengan erat dari belakang. "Eliana ... maafkan aku," bisik Vier, pria itu membenamkan wajahnya di pundak Eliana. Punggung Eliana merasa getaran dari Vier dan suara isak yang tertahan. Tubuh Eliana membeku di tempat. Pria itu menangis. "Apa yang kau lakukan, Vier?" lirih Eliana, nadanya tak peduli. "Aku tidak bisa melihatmu marah seperti ini padaku, Eli. Tolong berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya padamu tentang fakta yang sesungguhnya
"Anda sudah banyak minum sejak petang. Apakah Anda memang ingin mabuk berat sampai tidak bisa bangun, Tuan Muda?" Felix memperhatikan tuan mudanya yang sudah menghabiskan satu botol anggur sejak Edward kembali dini hari tadi. Edward terbaring di atas sofa di dalam ruang keluarga di kediaman mewahnya. Pemuda itu melirik ke arah jendela tinggi di ruangan itu. Salju yang turun cukup tebal pagi ini, membuatnya khawatir akan Eliana. Apakah wanita itu tetap akan pergi bekerja di hari yang dingin ini? Tetapi, jika mengingat kata-kata Eliana semalam, Edward seperti tertampar kenyataan bahwa sulit baginya untuk mendapatkan wanita itu."Apa yang kau lakukan, Felix?" Edward melirik ajudannya yang mengambil dua botol anggur di atas meja. "Nyonya besar sudah mengingatkan Anda untuk tidak minum terlalu banyak, bukan?" balas pria dengan jas dan mantel hitam itu. Edward berdecak kesal. Ia memejamkan sepasang matanya sejenak, sebelum kembali membuka mata dan menatap langit-langit ruangan itu den
Cukup lama Eliana tenggelam dalam pelukan Edward. Menangis menumpahkan kesedihan dalam pelukan pemuda itu. Hingga Eliana sadar atas apa yang ia lakukan, wanita itu pun langsung menarik diri dari pelukan Edward, sekadar melepaskan pelukannya. Sedangkan kedua tangan Edward masih melingkari tubuh Eliana dan memeluknya. "Ma-maaf," lirih Eliana cepat-cepat mengusap air matanya dan memalingkan wajahnya yang sedih. Rasanya, sekeras apapun Eliana menghapus air matanya, tetap saja akan menetes. Ia sendiri tidak bisa menghentikan kesedihan yang dirasakannya. Pelukan tangan Edward terlepas. Pemuda itu mengulurkan tangannya merangkum kedua pipi Eliana dengan telapak tangannya yang besar dan hangat. Sentuhan tangannya meminta Eliana untuk menatapnya. "Sudah kukatakan padamu ... aku tidak senang melihatmu bersikap seperti ini padaku?" bisik pemuda itu mengusap air mata Eliana dengan ibu jarinya. Sepasang mata indah Eliana yang berkaca-kaca itu mengerjap menatap Edward yang tiba-tiba b







