MasukAlissa, desainer arsitektur berbakat, terpaksa meninggalkan karier impiannya di London setelah dijebak sahabatnya hingga menghabiskan satu malam dengan pria asing yang tak dikenalnya. Dari pertemuan itu, Alissa mengandung dan melahirkan seorang putri, lalu memilih kembali ke Indonesia untuk membesarkan anaknya. Lima tahun kemudian, Alissa menerima cinta Noah Wiraatmadja, tanpa mengetahui bahwa pria itu adalah adik kandung Elijah, pria yang pernah bersamanya malam itu dan masih mengingat wajahnya. Pertemuan kembali dengan Elijah pun membuka rahasia bahwa putri Alissa adalah anak kandungnya. Di antara cinta lama yang kembali, rahasia masa lalu, dan sebuah keluarga yang tak pernah mereka sangka akan terbentuk... Ikuti kisah Alissa, Elijah, Noah, dan Claudia hanya di Goodnovel!
Lihat lebih banyakMobil Mercedes-Benz hitam yang dikemudikan Noah membelah jalanan Jakarta yang mulus menuju kawasan elit Menteng. Di kursi penumpang, Alissa terpaku memandangi lalu lintas di balik jendela, sementara jemarinya saling meremas kuat di atas pangkuan.
Telapak tangan Alissa telah basah oleh keringat dingin gugup.
Noah mengalihkan pandangannya sejenak dari jalanan, lalu menggenggam lembut jemari Alissa yang gemetar.
"Tenang, sweetheart," bisik Noah lembut seraya mengelus punggung tangan Alissa dengan ibu jari, "Kedua orang tuaku sudah tidak sabar ingin bertemu langsung denganmu. Kamu tidak perlu secemas ini."
"Tapi, aku... aku benar-benar gugup," sahut Alissa pelan, suaranya hampir pecah, "Bagaimana kalau orang tuamu tidak menyukaiku?"
"Tidak mungkin," kekeh Noah santai, "Papi dan Mami sudah tahu betapa berartinya kamu buat aku. Lagi pula, mereka sangat mengagumi perjuanganmu selama ini di London."
"Tetap saja, status kita berbeda, Noah..." lirih Alissa.
"Kita sudah sering membicarakan hal ini, Sweetheart. Aku sama sekali tidak keberatan. Jika kedua orang tuaku tak bisa menerimamu, meski itu mustahil, yang akan menjalani pernikahan tetaplah kita berdua. Jadi, rileks, hem?" bujuk Noah seraya melambatkan laju mobilnya.
Mobil tersebut berhenti di depan gerbang besi menjulang tinggi dengan ukiran rumit. Gerbang bergeser terbuka secara otomatis, memberi jalan bagi Noah untuk melajukan kendaraan memasuki pekarangan luas yang dihiasi air mancur, tanaman hias terawat, serta pepohonan rindang.
Noah menghentikan mobil tepat di depan bangunan megah yang sejak tadi membuat tenggorokan Alissa tercekat. Perasaan minder langsung menghantam dadanya hingga terasa sesak.
"Ayo turun," bisik Noah seraya membantu melepaskan sabuk pengaman di depan tubuh Alissa.
Mata Alissa menatap tak percaya pada kediaman megah keluarga Wiraatmadja. Perbedaan status sosial mereka mendadak terbentang begitu lebar. Dia hanyalah seorang anak yatim piatu yang berasal dari desa terisolasi jauh di pedalaman Indonesia, tempat di mana air bersih dan listrik pernah menjadi hal yang sangat mewah.
"Alissa? Ayo," panggil Noah lembut, menyadarkan Alissa dari lamunannya.
Alissa menarik napas panjang, mencoba memantapkan hati sebelum melangkah keluar menuju rumah yang terasa seperti istana baginya.
Beberapa saat kemudian, Alissa sudah berkenalan dengan Bu Soraya dan Tuan Hadi Wiraatmadja, kedua orang tua Noah.
