LOGIN"Usia hanyalah angka, bukan penghalang kita untuk jatuh cinta. Apalagi setelah melewati malam-malam panas bersama, Eliana." Pernikahan menjadi sebuah kesialan besar dalam hidup Eliana Louisa. Pria yang sangat ia sayangi dan cintai, menjerumuskan Eliana ke dalam pusara kehidupan pernikahan yang penuh siksa. Suaminya diam-diam menggunakan identitas Eliana untuk utang sejumlah uang ratusan juta demi memuaskan diri di meja judi tanpa memikirkan tanggung jawab atas kesalahannya pada Eliana. Eliana bekerja keras sehari semalam demi bisa membayar semua utang atas namanya itu. Di tengah kehampaan hidup Eliana, pemuda misterius bernama Edward Collin, muncul dalam kehidupannya dan membawa perubahan besar. Tak hanya memberikan perhatian, dan kasih sayang, Edward juga memberikan kehangatan setiap malam untuk Eliana, dan berusaha menghidupkan kembali cinta Eliana yang sudah mati. Namun jarak antara usianya dan Edward terpaut jauh, membuat Eliana ragu, apakah Edward bersungguh-sungguh dengannya, atau hanya membutuhkan pelampiasan semata!
View More"Transfer uang lima juta ke rekeningku, Eliana. Untuk modal usaha, semalam aku kalah lagi."
Eliana yang hendak pergi berangkat bekerja, mendadak terdiam di tempat usai mendengar permintaan suaminya. Wanita tiga puluh dua tahun itu melirik Vier yang duduk bersantai di ruang tamu sambil menikmati sebatang rokok. Ini bukan pertama kalinya Vier meminta uang dalam jumlah banyak dan mendadak. Dan setiap kali permintaan itu terlontar darinya, beban di pundak Eliana terasa semakin berat. "Apa uang sepuluh juta sisa menjual cincin pernikahan kita sudah habis?" tanyanya dengan suara pelan. Vier tersenyum seperti manusia tak berdosa. Pria bertubuh jangkung dengan balutan kaos putih dan celana boxer itu beranjak setelah mematikan rokoknya. "Sudah aku bilang padamu barusan kan, semalam aku kalah bermain judi, Sayang," katanya dengan santai. "Padahal aku berniat menggandakan uang itu menjadi sepuluh kali lipat." Vier menghampiri Eliana dan memeluknya erat dari belakang, seperti anak kecil saat ada maunya. "Maafkan aku, Sayang. Aku berjanji tidak akan mengulanginya. Pinjami aku lima juta saja, nanti pasti kukembalikan," bisik pria itu dengan nada merayu. Ia menciumi leher Eliana dengan kecupan-kecupan ringan. Jika memiliki uang sebanyak itu, Eliana tidak akan ragu untuk memberikannya selama Vier bersungguh-sungguh. Eliana sangat mencintai Vier. Namun entah sejak kapan rasa cintanya itu terasa mencekik dari hari ke hari. Dulu, Vier hadir membawa warna di hidup Eliana yang sepi tanpa kehadiran orang tua. Pria itu selalu ada, mengorbankan waktu dan tenaganya untuk membantu Eliana, termasuk merawat adik Eliana yang berkebutuhan khusus dan kini tinggal di panti rehabilitasi. Kebaikannya menanamkan rasa cinta dan ketulusan yang amat dalam di hati Eliana. Namun, segalanya berubah setelah mereka menikah. Vier tak lagi sama. Pria itu ketagihan judi hingga bisnisnya gulung tikar. Lebih parahnya lagi, Vier diam-diam menggunakan identitas Eliana untuk menarik pinjaman hingga ratusan juta rupiah. Kini, beban Eliana berlipat ganda. Ia harus bekerja banting tulang dari pagi hingga malam untuk melunasi utang-utang Vier. Keceriaan dan gairah hidupnya sirna, menyisakan wajah kuyu dan tubuh yang selalu letih. Meski kepercayaannya terus digoyahkan dan hidupnya kian menderita, Eliana memilih bertahan. Ia terus menggenggam kenangan akan kebaikan Vier di masa lalu, berharap sang suami suatu hari nanti bisa berubah. "Bagaimana, Sayang? Kau pasti punya ‘kan? Aku janji ini yang terakhir," ujar Vier dengan antusias, seolah yakin istrinya akan luluh. Eliana mengembuskan napasnya berat. “Akan aku usahakan dulu, Vier,” jawabnya lirih. “Untuk sekarang, aku tidak punya.” "Ayolah, Sayangku ... aku yakin kau pasti punya. Jangan pelit pada suamimu sendiri!" seru pria itu mulai tak sabar. “Ini untuk bisnis, Sayang!” Eliana menggelengkan kepalanya. “Maaf, Vier,” katanya