Mag-log in"Oh yah?" Gillian seketika senyum sumringah saat mendengar kalimat terakhir Tamara. Benarkah Anya cinta mati padanya?
"Ya." Tamara menganggukkan kepala ragu. Dalam hati, dia kesal karena Gillian begitu senang saat dia berkata Anya cinta mati pada Gillian. "Anak itu cuma cari perhatian sama kamu." "Kau benar Tamara. Dia hanya mencari perhatian." Gillian senyum miring. Anya cinta mati padanya itu adalah kabar yang menggembirakan, "salahku juga. Bisa-bisanya aku lupa datang ke acara wisudanya." "Kamu kan sibuk kerja, Gillian," jawab Tamara, "sebagai kekasihmu, sudah seharusnya Anya mengerti sama keadaan kamu. Jika dia mempermasalahkan ini, berarti dia kurang dewasa dan tidak bijak." "Tapi aku harus memberikan hadiah padanya agar dia memaafkanku dan kembali padaku." Gillian berkata pelan, "menurutmu hadiah apa yang cocok untuk gadis nakal seperti Anya?" "Tas saja, Lian." Tamara menjawab acuh tak acuh. "Tadi Anya bilang dia tidak suka tas, Tamara," ucap Gillian rendah, mendongak pada Tamara yang sedang berdiri di sampingnya. "Suka pasti. Memangnya perempuan mana yang nggak suka dikasih hadiah tas? Tadi itu dia hanya marah. Kalau kamu ngasih hadiah tas ke dia, ya Anya tetap suka lah." ujar Tamara meyakinkan, "kebetulan aku mau beli tas ini." Tamara kemudian menunjukkan foto dari tas yang ia beli. Tas tersebut berukuran sedang, modelnya cantik dan elegan. Di sebelah gambar tas utama tersebut ada tas yang ukurannya lebih kecil, tas yang dijadikan hadiah pembelian jika membeli tas utama tadi. "Ini--" Tamara menunjuk tas kecil di sebelah gambar tas utama, "ada hadiah tas kecilnya. Kalau aku beli tas utamanya, aku akan dapat tas kecil ini. Nah, tas kecil ini bisa kamu jadikan hadiah untuk Anya." "Hadiah gratisan untuk Anya?" Gillian mengerutkan kening, "apa itu tidak keterlaluan, Tamara?" "Anya kan masih kecil, Gillian. Jika kamu kasih dia hadiah mewah, Anya nggak akan bisa jaga. Kasihan kamu! Sudah susah payah kerja, hadiah mahal dari kamu malah dianggap sepele sama Anya." Tamara berkata dengan nada serius, mencoba membuat Gillian mendengarkan perkataannya, "lagian sekalipun tas kecil ini hanya gratisan dari pembelian tas utama, tapi harga asli tas kecil itu 5 juta loh, Lian. Itu tergolong mahal, apalagi untuk seorang Anya yang nggak bisa jaga barang." "Baiklah. Beli tas-nya dengan uangku." Gillian berkata dengan nada pelan, "tas utama untukmu dan hadiahnya untuk Anya." "Terima kasih, Gilian." Tamara senyum senang, wajahnya seketika penuh kebahagian karena berhasil mendapatkan tas yang dia mau dengan uang Gillian. "Aku yakin Anya pasti suka pada hadiahmu karena tas hadiah ini sangat praktis—Anya banget!" Gillian tak mengatakan apa-apa, tetapi dia senyum manis karena membayangkan Anya begitu gembira saat menerima hadiah darinya. Yah, Tamara benar! Anya itu gadis yatim piatu yang haus kasih sayang. Jika diberi perhatian sedikit saja pasti Anya langsung luluh. Namanya juga anak yang haus kasih sayang! *** Anya mengepalkan tangan, menatap gedung perusahaan tempat Gillian bekerja dengan ekspresi wajah datar tetapi mata yang berkaca-kaca. Bahkan setelah dia meminta putus dan pergi dalam keadaan marah, Gillian sama sekali tak mengejarnya. Saat air matanya jatuh, Anya dengan cepat menghapus. 'Harapan terakhirku sudah kandas, bersama dengan kepercayaanku yang sudah mati padamu, Kak Gillian.' batin Anya, masih menatap gedung perusahaan tempat Gillian bekerja. "Mulai sekarang, kamu kuanggap tak penting," gumam Anya dengan penuh tekat. Setelah, itu dia membalik tubuh—berniat pergi dari sana. Namun …- Bug' Baru satu langkah, Anya menabrak sesuatu yang terasa cukup keras dan kokoh. Keningnya cukup sakit karena benturan keras yang tercipta dari tabrakan itu. Anya mundur beberapa langkah sambil mengusap kening. Dia mendongak untuk melihat siapa yang ia tabrak. Ternyata …- "Ka-Kak Malik," cicit Anya pelan, menatap pria yang menjulang tinggi di hadapannya dengan mata melotot dan wajah tegang. Malik tak mengatakan apa-apa. Namun, dia dengan cepat menarik Anya lalu menggendong perempuan itu di posisi depan—seperti seorang ayah menggendong putrinya. Setelah itu Malik membawa Anya ikut dengannya. Anya ingin memberontak dan melawan, akan tetapi karena dia takut pada resiko yang akan dia dapat, dia memilih tetap tenang—membiarkan Malik menggendongnya. Dug' Malik membuka pintu mobil lalu menurunkan Anya dari gendongannya. Dia memaksa Anya masuk ke dalam mobil mewah miliknya setelah itu dia ikut masuk. "Sedang apa kau di sini?" dingin Malik, mengeratkan gigi dan menatap membunuh pada Anya, "ingin menemui kekasihmu, Hah? Kau ingin meminta bantuan padanya agar membawamu kabur, Anya Shivani Edelsteen?!" lanjutnya, sebelum Anya sempat mengeluarkan sepatah katapun. Anya terlonjak berulang kali karena nada bicara Malik yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Dia juga beberapa kali meneguk saliva secara kasar, takut dan terintimidasi oleh aura pekat yang berasal dari pria di sebelahnya. Malik Damora Edelsteen! Pria ini begitu mengerikan, sekalipun rupanya bagai malaikat. "Aku menemui Kak Gillian untuk putus dengannya, Kak Malik," jawab Anya cepat. Malik menaikkan kedua alis. Dengan cepat ekspresi marah yang sempat menghias wajahnya, langsung pudar. Senyuman tipis muncul di bibirnya, ungkapkan rasa puas dan gembira yang samar. "Kau sedang tidak membohongiku, Humm?" Tangan Malik terulur ke arah dagu Anya. Dia menghapit dagu perempuan itu, menyentaknya supaya Anya mendongak dan hanya menatap padanya. Tangan Malik yang bebas menekan sebuah tombol khusus hingga kaca elektronik sebagai sekat kabin depan (area supir) dan belakang (area penumpang) berubah menghitam—membuat area tersebut lebih privasi. Anya melirik sekilas pada sekat kaca yang sudah berubah hitam total. Bulu kuduknya langsung berdiri, rasa cemas seketika menyelimutinya. Pa-pasti Malik ingin macam-macam padanya oleh karena itu sekat kaca diubah hitam agar sopir tidak bisa melihat ke belakang. "Ti-tidak, Kak. Aku benar-benar minta putus pada Kak Gillian," ucap Anya, mencoba tetap tenang dan berusaha agar tak panik. "Bagus, Wifey," jawab Malik, menyunggingkan smirk tipis pada Anya. Tiba-tiba saja Malik mendekatkan wajahnya pada wajah Anya. Malik mencoba menciumnya. Namun, Anya dengan cepat menepis tangan Malik di dagunya lalu buru-buru beringsut ke pintu mobil. "Kak, aku sudah bilang. To-tolong jangan menyentuhku sebelum kita menikah," ucap Anya, cukup tegas sekalipun dia takut. "Kemari." Malik berkata dengan bossy, menepuk pahanya sebagai isyarat supaya Anya pindah duduk ke pangkuannya. "Aku tidak mau! Kakak sudah setuju untuk tidak menyentuhku sebelum kita menikah," bantah Anya dengan tegas, tetapi beringsut ke pintu sambil menatap was-was pada Malik. "Aku hanya ingin menciummu, Wifey. Kemarilah," titah Malik. Nadanya cukup lembut tetapi auranya mengintimidasi dan menakutkan. "Jangan sampai aku berubah pikiran dan menginginkan lebih dari sekadar ciuman," tambahnya. Anya meneguk saliva secara kasar, rasa takut dan terasancam kembali muncul. Lagi-lagi Malik berhasil menekannya! Anya segera pindah ke pangkuan Malik. Wajahnya ditekuk, kesal karena pria ini memaksanya untuk tunduk. Tangan Anya mengepal, bibirnya merapat dan giginya saling mengunci. Rasanya dia ingin sekali memaki Malik, akan tetapi … bukankah dia akan semakin modar kalau melakukan itu? Malik terlalu berkuasa untuk ia lawan! Sialnya, kenapa pria ini harus tertarik dan obsesi padanya? Padahal ada banyak wanita di dunia ini! "Wajah kesalmu semakin membuatku bernafsu untuk merobek bajumu, Wifey," ucap Malik rendah dan serak, berbisik lembut tepat di sebelah daun telinga Anya. Gluk'"Kau … kenapa ada aroma pria yang menempel di rambutmu, Anya?!" marah Gillian, membuat Anya berhenti membuka hadiah dan menoleh padanya. "Jawab!" bentak Gillian. Anya tak mengatakan apa-apa, tetapi dia mengendus tubuhnya sendiri. 'Aroma Kak Malik.' batin Anya. "Aku habis ketemu dengan Ka--" Anya berniat menjawab dengan jujur karena dia ingin melihat seperti apa respon Gillian jika pria ini tahu dia habis berkencan dengan Malik. Namun, ucapan Anya tersebut tertahan karena tiba-tiba saja seorang pelayan masuk begitu saja ke kamar Anya. "Tu-Tuan … eh, Nona Anya, maafkan saya karena langsung masuk. Itu ... saya ke sini mencari Tuan Gillian. Nona Tamara …-" "Ada apa dengan Tamara?!" ucap Gillian cepat, terlihat panik dan khawatir. Dia segera berdiri dan beranjak keluar dari kamar Anya. Padahal maid belum mengatakan jelas, tetapi Gillian sudah sepanik itu. "Ma-maafkan saya, Nona." Pelayan itu berkata takut-takut pada Anya, merasa bersalah karena membuat Gillian pergi.
Gluk' Anya meneguk saliva secara kasar. Bulu kuduknya kembali meremang dan tubuhnnya sudah panas dingin. Anya langsung memasang senyum kaku, berusaha terlihat riang sekalipun takut pada perkataan Malik barusan. 'Aku belum menikah dengannya tetapi dia sudah seenaknya memanggilku istri dan mengubah nama belakangku. Gila! Kak Malik gila dan aku benci berurusan dengan orang yang ada gila-gilanya. Demi Tuhan, semoga istrimu kelak perempuan yang ada gila-gilanya juga biar kalian sejenis. Trus kamu sakit kepala sama darah tinggi setiap hari karena kelakuan istrimu yang rada itu.' batin Anya, masih senyum fake pada Malik. Namun, mendadak dia mengerjap berulang-ulang dan ekspresinya refleks berubah tegang saat ingat kalau dialah perempuan yang ingin Malik nikahi. Seketika itu juga dia menarik doa dalam batinnya tersebut. 'Maksudku … bukan aku, Tuhan. Aku masih berusaha agar tidak terjerat sama Kak Malik. Jadi bukan aku istrinya. I-iya kan, Tuhan? Bu-bukan aku kan istri Kak Malik di masa
"Oh yah?" Gillian seketika senyum sumringah saat mendengar kalimat terakhir Tamara. Benarkah Anya cinta mati padanya? "Ya." Tamara menganggukkan kepala ragu. Dalam hati, dia kesal karena Gillian begitu senang saat dia berkata Anya cinta mati pada Gillian. "Anak itu cuma cari perhatian sama kamu." "Kau benar Tamara. Dia hanya mencari perhatian." Gillian senyum miring. Anya cinta mati padanya itu adalah kabar yang menggembirakan, "salahku juga. Bisa-bisanya aku lupa datang ke acara wisudanya." "Kamu kan sibuk kerja, Gillian," jawab Tamara, "sebagai kekasihmu, sudah seharusnya Anya mengerti sama keadaan kamu. Jika dia mempermasalahkan ini, berarti dia kurang dewasa dan tidak bijak." "Tapi aku harus memberikan hadiah padanya agar dia memaafkanku dan kembali padaku." Gillian berkata pelan, "menurutmu hadiah apa yang cocok untuk gadis nakal seperti Anya?" "Tas saja, Lian." Tamara menjawab acuh tak acuh. "Tadi Anya bilang dia tidak suka tas, Tamara," ucap Gillian rendah, mendongak pa
"Aku ingin Kakak menikahiku." "Apa?!" Wajah Gillian seketika berubah marah, "pernikahan bukan area bermain, Anya! Kau masih sangat muda, tubuhmu saja masih seperti anak kecil!" "Aku tahu, aku juga nggak mau nikah muda. Impianku masih banyak yang belum tercapai." Anya berkata frustasi, "tapi aku nggak punya pilihan. Seseorang sudah melamarku dan Kakek sudah menerima lamaran itu. Kalau Kakak nggak …-" "Gillian, menurutmu tas ini bagus tidak?" sela Tamara, tiba-tiba menghampiri Gillian lalu memperlihatkan gambar sebuah tas di tablet pada Gilian. "Menurutmu cocok nggak untukku?" Gillian dengan cepat mengubah atensinya, langsung menatap gambar tas di tablet miliknya. Sebenarnya itu tablet kerjanya. Hanya saja, karena Tamara datang berkunjung, dia meminjamkan tablet itu supaya Tamara tidak bosan di sini. "Bagus. Tasnya elegen, cocok denganmu yang juga elegan dan anggun," ucap Gillian lembut sambil senyum manis pada Tamara. "Kak, aku sedang bicara denganmu," ucap Anya pelan, me
"Apa kau tidak punya sopan santun, Hah?!" bentak Gillian dengan nada yang benar-benar murka. Anya membeku di ambang pintu, matanya memanas ingin menangis akan tetapi ia tahan sebisa mungkin. Dadanya bergemuruh hebat dan hatinya teramat sakit. Dia ingin datang untuk mendapatkan perlindungan dari Gillian, tetapi sepertinya kehadirannya tak diharapkan. "Gillian, sudahlah." Suara lembut seorang perempuan menyahut. Perempuan itu tak lain adalah Tamara Aryatama, sepupu Anya. Usianya sama dengan Gillian, 27 tahun. Tamara menoleh sejenak pada Anya, senyum tipis sambil memberi isyarat supaya Anya masuk. "Masuk saja, Anya." Anya segera masuk. Sekalipun hatinya sakit dibentak oleh Gillian, tetapi dia sangat membutuhkan bantuan Gillian untuk menolongnya dari jeratan Malik. "Kak Gillian, aku mau bicara." Tanpa peduli pada Tamara yang duduk di sofa dan sedang minum teh, Anya langsung menghampiri Gillian ke meja kerja pria itu. "Kau lihat aku sedang sibuk?" Nada Gillian begitu ketus, mena
Cup' Anya berniat menolak akan tetapi bibir Malik lebih dulu menempel di atas bibirnya. Kali ini, Anya membiarkan. Walau dia benci! Ciuman tersebut berlangsung cukup lama, Anya benar-benar mual dan jijik. Akan tetapi dia tidak bisa mengungkapkannya, dia takut menyinggung pria ini lalu Malik akan melakukan hal yang lebih gila padanya. "Hah hah hah …." Anya terengah-engah setelah Malik melepas ciuman tersebut. Tangannya naik untuk mengusap bibirnya, sungguh dia benci sentuhan pria ini. Namun, karena Malik terus menatapnya secara tajam, Anya mengurungkan niat. "Cih." Malik berdecih pelan, mengulurkan tangan untuk mengusap bibir Anya—menyekat sisa pergulatan mereka dari sana, "sekarang kau sangat penurut, Heh? Di mana Anya Shivani Edelsteen yang suka melawanku, Humm?" Anya meraih bantal lalu menutup tubuhnya dengan bantal tersebut. "Namaku Shivani Aryatama, bukan Edelsteen." "Kembali ingin melawanku, Humm?" gertak Malik. Anya refleks menggeleng lalu menunduk penuh ketakutan.