Bu Soraya sangat antusias menyambut Alissa, menggenggam jemari wanita muda itu dan membawanya ke ruang makan.
Alissa meremas jemari di bawah meja, berusaha meredakan kegugupan yang menggerogoti dadanya. Kepulangannya ke Jakarta setelah bertahun-tahun bertahan hidup di London masih terasa seperti mimpi. Kini baru dua hari ia di Jakarta, Noah sudah mengajaknya menemui kedua orang tuanya.
Alissa diam-diam memperhatikan interior ruang makan keluarga Wiraatmadja yang hangat dan megah. Langit-langit tinggi dipadu lampu gantung kristal elegan memancarkan kesan mewah khas kediaman konglomerat.
Alissa dan Noah baru menjalin hubungan serius sejak satu tahun lalu, meski sebenarnya mereka sudah berkenalan sejak masih di bangku kuliah yang mana Noah mengambil jurusan management dan Alissa jurusan Arsitektur Design.
"Cobalah puding ini, Alissa. Tante sendiri yang membuatnya," ucap Bu Soraya penuh kehangatan, menyodorkan piring pencuci mulut kecil berukir perak ke depan Alissa yang sudah diajak duduk di kursi oleh Noah.
"Terima kasih banyak, Tante," balas Alissa sopan, mencoba tersenyum seanggun mungkin.
"Tantemu ini sangat antusias menyambut kedatanganmu, Alissa. Selama ini, Noah tidak pernah membawa teman perempuan ke rumah," timpal Tuan Hadi ramah sembari terkekeh rendah, "Tapi kami sungguh senang dan lega kamu akhirnya mau kembali ke Jakarta."
Ya, sejak Alissa memutuskan menjalin hubungan dengan Noah, pria itu memang sering bolak-balik Jakarta–London hanya untuk menemuinya.
"Iya, betul itu," sela Bu Soraya sambil tersenyum hangat, "Noah ini tidak pernah dekat dengan wanita. Kami sempat berpikir orientasinya melenceng..."
"Mami...!" protes Noah yang makin membuat Papi dan Maminya tertawa renyah.
Alissa akhirnya mulai merasa rileks dan mengulas senyum manis. Ia mencicipi puding buatan Ibu Soraya, dan matanya membelalak takjub akan rasanya yang lezat.
"Enak? Kamu suka?" tanya Noah seraya menyendokkan sepotong puding lagi ke piring Alissa yang kembali merasa gugup dan tersenyum kaku.
"Santai saja, Alissa. Tante membuatnya untuk kita nikmati hari ini. Kalau kamu suka, nanti Tante buatkan lagi dan titipkan lewat Noah. Atau kamu main ke sini lagi, tentu boleh..." ucap Ibu Soraya ramah.
Para pelayan mulai menghidangkan santapan utama ke atas meja, dan mereka menikmatinya sambil berbincang ringan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar turun dari tangga, berjalan memasuki area ruang makan. Seorang pria bertubuh jangkung dengan kemeja hitam yang digulung hingga siku berjalan mendekat. Wajahnya tegas, dengan rahang kokoh dan tatapan mata dingin yang menembus ruang.
"Ah, Elijah! Kau datang sendiri? Di mana Claudia dan Devan?" sapa Bu Soraya seraya tersenyum tipis melihat putra sulungnya.
Elijah Wiraatmadja, kakak kandung Noah.
"Claudia sedang mengajak Devan liburan ke Bali, berangkat tadi pagi. Ada beberapa dokumen kantor tertinggal di sini yang harus saya selesaikan sebelum sore," suara Elijah terdengar berat dan tenang saat ia menarik kursi tepat di seberang Alissa.
"El, kenalkan ini Alissa, kekasihku yang baru pulang dari London," ucap Noah ceria dengan mata berbinar.
Elijah memandang Alissa sejenak, lalu berkata santai, "Ternyata kau normal juga."
"El...!" Noah kembali protes, ditanggapi tawa rendah dari orang tua mereka juga Alissa mengulum senyum di bibirnya.
