Home / Romansa / OBSESI Ternikmat / 4. Lebih Baik Berakhir

Share

4. Lebih Baik Berakhir

Author: CacaCici
last update publish date: 2026-09-19 02:06:16

"Aku ingin Kakak menikahiku."

"Apa?!" Wajah Gillian seketika berubah marah, "pernikahan bukan area bermain, Anya! Kau masih sangat muda, tubuhmu saja masih seperti anak kecil!"

"Aku tahu, aku juga nggak mau nikah muda. Impianku masih banyak yang belum tercapai." Anya berkata frustasi, "tapi aku nggak punya pilihan. Seseorang sudah melamarku dan Kakek sudah menerima lamaran itu. Kalau Kakak nggak …-"

"Gillian, menurutmu tas ini bagus tidak?" sela Tamara, tiba-tiba menghampiri Gillian lalu memperlihatkan gambar sebuah tas di tablet pada Gilian. "Menurutmu cocok nggak untukku?"

Gillian dengan cepat mengubah atensinya, langsung menatap gambar tas di tablet miliknya. Sebenarnya itu tablet kerjanya. Hanya saja, karena Tamara datang berkunjung, dia meminjamkan tablet itu supaya Tamara tidak bosan di sini.

"Bagus. Tasnya elegen, cocok denganmu yang juga elegan dan anggun," ucap Gillian lembut sambil senyum manis pada Tamara.

"Kak, aku sedang bicara denganmu," ucap Anya pelan, menatap sayu dan nanar pada kekasihnya yang dengan mudah memberikan perhatian lembut pada sepupu Anya sendiri.

Tadi, saat Anya datang dengan ketakutan dan berniat mengadu pada Gillian, pria ini marah karena menganggap Anya mengganggunya. Namun, ketika Tamara yang datang menyela pembicaraan mereka yang sedang serius, dengan mudah Gillian berpaling dari Anya. Gillian tak marah dan malah merespon dengan lembut.

"Bicaranya nanti saja. Tamara sedang memilih tas." Gillian berkata santai, sedikitpun tidak menunjukkan perasaan bersalah pada Anya, "apa kau juga mau tas, Humm? Tas cocok untuk hadiah wisudamu. Bagaimana?"

"Yah, tas lebih masuk akal dari pada meminta Gillian menikahimu, Dek." Tamara senyum tipis pada Anya, "padahal baru tadi Gillian muji kamu dewasa dan pengertian. Sekarang kamu malah menunjukan sikap childish dan labil. Kamu hanya bikin Kak Gillian merasa semakin tidak suka padamu, Sayang."

"Aku nggak mau tas," ucap Anya tiba-tiba. Nadanya datar dan begitupun tatapannya.

"Jadi kau mau apa?" Gillian berkata lelah, "menikah? Ck, kau itu masih terlalu kekanak-kanakan, belum layak jadi istri."

"Anya mungkin kebelet menikah supaya disentuh sama kamu. Dari tadi dia ngotot habis dilecehkan kan? Kayaknya memang lagi pengen disentuh sama kamu tuh, Gilian. Ahaha …." Tamara tertawa kecil di akhir kalimat, ucapannya barusan seolah candaan lucu yang tak menyakiti siapapun.

"Ck, siapa juga yang ingin menyentuhnya, Tamara?!" Gillian berkata kesal sambil melirik sinis pada Anya. "Aku mana berselera pada Anya. Lihat saja bentukannya?! Datar. Kurasa tubuhnya masih dalam pertumbuhan."

"Kamu benar, Gillian. Anya masih dalam pertumbuhan. Cuma otaknya mungkin rada kotor." Tamara kembali bercanda, tertawa pelan sambil menatap Anya seperti badut penghibur.

"Kak, kamu ini perempuan berpendidikan tapi kok ngomongnya kayak nggak pernah sekolah yah," ucap Anya tiba-tiba, wajahnya tetap datar dan tatapannya masih dingin. Dia sakit hati!

"Anya!" Gillian kembali menbentak, memukul meja karena benar-benar marah padanya Anya.

"Saat aku dihina sama Kak Tamara, kok Kakak nggak marah. Malah ikut ngerendahin aku." Anya berkata tegas, alis sedikit menekuk, dan tangan mengepal kencang di sisi badannya, "tapi pas aku mengatakan fakta tentang Kak Tamara yang mungkin kata-katanya cukup sarkas, kenapa Kakak langsung marah padaku?"

Gluk'

Gillian terdiam, mengerjap beberapa kali sambil menatap khawatir pada Anya. Ekspresi wajah yang awalnya dipenuhi kemarahan, berangsur lenyap. Ada sedikit perasaan bersalah yang menyelimuti hatinya. "Aku …-"

"Kakak tanya aku mau apa sebagai hadiah kan?" potong Anya cepat.

Gillian langsung senyum tipis lalu menganggukkan kepala. "Humm, kau mau apa, Anya Kesayanganku?"

"Aku mau kita putus," jawab Anya dengan tegas. Tubuhnya mundur perlahan lalu bergegas pergi dari ruangan Gillian.

"Anya!" panggil Gillian dengan nada kencang dan terkesan membentak, tak suka ketika Anya mengatakan putus lalu pergi begitu saja.

Gillian bergegas bangkit dari kursinya, berniat pergi menyusul Anya. Namun, Tamara tiba-tiba menghadang. Perempuan itu memeluk lengannya dan melarangnya pergi.

"Gillian, untuk apa kamu ngejar Anya?" ucap Tamara dengan nada kesal. Alisnya menekuk, dia tak terima ketika melihat Gillian yang panik dan langsung emosi saat Anya mengatakan putus.

"Anak itu meminta putus, Tamara," ucap Gillian dengan nada menahan marah dan kesal. "Aku tidak bisa!"

Ekspresi wajah Tamara jauh lebih kesal. 'Padahal dulu, aku yang menyuruhmu memacari Anya. Tapi … sepertinya kamu beneran jatuh cinta pada anak ingusan bandel itu.' batin Tamara, cukup kecewa dan merasa sakit hati mendengar ucapan Gillian tadi.

Dulu, sebelum ke luar negeri, Tamara menyuruh Gillian memacari Anya. Alasannya karena Anya anak yatim piatu yang haus kasih sayang sehingga sering bersikap bandel. Jadi dia meminta Gillian menjaganya dengan cara memacari Anya. Namun, Tamara punya alasan tersembunyi yang tak bisa ia katakan pada Gillian.

"Kamu percaya Anya minta putus, Gillian?" ucap Tamara tegas, menarik Gillian supaya kembali duduk di kursi kerjanya.

"Hah." Gillian menghela napas panjang. "Kurasa aku sudah keterlaluan," gumamnya pelan, memijat pelipis sambil mengingat candaannya tadi dengan Tamara. Dia menghina dan merendahkan kekasihnya sendiri!

'Aku bersedia jadi kekasih Kakak karena sangat percaya pada Kak Gillian. Kak Gillian baik dan peduli padaku. Tapi tolong jangan kecewakan aku yah, Kak. Soalnya sekalipun aku sangat percaya pada Kakak, bukan berarti aku bersedia disakiti. Nanti kalau Kakak ngerusak kepercayaanku pada Kakak, sekali saja, itu bakalan fatal banget. Soalnya kemungkinan aku percaya sama Kakak itu nggak bakalan ada lagi.'

Itu kalimat yang pernah Anya katakan pada Gillian, saat dia mengajak Anya berpacaran dan akhirnya perempuan itu menerimanya. Sampai detik ini dia selalu mengingat kalimat itu. Namun, kadang rasanya kalimat itu tak berarti banyak untuknya.

Ah yah. Gillian tidak langsung bisa mendapatkan Anya. Gadis itu sangat keras, terlalu mandiri, dan seperti kata kebanyakan orang di keluarga Aryatama … pembuat onar. Anya anak yatim piatu yang merasa tertekan oleh keluarganya sendiri. Jadi anak itu membentuk pribadi yang keras untuk melindungi diri dari sesuatu yang menurutnya berbahaya, dan itu yang membuat Gillian susah masuk.

Gillian mendekati Anya sejak Anya berusia 18 tahun—setelah Tamara memintanya menjaga Anya. Namun, dia baru diterima saat Anya berusia 20 tahun, dan kalimat tadi adalah kalimat yang Anya katakan setelah Anya menerimanya jadi kekasih.

"Keterlaluan apa, Lian? Anya yang terlalu berlebihan karena dia memang dramatis. Maklum, dia anak yatim piatu yang selalu haus kasih sayang. Jadi caper adalah caranya biar dapat perhatian," ucap Tamara dengan nada pelan tetapi kalimatnya cukup menusuk, "percaya deh, ucapannya Anya tadi—yang minta putus sama kamu, itu cuma gaya-gayaan doang. Paling nanti dia sendiri yang cari kamu, kan dia sudah cinta mati ke kamu."

"Oh yah?" Gillian seketika senyum sumringah saat mendengar kalimat terakhir Tamara. Benarkah Anya cinta mati padanya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OBSESI Ternikmat   7. Ancaman Hukuman

    "Kau … kenapa ada aroma pria yang menempel di rambutmu, Anya?!" marah Gillian, membuat Anya berhenti membuka hadiah dan menoleh padanya. "Jawab!" bentak Gillian. Anya tak mengatakan apa-apa, tetapi dia mengendus tubuhnya sendiri. 'Aroma Kak Malik.' batin Anya. "Aku habis ketemu dengan Ka--" Anya berniat menjawab dengan jujur karena dia ingin melihat seperti apa respon Gillian jika pria ini tahu dia habis berkencan dengan Malik. Namun, ucapan Anya tersebut tertahan karena tiba-tiba saja seorang pelayan masuk begitu saja ke kamar Anya. "Tu-Tuan … eh, Nona Anya, maafkan saya karena langsung masuk. Itu ... saya ke sini mencari Tuan Gillian. Nona Tamara …-" "Ada apa dengan Tamara?!" ucap Gillian cepat, terlihat panik dan khawatir. Dia segera berdiri dan beranjak keluar dari kamar Anya. Padahal maid belum mengatakan jelas, tetapi Gillian sudah sepanik itu. "Ma-maafkan saya, Nona." Pelayan itu berkata takut-takut pada Anya, merasa bersalah karena membuat Gillian pergi.

  • OBSESI Ternikmat   6. Aroma Pria di Tubuh Anya

    Gluk' Anya meneguk saliva secara kasar. Bulu kuduknya kembali meremang dan tubuhnnya sudah panas dingin. Anya langsung memasang senyum kaku, berusaha terlihat riang sekalipun takut pada perkataan Malik barusan. 'Aku belum menikah dengannya tetapi dia sudah seenaknya memanggilku istri dan mengubah nama belakangku. Gila! Kak Malik gila dan aku benci berurusan dengan orang yang ada gila-gilanya. Demi Tuhan, semoga istrimu kelak perempuan yang ada gila-gilanya juga biar kalian sejenis. Trus kamu sakit kepala sama darah tinggi setiap hari karena kelakuan istrimu yang rada itu.' batin Anya, masih senyum fake pada Malik. Namun, mendadak dia mengerjap berulang-ulang dan ekspresinya refleks berubah tegang saat ingat kalau dialah perempuan yang ingin Malik nikahi. Seketika itu juga dia menarik doa dalam batinnya tersebut. 'Maksudku … bukan aku, Tuhan. Aku masih berusaha agar tidak terjerat sama Kak Malik. Jadi bukan aku istrinya. I-iya kan, Tuhan? Bu-bukan aku kan istri Kak Malik di masa

  • OBSESI Ternikmat   5. Dibawa Malik

    "Oh yah?" Gillian seketika senyum sumringah saat mendengar kalimat terakhir Tamara. Benarkah Anya cinta mati padanya? "Ya." Tamara menganggukkan kepala ragu. Dalam hati, dia kesal karena Gillian begitu senang saat dia berkata Anya cinta mati pada Gillian. "Anak itu cuma cari perhatian sama kamu." "Kau benar Tamara. Dia hanya mencari perhatian." Gillian senyum miring. Anya cinta mati padanya itu adalah kabar yang menggembirakan, "salahku juga. Bisa-bisanya aku lupa datang ke acara wisudanya." "Kamu kan sibuk kerja, Gillian," jawab Tamara, "sebagai kekasihmu, sudah seharusnya Anya mengerti sama keadaan kamu. Jika dia mempermasalahkan ini, berarti dia kurang dewasa dan tidak bijak." "Tapi aku harus memberikan hadiah padanya agar dia memaafkanku dan kembali padaku." Gillian berkata pelan, "menurutmu hadiah apa yang cocok untuk gadis nakal seperti Anya?" "Tas saja, Lian." Tamara menjawab acuh tak acuh. "Tadi Anya bilang dia tidak suka tas, Tamara," ucap Gillian rendah, mendongak pa

  • OBSESI Ternikmat   4. Lebih Baik Berakhir

    "Aku ingin Kakak menikahiku." "Apa?!" Wajah Gillian seketika berubah marah, "pernikahan bukan area bermain, Anya! Kau masih sangat muda, tubuhmu saja masih seperti anak kecil!" "Aku tahu, aku juga nggak mau nikah muda. Impianku masih banyak yang belum tercapai." Anya berkata frustasi, "tapi aku nggak punya pilihan. Seseorang sudah melamarku dan Kakek sudah menerima lamaran itu. Kalau Kakak nggak …-" "Gillian, menurutmu tas ini bagus tidak?" sela Tamara, tiba-tiba menghampiri Gillian lalu memperlihatkan gambar sebuah tas di tablet pada Gilian. "Menurutmu cocok nggak untukku?" Gillian dengan cepat mengubah atensinya, langsung menatap gambar tas di tablet miliknya. Sebenarnya itu tablet kerjanya. Hanya saja, karena Tamara datang berkunjung, dia meminjamkan tablet itu supaya Tamara tidak bosan di sini. "Bagus. Tasnya elegen, cocok denganmu yang juga elegan dan anggun," ucap Gillian lembut sambil senyum manis pada Tamara. "Kak, aku sedang bicara denganmu," ucap Anya pelan, me

  • OBSESI Ternikmat   3. Hadiah yang Anya Inginkan

    "Apa kau tidak punya sopan santun, Hah?!" bentak Gillian dengan nada yang benar-benar murka. Anya membeku di ambang pintu, matanya memanas ingin menangis akan tetapi ia tahan sebisa mungkin. Dadanya bergemuruh hebat dan hatinya teramat sakit. Dia ingin datang untuk mendapatkan perlindungan dari Gillian, tetapi sepertinya kehadirannya tak diharapkan. "Gillian, sudahlah." Suara lembut seorang perempuan menyahut. Perempuan itu tak lain adalah Tamara Aryatama, sepupu Anya. Usianya sama dengan Gillian, 27 tahun. Tamara menoleh sejenak pada Anya, senyum tipis sambil memberi isyarat supaya Anya masuk. "Masuk saja, Anya." Anya segera masuk. Sekalipun hatinya sakit dibentak oleh Gillian, tetapi dia sangat membutuhkan bantuan Gillian untuk menolongnya dari jeratan Malik. "Kak Gillian, aku mau bicara." Tanpa peduli pada Tamara yang duduk di sofa dan sedang minum teh, Anya langsung menghampiri Gillian ke meja kerja pria itu. "Kau lihat aku sedang sibuk?" Nada Gillian begitu ketus, mena

  • OBSESI Ternikmat   2. Meminta Bantuan pada Kekasih

    Cup' Anya berniat menolak akan tetapi bibir Malik lebih dulu menempel di atas bibirnya. Kali ini, Anya membiarkan. Walau dia benci! Ciuman tersebut berlangsung cukup lama, Anya benar-benar mual dan jijik. Akan tetapi dia tidak bisa mengungkapkannya, dia takut menyinggung pria ini lalu Malik akan melakukan hal yang lebih gila padanya. "Hah hah hah …." Anya terengah-engah setelah Malik melepas ciuman tersebut. Tangannya naik untuk mengusap bibirnya, sungguh dia benci sentuhan pria ini. Namun, karena Malik terus menatapnya secara tajam, Anya mengurungkan niat. "Cih." Malik berdecih pelan, mengulurkan tangan untuk mengusap bibir Anya—menyekat sisa pergulatan mereka dari sana, "sekarang kau sangat penurut, Heh? Di mana Anya Shivani Edelsteen yang suka melawanku, Humm?" Anya meraih bantal lalu menutup tubuhnya dengan bantal tersebut. "Namaku Shivani Aryatama, bukan Edelsteen." "Kembali ingin melawanku, Humm?" gertak Malik. Anya refleks menggeleng lalu menunduk penuh ketakutan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status