sambil menatap suaminya yang sudah memasang wajah kesal. “Tapi sisa tabunganku hanya cukup untuk biaya Adik.” Vier menyergah napas kasar. "Kau tidak lupa ‘kan, Eli … dulu aku selalu membantumu dan adikmu, sekarang giliran aku yang butuh kau malah perhitungan begini," ujarnya kecewa, lantas melenggang pergi. Eliana berjengit saat pintu kamar ditutup dengan keras. Ia menatap kepergian Vier dengan hati nelangsa. Pelit, perhitungan... Itulah kata-kata yang selalu diucapkan Vier setiap kali Eliana tidak bisa memenuhi permintaannya. Dan ada rasa bersalah di hati Eliana saat ia gagal menyenangkan hati pria itu, sedangkan di masa lalu, apapun yang ia ingin dan butuhkan pasti akan dipenuhi oleh Vier. Mungkin Eliana perlu bekerja lebih keras lagi! Eliana melirik jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ia pun bergegas pergi sebab pekerjaan malam ini sudah menunggu. Beberapa menit kemudian, Eliana tiba di sebuah rumah makan sederhana yang berada di ujung jalan Kota Andres. Eliana masuk dan disambut oleh pemilik kedai dan putrinya. "Selamat malam," sapa Eliana pada mereka. "Kak Eli, akhirnya datang juga." Flori—putri pemilik rumah makan itu menghampirinya dengan wajah ceria. Gadis itu memperhatikan wajah Eliana lekat-lekat. "Kak, kenapa wajahmu pucat sekali? Apa kau sakit?" "Tidak, Flori. Aku baik-baik saja. Hanya ... sedikit kurang tidur," jawab Eliana sambil tersenyum manis. Flori menyergah napasnya panjang. "Kak Eli, sebenarnya Kakak itu sangat cantik. Tapi karena Kakak bekerja terlalu keras, jadi lupa merawat diri dan kesehatan Kakak seperti ini." Eliana hanya tersenyum samar. Hampir semua orang berkata seperti itu. Eliana memang cantik. Bahkan kecantikannya jauh di atas rata-rata. Hanya saja, tekanan hidup yang berat membuatnya terlihat sepuluh tahun lebih tua dari usianya. "Apa hutang suamimu masih banyak, Eliana?" sahut Pak Ben, pemilik rumah makan. "Begitulah, Pak," jawab Eliana. "Huh! Suamimu itu lama-lama seperti benalu," balas pria bertubuh gendut itu dengan wajah muak. "Kalau saja kau anakku, sudah kutendang suamimu itu, Eliana!" Di tengah perbincangan mereka, pintu rumah makan tiba-tiba terbuka. Seorang pemuda berparas tampan, dengan tubuh tinggi besar dibalut sweater turtle neck abu-abu dan mantel hitam, berjalan masuk. Aura dominan yang menguar dari pemuda itu tampak sangat kontras dengan tempat sesederhana ini. Flori terpesona. Ia langsung menggeser posisi Eliana agar bisa menyapa pelanggan berwajah tampan tersebut. Eliana hanya tersenyum geli melihat tingkahnya. "Selamat datang, Tuan. Silakan pilih menunya," sapanya antuasias sambil menyerahkan buku menu. Namun, pria itu bahkan tidak menatap Flori ataupun buku menu. Perhatiannya seolah tersedot sepenuhnya pada Eliana. “Tuan…?” "Saya ingin menyewa restoran ini untuk semalam," ucap pemuda itu kemudian. Suaranya tegas, namun terdengar lembut di saat bersamaan. "Me-menyewa?" ulang Flori dengan raut tak percaya. "Ya, saya ingin mengerjakan tugas dan makan dengan tenang di sini. Saya akan membayar berapapun," jawab pemuda itu, air mukanya masih tampak datar. Flori menoleh pada ayahnya, yang menganggukkan kepalanya memberi persetujuan. Sedangkan Eliana tampak sibuk menata tumpukan buku menu, tidak terlalu memperhatikan pelanggan itu. "Baiklah, Tuan. Silakan memilih tempat duduk," kata Flori sambil membimbing pria itu ke arah deretan meja dan kursi yang kosong. Namun pria itu tidak beranjak. "Satu hal lagi," ujar pemuda itu. "Ya?" Pemuda berwajah dingin itu maju satu langkah mendekati meja kasir di mana Eliana berada. Ia sedikit merunduk, menyejajarkan tatapannya dengan Eliana yang hanya setinggi dadanya. Ditatap sedekat itu, Eliana terkesiap. Sepasang matanya mengerjap kala bersitatap dengan mata kelam si pemuda asing. “Bisakah Kakak cantik saja yang melayani saya?”Saat Eliana masih kalut dalam pikirannya, wanita itu tampak termenung di dalam ruang tamu kediamannya malam ini. Eliana berusaha menyakinkan dirinya bahwa ia benar-benar akan bercerai dari Vier dan besok ia akan mengajukan gugatan cerai untuk suaminya itu. Tok... Tok... Tok...Suara ketukan pintu di depan membuyarkan lamunan Eliana. Wanita itu menoleh ke cepat dan langsung beranjak dari duduknya. "Siapa? Apakah Edward?" tanyanya pada diri sendiri. Sebelum membuka pintu, wanita itu mengintip lebih dulu untuk memastikan siapa yang berada di depan rumahnya. Ternyata dugaannya benar. Edward lah yang berdiri di depan pintu rumah Eliana. Perlahan Eliana menarik gagang pintu rumahnya hingga ia menatap sendu wajah tampan pria muda itu. "Malam," sapa Edward dengan manis. "Mengapa wajahmu murung seperti ini, hem?" "Tidak apa-apa," jawab Eliana. Edward mengulurkan tangannya menyentuh pucuk kepala Eliana dan mengelusnya dengan lembut. Hingga Eliana langsung mengulurkan kedua tangannya d
Saat Eliana kembali dari menjenguk Lea, ia tidak mampir ke mana-mana. Libur satu hari ini, Eliana ingin istirahat di rumah dan menenangkan pikirannya.Begitu Eliana sampai di depan rumahnya, wanita itu terkejut saat melihat Vier berada di teras rumah Eliana. Pria dengan wajah lesu dan kuyu itu seperti sedang menghadapi masalah yang begitu besar. Jelas terasa kekalutan yang Vier rasakan saat ini tergambar dari raut wajahnya. "Eliana...." Vier melebarkan matanya saat melihat Eliana menatapnya di depan sana. Eliana mengepalkan jemari tangannya begitu Vier berjalan mendekat. Eliana langsung mengalihkan wajahnya dari pria itu. "Eliana, tolong berikan aku kesempatan untuk berbicara denganmu," pinta Vier, suaranya sangat melas. "Oke! Aku sadar kalau aku salah selama ini. Tapi, Sayang ... aku mohon, berikan aku kesempatan untuk menjelaskan." "Apa lagi yang perlu kau jelaskan, Vier?" Eliana membalas dengan nada dingin. "Semuanya sudah sangat jelas. Kau selalu menjadikan kebaikanmu padaku
Keesokan paginya. Eliana mengambil satu hari untuk cuti. Ia datang ke panti rehabilitasi sosial untuk menjenguk Lea, setelah cukup lama ia tidak menjenguk adik perempuannya tersebut. Begitu sampai di ruangan Lea, kedatangan Eliana membuat Lea langsung tersenyum lebar dan berhambur memeluknya dengan erat.Dan baru momen seperti inilah yang membuat Eliana bisa tersenyum. "Kakak, Lea kangen sekali dengan Kakak. Kenapa Kakak jarang ke sini?" Lea lompat-lompat kecil sambil memeluk Eliana. Eliana tersenyum manis, mengusap punggung Lea dengan lembut. "Kakak sangat sibuk, Sayang. Maaf ya, kalau Kakak tidak pernah ada waktu buat Lea," ucap Eliana dengan suara yang lembut dan sabar. "Hemm... Kakak pasti sibuk dengan suami Kakak, ya?!" Wajah Lea langsung berubah kesal dalam hitungan detik. Gadis itu berjalan dengan langkah menghentak-hentak menuju ranjang dan duduk di sana seperti anak kecil yang sedang merajuk. Seperti itulah mental Lea yang sesungguhnya yang tidak pernah bisa Eliana ab
"Kau baik-baik saja, kan? Tidak ada yang terluka?" Edward mengecek tangan, lengan, dan pipi Eliana. Wanita itu menggelengkan kepalanya dan mendongak menatap wajah Edward dalam-dalam. Tatapan mata Eliana yang dalam dan jelas terlihat rasa ketakutan pada wanita itu. Edward langsung menarik Eliana ke dalam pelukan eratnya. "Mengapa kau melakukan hal itu, Edward? Bagaimana kalau dia berpikir yang tidak-tidak tentang kita?" tanya Eliana meremas punggung Edward dengan kuat. "Aku tidak peduli," jawab pria itu dengan sungguh-sungguh. Eliana menangis sedih membenamkan wajahnya dalam dekapan Edward. "Bagaimana kau membiarkan pria itu terus berkeliaran dalam hidupmu, Eli?" bisik Edward dengan suaranya yang dalam. Eliana menggelengkan kepalanya cepat. Jemarinya terasa kuat dan erat memeluk punggung Edward dan isak tangisnya yang begitu dalam. "Aku sudah tidak kuat dengannya," ucap Eliana. "Aku ingin berpisah dengannya, Edward. Aku tidak lagi mencintainya, ataupun merasa berat tanpanya. Su






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews