LOGINEle não sabia amar. Dante não apenas evitava sentimentos — ele os destruía antes que pudessem existir. Frio, inacessível e marcado por um passado que se recusa a encarar, sua casa é o reflexo perfeito de quem ele se tornou: silenciosa, impecável… e completamente vazia. Até Clara atravessar aquela porta. Ela não pediu espaço — e definitivamente não pediu permissão para permanecer. Contratada para trabalhar em sua casa, Clara logo percebe que por trás do homem arrogante e distante existe algo muito mais perigoso do que a frieza: dor. E ao contrário de todos, ela não recua. Entre ordens secas, olhares demorados e silêncios carregados de tensão, uma conexão inesperada começa a surgir — intensa demais para ser ignorada, arriscada demais para ser vivida. Mas amar alguém como Dante tem um preço. E quando segredos vêm à tona e feridas antigas são reabertas, Clara vai precisar decidir se vale a pena lutar por um homem que nunca aprendeu a amar… ou se a única forma de não se perder é ir embora antes que seja tarde demais.
View MoreDi tengah-tengah sebuah hutan yang cukup rimba, berdiri sebuah perguruan yang sudah cukup terkenal di dunia persilatan.
Perguruan itu bernama Perguruan Matahari, dan itu merupakan perguruan yang sudah berdiri selama ratusan tahun. Selama ratusan tahun ini, Perguruan itu selalu berada di puncak dunia persilatan, namun sejak beberapa tahun belakangan ini, perguruan itu mulai alami kemunduran, karena mereka tak memiliki murid-murid berbakat. Selain itu, Ketua besar perguruan itu juga tidak sekuat ketua-ketua Perguruan sebelumnya, hingga ketua perguruan itu tak terlalu dihargai di dunia persilatan. Di salah satu sudut perguruan itu. Bukkkk!! Seorang pemuda berusia lima belas tahun didorong, hingga tubuhnya terjerembab ke jatuh ke tanah. "Dasar bodoh! Untuk apa kau berada di sini, jika tidak mampu bertahan dari kami?" "Apa salahnya?" teriak pemuda itu. Plakkkkkk! Jawaban untuk pertanyaan anak muda adalah sebuah tamparan yang sangat keras, saking kerasnya itu membuat seluruh tubuh anak muda itu merasakan rasa sakitnya. "Ikat dan buang dia dari sini! Aku tidak suka pada manusia miskin seperti dia!" Tanpa ada yang bicara, anak muda bertubuh kurus itu, kedua kaki dan tangan diikat, dan mulutnya disumpal pakai kain hingga dia tak bisa bersuara lagi. Tidak memiliki kemampuan untuk melawan, anak muda itu dengan pasrah harus rela tubuhnya diangkat, dan dibuang ke belakang perguruan itu. Pasrah dan tak memiliki harapan, itulah yang dirasakan oleh anak muda itu, bahkan hingga hari akan malam, tetap tidak ada yang datang untuk menolong anak muda itu. Namun, ternyata dewa masih sayang pada anak muda itu, seorang lelaki berusia empat puluhan tahun melihat pemuda yang terikat itu. "Arya! Apa yang terjadi padamu?" kata orang itu. Dia buru-buru membuka semua ikatan pada pemuda bernama Arya itu, dan buru-buru memeluk bocah itu demi memberikan anak kecil kurus itu ketenangan. "Guru Sanjaya! Apa salahku?" tanya bocah itu dengan suara yang lirih. Pertanyaan bocah kecil itu membuat hati guru Sanjaya sungguh sakit, karena bocah itu merupakan bocah yang dia bawa ke perguruan itu. Tapi sayangnya, bocah itu tidak memiliki bakat yang hebat, hingga dia sering dikucilkan, dan bahkan sering mendapatkan perlakuan yang tak layak. Tidak hanya sekali atau dua kali anak kecil itu mendapatkan perlakuan seperti itu, namun sudah berkali-kali dan bahkan tak bisa dihitung lagi. "Mari kita pulang!" kata Guru Sanjaya. Lelaki berusia empat puluhan tahun itu menggendong tubuh Arya, dan membawa bocah kecil itu ke kediamanku yang berada di utara perguruan matahari itu. "Mulai hari ini, kau akan tinggal di sini! Jangan keluar dari sini, dan jika kau ingin berlatih, aku yang akan mendidikmu!" kata Guru Sanjaya. Pemuda tanggung berusia lima belas tahun itu hanya diam, dan memang hanya bersama dengan Guru Sanjaya, dia akan merasa tenang. Tiga tahun yang lalu, saat Guru Sanjaya membawa dirinya ke perguruan itu, dia memang sudah tinggal di pondok Sanjaya. Hanya saja, saat itu Sanjaya mendapatkan misi, hingga Arya harus dipindahkan ke tempat khusus para murid. Namun, sejak saat itulah, perlakuan demi perlakuan buruk mulai didapatkan oleh Arya, hingga hari ini, saat Sanjaya pulang, dia akhirnya menemukan Arya dalam keadaan yang buruk. "Istirahatlah, Arya! Guru sudah ada di sini, dan kau tidak perlu takut lagi!" kata Guru Sanjaya sambil mengelus rambut Arya. "Terima kasih, guru!" ucap Arya. Sanjaya melirik ke arah Arya yang sudah tertidur, dan setelah itu meninggalkan pondoknya. "Aku harus tahu, apa saja yang sudah dialami oleh murdiku selama aku tidak ada di perguruan ini?" ucap Sanjaya. *** Tengah malam, di saat orang-orang sedang tidur dengan sangat lelapnya. Jledaaarrrrrrr!! Suara ledakan yang sangat dahsyat terdengar di udara, dan cahaya biru turun dari langit, yang mana cahaya itu masuk ke dalam sebuah pondok kecil yang ada di sisi utara perguruan matahari. Cahaya biru itu melayang-layang di atas tubuh seorang anak kecil yang tidur dengan pulasnya. Tak berapa lama, cahaya biru itu berubah menjadi satu sosok tubuh pemuda yang sangat tampan, dan memiliki mata yang sangat berwibawa. "Bangun!" ucap anak muda misterius itu. Sangat pelan, namun suara itu dipenuhi dengan tekanan yang sangat kuat, hingga membuat anak muda yang berada di dalam pondok itu membuka matanya. "Siapa kau?" tanya anak kecil itu. "Kau tidak perlu tahu aku siapa, namun asal kau tahu, kau sudah dipilih sebagai pemilik berkah petir!" kata orang itu. "Berkah petir, apa itu?" "Kekuatan dari elemen petir, dan aku pastikan kalau kau akan menjadi yang terkuat yang pernah ada di negeri ini!" kata sosok itu. "Hahahah! Jangan bercanda, aku hanya manusia yang tidak memiliki bakat, tubuhku tidak akan bisa menerima itu!" Sosok pemuda tampan itu tersenyum, dan ia menyentuh kepala anak muda itu, dan hawa hangat pun masuk ke dalam tubuh bocah berusia lima belas tahun itu. Rasa hangat itu menjalar, dan bocah itu mulai merasakan kalau hawa hangat itu berubah menjadi panas. "Argggggg! Apa yang kau lakukan padaku?" teriak anak muda itu. Cukup lama hawa panas itu bersemayam di tubuh anak kecil itu, hingga anak kecil itu hanya bisa meraung dan meronta. "Guru! Tolong aku!" teriak anak kecil itu. Namun, jeritan anak kecil itu tidak berguna, karena suaranya seolah-olah tertahan di tenggorokannya. Cukup lama hawa panas itu menguasai tubuh Arya, hingga perlahan-lahan hawa panas itu mulai hilang. "Terima ini!" kata pemuda misterius itu dan letakkan sesuatu di tangan Arya. "Apa ini?" Arya melihat benda yang diberikan oleh pemuda itu, dan itu adalah sebuah kitab pusaka. Belum juga Arya paham akan semua itu, pemuda misterius itu memasukkan sesuatu ke tangan Arya, dan itu seperti sarung tangan. "Tunggu! Apa lagi ini?" Namun, semuanya telah terjadi, dan anak kecil itu merasakan kalian sarung tangan itu berubah menjadi sesuatu yang membuat ia seolah-olah memiliki baju besi. "Dan ini berkah terakhir yang akan jadi milikmu!" kata lelaki itu lagi. Lelaki itu mengeluarkan sebuah keris dari ruang hampa, dan melemparkan keris itu ke atas. Keris itu melayang-layang untuk sejenak di udara, dan setelah itu meluncur turun ke bawah, dan masuk ke dalam kepala Arya. Untuk yang ke sekian kalinya Arya menjerit sekeras mungkin, namun suara jeritan itu lagi-lagi tertahan di tenggorokannya. Brukkkkkk!! Arya jatuh karena semua rasa sakit yang ia rasakan, dia jatuh dan tak sadarkan diri. Pemuda itu gerakkan tangannya, dan tubuh Arya pun kembali ke tempat tidurnya. "Aku akan melihat perkembanganmu, Arya! Mari kita lihat, apakah kau sungguh mampu memiliki semua itu?" ucap pemuda misterius itu sebelum akhirnya hilang tanpa bekas.A noite na casa de campo parecia irreal. Depois do jantar, ficamos sentados na varanda dos fundos, observando o lago refletir a luz da lua. O ar estava frio. Mas o cobertor sobre nossas pernas e o calor do corpo de Dante ao meu lado tornavam tudo confortável demais para que eu pensasse em qualquer outra coisa. O silêncio entre nós já não era pesado. Era íntimo. Seguro. Apoiei a cabeça em seu ombro enquanto ele acariciava distraidamente meus dedos. — Aqui é bonito — murmurei. Dante soltou um pequeno “hm”. — Isabella odiava este lugar. Meu corpo enrijeceu levemente antes que eu pudesse evitar. Dante percebeu imediatamente. Os dedos pararam sobre os meus. — Ei. Levantei o rosto para encará-lo. Os olhos escuros estavam atentos. Cuidadosos. — Não falei dela para te machucar. Forcei um sorriso pequeno. — Eu sei. Ele segurou meu rosto delicadamente. — Eu quero poder falar sobre ela sem que isso signifique perder você. Meu coração apertou. Porque aquilo era importante.
Por alguns segundos, tudo o que consegui fazer foi olhar para ele. Para o homem que eu amava. O homem que tinha me machucado. Mas que, pela primeira vez, estava ali sem fugir. Sem esconder o medo atrás de distância. Sem me afastar para se proteger. A chuva continuava caindo do lado de fora, suave contra os vidros do carro. Dante manteve a mão em meu rosto, acariciando minha pele com delicadeza. Como se ainda tivesse receio de que eu desaparecesse. Minha voz saiu baixa. Fragilizada. — Você partiu meu coração. A dor atravessou os olhos dele imediatamente. — Eu sei. Uma lágrima escorreu pelo meu rosto. — E eu odiei você por isso. Dante abaixou a cabeça por um instante, como se aquelas palavras fossem merecidas. Talvez fossem. Mas então ele voltou a me olhar. E havia tanta honestidade ali que meu peito apertou. — Eu me odiei também. O silêncio entre nós ficou pesado de emoção. Meu coração ainda doía. Mas, mesmo machucada, eu conseguia enxergar
A primeira sensação que tive ao abrir os olhos foi a de que alguém estava martelando dentro da minha cabeça. Soltei um gemido e puxei o travesseiro sobre o rosto. Ao meu lado, Lívia resmungou algo incompreensível e se virou na cama. Foi então que ouvi a campainha. Uma vez. Duas. Três. Longa e insistente. Fechei os olhos com força. — Se for um vendedor, eu juro que mato — murmurei. Lívia enterrou o rosto no travesseiro. — Você está mais perto da porta. — Odeio você. — Eu também te amo. Com um esforço monumental, saí da cama. O quarto girou levemente. Meu estômago protestou. Caminhei tropeçando pelo corredor, ainda vestindo a camiseta enorme de Lívia e com o cabelo em um estado lamentável. A campainha tocou outra vez. — Já vai! — gritei, irritada. Abri a porta. E congelei. Dante estava ali. Calça escura. Camisa social amarrotada, como se tivesse vestido a primeira que encontrou. Barba por fazer. Olheiras profundas. E uma expressão te
Eu não sei como consegui dirigir. Sinceramente. Tudo o que lembro é das lágrimas embaçando minha visão, das mãos apertando o volante com tanta força que meus dedos doíam e da sensação devastadora de que algo dentro de mim havia sido arrancado. O homem que, poucas horas antes, dizia me amar… Tinha me deixado ir. E o pior de tudo não era o fato de ele ainda amar Isabella. Eu sempre soube que ela fazia parte dele. O que me destruiu foi perceber que, no momento em que precisou escolher entre o medo e nós, Dante escolheu o medo. Escolheu a culpa. Escolheu o passado. E eu fiquei para trás. Quando estacionei em frente ao prédio de Lívia, minhas mãos tremiam tanto que precisei de alguns segundos para conseguir desligar o carro. Encostei a testa no volante. E chorei. Não um choro bonito, silencioso e controlado. Mas um choro doloroso, convulsivo, que parecia vir de um lugar profundo demais. O tipo de choro que faz o peito doer e o ar faltar. Peguei o celular c












Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.