"Jangan tersinggung ya, Alissa. Noah memang tidak pernah dekat dengan teman wanita sejak dulu. Teman prianya saja bisa dihitung dengan jari," jelas Bu Soraya.
Alissa mengangguk cepat. Namun rasa gugupnya mendadak kembali memuncak karena Elijah kini berulang kali melayangkan pandangan ke arahnya. Bahkan ketika pria itu meminum air di gelasnya, matanya seolah terpaku pada Alissa. Tatapan itu bukan sekadar melihat, melainkan seperti menguliti dan mengenali kembali sosok Alissa.
"Ada apa? Kamu tidak suka menu makanannya?" bisik Noah pelan di dekat telinga Alissa.
Tangan Alissa yang memegang sendok sedikit bergetar akibat tatapan intens Elijah.
Melihat Alissa yang mendadak canggung, Noah berusaha memecahkan keheningan, "El, tadi kau bilang pulang mengambil dokumen kantor. Nah, ngomong-ngomong soal pekerjaan... di perusahaanmu ada lowongan yang cocok untuk Alissa, tidak?"
Elijah menghentikan gerakan sendok dan garpunya. Ia menatap Noah datar, lalu kembali melirik Alissa yang makin menundukkan kepala.
"Sepertinya ada beberapa lowongan pekerjaan yang dirilis HRD tadi pagi. Perusahaanku bergerak di bidang properti dan konstruksi. Kekasihmu memiliki keahlian di bidang apa?"
"Lima tahun lalu, Alissa lulusan terbaik jurusan arsitektur interior dan selama ini sering mengerjakan proyek freelance di bidang design. Alissa bukan hanya bisa mendekorasi, tapi juga merancang struktur ruang," tutur Noah bersemangat.
"Lalu kenapa tidak kau beri dia pekerjaan di rumah sakit tempatmu bekerja saja?" tanggap Elijah santai seraya kembali mengunyah makanan, "Bukannya rumah sakitmu sedang merenovasi gedung baru?"
Noah terkekeh rendah, "Tentu saja aku senang kalau Alissa bisa bekerja di rumah sakit bersamaku. Tapi aku khawatir bakatnya terbuang. Kalau dia hanya mengurusi tata letak ruang rawat inap, Alissa pasti cepat bosan."
Elijah tidak langsung menjawab. Pria itu meletakkan alat makannya, memajukan tubuh sedikit ke depan meja, lalu menatap Alissa lurus-lurus. Tatapannya begitu intens hingga Alissa menahan napas.
"Sepertinya tidak ada lowongan untuk posisi arsitek interior saat ini," ucap Elijah pelan namun tegas.
Raut wajah Noah menyirat kekecewaan, meski begitu, ia tetap berusaha tersenyum dan membelai punggung tangan Alissa, "Yah... sayang sekali."
Namun, sebelum Noah sempat melanjutkan kalimatnya, Elijah kembali bersuara, tetap menatap Alissa tanpa berkedip.
"Tapi... datang saja ke kantorku besok pagi."
Usai sarapan bubur, Elijah kembali mengemudikan mobilnya membelah jalanan Jakarta menuju sebuah mall mewah. Sementara itu, Alissa duduk di kursi penumpang, fokus merampungkan uji coba simulator desain 3D pada gawai milik pria di sampingnya."Kita sudah sampai. Ayo turun," ajak Elijah singkat, begitu menghentikan mobilnya di parkiran basement.Elijah langsung membuka pintu dan melangkah keluar mobil, tanpa menunggu Alissa yang sedang fokus mengerjakan game 3D diponselnya. Alissa buru-buru menyimpan progres pengerjaannya game 3D-nya, lalu menyusul tergesa-gesa saat mendengar langkah kaki Elijah sudah mulai menjauhi mobil dan tak lama kemudian bunyi kunci otomatis terdengar nyaring dari remot dalam genggaman tangan bosnya itu.Elijah langsung membawa Alissa menuju bespoke tailor langganannya. Kedatangan mereka disambut seorang pria muda, yang kemudian mempersilakan Elijah masuk ke ruang ganti, dan tak lama kemudian bos tampan Alissa itu muncul kembali mengenakan setelan celana, rompi-ve
Alissa memesan bubur dan minuman langsung di kasir, meninggalkan Elijah yang tampak sibuk memeriksa simulator desain pada tablet yang baru dikerjakan Alissa sebagian.Melalui pesan singkat, Alissa mengabari Odette serta Noah bahwa dirinya sudah mulai bekerja hari ini di Wiraatmadja Group.[Wah, Elijah benar-benar terpesona padamu, Sweetheart! Oke, selamat bekerja kekasihku. Kalau mau dijemput, kabari ya. Aku segera meluncur!] balas pesan dari Noah masuk lebih dulu yang juga pria ceria itu mengirimkan emoticon ciuman, pelukan dan cinta untuk Alissa. Tanpa sadar, Alissa menarik napas panjang setelah ia membaca balasan pesan dari Noah. [Baik, Kak Al. Selamat bekerja ya. Jangan khawatirkan Zoya, dia baru saja tidur. Tadi kami habis membaca buku dongeng bersama.] sebaliknya, balasan pesan dari Odette membuat Alissa mengembuskan napas lega.Tak lama kemudian, Alissa melangkah masuk kembali ke ruangan privat tepat saat Elijah baru saja menurunkan ponsel dari telinganya dengan wajah datar.
Sambil duduk di sofa, Alissa mengedarkan pandangan, diam-diam mengamati ruang kerja Elijah yang sangat luas. Dinding kaca raksasanya memperlihatkan lanskap pencakar langit Jakarta dari ketinggian.Di balik meja marmer hitam yang megah, Elijah duduk tenang sambil membubuhkan tanda tangan di beberapa dokumen. Pria itu mengenakan kemeja putih berpotongan body-fit tanpa dasi, dengan kedua lengan yang tergulung acak hingga siku.Tak lama kemudian, Jody masuk membawa nampan berisi dua gelas minuman hangat serta camilan ringan, lalu meletakkannya di meja depan Alissa."Terima kasih," lirih Alissa yang jantung di dalam rongga dadanya berdegup semakin kencang.Elijah menyerahkan dokumen yang telah ditandatanganinya kepada Jody sebelum sekretarisnya itu undur diri dan keluar dari ruangan, membuat pintu otomatis terkunci rapat, mengisolasi Alissa hanya berdua saja dengan Elijah.Netra hitam pekat Elijah memandang Alissa yang menundukkan wajah. Jemari wanita itu tampak meremas cemas map kaku yang
Alissa baru saja selesai menyuapkan sarapan untuk Zoya ketika bel apartemennya berbunyi nyaring."Mas Noah sudah datang, Kak. Cepatlah bersiap-siap, biar nanti aku yang membuatkan susu untuk Zoya," bisik Odette pelan pada Alissa setelah mengintip dari lubang pengintip di pintu.Alissa mencium puncak kepala Zoya lembut, "Mama mau pergi mencari pekerjaan dulu ya, Sayang. Nanti tidur siang, jangan lupa makan dan nurut sama Tante Odet, hm?"Zoya mengangguk-angguk antusiasm "Ya, Mama. Nanti Oya boleh ajak Tante Odet main di playground?""Boleh, tapi tidak boleh nakal dengan anak-anak lain, ya..." pesan Alissa seraya menggoyangkan ujung hidungnya bersentuhan dengan ujung hidung Zoya."Uhm!" sahut gadis kecil itu cepat.Odette membukakan pintu apartemen untuk Noah yang sudah tampil rapi hendak pergi ke rumah sakit."Sebenarnya kamu tidak perlu menjemput dan mengantarku..." ucap Alissa merasa agak sungkan karena telah merepotkan Noah yang pasti jauh lebih sibuk."Sudahlah, aku sudah di sini.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan