Home / Romansa / OBSESI Ternikmat / 6. Aroma Pria di Tubuh Anya

Share

6. Aroma Pria di Tubuh Anya

Author: CacaCici
last update publish date: 2026-10-14 22:07:16

Gluk'

Anya meneguk saliva secara kasar. Bulu kuduknya kembali meremang dan tubuhnnya sudah panas dingin. Anya langsung memasang senyum kaku, berusaha terlihat riang sekalipun takut pada perkataan Malik barusan.

'Aku belum menikah dengannya tetapi dia sudah seenaknya memanggilku istri dan mengubah nama belakangku. Gila! Kak Malik gila dan aku benci berurusan dengan orang yang ada gila-gilanya. Demi Tuhan, semoga istrimu kelak perempuan yang ada gila-gilanya juga biar kalian sejenis. Trus kamu sakit kepala sama darah tinggi setiap hari karena kelakuan istrimu yang rada itu.' batin Anya, masih senyum fake pada Malik. Namun, mendadak dia mengerjap berulang-ulang dan ekspresinya refleks berubah tegang saat ingat kalau dialah perempuan yang ingin Malik nikahi.

Seketika itu juga dia menarik doa dalam batinnya tersebut. 'Maksudku … bukan aku, Tuhan. Aku masih berusaha agar tidak terjerat sama Kak Malik. Jadi bukan aku istrinya. I-iya kan, Tuhan? Bu-bukan aku kan istri Kak Malik di masa depan? So-soalnya aku pasti bisa kabur dari Kak Malik. Intinya aku waras dan jelas bukan aku yang jadi istrinya. Hahahaha … lagian siapa yang tahu masa depan? Sekalipun dia sudah melamarku dan bahkan memaksaku supaya mau menikah dengannya, tapi belum tentu juga aku yang jadi istrinya. Aku masih bisa kabur.'

Cup'

Racauan Anya dalam batinnya langsung buyar karena Malik tiba-tiba mencium bibirnya. Dengan penuh nafsu dan hasrat, Malik melumat bibirnya lalu mencoba menerobos menguasai rongga mulutnya.

Anya begitu jijik, ingin menangis karena merasa dirinya sangat rendahan.

Selama ini dia selalu bangga pada dirinya karena bisa menjaga kehormatan dan harga dirinya sebagai perempuan. Selama berpacaran dengan Gillian saja, dia tidak pernah membiarkan Gillian menciumnya. Sekalipun itu hanya pipi dan kening. Dia dan pria itu mentok pegangan tangan dan usap kepala. Namun, sekarang Anya membiarkan Malik menciumnya penuh gairah—Anya takut menolak. Dia hanya pasrah layaknya perempuan tak berdaya.

Untungnya tak lama ciuman itu berakhir. Anya langsung memburu oksigen sedangkan Malik lanjut mengendus lehernya.

"Kak!" pekik Anya ketika pria itu mencium lehernya.

Malik menjauh dari ceruk leher Anya. Dia menunjukkan smirk tipis pada Anya sambil mengusap lembut bibir ranum Anya.

"Aku tidak sabar merasakan tubuhmu, Wifey. Bagaimana jika pernikahan kita dipercepat, Humm?" Malik berkata dengan suara yang dalam, menatap Anya lembut tetapi terasa menghipnotis.

"Cuma dua minggu lagi, Kak. Itu sudah waktu yang singkat buat persiapin pernikahan kita," ucap Anya pelan dan hati-hati.

"Humm." Malik berdehem rendah. "Pindah."

Anya menganggukkan kepala lalu kembali duduk di sebelah Malik. Ah, Anya langsung lega!

"Ini." Malik tiba-tiba memberikan sebuah kartu pada Anya. "Besok- pergilah jalan-jalan dengan Regal. Beli barang kesukaanmu," ujarnya, nadanya bossy sehingga itu terdengar seperti perintah bagi Anya.

Regal Lucian Edelsteen adalah adik kandung Malik. Regal berusia 22 tahun, sebaya dengan Anya. Fakta menariknya, Anya dan Regal bersahabat sejak kecil. Tapi sepertinya Regal belum tahu jika kakaknya yang gila ini sangat menginginkan Anya dan juga berniat menikahi Anya. Sejauh ini Regal tak pernah membahas ini pada Anya.

"Baik, Kak," jawab Anya pelan, menerima kartu tersebut karena dia pun tak berani menolak.

***

Anya memasuki rumah Aryatama dengan langkah cepat. Wajahnya datar, melewati para maid rumah yang diam-diam mencuri pandang padanya.

Julukan Anya di rumah ini adalah pembuat onar. Jadi beberapa maid takut berurusan dengannya.

"Nona Anya, Tuan besar memanggil anda." ucap salah satu pelayan secara takut-takut.

"Katakan saja alergiku sedang kumat," ucap Anya datar.

"Alergi apa, Nona?" Pelayan tersebut mengerutkan kening.

"Alergi melihat Kakek-Kakek bau tanah," jawab Anya, setelah itu melangkah cepat ke arah tangga.

Pelayan tersebut langsung meletakkan tangan di dada, jantungnya berasa ingin copot saat mendengar jawaban dari nona mudanya tersebut. Pada akhirnya pelayan itu menemui tuan besar Aryatama, mengatakan pada pria tua itu jika Anya baru pulang dan ingin mandi.

Sedangkan Anya, setelah sampai di kamar, dia membaringkan tubuh di ranjang. Sejenak dia diam dengan tatapan sayu dan sedih. Anya menatap langit-langit kamar dengan perasaan sedih yang menyiksa.

Rasanya penderitaannya tak ada hentinya. Hidupnya terlalu berat hingga bernapas dengan lega saja rasanya sulit bagi Anya.

Anya pernah berharap pada Gillian, beranggapan jika pria itu adalah awal dari kebahagiaannya. Namun, ternyata pria itu malah join menambah lukanya.

Malik? Pria itu sangat buruk dan antisosial yang mengerikan. Malik hanya terobsesi padanya. Jika suatu saat Anya tidak memenuhi ekspektasi Malik, maka jelas pria itu akan mengulitinya hidup-hidup.

"Hah." Anya menghela napas cukup panjang. Setelah itu bangkit dari ranjang. Melihat tumpukan hadiah di lantai dekat sofa, Anya segera ke sana.

Semua itu, hadiah dari Malik. Namun, hadiah ini tak akan membuat Anya mengubah sudut pandangnya pada Malik. Pria itu tetap buruk! Hadiah ini salah satu perangkap Malik supaya Anya bisa dijerat olehnya.

Anya duduk di sofa lalu membuka salah satu kotak hadiah. Isinya tas mewah bernilai 200 juta. Anya dengan santai meletakkan tas itu di atas meja kemudian lanjut membuka hadiah ke-2. Kali ini isinya perhiasan satu set, terlihat elegan dan mewah. Entah harganya berapa. Anya lagi-lagi meletakkan benda tersebut di atas meja. Anya kemudian membuka hadiah ke-tiga yang isinya coklat mahal. Hadiah ke-empat isinya laptop canggih. Hadiah ke-5 isinya dress pesta. Hadiah ke-6 isinya heels.

"Setidaknya aku dapat hadiah," gumam Anya sambil menatap semua hadiah yang sudah ia buka. Tak ada satupun yang membuat Anya merasa wah dengan semua hadiah itu. Semuanya hanya memamerkan kemewahan tanpa berhasil menyentuh hati Anya.

Anya suka barang mewah, dia seperti perempuan pada umumnya. Hanya saja, kebetulan kemewahan ini tak membuatnya terkesan.

Entah karena Malik yang memberikannya oleh karena itu Anya merasa biasa saja atau memang hadiah ini tidak cukup membuatnya senang. Intinya Anya tidak terkesan. Namun, dia tetap menghargai. Setidaknya Malik memberinya hadiah dan bahkan berperan dalam wisudanya.

Anya menatap malas pada hadiah terakhir. Ukurannya cukup besar, seperti tas kerja. Apa ini laptop lagi atau memang tas kerja?

Saat Anya membukanya, matanya mulai berbinar. Dan setelah dia benar-benar membukanya, senyumannya langsung menghias indah di bibir.

"Wah …." Anya menatap hadiah itu dengan ekspresi wajah yang sangat bahagia. Hadiah terakhir dari Malik berupa pensil dan satu set perlengkapan mewarnai—mulai dari cat akrilik, oil pensil, color pensil clasik, krayon, dan masih banyak lagi.

Anya meraih sebuah pensil kayu yang sudah dilengkapi dengan pencil extender berbahan emas putih dan dihias lagi oleh tiga berlian pada bagian atas pencil extender. Anya sangat tahu pensil ini karena ini pensil impiannya. Harga pencil ini lebih mahal dari tas mewah tadi. Percayalah!

Oleh karena itu Anya sudah menabung selama bertahun-tahun untuk mendapatkan pensil impiannya ini. Ternyata hari ini dia mendapatkannya secara gratis. Anya sangat senang!

Anya mencium pensil itu berulang kali lalu menari-nari. Intinya dia sangat senang karena pensil dan hadiah terakhir dari Malik. Sudah lama tak ada yang ada yang peduli pada apa yang Anya gemari!

"Kak Malik tidak terlalu buruk," gumam Anya, senyum-senyum sambil merapikan hadiah-hadiah dari Malik. Termasuk pencil mahalnya.

"Ck, jangan masuk perangkap, Nya. Tolonglah! Dia habis melecehkanmu!" peringat Anya kemudian pada dirinya sendiri.

Ingat! Ini hanya jebakan dan Anya tak boleh masuk perangkap Malik!

Ceklek'

Tiba-tiba saja pintu kamar Anya terbuka. Tadi, Anya memang lupa mengunci, jadi seseorang bisa langsung membuka.

"Anya," panggil seorang pria dengan suara berat, tak lain adalah Gillian.

Anya yang sudah selesai menyimpan hadiah dari Malik, menoleh santai pada Gillian. "Ini ruang privasiku. Jangan asal masuk. Ketuk pintu dulu," ucapnya datar.

"Hah." Gillian menghela napas lalu masuk begitu saja ke dalam kamar Anya. "Sepertinya kau masih marah padaku."

Anya mencoba tak menanggapi, memilih meraih HP lalu duduk di pinggir ranjang.

"Aku punya hadiah untukmu, Sayang. Kemarilah," ucap Gillian manis, senyum lebar pada Anya.

Anya mendongak lalu menatap ke arah hadiah yang Gillian bawa untuknya. Melihat itu, hati Anya sedikit bergetar. Itu benar-benar untuknya? Gillian benar-benar menyiapkan hadiah untuknya?

Anya bangkit dari ranjang, menghampiri Gillian yang duduk di sofa.

"Bukalah. Hadiah ini aku sendiri yang memesannya khusus untukmu, Kesayanganku," ucap Gillian, menarik pergelangan tangan Anya untuk duduk di sebelahnya.

Anya menurut, meraih kotak tersebut lalu membuka hadiah dari Gillian.

Sedangkan Gillian, tiba-tiba dia mengendus aroma di sekitar Anya. Entah kenapa dia merasa …-

"Kau … kenapa ada aroma pria yang menempel di rambutmu, Anya?!" marah Gillian, membuat Anya berhenti membuka hadiah dan menoleh padanya.

CacaCici

Holla, MyRe kesayangan CaCi!!(⁠≧⁠▽⁠≦⁠)(⁠✿⁠ ⁠♡⁠‿⁠♡⁠) Kembali lagi di novel baru kita yang penuh warna dan tentunya seru abizs ini. Semoga MyRe dan pembaca baru CacaCici suka dengan novel kita ini. Oh iya, sehat selalu buat MyRe. Semoga kita semua dalam keadan yang berbahagia.✿⁠ ⁠♡♡✿⁠ ⁠♡♡ Untuk melebarkan sayap keberhasilan novel kita, mohon dukungannya dari MyRe semua yah. Dukung novel kita dengan cara vote gems, hadiah, ulasan kiyowo, dan komentar manis di setiap bab. Semangat!!

| 2
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OBSESI Ternikmat   7. Ancaman Hukuman

    "Kau … kenapa ada aroma pria yang menempel di rambutmu, Anya?!" marah Gillian, membuat Anya berhenti membuka hadiah dan menoleh padanya. "Jawab!" bentak Gillian. Anya tak mengatakan apa-apa, tetapi dia mengendus tubuhnya sendiri. 'Aroma Kak Malik.' batin Anya. "Aku habis ketemu dengan Ka--" Anya berniat menjawab dengan jujur karena dia ingin melihat seperti apa respon Gillian jika pria ini tahu dia habis berkencan dengan Malik. Namun, ucapan Anya tersebut tertahan karena tiba-tiba saja seorang pelayan masuk begitu saja ke kamar Anya. "Tu-Tuan … eh, Nona Anya, maafkan saya karena langsung masuk. Itu ... saya ke sini mencari Tuan Gillian. Nona Tamara …-" "Ada apa dengan Tamara?!" ucap Gillian cepat, terlihat panik dan khawatir. Dia segera berdiri dan beranjak keluar dari kamar Anya. Padahal maid belum mengatakan jelas, tetapi Gillian sudah sepanik itu. "Ma-maafkan saya, Nona." Pelayan itu berkata takut-takut pada Anya, merasa bersalah karena membuat Gillian pergi.

  • OBSESI Ternikmat   6. Aroma Pria di Tubuh Anya

    Gluk' Anya meneguk saliva secara kasar. Bulu kuduknya kembali meremang dan tubuhnnya sudah panas dingin. Anya langsung memasang senyum kaku, berusaha terlihat riang sekalipun takut pada perkataan Malik barusan. 'Aku belum menikah dengannya tetapi dia sudah seenaknya memanggilku istri dan mengubah nama belakangku. Gila! Kak Malik gila dan aku benci berurusan dengan orang yang ada gila-gilanya. Demi Tuhan, semoga istrimu kelak perempuan yang ada gila-gilanya juga biar kalian sejenis. Trus kamu sakit kepala sama darah tinggi setiap hari karena kelakuan istrimu yang rada itu.' batin Anya, masih senyum fake pada Malik. Namun, mendadak dia mengerjap berulang-ulang dan ekspresinya refleks berubah tegang saat ingat kalau dialah perempuan yang ingin Malik nikahi. Seketika itu juga dia menarik doa dalam batinnya tersebut. 'Maksudku … bukan aku, Tuhan. Aku masih berusaha agar tidak terjerat sama Kak Malik. Jadi bukan aku istrinya. I-iya kan, Tuhan? Bu-bukan aku kan istri Kak Malik di masa

  • OBSESI Ternikmat   5. Dibawa Malik

    "Oh yah?" Gillian seketika senyum sumringah saat mendengar kalimat terakhir Tamara. Benarkah Anya cinta mati padanya? "Ya." Tamara menganggukkan kepala ragu. Dalam hati, dia kesal karena Gillian begitu senang saat dia berkata Anya cinta mati pada Gillian. "Anak itu cuma cari perhatian sama kamu." "Kau benar Tamara. Dia hanya mencari perhatian." Gillian senyum miring. Anya cinta mati padanya itu adalah kabar yang menggembirakan, "salahku juga. Bisa-bisanya aku lupa datang ke acara wisudanya." "Kamu kan sibuk kerja, Gillian," jawab Tamara, "sebagai kekasihmu, sudah seharusnya Anya mengerti sama keadaan kamu. Jika dia mempermasalahkan ini, berarti dia kurang dewasa dan tidak bijak." "Tapi aku harus memberikan hadiah padanya agar dia memaafkanku dan kembali padaku." Gillian berkata pelan, "menurutmu hadiah apa yang cocok untuk gadis nakal seperti Anya?" "Tas saja, Lian." Tamara menjawab acuh tak acuh. "Tadi Anya bilang dia tidak suka tas, Tamara," ucap Gillian rendah, mendongak pa

  • OBSESI Ternikmat   4. Lebih Baik Berakhir

    "Aku ingin Kakak menikahiku." "Apa?!" Wajah Gillian seketika berubah marah, "pernikahan bukan area bermain, Anya! Kau masih sangat muda, tubuhmu saja masih seperti anak kecil!" "Aku tahu, aku juga nggak mau nikah muda. Impianku masih banyak yang belum tercapai." Anya berkata frustasi, "tapi aku nggak punya pilihan. Seseorang sudah melamarku dan Kakek sudah menerima lamaran itu. Kalau Kakak nggak …-" "Gillian, menurutmu tas ini bagus tidak?" sela Tamara, tiba-tiba menghampiri Gillian lalu memperlihatkan gambar sebuah tas di tablet pada Gilian. "Menurutmu cocok nggak untukku?" Gillian dengan cepat mengubah atensinya, langsung menatap gambar tas di tablet miliknya. Sebenarnya itu tablet kerjanya. Hanya saja, karena Tamara datang berkunjung, dia meminjamkan tablet itu supaya Tamara tidak bosan di sini. "Bagus. Tasnya elegen, cocok denganmu yang juga elegan dan anggun," ucap Gillian lembut sambil senyum manis pada Tamara. "Kak, aku sedang bicara denganmu," ucap Anya pelan, me

  • OBSESI Ternikmat   3. Hadiah yang Anya Inginkan

    "Apa kau tidak punya sopan santun, Hah?!" bentak Gillian dengan nada yang benar-benar murka. Anya membeku di ambang pintu, matanya memanas ingin menangis akan tetapi ia tahan sebisa mungkin. Dadanya bergemuruh hebat dan hatinya teramat sakit. Dia ingin datang untuk mendapatkan perlindungan dari Gillian, tetapi sepertinya kehadirannya tak diharapkan. "Gillian, sudahlah." Suara lembut seorang perempuan menyahut. Perempuan itu tak lain adalah Tamara Aryatama, sepupu Anya. Usianya sama dengan Gillian, 27 tahun. Tamara menoleh sejenak pada Anya, senyum tipis sambil memberi isyarat supaya Anya masuk. "Masuk saja, Anya." Anya segera masuk. Sekalipun hatinya sakit dibentak oleh Gillian, tetapi dia sangat membutuhkan bantuan Gillian untuk menolongnya dari jeratan Malik. "Kak Gillian, aku mau bicara." Tanpa peduli pada Tamara yang duduk di sofa dan sedang minum teh, Anya langsung menghampiri Gillian ke meja kerja pria itu. "Kau lihat aku sedang sibuk?" Nada Gillian begitu ketus, mena

  • OBSESI Ternikmat   2. Meminta Bantuan pada Kekasih

    Cup' Anya berniat menolak akan tetapi bibir Malik lebih dulu menempel di atas bibirnya. Kali ini, Anya membiarkan. Walau dia benci! Ciuman tersebut berlangsung cukup lama, Anya benar-benar mual dan jijik. Akan tetapi dia tidak bisa mengungkapkannya, dia takut menyinggung pria ini lalu Malik akan melakukan hal yang lebih gila padanya. "Hah hah hah …." Anya terengah-engah setelah Malik melepas ciuman tersebut. Tangannya naik untuk mengusap bibirnya, sungguh dia benci sentuhan pria ini. Namun, karena Malik terus menatapnya secara tajam, Anya mengurungkan niat. "Cih." Malik berdecih pelan, mengulurkan tangan untuk mengusap bibir Anya—menyekat sisa pergulatan mereka dari sana, "sekarang kau sangat penurut, Heh? Di mana Anya Shivani Edelsteen yang suka melawanku, Humm?" Anya meraih bantal lalu menutup tubuhnya dengan bantal tersebut. "Namaku Shivani Aryatama, bukan Edelsteen." "Kembali ingin melawanku, Humm?" gertak Malik. Anya refleks menggeleng lalu menunduk penuh ketakutan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status