INICIAR SESIÓN"Usia hanyalah angka, bukan penghalang kita untuk jatuh cinta. Apalagi setelah melewati malam-malam panas bersama, Eliana." Pernikahan menjadi sebuah kesialan besar dalam hidup Eliana Louisa. Pria yang sangat ia sayangi dan cintai, menjerumuskan Eliana ke dalam pusara kehidupan pernikahan yang penuh siksa. Suaminya diam-diam menggunakan identitas Eliana untuk utang sejumlah uang ratusan juta demi memuaskan diri di meja judi tanpa memikirkan tanggung jawab atas kesalahannya pada Eliana. Eliana bekerja keras sehari semalam demi bisa membayar semua utang atas namanya itu. Di tengah kehampaan hidup Eliana, pemuda misterius bernama Edward Collin, muncul dalam kehidupannya dan membawa perubahan besar. Tak hanya memberikan perhatian, dan kasih sayang, Edward juga memberikan kehangatan setiap malam untuk Eliana, dan berusaha menghidupkan kembali cinta Eliana yang sudah mati. Namun jarak antara usianya dan Edward terpaut jauh, membuat Eliana ragu, apakah Edward bersungguh-sungguh dengannya, atau hanya membutuhkan pelampiasan semata!
Ver másSesampainya di seberang jalan, Eliana segera melepaskan genggaman tangan Edward. Pemuda tampan pemilik mata yang hitam indah itu menatapnya hampir tak berkedip. Eliana menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, lalu mendongak menatap Edward yang jauh lebih tinggi darinya. Situasi ini membuatnya canggung walaupun di hadapan pria yang jauh lebih muda darinya."Terima kasih sudah membantuku menyeberang," ucap Eliana menundukkan kepalanya cepat. Edward hanya tersenyum, lalu ia bertanya, "Kakak mau pergi ke mana? Kelihatannya sangat buru-buru." "Ke suatu tempat," jawab Eliana dengan suara tenang ia menatap pemuda itu. Pemuda itu maju satu langkah mendekati Eliana. Tatapannya yang begitu dalam dan lekat membuat Eliana tampak kikuk di depannya. "Kita sudah sering kali bertemu, bukankah lebih baik kita berkenalan?" tawar Edward, ia mengulurkan tangannya di hadapan Eliana. Eliana menatap telapak tangan besar berotot milik pemuda gagah itu. Ragu-ragu Eliana menerima uluran tangan Edw
Hari telah berganti, Eliana memiliki sedikit waktu luang di hari libur. Dua jam yang lalu, pihak panti rehabilitasi sosial menghubungi Eliana untuk datang membahas terkait kondisi terkini adiknya. Tempat itu sangat jauh, namun Eliana memutuskan untuk berjalan kaki untuk menghemat keuangannya. Walaupun begitu, Eliana merasa sedikit bersemangat pagi ini lantaran ia memiliki uang yang lebih dari cukup untuk biaya pengobatan adiknya. "Aku sangat merindukan Lea. Dia pasti akan senang melihatku datang," gumam Eliana dengan senyuman tipis di bibirnya. Eliana menyempatkan diri sebentar untuk mampir ke swalayan, membeli beberapa roti dan cemilan untuk adiknya. Lea, adik kandungnya yang kini berusia dua puluh tahun, mengalami keterbelakangan mental sejak lahir. Lea selalu bersikap seperti anak kecil yang tidak mampu mengontrol emosinya. Ketika emosi, dia bisa menangis dan marah pada siapapun. Satu-satunya orang yang bisa menenangkannya hanya Eliana. Awalnya Eliana tidak membawa Lea
Matahari telah terbenam sempurna, setelah hari yang terasa panjang. Eliana kembali ke restoran tempat ia bekerja shift malam. Begitu ia sampai, suasana restoran yang biasanya ramai pelanggan, kini terasa sangat sepi. Flori dan Pak Ben yang baru muncul dari belakang, segera menghampiri Eliana yang sudah berdiri di meja kasir. "Tumben sepi sekali, Pak?" tanya Eliana menatap Pak Ben. "Heem, malam ini restoran akan disewa lagi oleh anak muda yang kemarin," jawab Pak Ben. "Dia meminta agar kau juga yang menjadi pelayannya, Eli." Eliana mengerjapkan sepasang matanya, terheran-heran. Namun, ia hanya mengangguk dan tidak mengatakan apapun. Flori merangkul pundak Eliana sambil meliriknya. "Aku rasa, pemuda itu tertarik pada Kakak," ujarnya dengan penuh rasa curiga. Eliana memasang apron hitam miliknya. "Aku bukan anak muda lagi, Flori. Aku terlalu tua untuk anak itu," katanya. "Emm, tapi kan hati seseorang tidak ada yang tahu, Kak. Cinta juga tidak pandang usia, jadi—" Klang! B
Pukul enam pagi, Eliana baru pulang ke rumah dengan tubuh remuk setelah semalaman penuh bekerja. Begitu ia membuka pintu, pemandangan di depannya membuatnya sesak. Sampah abu dan puntung rokok di mana-mana. Mangkuk, piring makan, dan gelas kopi berserakan di meja, menguarkan bau sisa makanan yang menyengat. Beberapa botol bir dan alkohol yang sudah kosong tergeletak begitu saja di bawah meja. Sementara itu, Vier terbaring tidur di depan televisi yang menyala. Selalu seperti ini. Setiap hari. "Kau sudah pulang?" Vier terbangun begitu mendengar Eliana merapikan piring-piring yang berantakan. Eliana hanya mengangguk. Ia berjalan ke dapur, sebelum menatap suaminya yang duduk sambil menggaruk tengkuk lehernya. Saat Eliana bekerja banting tulang, Vier bisa bermalas-malasan di rumah, sedangkan semua utang-utangnya ditanggung oleh Eliana. Padahal Eliana masih berusaha percaya bahwa Vier juga pasti kesusahan mencari pekerjaan baru. Tapi mengapa dia terus berjudi walaupu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.